Veronica

Veronica
VERO MARAH



"Alamakkk, senyumnya itu lho adek Vero bikin abang gimana gitu."


"Kalau tiap hari disuguhkan oleh pemandangan indah begini, alamat bakalan semangat tiap hari datang ke kampus."


"Wajahmu telah mengalihkan duniaku Veronica."


Cletuk teman-teman cowok Bara yang tidak berkedip memandang kecantikan Vero.


"Pinjemin gue tempat duduk lo donk." perintah Vero sama Rama yang duduk disamping Bara.


"Ohh iya iya." Rama berdiri dan mengibas-ngibaskan kursi yang dia duduki sebelum mempersilahkan Vero untuk duduk, "Silahkan duduk Ver."


Vero kini duduk dibekas tempat yang diduduki oleh Rama dan menatap Bara.


"Baraaa, lo udah sarapan belum." tanyanya.


Namun Bara tetap cuek dan tidak memperdulikan Vero yang duduk disampingnya seolah-olah menganggap Vero tidak ada.


"Sialan, selalu saja dia nyuekin gue kayak gini, ingin gue bejek-bejek deh dia." kesel Vero dalam hati.


"Sebagai rasa terimakasih gue karna elo udah nganterin gue kemarin, gue bawain kue bolu coklat lho untuk lo, ini bikinan koki dirumah gue, dijamin rasanya enak banget, lo pasti ketagihan, gue aja suka banget, bahkan satu loyang bisa gue habiskan sendiri, lo makan ya Bara." Vero menyodorkan kotak kue kepada Bara.


Bara mendorong kotak kue tersebut kembali ke hadapan Vero, "Gue gak berminat."


"Allahuakbar, terbuat dari apa sieh hatinya batu bara ini, gue harus gimana lagi coba, gue udah ngerendahin harga diri gue dengan nyamperin dia ke kelasnya dan membawa kue segala masih saja dicuekin, apa gue perlu ke dukun untuk melet dia, gemes banget dah gue." dihati keselnya minta ampun, tapi wajahnya harus selalu manis bak madu untuk memikat Bara, (Tapi mau Vero tersenyum bak madu, gula atau apalah yang paling manis sekalipun sama sekali tidak bisa meluluhkan hati Bara sedikitpun, malahan teman-temanya Bara yang pada klepek-klepek, lain yang dipikat, lain yang kena.)


"Busettt sik Bara, gadis secantik dan sesempurna Vero saja dicuekin kayak gini, yang kayak gimana sieh tipe gadis yang dia inginkan."


"Kalau Bara gak mau, kasih ke kita-kita donk Ver, kami akan dengan senang hati akan memakannya tanpa sisa." desis teman-teman Bara tanpa suara melihat Bara menolak pemberian Vero.


"Ihhh Bara mah gitu, gak baik lho Bara nolak pemberian orang." Vero membujuk, "Atau lo mau gue suapin ya."


"Ihhh mau donk disuapin sama Vero." teman-teman Bara memandang tuh kue dengan penuh damba.


Vero membuka tutup taperware dan mengambil sepotong bolu coklat dan mengarahkannya pada bibir Bara, "Aaaa, buka bibirnya donk Bara, pesawat mau mendarat."


Bukannya membuka bibirnya, Bara menepis tangan Vero dengan kasar yang membuat kue yang ada ditangan Vero jatuh ke lantai.


"Apaan sieh lo, lo fikir gue anak kecil apa."


Vero yang sejak tadi menahan kekesalannya kini sudah tidak tahan lagi, dia memuntahkan lahar kemarahannya yang sejak tadi tersumbat didadanya, "Bisa gak sieh lo menghargai orang sedikit saja, kenapa lo sok gini sieh jadi cowok, sok kecakepan, sok cuek, sok dingin." Vero menjerit histeris mengeluarkan kekesalannya yang sudah sejak kemarin dia tahan, Vero frustasi karna sampai detik ini Bara tidak bisa juga dia luluhkan, dia yang selalu mendapatkan apa yang dia mau, termasuk masalah cowok hanya dengan jentikan jari bisa dia taklukkan, Vero merasa harga dirinya terluka karna harus mengemis-ngemis begini sama Bara, (Ya bukan salah Bara donk Ver kalau lo belum bisa lo taklukkan, Bara memang susah didekatin, lagipula, elo niatnya gak bener deketin Bara, hanya untuk sekedar taruhan belaka dan hanya sekedar untuk membuktikan kalau semua laki-laki bisa lo taklukkan, jadi jangan ngamuk donk kalau lo gak bisa naklukin Bara.)


Teman-teman Bara, termasuk Bara dan Rama juga terpaku menatap Vero yang marah-marah.


"Gue benci sama lo Bara, gue benci, dasar cowok brengsek, gue doain gak ada cewek yang mau sama lo." Vero mengakhiri umpatannya, setelah itu dia berlari menuju pintu keluar, dan tiba-tiba,


Bugghhh


Vero yang saat ini memakai hak tinggi tersandung kakinya sendiri yang membuatnya terjatuh dilantai, "Sialan, kenapa gue pakai jatuh segala sieh disaat seperti ini, gue sudah cukup malu karna tidak bisa mengontrol emosi gue dan sekarang gue pakai terjatuh segala dihadapan anak-anak tehnik ini lagi, sial banget deh hidup gue.


Bara yang melihat Vero terjatuh tergerak ingin menolong Vero, dia sudah mengangkat bokongnya, namun Vino salah satu teman kelasnya yang tidak jauh dari Vero lebih dulu memberi pertolongan.


"Ver, lo gak apa-apa." Vino berusaha untuk membantu Vero berdiri.


Namun Vero malah menepis tangan Vino yang memegang lengannya, Vero tidak suka disentuh oleh sembarang laki-laki, meskipun laki-laki itu berniat untuk menolongnya, "Jangan pegang-pegang, gue gak sudi dipegang oleh tangan kotor lo." duhh sik Vero mah, bibirnya itu benar-benar minta dilakban deh, kalau ngomong tidak pernah disortir, sehingga gak heran kalau dia mendapatkan karma dari Bara yang selalu mengatai-ngatainya dengan sadis.


Vero merasakan perih dilututnya akibat luka yang belum sepenuhnya kering dan kini kembali terbuka gara-gara dia jatuh barusan, namun rasa sakit itu dia abaikan, dia berdiri dan langsung kembali berlari meninggalkan kelas Bara, sumpah dia sedih banget diperlakukan begitu kasar oleh Bara sehingga hal itu membuat air matanya jatuh begitu saja.


Vero terus berlari dan berlari tanpa memperdulikan tatapan orang-orang yang melihatnya sepanjang jalan, Vero tidak tahu harus kemana, yang jelas untuk saat ini dia ingin jauh-jauh dari yang namanya mahluk bernama Barathayudha Arkana, tahu-tahunya, kakinya membawanya ke perpustakaan.


Sementara itu dikelas Bara, terjadi kehebohan, teman-teman Bara berlomba-lomba mengajukan pertanyaan sama Bara.


"Bara, gimana sieh sebenarnya hubungan lo dengan Vero, kenapa Vero sampai nyamperin elo segala, pakai bawain kue lagi."


"Apa kalian temenan atau pacaran."


"Wahhh, lo benar-benar beruntung ya Bara didatangin oleh Vero secara langsung."


Bara hanya diam, cuek bebek tidak menggubris pertanyaan teman-temannya yang pada kepo parah, menurut Bara, pertanyaan itu tidak penting dan dia tidak memiliki kewajiban untuk menjawab.


"Heii sik Bara anjirrr ya, jawab kek, malah seperti patung saja caem."


"Berisik lo." tandas Bara.


Bara mengambil sepotong kue yang dibawakan oleh Vero dan memakannya, dan setelah itu, kue itu disodorkan kepada teman-temannya yang lain, dan itu berhasil membungkam bibir teman-temannya yang pada nyerocos, mereka pada rebutan mengambil kue yang dibawa oleh Vero sang primadona kampus.


Tidak dipungkiri, kalau Bara memang sedikit bersalah dengan Vero, Bara sadar kalau sikapnya agak keterlaluan, tidak saharunya memang dia menepis tangan Vero yang membuat sepotong kue bolu yang sangat enak itu terbuang sia-sia dilantai, setelah perkuliahan berakhir, Bara berjanji untuk mencari Vero, rasa bersalahnya itu mendorongnya untuk meminta maaf.


*****


Hiks


Hiks


Hiks


Vero menangis dipojokan, tempat paling tersembunyi diperpustakaan, sehingga aman untuk menangis tanpa ada yang akan terganggu.


Vero benar-benar marah dan sakit hati atas perlakuan Bara, belum pernah seumur hidupnya ada yang memperlakukannya sekasar itu.


"Dasar Bara brengsek, sialan, gue benci, gue benci sama lo, hiks hiks."


"Apa gue menyerah saja ya dengan taruhan ini, rasanya jiwa gue tidak sanggup lagi menerima perlakuan kasar Bara, apalagi kata-katanya yang suka nyelekit." terbersit keinginan Vero untuk mengakhiri taruhan yang telah dia sepakati dengan kedua sahabatnya, namun niatnya itu seketika dia urungkan, "Gak gak." Vero menggeleng, "Gue gak boleh menyerah, gue harus bisa membuat batu bara itu bertekuk lutut, gue akan buat dia nangis darah dan merasakan apa yang saat ini gue rasakan." dengan alasan itu Vero membatalkan niatnya untuk mengakhiri taruhannya.


Ping


Ping


Vero mendengar suara notifikasi yang masuk ke ponselnya, dengan malas dia meraihnya untuk melihat siapa yang mengirim pesan kepadanya.


Tiar : Woee, lo dimana sieh, bolos lagi lo


Rara : Pak Sumarno nyariin elo tuh Ver, kangen katanya


Chat itu ternyata berasal dari kedua sahabatnya yang menanyakan tentang keberadaannya, Vero memilih mengabaikan pesan-pesan tersebut, dan memilih memikirkan bagaimana caranya untuk membuat Bara jatuh cinta kepadanya, untuk saat ini dia tidak ingin memikirkan kuliah dulu, intinya Vero tidak peduli mau nilainya D karna bolos dimata kuliah pak Sumarno.


"Pokoknya, bagaimanapun caranya, gue harus membuat Bara jatuh cinta sama gue, harus." tekadnya.


****


Setelah bertanya-tanya singkat tentang Vero kepada ahlinya, alias Rama yang banyak mengetahui tentang Vero, dan Rama dengan senang hati memberitahu tentang hal-hal yang dia ketahuinya mengenai Vero kepada Bara, seperti tanggal lahirnya Vero, makanan kesukaannya Vero, warna kesukaannya Vero, jurusan yang Vero ambil dan termasuk dimana letak kelas Vero, dan siapa sahabat-sahabat Vero, intinya, penggemar Vero kayak Rama banyak tahu deh tentang Vero, atau mungkin bahkan nomer berapa sepatu yang dikenakan oleh Vero Rama juga tahu kali, entahlah, Allahu'alam, hanya Tuhan dan Rama yang tahu.


Dan setelah mendapatkan informasi yang dia butuhkan, dengan membawa kotak bekas kue yang dibawakan oleh Vero, Bara langsung tancap gas begitu Rama mengakhiri kuliahnya tentang Vero.


"Oke thanks Ram atas informasinya, gue cabut dulu untuk nemuin Vero."


Rama mengangguk melepaskan kepergian Bara, karna dia tahu Bara berniat untuk minta maaf sama Vero.


Bara celingak-celinguk untuk mencari keberadaan Vero dikelas yang dikatakan oleh Rama adalah kelas yang biasa digunakan oleh anak-anak jurusan ekonomi menejemen, Bara mencari keberadaan Vero, tapi Vero sepertinya tidak ada.


Rara yang melihat Bara didepan menyenggol lengan Tiar untuk memberitahu, "Tiar, Bara tuh." sambil mengedikkan dagunya ke depan.


"Ehhh Bara, mau ngapain dia ya, apa dia nyariin gue kali ya." geer Tiar.


"Geer lo, mending samperin gieh."


Bara yang pintar dan memiliki daya ingat yang kuat ternyata tidak bisa mengenal Tiar, padahal beberapa hari yang lalu Tiar nyamperin dia ke kelas dan membawakannya kue juga.


Tiar mendengus dalam hati, "Ya Allah, jangan bilang Bara gak ingat gue lagi, padahal gue sudah kegeeran aja tadi dia datang kemari untuk nyariin gue, emang bener-bener deh sik Bara ini, bikin orang mau nabok saja."


"Gue Tiar Bara yang waktu itu nyamperin elo ke kelas dan bawain lo kue."


"Ohh sorry gue lupa."


"Dasar pelupa, untung cakep." ledekan yang hanya dikatakan dalam hati oleh Tiar.


"Lo mau cari siapa Bara."


"Vero."


"Vero." ulang Tiar dan langsung menoleh ke arah Rara dengan wajah bertanya-tanya alasan Bara mencari Vero.


"Bara mencari Vero." beritahunya tanpa suara sebelum dia kembali menoleh ke arah Bara, "Duhhh kenapa ya Bara nyariin Vero, jangan sampai deh dia nyariin Vero karna dia sudah mulai suka sama Vero, ogah gue kalau harus nyelsain tugas-tugasnya Vero."


"Mmm Bara, lo ada perlu apa ya nyariin Vero."


"Gak ada sieh." jawab Bara lempeng dan tidak mau mengatakan alasan yang sebenarnya dia mencari Vero.


"Masak gak ada sieh, yang benar saja, gak percaya gue."


"Vero gak masuk." Tiar memberitahu


"Gak masuk, padahal tadi pagi dia nyamperin ke kelas gue." Bara mengernyitkan keningnya.


"Ohhh ya sudah kalau gitu." ketika Bara akan berbalik untuk keluar, dia teringat sesuatu, dan hal itu membuatnya kembali menghadapkan tubuhnya ke arah Tiar.


"Mmm, sorry, apa boleh gue minta tolong sama lo."


"Minta tolong apaan Bar."


"Boleh gue minta nomernya Vero."


"Mmmm." agak ragu sieh, tapi akhirnya Tiar memberikan, "Boleh."


"Thanks." ucap Bara begitu selesai mencatat sejumlah angka yang dibacakan oleh Tiar diHPnya.


Bara kemudian keluar dari kelas tersebut.


"Bara nyariin Vero ada perlu apa Tiar." tanya Rara begitu Tiar kembali duduk disampingnya.


"Gak tahu, Bara sieh bilangnya gak ada, tapi gue gak percaya, dia juga minta nomernya Vero."


"Elo kasih."


"Iya."


"Apa jangan-jangan Bara sudah mulai suka kali ya sama Vero, pakai nyari ke kelas segala dan minta nomernya." duga Rara.


"Berdoa saja supaya hal itu tidak sampai terjadi, soalnya gue gak ingin ngerjain tugas-tugasnya Vero selama satu semester."


"Amin." Rara mengaminkan, dia juga ogah mengerjakan tugas-tugasnya Vero, makanya dia berdoa siang malam supaya Vero tidak berhasil menaklukkan Bara.


****


Dengan melipat kedua tangannya diatas meja, dan menelungkupkan wajahnya disana, Vero sejak tadi berfikir keras bagaimana caranya untuk membuat Bara jatuh cinta kepadanya.


"Tinggal enam hari lagi, dalam jangka waktu enam hari, gue harus bisa membuat Bara jatuh cinta." sejak tadi kata-kata itu terus dia ulang-ulang


"Gue gak boleh kalah taruhan, bisa-bisa Rara dan Tiar akan meledek gue seumur hidup."


Ping


Disaat konsentrasi kayak gitu, Vero mendengar suara notifikasi chat masuk, dan itu membuatnya kesal, "Ihhhh, siapa lagi sieh yang gangguin gue, gak tahu apa kalau gue tengah berfikir keras." omel Vero.


Dengan kesal Vero meraih ponselnya untuk melihat siapa sik pengganggu, "Awas saja kalau Vero dan Tiar."


Ternyata pengirim pesan adalah dari nomer asing yang tidak dikenal.


081XX : Lo dimana


"Siapa sieh ini sok akrab banget nanyain gue ada dimana."


Vero : Lo siapa


081XX : Bara


Nomer asing itu kembali mengirim pesan dengan satu kata, satu kata yang mampu membuat mata Vero melotot tidak percaya yang membuatnya membaca pesan yang berisi satu kata itu berulang-ulang.


"Bara, Bara yang mana, gak mungkin Barathayudha Arkanakan, gak mungkin diakan." Vero menolak untuk percaya.


Vero bahkan sampai memegang dadanya, dadanya berdetak dengan cepat tiba-tiba saat mengetahui siapa yang mengirim pesan tersebut, tidak bisa dipungkiri kalau dia bahagia saat mengetahui kalau pesan itu dikirim oleh Bara, padahal satu jam yang lalu dia sangat kesal dan marah sama Bara.


Vero : Maksud elo, lo Barathayudha Arkana kan


Dengan hati deg degan Vero menunggu jawaban dari nomer asing tersebut, Vero benar-benar sangat berharap kalau yang mengirim pesan itu adalah beneran Barathayudha Arakana, laki-laki yang saat ini tengah gencar-gencarnya dia deketin.


081XX : Emang berapa banyak cowok bernama Bara yang lo kenal


"Akhhhh, ini beneran Bara ternyata." antusiasnya, "Tapi darimana dia dapat nomer gue ya."


Karna penasaran, Vero bertanya langsung.


Vero : Lo dapat nomer gue dari mana


081XX : Emang itu penting


"Ihhh, Bara banget deh ini."


081XX : Mending lo kasih tau deh dimana lo saat ini berada


Vero : Emang lo mau ngapain nanya-nanya dimana gue berada sekarang.


Sol jual mahal sik Vero, padahal mah dia kesenengan banget deh tuh dicariin oleh Bara.


081XX : Ya udah kalau lo gak mau ngasih tahu


"Selalu deh jawabannya bikin kesel, gak bisa apa dia bujuk gue gitu pelan-pelan untuk nanyain dimana keberadaan gue sekarang, guekan kesel banget gara-gara perbuatan kasarnya barusan."


Vero : Gue diperpustakaan


Gak ada balasan dari Bara.


Dan lima menit kemudian, Bara tahu-tahunya nongol diperpustakaan dan dia berjalan nyamperin Vero yang saat ini masih duduk dengan manis ditempatnya.


"Baraaa." Vero sampai tidak berkedip saat melihat Bara yang berjalan ke arahnya, "Dia datang nyamperin gue ternyata."


"Ahhh ya Tuhan, kok gue seneng ya melihat Bara, seharusnya gue itu marah karna dia telah bikin gue malu didepan teman-temannya." itu menurut fikirannya, sayangnya, hatinya ternyata memilih untuk berkhianat.


****