Veronica

Veronica
MAUKAH KAMU MENJADI PACARKU



"Pak Adi, pak Adi." salah satu pelayan berlari ke ruang tamu untuk memberitahu kalau sik nona muda yang tengah ditunggu-tunggu sudah kembali ke rumah, "Nona sudah pulang pak Adi, ada seorang laki-laki yang tengah bersamanya." lapor sik pelayan.


Hampir semua pelayan dirumah besar itu dan juga pak Adi yang merupakan kepala pelayan tidak bisa tidur karna khawatir dengan nona muda mereka, dan kini, mereka semua pada berkumpul diruang tamu untuk menunggu kedatangan nona muda yang merupakan anak tunggal kesayangan dari Amar Salim.


Pak Adi terlihat lega mendengar informasi yang disampaikan oleh pelayan tersebut.


"Apa nona terlihat baik-baik saja." pak Adi bertanya untuk memastikan.


"Kelihatannya nona baik-baik saja."


Pak Adi berjalan menuju pintu keluar untuk melihat sang nona muda yang diikuti oleh beberapa pelayan dibelakangnya. Pak Adi membuka pintu dan menemukan Vero tengah ngobrol dengan Bara, mendengar suara pintu terbuka, baik Vero dan Bara langsung mengalihkan perhatiannya ke arah suara, dan Vero menemukan pak Adi dan beberapa pelayan kini ada dipintu tengah menatapnya.


Vero mendengus kesal karna merasa terganggu oleh kedatangan rombongan tersebut, "Brengsek, kenapa mereka kayak orang demo saja sieh, mengganggu gue saja." Vero merutuk dalam hati.


"Nona, syukurlah nona sudah pulang dengan selamat, kami disini tidak bisa tidur dengan tenang karna mengkhawatirkan nona."


"Ishhh, Bara pasti ngetawain gue dalam hati, apa yang dikatakan oleh pak Adi seolah-olah memperjelas kalau gue anak manja, padahalkan enggak."


Bara menahan tawanya melihat semua pekerja dirumah Vero berbondong-bondong keluar untuk menyambut Vero, "Ya Tuhan, dia sudah kayak tuan putri saja."


"Apaan sieh lo, lo fikir gue anak kecil apa dikhawatirin segala dan pakai tungguin segala lagi." omel Vero karna dia malu banget dengan Bara.


"Ver, bisakan kalau sama orang yang lebih tua omongannya lebih sopan." Bara memperingatkan.


"Hmmm, oke."


Para pelayan dibelakang pak Adi berspekulasi melihat laki-laki yang saat ini tengah bersama nona muda mereka, apalagi sang nona terlihat penurut begitu.


"Kalian bisa tidur sekarang, kalian lihat sendirikan kalau sekarang aku sudah pulang dan aku baik-baik saja." setelah mendapat teguran dari Bara, Vero bicara lebih sopan kepada para pelayannya.


"Mmmm, baik nona, nona juga sebaiknya istirahat, sudah malam." pak Adi memperingatkan.


"Iya pak Adi, pak Adi juga sebaiknya istirahat sana, pak Adi pasti capek karna harus bekerja mengontrol para pelayan dirumah papiku ini seharian." Vero benar-benar menekan setiap kata yang dia keluarkan untuk membuat kepala pelayan dirumahnya itu paham kalau dirinya saat ini butuh waktu berdua dengan Bara.


"Baik nona." dikomandai oleh pak Adi, para pelayan itu kembali masuk dan membiarkan nona muda mereka ngobrol dengan laki-laki yang mereka fikir adalah pacar nona mereka.


Begitu pintu rumah besar itu kembali tertutup, Bara yang sejak tadi menahan tawanya sudah tidak tahan lagi, dia tertawa sambil memegang perutnya.


"Apaan sieh lo Bar, lo ngetawain gue ya."


"Benar-benar gadis manja lo ya, pulang malam saja lo sampai dikhawatirin oleh selusin pelayan rumah lo, bagaimana kalau lo gak pulang ya semalaman, bisa kelimpungan mereka."


"Gak lucu Bar."


Namun Bara bukannya menghentikan tawanya, dia malah makin heboh tertawa yang membuat Vero memberengut saking kesalnya, "Ketawain saja gue terus."


Bara mengacak-ngacak puncak kepala Vero, dia kini menghentikan tawanya, "Sudah gak usah manyun, jelek tahu."


"Habisnya lo ngetawain, guekan kesal."


Bara meraih pundak Vero dan mendekatkannya perlahan dan memeluk tubuh Vero.


"Apa yang Bara baru lakukan, ya Tuhan, jantung gue." jantung Vero jejingkrakan karna tidak menyangka Bara akan memeluknya kayak gini, Bara memang kadang begitu, kadang bersikap manis tiba-tiba yang membuat jantung Vero disko gila-gilaan.


Vero reflek melingkarkan tangannya dipinggang Bara, dan menyandarkan kepalanya didada Bara, salah satu tempat ternyaman untuknya.


Bara mencium puncak kepala Vero yang harum, "Sial, kenapa gue rasanya berat untuk berpisah dengan gadis ini."


Bara sebenarnya tidak rela melepaskan pelukannya dari Vero, tapi dia tidak mungkinseperti ini teruskan, dia harus pulang, oleh karna itu dia berkata, "Vero, lo masuk gieh, udah malam nieh."


"Gak mau."


"Nanti para pelayan lo heboh lagi kayak orang demo kalau lo belum masuk juga." ledek Bara.


"Ihhh." Vero memukul lengan Bara, "Lo ngeledek gue."


Bara terkekeh, "Gue juga harus pulang, kasihan ibu sendirian dirumah."


"Tapi gue masih kangen." manjanya.


"Besokkan ketemu lagi."


"Tapi lonya suka cuek."


"Gak akan."


"Janji." Vero menyodorkan jari kelingkingnya.


"Iya janji."


"Tautkan dulu donk jari kelingking lo dijari kelingking gue."


"Emang harus seperti ini."


"Iya."


"Hmmm." dengan pasrah Bara menautkan jari kelingkingnya dikelingking Vero demi menuruti keinginan Vero yang menurutnya kekanak-kanakan.


"Sampai rumah, hubungin gue oke."


"Iya kalau gue ingat."


"Kok gitu sieh Baraa."


"Iya iya bercanda, gitu aja manyun."


"Janji ya pas nyampai rumah lo langsung hubungin gue."


"Iya."


"Gue pulang ya." Bara berbalik ke arah motornya.


"Baraa." Vero mengejar Bara, dan dengan cepat dia mengecup pipi Bara, "Selamat malam Bara."


Cup


Bara kembali mencium pipi Vero satunya, "Selamat malam juga Veronica Salim."


Vero tersenyum malu dan menyentuh pipinya yang tadi dicium oleh Bara.


"Gue balik."


"Hati-hati."


Bara mengangguk, dia kemudian memasang helmnya.


"Sudah sana masuk."


"Gue akan masuk kalau lo udah menjalankan motor lo."


"Hmmm." Bara kemudian menjalanka motornya meningalkan rumah utama kediaman Vero.


"Bye Bara." Vero melambaikan tangannya.


"Ya Tuhan, gue rasanya berbunga-bunga." Vero memegang area dimana bagian jantungnya yang berdetak cepat.


Dan dengan langkah riang dan dengan bibir yang dipenuhi oleh senyum merekah Vero berjalan ke rumahnya.


Dan saat melewati ruang tamu, ternyata pak Adi dan para pelayan rumahnya masih pada berkumpul disana.


"Astaga, kenapa kalian masih disini sieh, bukannya pada tidur istirahat sana."


"Maaf nona muda, kami tidak bisa tenang sebelum nona masuk ke kamar."


"Ada-ada saja kalian ini, kalian digaji untuk mengurus rumahku, bukan memastikan apakah kamu sudah masuk kamar atau belum." Vero ngomel panjang pendek melihat kelakuan para pekerja dirumahnya yang menurut Vero sangat lebay, "Sudah sana pada bubar." usirnya.


"Baik nona."


Setelah mendapatkan pengusiran begitu, barulah mereka pada bubar, namun pak Adi bertanya sebelum benar-benar pergi, "Nona, apa nona butuh sesuatu."


"Gak, pak Adi sebaiknya sana gieh istirahat juga."


"Baik nona."


Vero sudah akan melanjutkan langkahnya naik ke lantai dua menuju kamarnya, namun pak Adi kembali menghentikannya.


"Nona."


"Apa lagi sieh pak Adi, gak kelar-kelar deh sejak tadi manggil terus."


"Mmm." agak tidak enak sebenarnya bertanya, dan sebenarnya memang dia tidak seharusnya juga bertanya, tapi kok dia penasaran ya sehingga menyebabkannya untuk bertanya, "Laki-laki tadi apakah...."


"Calon pacarku." tandas Vero dan kembali melanjutkan perjalanannya sambil bersenandung ria menuju kamarnya.


"Apa, pemuda tadi adalah calon pacarnya nona, kenapa laki-laki itu biasa-biasa saja, dia tidak terlihat dari golongan orang kaya, apakah benar itu adalah laki-laki yang nona sukai." pak Adi tentu sulit mempercayai akan hal itu mengingat semua pacar nona mudanya yang sebelum-sebelumnya berasal dari golongan orang kaya.


"Tapi terserah nonalah, akukan tidak berhak ikut campur dengan kehidupan nona."


*****


Saat ini Vero tengah duduk di depan meja riasnya melihat pantulan wajahnya yang begitu cantik, wajahnya sejak tadi berseri-seri membayangkan pipinya yang dicium oleh Bara, dia kembali memegang pipinya tersebut dan tersenyum.


"Ihhh Bara, dia kok bikin kangen gini sieh." Vero tersenyum malu dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Vero mengambil kalender kecil yang ada diatas meja riasnya, dia tersenyum saat melihat angka-angka yang dia silang menggunakan spidol berwarna merah, angka-angka yang disilang itu yang berarti dia gagal menaklukkan Bara.


Vero kemudian kembali meletakkan kalender tersebut, "Gue benar-benar mencintai Bara, dan tidak akan ada lagi yang namanya taruhan-taruhan." gumamnya, besok dia berjanji akan membatalkan taruhan tersebut dengan kedua sahabatnya.


"Bara sudah sampai belum ya, kenapa dia belum ngehubungin gue juga." galau Vero yang mengharapkan Bara menghubunginya.


Dan bertepatan dengan itu, Vero mendengar notifikasi pesan, karna berharap pesan itu adalah dari Bara, Vero dengan cepat menyambar ponselnya, dan benar, memang pesan tersebut dikirim oleh Bara, tapi bunyi pesan tersebut rasanya membuat Vero ingin pingsan seketika.


Pesan tersebut diketik dengan menggunakan hurup bold kafital. Bunyi pesan yang dikirim oleh Bara tersebut adalah.


VERONICA SALIM, MAUKAH KAMU MENJADI PACARKU


"Heii, ini beneran gak ya, apa Bara salah kirim." saking tidak percayanya, Vero sampai menyangka kalau Bara salah kirim, "Tapi disitu jelas tertulis nama gue, gak mungkin Bara salah kirim."


"Ini beneran gak sieh Bara nembak gue." Vero bermonolog sendiri, "Apa Bara salah ketik kali ya." Vero masih belum mau mempercayai pesan yang dikirim oeh Bara tersebut.


Untuk memastikan, Vero membalas pesan tersebut.


Vero : Bara, ini maksud lo apa


Vero deg-degan menunggu jawaban dari Bara.


"Apa dia bilang, dia nyuruh gue manggil aku kamu sebagai panggilan kami."


"Akhhhh." Vero berteriak saking senangnya.


Vero : Iya Bara, aku akan manggil dengan panggilan aku kamu


Vero : Jadi Bara, maksud kamu itu apa, kamu benaran menembak aku


Bara : Iya, apa kamu mau jadi pacar aku


"Aku mau, aku mau, aku mau banget Barathyudha Arkana, aku sangat mau jadi pacar kamu." Vero kini jejingkrakan diatas tempat tidurnya saking bahagianya dia.


Bara : Lo gak mau ya, ya udah kalau gitu


Saking sibuknya jejingkrakan, Vero sampai lupa kalau dia belum membalas pesan Bara tersebut sehingga Bara kembali mengirim pesan kepadanya.


"Eh eh, saking senengnya gue sampai lupa lagi membalas pesan Bara."


Vero : Aku ma Bara, aku mau jadi pacar kamu


Bara : Oke


Vero : Baraa, kamu tahu tidak, aku bahagia, aku bahagia menjadi pacar kamu,


Vero : Baraaaa


Namun Bara tidak menjawab.


"Ihhh kebiasaan banget deh Bara kalau dipanggil sekali gak bakalan nyahut."


Vero : Baraaa


Bara : Apa Vero


Vero : Mulai sekarang, panggil gue sayang, atau baby atau honey ya


Bara : Ogah, geli aku dengernya


Vero : Bara kok gitu sieh, panggil aku sayang atau baby Bara, kitakan sudah pacaran sekarang, masak panggilnya nama doank


Bara : Panggil nama saja, gak perlu panggil begitu-begituan, emang kita remaja alay apa


Vero : Bara ih gak seru


Vero merajuk


Bara : Lebih baik kamu tidur sekarang, besokkan kuliah


Vero : Tapi aku masih kangen Bara


Bara : Besokkan katemu


Vero : Hmmm


Vero : Bara, bilang I LOVE YOU


Bara : Gak


Vero : Ihh Bara, katanya pacar, masak iya bilang I love you saja gak mau


Bara : Gak usah banyak mau Vero, tidur sekarang oke, karna aku juga akan tidur sekarang, sudah tengah malam ini


Vero : Baiklah, mimpi yang indah sayangku Barathayudha Arkana, I LOVE YOU baby


Vero berharap Bara membalas, tapi Bara begitu gengsi membalas pertnyataan cinta Vero.


"Dasar Bara." guma Vero, tapi meskipun begitu, senyum lebar tercetak dibibirnya, dia begitu sangat bahagia malam ini, ternyata laki-laki yang dia harapkan menyatakan perasaannya juga kepadanya.


Vero membanting tubuhnya ditempat tidurnya, dilangit-langit kamarnya dia bisa melihat wajah Bara terlukis disana, "Barathayudha Arkana pacar gue."


*****


Vero sarapan sendirian dimeja panjang karna papinya masih belum pulang dalam perjalanan bisnisnya. Vero sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Bara, laki-laki yang kini sudah resmi berstatus sebagai kekasihnya saat ini.


"Gini ya rasanya jatuh cinta ternyata, hati berbunga-bunga dan terus berdebar-debar gak karuan saat ingat dirinya, apalagi kalau bertemu nanti." gumamnya senyum-senyum sendiri dimeja makan.


Dua pelayan yang tengah melayani Vero saling-saling senggol-senggolan saat melihat nona muda mereka yang senyum-senyum begitu.


"Lihat tuh nona muda, kayaknya nona lagi bahagia gitu deh." bisik sik pelayan satu kepada temannya.


"Iya, sepertinya gara-gara pemuda yang semalam deh."


"Apa benar itu pacarnya nona Vero."


"Sepertinya sieh iya."


"Tapi pemuda yang sama nona semalam kayaknya laki-laki yang berasal dari keluarga sederhana deh, soalnya motornya butut begitu."


"Emang benar, tapi kalau nonanya cinta sama pemuda itu mau bagaimana."


"Apa tuan besar akan menyetujui hubungan mereka."


"Ya gak tahulah, kenapa lo nanyain gue."


"Apa lo berdua bisik-bisik." tegur Vero melihat dua pelayannya itu bisik-bisik.


"Gak ada nona." kedua pelayan itu menggeleng dan menunduk.


Vero meraih ponselnya saat dia mendengar suara notifikasi masuk.


Bara : Gue sudah ada didepan gerbang rumah lo nieh


Senyum Vero semakin mengembang begitu melihat pesan dari sang kekasih hati.


Vero : Beneran kamu sudah didepan gerbang, duh kenapa gak bilang dari tadi kalau mau jemput


Bara : Kamu gak suka ya aku jemput, ya udah deh aku pergi saja kalau gitu


Vero : Bukan begitu maksud aku sayang, tentu saja aku mau, bahkan sangat senang malah, tunggu ya, aku akan segera otw


Bara : Hmm


Vero meneguk jus jeruknya dan setelah itu meraih tasnya, dia kemudian berlari keluar, dia begitu semangat dan bahagia tentunya karna Bara ternyata sudah didepan untuk menjemputnya.


"Lihat itu nona, dia kayak senang banget gitu ya setelah menerima pesan dari seseorang." kembali dua pelayan tadi berghibah ria begitu Vero sudah pergi.


"Mungkin pemuda yang semalam yang mengirim pesan kepada nona, atau jangan-jangan pemuda itu menjemput nona diluar makanya nona buru-buru keluar."


*****


"Muhlisss, cepatan anterin gue sampai depan gerbang." teriak Vero memanggil sopirnya tersebut yang saat ini tengah ngopi.


"Iya nona tunggu sebentar."


Laki-laki berkulit agak gelap bernama Muhliss itu dengan terburu-buru menghampiri nona majikannya tersebut.


Muhlis membukakan pintu untuk Vero, "Silahkan nona."


Setelah Vero masuk dan menutup pintu, Muhlis juga masuk dan duduk dikursi pengemudi.


"Anterin gue sampai depan gerbang ya Muhliss."


"Sampai depan gerbang nona." tanya Mulis heran.


"Iya sampai depan gerbang."


"Bukannya nona mau ke kampus."


"Iya gue mau ke kampus, ntar didepan lo turunin gue karna cowok gue udah nungguin gue disana."


"Ohh, baiklah nona."


"Buruan cepat, ntar cowok gue kelamaan nunggunya."


"Baik nona."


Muhlis menjalankan mobil, dan dia berhenti begitu sudah tiba didepan gerbang seperti yang diperintahkan oleh nona majikannya.


Sebelum keluar, Vero melihat tampilan dirinya dikaca bedaknya, dan setelah merasa penampilannya sempurna, Vero kembali memasukkan bedak tersebut kembali ke dalam tasnya, sebelum benar-benar keluar, dia bertanya sama Muhlis.


"Muhliss, menurut lo, gue cantik gak."


"Nona nanya saya." tanya Muhlis heran karna tumben-tumbenan nona mudanya menanyakan apakah dia cantik atau tidak kepadanya.


"Iya elo, masak mahluk halus sieh yang gue tanyain."


"Nona itu sangat cantik, bahkan orang butapun tahu itu." puji Muhlis tanpa melebih-lebihkan.


Vero senang mendapat pujian tersebut.


"Muhliss, lo lihat tuh laki-laki itu, dia pacar gue lho, tampankan."


"Iya nona, pacar nona tampan kok."


Setelah bertanya tentang hal-hal tersebut, Vero kemudian keluar dari mobil, senyum Vero mengembang begitu melihat Bara menoleh ke arahnya.


"Mmmm, cintaku, sayangku, my honeyku, kenapa dia begitu sangat tampan sieh." hati Vero berbunga-bunga gitu dan detakan jantungnya bertambah cepat.


Berbeda dengan Vero yang benar-benar menampakkan rasa cintanya secara nyata, Bara mah tetap seperti sediakala, datar dan cuek, gak ada tuh tanda-tandanya kalau dia semalam menyatakan perasaanya sama Vero dan sekarang Vero sudah resmi menjadi pacarnya, Vero yang sudah sedikit tidaknya mengenal sikap Bara tidak mempermasalahkan sikap Bara, dia sangat suka dengan Bara yang sekarang yang selalu cuek dan tidak pernah menggubris wanita yang selalu caper-caper kepadanya.


"Pagi sayang." sapa Vero manis.


"Aku tahu ini pagi, kan aku gak buta." jawab Bara.


"Ayank Bara mah suka gitu deh kalau ngejawab." Vero merajuk manja.


"Sudah yuk naik, kita berangkat sekarang, ntar telat."


"Oke sayangku." Vero pose hormat sebelum duduk diboncengan motor Bara.


****