
Amar Salim benar-benar melaksanakan niatnya, dia tidak hanya mengeluarkan Saga dari kampus, tapi juga menjebloskan laki-laki yang telah menyakiti putrinya itu ke penjara, bahkan saat keluarga Saga memohon dan meminta maaf atas perlakuan Saga, dan orang tua Saga berharap ada kata damai diantara kedua belah pihak dan orang tua Saga berharap supaya kasus ini jangan sampai dibawa ke kentor polisi, namun permintaan maaf dan kata damai itu sama sekali tidak digubris sama sekali oleh Amar Salim, dia tetap menjebloskan Saga ke penjara, dan apa yang dilakukan oleh Amar Salim memang benar mengingat apa yang telah dilakulan oleh Saga itu sudah menjurus ke arah perbuatan kriminal, Saga memang pantas untuk mendapatkan balasan yang stimpal atas perbuatannya tersebut.
Dan tentu saja, apa yang terjadi bukan menjadi sebuah rahasia lagi, apa yang terjadi antara Vero dan Saga dengan begitu sangat cepat menyebar diseantero kampus melebihi kecepatan cahaya, tidak hanya dari mulut ke mulut, tapi grup-grup chat antar mahasiswa berperan penting dalam menyebarkan berita tersebut.
Dan kini setelah semua sudah kelar, dan Sagapun digiring ke kantor polisi, Amar Salim membawa putrinya untuk kembali ke rumah, saat ini kondisi putrinya dalam keadaan tidak baik-baik saja, baik secara fisik dan juga mental, sehingga yang dibutuhkan oleh Vero adalah istirahat dan menenangkan dirinya.
Saat Amar Salim merangkulnya dan akan membawanya ke mobil, Vero menoleh ke arah Bara, Bara yang selalu setia menemaninya, "Papi, aku mau pamit dulu sama Bara."
Amar Salim mengangguk meskipun sebenarnya dia tidak mengizinkan, dia benar-benar tidak suka melihat putrinya dekat-dekat dengan Bara meskipun laki-laki tersebut telah menyelamatkan putrinya.
Vero berjalan mendekati Bara, Bara tetap konsisten dengan wajah datarnya saat Vero mendekat, "Bara, aku pulang dulu ya." pamit Vero.
"Hmmm." hanya itu respon Bara.
Vero sieh sudah terbiasa dengan sikap Bara yang dingin dan hanya menjawab dengan jawaban singkat begitu sehingga dia tidak merasa sakit hati atau bagaimana.
Kafka yang juga tidak pernah pergi dari sisi Vero melihat intraksi tersebut dengan tidak suka, dia tahu Vero menyukai laki-laki bernama Bara tersebut, dan dari sikap Bara yang terlihat dingin dan cuek seperti itu, Kafka yakin kalau Bara tidak menyukai Vero balik, dan hal tersebut membuat Kafka berfikir untuk mendapatkan Vero dan membuat Vero melupakan Kafka.
Vero tersenyum tipis sebelum kembali berkata, "Kalau begitu, aku pergi dulu ya Bara."
Kali ini Bara menanggapi hanya dengan anggukan singkat.
"Sampai ketemu lagi Bara." Vero melambai singkat sebelum kembali kepada Amar Salim.
Amar Salim kembali merangkul bahu putrinya dengan protektif, seolah-olah mengatakan kepada dunia kalau tidak ada yang bisa menyakiti putrinya lagi.
"Bye Vero." gumam Bara melepas kepergian Vero.
Bara tidak beranjak dari tempatnya sampai Vero dan juga papinya menghilang dari pandangannya.
*****
Semuanya berjalan seperti semestinya, Vero kini sudah sepenuhnya pulih dan bisa masuk kuliah lagi, selama tidak masuk selama beberapa hari, Rara dan Tiar sering menjenguknya dan membawakan file-file kuliah pada Vero, Kafka juga sering datang menjenguknya dan membawakan makanan kesukaan Vero, tidak hanya datang secara langsung, Kafka bahkan sering mengechatnya dengan kalimat-kalimat yang penuh dengan perhatian, dan Vero hanya menganggap perhatian Kafka tersebut sebagai sebuah perhatian seorang kakak kepada adiknya karna Vero sedikitpun tidak memiliki perasaan sedikitpun untuk Kafka.
Meskipun sahabatnya dan juga Kafka sering datang menjenguknya, tapi Vero tetap merasa kesepian, karna orang yang dia rindukan yaitu Kafka jangankan datang, mengirim pesan singkat saja untuk menanyakan keadaanya tidak, Vero tahu, dia bukan siapa-siapanya Bara, jadi wajar saja kalau Bara sama sekali tidak menghubunginya, tapi Vero tetap saja kesal sama dirinya sendiri karna dia masih saja mengharapkan Bara, Vero fikir setelah kejadian waktu itu, hubungan mereka akan kembali membaik, ya meskipun tidak menjadi sepasang kekasih, tapi seenggaknya mereka bisa berteman.
Berulangkali juga Vero berniat hanya sekedar untuk mengirim pesan pada Bara, namun didetik terakhir dia selalu mengurungkan niatnya, dia kembali menghapus pesan tersebut kembali, seperti saat ini, Vero menghembuskan nafas berat dan kembali memasukkan ponselnya ditas, tadi dia juga ingin mengirim pesan sama Bara untuk memberitahu laki-laki itu kalau dia akan masuk kuliah hari ini, tapi fikirnya toh Bara tidak akan peduli sehingga dia mengurungkan niatnya itu.
"Kita berangkat sekarang nona." tegur Muhlis saat melihat nona mudanya hanya berdiri didepan mobil.
"Hmmm." desah Vero.
Muhlis mendekat dan membukakan pintu untuk sang nona, "Silahkan nona."
Vero memasuki mobil yang akan membawanya ke kampus, meskipun sudah mewanti-wanti dirinya supaya tidak berharap sama Bara, tapi toh dia tidak bisa menghilangkan antusiasnya saat akan mengetahui kalau dia bisa bertemu dengan Bara lagi nanti, dan hal itu reflek membuatnya tersenyum.
Dan hal tersebut tidak luput dari perahatian Muhlis yang melihat senyum Vero lewat kaca spion depan, Muhlis berkomentar dalam hati, "Nona memang cantik, apalagi kalau senyum begitu, kecantikannya berkali-kali lipat, duhh seandainya saja bojoku nantinya secantik nona Vero, alangkah bahagianya daku." mimpi saja sik Muhlis ini.
Vero yang mengetahui kalau sopirnya tersebut diam-diam memperhatikannya sehingga dia menendang kursi yang diduduki oleh Muhlis dari belakang, "Hehh Muhlis, kalau lo bawa mobil lihat jalan, jangan ngelirik-ngelirik gue, kalau gue celaka gimana." bentak Vero.
"Maaf nona, maafkan saya." Muhlis merasa takut karna kpergok memperhatikan sang nona muda, kini dia fokus menyetir dan melihat jalan.
****
Dan harapan Vero ternyata terwujud, saat dia berjalan melewati parkiran, dia bertemu dengan Bara yang juga baru datang dan memarkir motornya diparkiran, jantung Vero langsung deg-degan tidak karuan saat melihat Bara, apalagi saat melihat laki-laki itu melepas helmnya yang menampakkan wajah tampannya yang membuat Vero pasti akan sulit untuk move on.
"Tetap jalan Vero, tetap jalan, Bara tidak akan melirik kamu dan tidak akan menyapa kamu, jadi, jangan buang-buang waktu untuk beramah tamah dengannya." Vero memperingatkan dirinya dalam hati, dengan alasan tersebut sehingga Vero tetap berjalan tanpa menoleh ke arah Bara sedikitpun.
Namun tanpa disangka-sangka, ternyata Bara mengejarnya, dia berusaha menyamakan langkahnya dengan Vero.
"Dihhh, cuek sekarang ya." desisnya begitu berhasil menyusul Vero dan menyejajarkan langkahnya.
Vero otomatis menoleh ke samping, agak kaget sekaligus senang saat melihat Bara ternyata menyapanya, Vero tersenyum tipis dan berkata, "Tadinya aku mau nyapa, tapi karna takut kamu cuekin, jadinya, aku gak jadi nyapa."
"Habisnya kamukan biasanya suka gitu, cuek, gak pernah nyahut kalau disapa." Vero membela diri, tidak terima dirinya disalahkan begitu saja.
"Inikan aku nyapa duluan."
"Ya tumben, kamu kesambet setan apa sampai nyapa aku duluan."
Bara mendesah, "Dicuekin salah, disapa duluan disangkanya kesambet setan apaan."
Kata-kata Bara tersebut membuat Vero terkekeh.
"Kenapa malah ketawa."
"Lucu aja sieh Bar, makanya jangan cuek-cuek jadi orang."
"Ya mau bagaimana, inilah aku yang sebenarnya."
Mereka ngobrol sambil berjalan.
"By the way, gimana keadaan kamu Ver."
"Aku baik Bar, kamu sendiri."
"Kenapa kamu nanyain kabar aku."
"Emang kenapa, kitakan tidak ketemu beberapa hari, jadi wajarkan kalau bertanya tentang keadaan kamu."
"Kamu benar juga sieh." Bara membenarkan kata-kata Vero barusan, "Aku baik juga kok."
"Ehhh." Vero tiba-tiba berhenti saat menyadari sesuatu.
"Kenapa."
"Kenapa kamu malah ikut aku, bukannya anak-anak tehnik arsitek kelasnya lewat sana." tunjuk Vero.
"Kan aku mau nganterin kamu."
"Ehh, ngantarin aku ke kelas gitu." heran Vero tidak percaya.
"Emangnya kamu mau kemana, kelaskan."
"Iya."
"Ya udah ayok aku antar."
Masih heran tapi senang juga, Vero mengangguk dan kembali melanjutkan perjalanananya yang sempat terhenti dengan hati berbunga-bunga.
"Bara."
"Hmmm."
"Kenapa kamu nganterin aku ke kelas."
"Ingin saja." jawab Bara singkat, padahalkan memang dia ingin berlama-lama dengan Vero.
Sejujurnya, Bara juga kangen sama gadis yang kini berjalan disampingnya, namun gengsinya yang selangit membuatnya tidak mengatakan hal tersebut, saat Vero tidak masuk kuliah, dia ingin menelpon Vero atau juga mengirim pesan hanya untuk mengetahui kabar gadis tersebut, namun selalu saja dia urungkan.
"Hmmm." gumam Vero dan kembali berjalan beriringan dengan Bara.
****