
Dengan sifat kekeras kepalaannya, Vero berlari keluar dan tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh pak Adi, dia langsung memasuki mobil dan menjalankannya.
"Muhlisss." pak Adi berteriak memanggil sopir nona majikannya.
"Muhlisss, dimana kamu." pak Adi kesal karna sik Muhlis yang dipanggil jangankan nyahut, batang hidungnya saja tidak nampak.
"Muhliss, astaga di mana orang itu." pak Adi uring-uringan.
Muhlis yang sejak tadi dipanggil terlihat berlari menghampiri pak Adi.
"Ada apa pak Adi, ada apa." tanyanya.
"Kamu darimana saja Muhliss, sejak tadi saya panggil juga."
"Maaf pak Adi, tadi saya ketiduran."
"Cepat siapkan mobil Muhliss, kita kejar nona muda."
"Nona muda pak Adi, nona muda kemana."
"Jangan banyak tanya kamu Muhlis, cepat siapkan mobil, kita kejar nona sebelum kita kehilangan jejaknya."
"Baik-baik." Muhlis buru-buru ke garasi.
******
Vero langsung memarkir mobilnya dan berlari ke arah rumah kontrakan Bara dan mengetuk pintu rumah Bara yang tertutup.
"Baraa, buka pintunya, ini aku Vero." tidak ada sahutan.
"Ibu, ibu ini aku Vero, buka pintunya ibu." Vero mengetuk pintu dengan membabi buta.
Namun tidak ada sahutan sama sekali.
Begitu Muhlis menghentikan mobilnya didekat mobil yang dikendarai oleh Vero, Pak Adi langsung keluar untuk menyusul nona mudanya, Muhlis juga ikutan menyusul.
"Baraaa, ibu, ini Vero bukain pintunya." Vero masih mengetuk-ngetuk pintu rumah Bara dan memanggil.
Suara teriakan Vero membuat beberapa tetangga pada keluar rumah untuk mengetahui apa yang tengah terjadi.
"Nona, ayok kita pulang ya nona." pak Adi membujuk nona majikannya.
"Sialan, kenapa lo ngikutin gue sieh." bentak Vero kesal melihat pak Adi dan Muhliss.
"Maafkan saya nona, saya benar-benar khawatir dengan nona, kalau terjadi apa-apa sama nona, saya mau bilang apa sama tuan besar."
"Iya nona, ayok kita pulang nona ya." Muhlis turut menimpali.
"Gue gak mau pulang, lo berdua mending pulang sana, lo berdua hanya mengganggu gue saja tahu gak."
Pak Adi hanya mendesah berat, tidak mungkinkan baginya untuk memaksa nona mudanya itu mengingat dia hanya seorang kepala pelayan bukan orang yang berkuasa penuh terhadap Vero.
Vero kembali mengetuk pintu rumah kontrakan Bara dengan kuat.
"Baraaa, ibu, ini Vero, buka pintunya."
Salah satu tetangga yang melihat hal tersebut mendekati Vero.
"Maaf nak, seberapa kalipun kamu mengetuk dan berteriak, tidak akan yang menyahut dan membukakan pintu, ibu Hamidah dan putranya setengah jam lalu pergi."
"Pergi, mereka pergi kemana."
"Kalau masalah itu, saya kurang tahu."
Setelah memberitahu akan hal itu sik ibu pergi.
Vero terduduk lemas dikursi reot yang ada diteras depan, air matanya kembali mengalir, "Baraaa, gue gak mau putus." desisnya putus asa.
Pak Adi dan Muhlis saling melempar pandangan satu sama lain, ini untuk pertama kalinya mereka melihat nona muda mereka seperti ini, hancur hanya gara-gara cinta.
Setelah mendengar penjelasan sik ibu barusan, Pak Adi kembali berusaha untuk mengajak Vero untuk pulang.
"Nona, nona dengar sendirikan tadi, orang yang nona cari tidak ada, kita sebaiknya pulang ya nona."
"Gue gak mau." Vero nyolot, "Gue mau nungguin Bara disini dan ibu sampai mereka pulang."
"Tapi nona, nona tidak tahukan kapan mereka akan pulang, siapa tahu tengah malam, atau siapa tahu mereka tidak akan pulang."
"Diam brengsek, sejak tadi elo terus saja ngoceh, lo tahu tidak, kepala gue mau pecah dengar ocehan lo itu." bentak Vero kasar tanpa mengindahkan orang yang dia bentak adalah orang tua yang seumuran papanya.
"Maafkan saya nona muda kalau saya membuat nona muda merasa terganggu."
Hiks
Hiks
Vero menangis, "Gue sedih banget, Bara, gue mohon jangan tinggalkan gue Bara."
Karna sejak tadi selalu mendapat bentakan, pak Adi hanya bisa melihat nona mudanya menangis tanpa bisa menghibur.
Gelap mulai merayap menyapa bumi pertiwi, Vero sudah cukup lama menunggu Bara dan ibunya, namun orang yang ditunggu belum kunjung pulang juga sampai sekarang.
Tentu saja pak Adi ataupun Muhlis tidak mungkinkan meninggalkan nona muda mereka sehingga mereka juga ikutan duduk menunggu, tentu saja bukan Bara yang mereka tunggu, tapi mereka menemani Vero.
Namun karna orang yang ditunggu oleh nona mudanya belum pulang juga padahal ini sudah malam membuat pak Adi kembali mengajak Vero untuk pulang, "Nona, sudah malam ini, ayok nona kita pulang, sepertinya orang yang nona tunggu tidak akan pulang, siapa tahu mereka mengunjungi keluarga mereka dan berniat menginap."
"Gue gak mau, gue akan nungguin Bara sampai pagi disini, kenapa sieh sejak tadi lo terus menggrecoki gue." Vero masih kukuh dengan pendiriannya.
"Besokkan nona bisa datang lagi kemari ya nona, sekarang pulang dulu, nona juga belum makankan." dengan sabarnya pak Adi dengan kata-kata lembutnya masih membujuk nona majikannya itu.
"Ayok nona pulang, kalau nona sakit bagaimana, tuan besar pasti akan sangat khawatir dengan nona."
Hiks
Hiks
Muhlis dan pak Adi merasa kasihan juga dengan kondisi nona muda mereka yang seperti ini.
"Kasihan sekali ya nona pak Adi." bisik Muhlis.
"Hmmm."
"Padahal nona itu sangat cantik, dia bisa mendapatkan laki-laki manapun yang dia mau, tapi nona sepertinya sangat mencintai laki-laki bernama Bara ini."
"Sepertinya memang begitu." pak Adi membenarkan.
"Ayok nona kita pulang ya, besok nona kesini lagi."
"Hmmm." gumamnya setelah sekian lama dibujuk untuk pulang akhirnya Vero mau juga untuk pulang.
Pak Adi dan Muhlis tersenyum karna pafa akhirnya nona muda mereka berhasil mereka bujuk untuk pulang.
Vero berdiri, namun tiba-tiba saja dia merasakan kepalanya terasa berat dan pening, penglihatannya tiba-tiba kabur, dan belum sempat dia melangkahkan kakinya, tubuhnya ambruk, namun sebelum tubuhnya ambruk ke lantai, pak Adi dengan sigap meraih tubuh nona majikannya.
Pak Adi dan Muhlis tentu saja sangat khawatir melihat nona muda mereka tiba-tiba pingsan begini.
"Nona, astaga." pak Adi menepuk pipi Vero pelan berharap Vero sadarkan diri, "Bangun nona."
"Ya Tuhan nona, pak Adi, ayok sebaiknya kita bawa nona ke rumah sakit saja." Muhlis menyarankan.
Pak Adi mengangguk, dia mengangkat tubuh Vero dan membawanya ke mobil.
"Apa yang harus kita katakan sama tuan Muhlis, tuan pasti akan marah besar karna kita tidak bisa menjaga putri kesayangannya."
"Saya tidak tahu pak Adi, saya juga bingung."
Dua orang itu sama-sama bingung, terutama pak Adi yang harus menghubungi tuan besarnya yang saat masih berada diluar negeri untuk memberitahu keadaan Vero, dia sebenarnya takut untuk memberitahu tuan besarnya itu akan kondisi nona mudanya yang seperti ini, tapi dia harus memberitahunyakan.
*****
Dan begitu tiba dirumah sakit, Vero langsung ditangani oleh dokter, dari hasil pemeriksaan dokter yang disampaikan pada pak Adi, kalau tekanan darah Vero rendah ditambah lagi asam lambungnya naik.
Dan pak Adi juga telah menghubungi tuannya, dan seperti dugaannya, sang tuan besar marah-marah padanya dan mengatakan kalau dia tidak becus mengurus putri kesayangannya, apa yang bisa dilakukan oleh pak Adi selain hanya diam dan menerima setiap lontaran amukan yang ditujukan padanya.
"Bagaimana pak Adi, tuan marah-marah ya." tebak Muhlis saat pak Adi kembali setelah tadi menelpon tuan besarnya.
"Ya tuan marah besarlah Lis, siapa yang tidak marah melihat anak perempuan kesayangannya terkapar sakit dan saya tidak bisa menjaganya dengan baik." curhat pak Adi tentang tuannya yang marah-marah padanya.
"Sabar pak Adi."
"Memang wajar tuan marah, saya tidak becus menjaga amanah yang beliau titipkan pada saya, saya tidak bisa menjaga nona Vero dengan baik."
"Bukan salah pak Adi sepenuhnya, pak Adi sangat berusaha menjaga nona Vero dengan baik, tapi memang nonanya saja yang orangnya agak keras kepala dan tidak mau mendengarkan." Muhlis berusaha membesarkan hati pak Adi supaya tidak menyalahkan diri sendiri.
"Terus bagaimana, apa tuan akan pulang."
"Tuan bilang tidak bisa pulang secepat itu, tapi tuan akan berusaha, beliau tentu saja sangat mengkhawatirkan putri kesayangan beliau."
Pak Adi menatap nona majikannya yang terbaring lemah dengan tangan dipasangi selang infus, "Nona nona, kenapa bisa nona sejatuh cinta itu sama laki-laki bernama Bara itu." desahnya.
****
Kafka saat itu tengah mengerjakan sesuatu dileptopnya saat ponselnya yang dia letakkan disampingnya berbunyi nyaring, sebuah nomer internasional terpampang dilayar ponselnya.
Kafka hanya mengerutkan kening, bertanya-tanya dalam hati siapakah yang menelponnya, dan daripada bertanya-tanya dan sudah pasti dia tidak akan menemukan jawabannya, Kafka menjawab panggilan tersebut.
"Halo, Kafka."
Kafka mengenali suara yang menyapanya itu.
"Om Amar."
"Iya Kafka ini om."
"Astaga, ternyata om Amar, tadi saya fikir siapa gitu yang menghubungi saya pakai nomer internasional."
"Iya Kafka, saat ini om memang tengah berada diluar negeri untuk bertemu rekan bisnis." Amar Salim memberitahu.
"Sebelumnya saya minta maaf Kafka karna harus mengganggu kamu seperti ini, om butuh bantuan kamu, bisa kamu membantu om."
"Ohh tidak apa-apa om, om tidak mengganggu kok, memang apa yang bisa saya bantu."
"Ada apa dengan Vero om, apa terjadi sesuatu dengannya."
"Tadi om mendapat telpon dari kepala pelayan dirumah, dia mengabarkan kalau putriku itu kini terbaring dirumah sakit.".
"Astaga, saya ikut prihatin om."
"Oleh karna itu Kafka, bisakah kamu datang ke rumah sakit melihat kondisi putri om itu, om soalnya tidak bisa meninggalkan pekerjaan om disini dan mungkin bisa kembali dua hari lagi."
"Tentu saja om, aku akan kesana dan melihat keadaan Vero dan akan menunggunya sampai dia benar-benar pulih." Kafka langsung mengiyakan permintaan Amar Salim.
"Terimakasih banyak Kafka atas kesediaanmu menjaga putri om itu."
"Jangan sungkan om, saya dengan senang hati akan membantu om kalau saya bisa."
"Sekali lagi terimakasih Kafka."
Setelah memutus sambungan dengan Amar Salim, Kafka menutup leptopnya, mengambil jaketnya dan bergegas pergi menuju rumah sakit untuk melihat kondisi Vero, sesungguhnya dia sangat khawatir saat mengetahui kalau gadis itu kini tengah terbaring dirumah sakit.
"Lho abang, abang mau kemana malam-malam begini." tegur mami Mahima saat melihat putranya itu terlihat tergesa-gesa.
"Mi, aku harus ke rumah sakit."
"Siapa yang sakit sayang."
"Vero mam, putri tunggalnya om Amar, om Amar meminta tolong sama aku untuk melihat keadaan Vero karna beliau saat ini ada diluar negeri."
"Astaga, kasihan sekali gadis itu."
"Oleh karna itu mam, Kafka harus kesana untuk jagain dia, kasihankan ma kalau sakit jauh dari keluarga."
"Iya sayang, pergilah, sampaiin salam mami sama putri Amar Salim itu ya, entah besok atau lusa mami akan menjenguknya ke rumah sakit."
"Baik mam, kalau begitu, aku berangkat dulu." Kafka meraih tangan ibu tirinya dan menciumnya.
"Asslammualaikum mam."
"Walaikumsalam sayang."
"Kafka, hati-hati dijalan ya nak, jangan ngebut-ngebut." pesan mami Mahima melepas kepergian putranya tersebut.
"Jangan khawatir mam."
****
Pak Adi langsung berdiri saat melihat kedatangan Kafka yang merupakan anak dari almarhum sahabat tuannya dan juga sekaligus rekan kerjanya juga, tadi tuannya memberitahunya kalau Kafka akan datang dan akan menjaga Vero.
"Tuan." sapa pak Adi, kebetulan dia juga sudah mengenal Kafka karna Kafka sudah sering datang ke rumah tuannya.
"Pak Adi." Kafka berjalan menghampiri pak Adi.
"Syukurlah tuan sudah datang."
Kafka mengangguk, dia menoleh ke arah Vero yang tergolek lemah dibankar dengan mata terpejam.
"Bagaimana keadaan Vero pak Adi."
"Nona belum siuman tuan sejak saya membawanya ke rumah sakit."
"Apa kata dokter."
"Dokter bilang, tekakan darah nona rendah dan juga asam lambungnya naik." pak Adi menyampaikan apa yang dikatakan oleh dokter.
"Hmmm."
"Baiklah pak Adi, berhubung saya sudah disini, sebaiknya pak Adi balik ke rumah besar, biar saya yang menunggu Vero disini."
"Baiklah tuan, saya titipkan nona ya tuan."
"Iya pak Adi, saya akan menjaga amanah yang diserahkan oleh om Amar kepada saya dengan baik."
"Terimakasih tuan, kalau begitu saya pulang dulu."
Kafka mengangguk.
Setelah kepergian pak Adi, Kafka berjalan mendekati bankar dimana Vero terbaring lemah dengan mata terpejam, Kafka menarik kursi dan duduk disamping Vero.
"Hai cantik." sapa Kafka tidak lepas memperhatikan wajah Vero, dia tersenyum memandang wajah cantik yang terlihat damai itu, "Kamu lagi sakit saja cantik begini, apalagi kalau bangun, kecantikanmu pasti akan bertambah dua kali lipat." pujinya meskipun saat ini Vero tidak bisa mendengar pujian yang dia lontarkan.
Kafka kemudian meraih tangan Vero yang tergeletak disamping tubuhnya yang terbaring, tangan itu begitu sangat halus dan lemah, Kafka mengelus-ngelusnya, "Vero, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu." ujarnya meskipun dia tahu kalau Vero tidak akan bisa mendengar apa yang akan dia katakan, "Seharusnya aku mengatakannya saat kamu tersadar, tapi aku takut, aku takut tidak akan memiliki keberanian mengatakan hal ini saat kamu terbangun." Kafka terdiam sesaat, rasanya hatinya deg-degan tidak karuan, padahalkan toh Vero tidak bisa mendengarnyakan, "Veronica Salim, aku hanya ingin mengatakan kepadamu kalau aku mencintaimu, aku mencintaimu pada pandangan pertama saat melihatmu untuk pertama kalinya dikaca mobilku." Kafka mengungkapkan perasaan yang dia rasakan, "Aku ingin memilikimu dan hidup bersamamu, aku berjanji akan membahagiakanmu, jadi Veronica Salim, maukah kamu menerima cintaku."
Kafka mentertawakan dirinya sendiri mengingat dia menyatakan cintanya pada gadis yang saat ini tidak bisa mendengarnya sama sekali.
"Dasar tolol kamu Kafka, pengecut, laki-laki macam apa kamu yang tidak berani menyatakan perasaannya secara langsung." Kafka mengumpat dirinya sendiri sekaligus mentertawakan dirinya secara bersamaan.
Kafka kemudian mengecup tangan Vero, "Cepat sembuh Vero, aku akan selalu ada disini dan senantiasa menunggumu." dan setelah itu, Kafka tergerak untuk mencium kening Vero, tapi saat bibirnya sudah akan menyentuh jidat mulus tersebut, Kafka menghentikan niatnya itu.
"Tidak boleh, aku tidak boleh mencium Vero tanpa seizinnya."
"Istirahatlah Vero, aku akan menjagamu disini."
Kafka kemudian berjalan ke arah sofa dan membaringkan tubuh jangkungnya yang tentu saja tidak muat ditempat tersebut.
*****
"Apa ibu masih kesulitan bernafas." Bara bertanya sama ibunya yang kini terbaring dibankar rumah sakit.
Bara juga saat ini ada dirumah sakit karna penyakit sesak nafas ibunya kambuh, begitu dia pulang dari pantai dan begitu tiba dirumah, dia menemukan ibunya duduk dikursi ruang tamu dengan nafas kembang kempis sembari memegang dadanya, melihat hal tersebut membuat Bara khawatir dan mambawa ibunya ke rumah sakit untuk mendapat penanganan dari dokter.
Ibu Hamidah menggeleng, "Sudah tidak lagi nak, ibu hanya ingin pulang saja, ibu tidak mau dirumah sakit, kita mana ada uang untuk membayar biaya rumah sakit."
"Jangan fikirkan masalah biaya ibu, yang paling penting itu adalah kesehatan ibu, Bara masih ada sedikit simpanan dan itu pasti cukup untuk membiayai rumah sakit." Bara berusaha untuk menenangkan ibunya.
"Maafkan ibu yang sakit-sakitan ini ya nak yang selalu merepotkan kamu."
Bara menggenggam tangan ibunya, "Apa sieh yang ibu katakan, jangan pernah berkata begitu ibu, ibu adalah wanita yang paling Bara sayangi didunia, ibu yang mengandung Bara dengan kesusahan, melahirkan Bara dengan rasa sakit yang teramat sangat hingga bertaruh nyawa, dan dengan keringat berpeluh-peluh ibu juga membesarkan Bara, jadi kalau membahas tentang masalah merepotkan, Baralah orang yang paling merepotkan ibu, ibu sama sekali tidak pernah merepotkan Bara."
Ibu Hamidah mengelus puncak kepala putra semata wayangnya itu, "Kamu benar-benar anak yang baik Bara, ibu beruntung memiliki anak sebaik kamu." ibu Hamidah tersenyum lemah.
"Bara yang paling beruntung karna memiliki ibu sebaik dan sekuat ibu yang membesarkan Bara seorang diri, ibu benar-benar ibu tangguh kebanggaan Bara."
"Kamu bisa saja ya kalau memuji ibu nak."
"Itu memang faktanya ibu, ibuku wanita tangguh, ibu kebangganku dan ibu adalah super hero idolaku."
Ibu Hamidah terkekeh mendengar clotehan putranya itu.
"Bara."
"Kenapa bu, ada yang ibu inginkan, apa ibu ingin makan."
Ibu Hamidah menggeleng, "Ibu kok kepingin ya nak melihat nak Vero, ibu kangen gitu sama gadis itu, kapan-kapan bawa dia kerumah lagi ya nak."
Mendengar nama Vero disebut-sebut oleh ibunya kembali membangkitkan rasa sakit yang sudah agak mereda, siapa yang menyangka ternyata ibunya menyukai gadis yang hanya menjadikannya sebagai bahan taruhan, namun karna tidak mungkin mengatakan hal itu kepada ibunya, Bara berkata, "Verokan sibuk ibu, maklum anak kuliah, banyak tugasnya bu, jadi untuk saat ini mungkin Bara tidak bisa membawa Vero ketemu sama ibu, nanti ya bu kalau Veronya sudah tidak sibuk Bara bawa dia main-main lagi ke rumah." janji Bara dilisan, "Vero tidak akan pernah lagi akan datang ke rumah kita bu, dia gadis jahat yang dengan tega mempermainkan perasaan putramu ini." bathinnya.
"Hmmm." ibu Hamidah mendesah kecewa mendengar ucapan putranya, namun dibalik itu dia mengerti, "Apa boleh buat ya kalau nak Veronya sibuk, gak mungkinkan ibu maksa untuk datang."
"Iya bu, nanti ya bu kapan-kapan Bara ajak dia ke rumah lagi." Bara memberikan janji kosong.
"Nak Vero itu meskipun dia berasal dari keluarga kaya, tapi dia baik ya Bara, dia mau berteman dengan kamu, dan dia tidak sungkan ikutan makan bersama dengan kita, dia benar-benar gadis yang rendah hati." ibu Hamidah memuji.
Bara miris mendengar pujian ibunya kepada Vero, padahal kenyataanya tidaklah seperti itu, "Itu hanya akting yang dia tampilkan ibu, dia benar-benar tidak tulus mendekati Bara, dia hanya menjadikan putramu ini hanya sebagai bahan taruhan untuk membuktikan kalau dirinya mampu menaklukkan semua laki-laki, dia itu iblis berwujud malaikat ibu." kata-kata yang hanya dia katakan dalam hati.
"Ibu benar-benar menyukainya Bara, dia juga anaknya sopan."
Bara hanya diam tidak menanggapi kata-kata ibunya.
"Apa ibu tidak terlalu berlebihan ya Bara kalau ibu menginginkan nak Vero sebagai calon menantu ibu."
"Bu, Vero itu hanya teman Bara, tidak lebih bu, lagipula, mana mungkin Vero mau sama laki-laki seperti Bara ibu, dia pasti menginginkan laki-laki yang setara dengannya."
"Akhh kamu benar Bara, ibu benar-benar mengharapkan sesuatu hal yang muluk-muluk."
"Bu, sebaiknya ibu istirahat ya agar cepat pulih dan kita bisa cepat pulang."
Ibu Hamidah mengangguk patuh.
"Tidurlah ibu, Bara akan senantiasa menjaga ibu." Bara mengecup kening ibunya yang tertutup kerudung.
Saat mendengar ibunya menyebut nama Vero, hati Bara bergemuruh, bagaimana tidak, tidak hanya Bara saja yang mulai menyukai gadis itu dan mulai menerimanya dalam hidupnya, tapi ibunya juga menyukai Vero, dan hal tersebut membuat hatinya bertambah terluka karna gadis yang dia sukainya hanya menjadikannya hanya sebagai taruhan belaka.
*****
Pagi menyapa, cahaya matahari pagi menembus gorden ruangan dimana Vero dirawat, cahaya itu juga sampai menembus matanya yang membuatnya silau, Vero mengerjap-ngerjapkan matanya untuk bisa beradaptasi.
"Dimana aku ini." tanyanya dalam hati saat menyadari kalau tempatnya terbaring saat ini bukanlah kamarnya.
Pintu kamar dimana Vero dirawat terbuka yang memampangkan tubuh Kafka yang membawa plastik berisi bubur yang dibelinya direstoran dekat rumah sakit untuk sarapan, begitu tiba dan melihat Vero membuka matanya tentu saja membuatnya sangat senang.
"Vero, kamu sudah bangun." Kafka langsung menghampiri Vero dan meletakkan kantung plastik berisi bubur itu di atas nakas.
"Kak Kafka." suara Vero terdengar lemah."
"Syukurlah kamu sudah bangun Vero, aku senang melihatnya."
"Aku kenapa, kenapa aku bisa dirumah sakit begini."
"Pak Adi bilang, kamu pingsan dan dia langsung membawa kamu ke rumah sakit." jelas Kafka.
"Hmmm." kilasan bayangan semalam saat dirinya menangis dirumah Bara bermunculan, dan mengetahui fakta kalau dia dan Bara belum berbaikan membuatnya dadanya sesak sehingga tangannya reflek memegang dadanya.
Hiks
Hiks
Vero mulai terisak mengasihani dirinya sendiri, cintanya yang baru terjalin harus kandas begitu saja.
*****