
Sepanjang koridor menuju ruang unit kesehatan, mereka menjadi pusat perhatian para mahasiswa yang berlalu lalang dikoridor kampus, para mahasiswa itu heboh melihat pemandangan langka tersebut, Bara yang super dingin dan dijuluki kanebo kering menggendong Vero gadis tercantik dikampus, para mahasiswa itu saling berbisik satu sama lain.
"Lho, kok bisa Bara sampai menggendong Vero."
"Apa sekarang Bara adalah pacar barunya Vero setelah putus dengan Saga."
"Kok Bara mau sieh sama Vero, cantik sieh, tapi hatinya itu lho kayak iblis."
Itu beberapa diantara bisikan-bisikan para mahasiswa yang melihat Bara menggendong Vero.
"Baraaa, kita jadi pusat perhatian lho." Vero memberitahu
Bara diam tidak menggubris.
"Baraaa, lo denger gue gak sieh, kita jadi pusat perhatian itu."
Bara mendengus kesal, "Terus kenapa."
"Ya mereka itu pasti berfikir kalau kita itu pacaran."
"Hanya orang bodoh yang berfikiran begitu."
"Kok gitu."
"Sudah sangat jelaskan, gue itu tidak mungkin mau berteman dengan wanita tolol kayak lo, apalagi pacaran."
"Ihhh Bara mah suka gitu, bikin gue kesel aja." Vero manyun, dongkol banget sumpah dia dikata-katain tolol sama Bara, ingin rasanya dia menendang Bara, tapi tidak mungkin dia lakukan karna saat ini Bara tengah menggendongnya.
Begitu tiba diruang uni kesehatan, Bara mendudukkan Vero dibankar, tanpa mengatakan apa-apa, dia berbalik meninggalkan Vero.
Vero dengan sigap menahan lengan Bara, "Mau kemana."
"Kelas."
"Jadi lo mau ninggalin gue gitu."
"Ya iyalah, masak gue nungguin elo sieh, kayak gak punya kerjaan saja gue."
"Bara jahat deh, guekan lagi sakit, ya lo temenin gue kek, atau inisiatif kek gitu obatin lutut gue yang luka, lo jadi cowok gak peka banget deh, kalau sikap lo cuek kayak gini, mana ada cewek yang mau sama lo."
"Emang gue peduli."
"Dasar Bara menyebalkan." umpat Vero mendengar jawaban Bara.
Bara kembali berbalik, dia harus ke kelas untuk mengikuti perkuliahan yang sebentar lagi akan berlangsung.
"Aduhhh lutut gue, sakit banget." rintih Vero lebay berharap Bara berbalik dan kasihan kepadanya.
"Lutut gue, kalau infeksi gimana, kalau sampai diamputasi gimana, duhhh perih banget lagi." pura-pura kesakitan, dan lebay banget, mana ada lutut yang hanya tergores paping blok sampai diamputasi segala.
"Baraaa, lo jahat banget siehhh, Baraaa." rengek Vero karna Bara tidak kunjung berbalik juga.
Bara yang sudah diambang pintu terpaksa kembali berbalik, dia mendekati Vero, dia bersungut-sungut, kesal banget dah dia dengan rengekan Vero.
"Lo jadi cewek manja banget sieh, luka segini saja lo merengek." omelnya, namun meskipun begitu, dia membuka kotak P3K untuk mencari alkohol dan obat merah untuk mengobati lutut Vero.
"Sakit Bara, lo belum merasakan jatuh, terus lutut lo luka sieh."
"Jatuh dari motor dan luka jauh lebih parah dari yang lo alamin sering gue rasain, tapi gue sama sekali tidak pernah mengeluh, apalagi merengek." tandas Bara.
"Itukan karna lo cowok, masak merengek sieh, banci tuh namanya."
Bara mendengus dan menatap Vero tajam sebagai sebuah kode meminta Vero untuk tutup mulut karna dia bosan mendengar ocehan Vero dan membuat kupingnya menjadi sakit, melihat tatapan Bara, otomatis Vero menutup bibirnya dan membiarkan Bara membersihkan lukanya dengan alkohol.
"Awhhh, perihhhh perihh."
"Ya Tuhan, tumben banget gue lihat cewek kayak lo, gini doank menjerit."
"Habisnya perih banget, lo juga, bisaka pelan-pelan ngobatinnya."
"Ini juga udah pelan-pelan gue, gak usah manja deh." bentak Bara yang membuat Vero mengkerut.
Untuk sesaat, suasana kembali tenang, tidak terdengar lagi suara rengekan Vero.
Vero memperhatikan wajah Bara yang terlihat serius saat mengobati lukanya, "Dia tampan sieh, tipe gue banget, coba saja sikap juteknya itu dihilangin, bisa jatuh cinta beneran gue sama dia." batin Vero.
"Barr."
Bara tidak merespon.
"Baraaa."
"Apa."
"Kenapa lo ngasih nomer jasa antar makanan ke gue bukannya nomer elo."
"Nomer ponsel itu sesuatu yang sifatnya pribadi, gak mungkinkan gue kasih ke sembarang orang."
"Guekan bukan sembarang orang, gue teman lo, ingat."
"Teman cuma dibibir, dihati mah gue ogah nganggep elo teman, buat apa gue berteman sama orang gak berguna kayak lo." asli, Bara mah kalau ngomong suka bikin orang sakit hati.
"Sabar Vero, sabar, anggap saja ini ujian dari Tuhan, gak selamanya perjalanan lo mulus, jadi kalau lo mau menaklukkan sik batu bara ini, lo kudu menebalkan kesabaran, dan yang paling penting jangan ambil hati ucapan-ucapannya yang nyelekit itu." Vero benar-benar tidak pernah menyangka kalau Bara benar-benar sangat sulit untuk ditaklukkan, Vero membenarkan kata-kata Tiar dan Rara, Bara tidak seperti cowok kebanyakan, dia itu kayak gunung es yang sangat susah untuk dicairkan bahkan oleh wanita secantik dirinya yang dikenal sebagai penakluk hati pria.
"Bara mahh gitu, gue itu ya tulus lho berteman dengan elo Bar, mungkin teman-teman lo yang lain tidak berguna, tapi gue bisa pastikan kalau gue sudah pasti akan menjadi teman berguna untuk lho."
"Ohhh ya, contohnya berguna dalam hal apa." tantang Bara.
"Mmmm...."
"Lo bodohkan, jadi sudah bisa dipastikan lo gak akan bisa diandalkan dalam hal akademis." tandas Bara sebelum Vero membalas pertanyaannya yang pertama.
"Tuhannnn, kenapa cowok satu ini begitu sangat menyebalkan, gila, stok kesabaran gue kayaknya akan habis menghadapinya." Vero mengeluh dalam hati.
Setelah proses mengobati lutut Vero yang penuh drama berakhir, Bara menarik nafas lega, pasalnya dia sudah tidak tahan mendengar cewek manja itu terus menjerit-jerit tiap kali kapas yang ditempelkannya dikulit Vero yang terluka.
"Oke, lo mending rebahan gieh, gue mau ke kelas dulu."
Bara sieh yakin dia sudah terlambat masuk kelas gara-gara ngobatin Vero, tapi fikirnya tidak apa-apa telat daripada tidak mengikuti perkuliahan sama sekali.
"Lo masih mau ke kelas juga, disini saja." masih saja dia ingin menahan Bara.
"Kalau gue gak mengikuti perkuliahan, bisa bodoh gue kayak lo, dan gue tidak ingin hal itu terjadi." tandasnya dan berlalu meninggalkan Vero.
"Dasar cowok menyebalkan, bisa tidak kalau ngomong gak usah ketus dan kasar gitu."
*****
Tiba-tiba seantero kampus heboh karna sebuah vidio yang beredar di group chat, bukan vidio asusila atau vidio porno, melainkan vidio saat Bara tengah menggendong Vero, entah itu ulah iseng siapa yang menyebarkannya, yang pasti itu adalah ulah dari salah satu mahasiswa yang menyaksikan secara langsung.
"Hehhhh." Rama yang melihat vidio berdurasi 30 detik itu sampai mengulangi vidio tersebut berulang kali karna dia fikir penglihatannya yang salah, "Ini Barakan, dan dia tengah menggendong Vero."
Saat Bara selesai memasukkan buku-buku tebalnya ke dalam tas, barulah dia sadar saat ini teman-teman kelasnya termasuk Rama tengah pada memperhatikannya.
"Ada apa lo semua merhatiin gue kayak gitu, gue gak lagi ngelakuin kesalahan sama lo semuakan."
"Lo bisa jelasin Barathayudha Arkana tentang vidio ini." Rama memampangkan layar ponselnya tepat didepan mata Bara, vidio yang tengah memutar dirinya menggendong Vero di koridor kampus.
Temannya yang lainnya juga menunggu penjelasan Bara.
Begitu selesai menonton vidio berdurasi 30 detik tersebut, Bara mendengus, "Siapa sieh yang segitu tidak punya kerjaannya nyebaran vidio gak penting begitu."
"Jadi ini beneran elo Bar."
"Hmmm." dengus Bara acuh tak acuh.
"Lo gendong Vero wanita tercantik dikampus."
"Elahhh biasa aja kali reaksi lo, kayak gue gendong princess Leonord saja, lagian juga gue terpaksa."
"Vero memang bukan princess Leonord Bar, tapi dia Vero,Veronica Salim, wanita tercantik diseantero kampus, wanita yang jadi incaran kaum Adam."
"Bisa gak lo sekali saja gak usah lebay dengan mengatakan wanita sok cantik itu wanita tercantik diseantero kampus, sumpah, enek gue dengarnya."
"Emang itu kenyataannyakan Bar."
"Terserah apa kata elu deh."
"Terus terus, kenapa lo bisa gendong Vero sieh, sumpah lo beruntung banget."
"Beruntung gimana maksud lo, yang ada badan gue pegal-pegal harus gendong dia dari parkiran sampai ruang unit kesehatan kampus."
Rama mendesah berat mendengar ocehan Bara, ya memang Bara bukan seperti dirinya dan kebanyakan cowok lainnya yang merupakan fansnya Vero, kalau buat Rama dan cowok-cowok lainnya bisa menyapa Vero saja sudah mereka anggal sebagai sebuah prestasi, apalagi kalau sampai menggendong Vero, tapi tidak dengan Bara, Bara bahkan tidak suka-suka dekat-dekat dengan Vero, misteri kenapa Vero tiba-tiba ingin menjadi temannya masih belum terpecahkan sampai sekarang.
"Oke, jadi intinya ya Bar yang membuat gue penasaran akut, kenapa lo bisa gendong Vero gitu lho, jawab donk, agar rasa penasaran gue hilang."
"Kan sudah gue bilang barusan, gue terpaksa, cewek itu terjatuh diparkiran yang membuat lututnya lecet, dan dia memaksa gue untuk menggendongnya berhubung hanya gue yang ada diparkiran." Bara tidak mengatakan kalau Vero memang sengaja menghampirinya diparkiran.
"Hmmm, coba gue ada yang ada diparkiran, jangankan sampai unit kesehatan kampus, keliling dunia juga gue rela gendong Vero."
"Sinting lo."
"Gak sinting, hanya saja, siapa sieh yang tidak ingin menggendong Vero.
"Apa kata lo deh."
*****
"Apa,? jangan bilang Vero sudah berhasil menaklukkan Bara, gue gak percaya ini, ternyata Bara tidak segunung es yang kita kira Tiar, benar kata Vero, dia ternyata sama saja dengan cowok-cowok lainnya, lihat cewek cakep matanya langsung ijo." komen Rara saat melihat vidio itu saat perkuliahan berakhir.
"Apa sieh maksud ocehan lo Ra, gak jelas banget." respon Tiar karna dia sama sekali belum memeriksa ponselnya.
"Lo lihat aja sendiri, gila, kita bakalan ngerjain tugasnya Vero selama satu semester."
Tiar mengambil alih ponsel Rara dan menonton vidio yang dimaksudkan oleh Rara barusan, "Bara, gendong Vero, kok bisa sieh."
"Kita kalah taruhan Tiar, seharusnya sejak awal kita tidak usah nantang-nantang Vero segala, duhh, gak bisa kebayang dah gue kalau harus ngerjain tugasnya Vero tiap hari, tugas gue saja malas gue kerjain." keluhnya.
"Hanya karna vidio Bara menggendong Vero, belum tentu mereka pacaran kali Ra, siapa tahu Vero kenapa-napa gitu sampai Bara turun tangan untuk bantuin dia, Barakan emang baik anaknya meskipun dirinya dibuat dari pahatan es kutub selatan."
Saat Tiar dan Rara tengah menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi dibalik vidio yang beredar luas dikalangan mahasiswa kampus, mereka mendapati Vero mengirim chat digroup yang beranggotan mereka bertiga, bunyi chatnya adalah.
Vero : Temui gue donk, gue di unit kesehatn kampus nieh.
Tanpa basa-basi, kedua gadis itu meluncur ke tempat yang diminta oleh Vero, mereka langsung cabut bukan karna khawatir dengan kondisi Vero, melainkan ingin mengintrogasi Vero tentang vidio yang tengan viral tersebut.
Hanya butuh waktu dua menit buat Tiar dan Rara untuk sampai ditempat dimana Vero berada, padahal letak kelas dan unit kesehatan kampus jaraknya lumayan jauh.
Dan memang dasar mereka hanya penasaran tentang vidio itu sehingga mereka bukannya menanyakan bagaimana keadaan Vero terlebih dahulu hanya sekedar untuk basa-basi, mereka malah langsung mencecar Vero tentang vidio yang tengah viral itu.
"Ver, jelasin, kenapa Bara bisa gendong elo."
"Ehhh sialan, lo berdua tanyain kenapa gue bisa berakhir disini kek, malah lo nanya tentang vidio itu, benar-benar sahabat lucnut lo." Vero juga sudah melihat vidio dirinya yang digendong oleh Bara tersebar, dan yahh, Vero tidak merasa risih sama sekali akan hal itu.
"Gue gak peduli ya kenapa bisa lo berada disini, gue hanya penasaran kenapa bisa Bara gendong lo, jelasin Ver sebelum gue mati penasaran."
Vero mendesah, "Punya sahabat kok gini-gini amat."
"Mmm, oke gini..." Vero kemudian mulai menjelaskan kronologi kejadiannya secara singkat.
"Ohhh begitu." kompak Tiar dan Rara agak lega karna dari awal sampai cerita Vero berakhir, Vero sedikitpun tidak menyebut-nyebut tentang jadian, karna fikir mereka, kalau Vero sudah berhasil menaklukkan Bara, sahabat mereka itu pasti akan heboh dan akan dengan bangga mengumumkannya.
"Intinya Ver, lo belum berhasil membuat Bara jatuh cintakan, lo belum berhasil menjadikan Bara pacar lokan." Tiar memastikan.
"Ya untuk saat ini sieh kami belum resmi jadian, tapi tahu tidak, Bara sudah ada tanda-tandanya suka sama gue, ya palingan besok juga dia bakalan nembak gue." ujarnya menyampaikan berita hoaks kepada kedua sahabatnya, gak mungkinkan kalau dia jujur kalau Bara itu benar-benar susah ditaklukkan dan sebenarnya lebih mendekati mustahil, kalau dia jujur, bisa diketawain dia oleh Rara dan Tiar.
"Kemarin lo bilang lo bisa menaklukkan Bara kurang dari 24 jam."
"Tapikan lo bilang lo ngasih gue waktu satu minggukan, jadi yahh, gue santai saja gak usah terburu-buru, nikmatin semua prosesnya."
"Oke, kalau Bara nembak lo, lo vidioin sebagai bukti."
"Oke."
******
Bara menghentikan langkahnya saat melihat Vero duduk diatas motornya, Bara mengernyitkan keningnya saat melihat gadis itu duduk dengan manis dan tersenyum lebar saat melihatnya.
"Hai Baraaa." sapa Vero manja.
Rama yang saat ini juga berjalan disamping Bara menghentikan langkahnya, dia menoleh ke arah Bara, Rama bertanya-tanya, apa sebenarnya hubungan antara Bara dan Vero, kenapa bisa Vero duduk di atas motor Bara dan menyapa Bara dengan manja begitu, Rama sempat curiga juga sieh saat melihat vidio saat Bara menggendong Vero, tapi kecurigaannya itu sirna saat mendengar penjelasan Bara yang mengatakan kalau dia hanya membantu Vero karna gadis itu terjatuh dan tidak bisa berjalan, dan kini, kecurigaannya kembali menyeruak ke permukaan.
Bara mendekat, "Lo ngapain duduk dimotor gue." ketus Bara tidak suka.
Vero berdiri, dengan langkah tertatih-tatih karna lututnya masih sakit dia mendekati Bara dan melilitkan tangannya dilengan Bara, "Anterin gue pulang ya."
Bara langsung melepaskan tangan Vero dari lengannya, "Gak." tolaknya.
"Kok gak sieh."
"Gue bukan ojek pribadi elo ya Ver, jadi jangan sok jadi tuan putri nyuruh-nyuruh gue."
"Ini sebenarnya ada apa sieh diantara mereka berdua." Rama hanya bisa bertanya dalam hati.
"Guekan gak nganggep elo ojek pribadi Bar, gue hanya minta dianterin karna lutut gue sakit gara-gara jatuh tadi pagi."
"Rama, bukannya lo ngefans bangetkan sama gadis ini, tuh anterin dia pulang." dia malah melimpahkan tugas itu sama Rama.
"Dengan senang hati." jawab Rama dalam hati, lisannya, "Oke, biar gue saja yang nganterin lo pulang ya Vero."
****