
"Jadi, kamu ngomong apa saja sama ibu." Bara bertanya saat dalam perjalanan mengantarkan Vero pulang.
"Ibu bertanya, apa aku dan kamu itu pacaran apa gak." jawab Vero jujur.
"Terus kamu jawab apa."
"Sesuai dengan kenyataan."
"Hmmm." respon Bara.
"Baraa."
Bara diam tidak menyahut.
"Baraaa."
"Apaa."
"Kita bertemankan, kita akan tetap seperti inikan."
"Kamu memangnya maunya seperti apa."
"Berteman dan tetap seperti ini."
"Ya sudah kalau kamu maunya seperti ini."
"Beneran kamu mau berteman dengan aku."
"Hmmm."
"Terimakasih Bara." Vero tersenyum bahagia meskipun jawaban yang diberikan oleh Bara hanya hmm doank.
"Kalau kita berteman, bolehkan kalau aku ngechat kamu, nelpon kamu, kalau mau ketemu sama kamu bolehkan."
"Hmmm."
"Beneran boleh."
"Hmmm."
Jawaban Bara cuma hmm hmm doank, tapi meskipun begitu, itu sudah cukup untuk Vero.
"Terimakasih Bara."
Senyum lebar tersungging dibibir Vero, untuk pertama kalinya dalam beberapa hari ini dia benar-benar merasa sangat bahagia karna Bara meskipun secara tidak langsung telah mengikrarkan hubungan mereka kini baik-baik saja.
Dari kaca spion motornya Bara bisa melihat senyum Vero dan refleks saja dia ikut tersenyum.
****
Bara mengantarkan Vero tepat sampai didepan rumah megahnya, Vero ingin mengajak Bara untuk mampir, namun sebelum suaranya mencapai tenggorokan, terlihat mobil papinya juga baru tiba dan berhenti tepat dibelakang motor Bara.
"Papi." gumam Vero dan berlari menyongsong papinya yang keluar dari mobil.
Vero tidak memperhatikan raut wajah Amar Salim yang menatap Bara dengan tatapan tidak suka karna gadis itu langsung bergayut manja dilengan sang papi.
Sedangkan Bara, dia tahu sejak awal kalau Amar Salim tidak menyukainya, namun Bara tidak ambil pusing dengan hal itu, begitu juga saat Amar Salim menatapnya tidak suka, dia bukannya sungkan tapi malah balas menatap Amar Salim, bukan menantang sieh, tapi lebih untuk memberitahu saja kalau dia tidak terintimidasi sedikitpun dengan tatapan tidak suka orang kaya seperti Amar Salim.
"Kenapa putriku bisa diantar sama laki-laki miskin itu, apa saja kerjaannya sik Muhlis itu sampai membiarkan putriku diantarkan oleh pemuda miskin yang tidak jelas asal-usulnya tersebut." kesal Amar Salim dalam hati, dia berjanji akan memarahi Muhlis yang merupakan sopir dari putrinya.
"Papi."
Panggilan putri kesayangannya itu mampu mengalihkan perhatian Amar Salim dari Bara.
"Iya sayang."
"Aku habis ke rumahnya Bara lho, bertemu dengan ibunya Bara." lapor Vero.
"Apa,? Jadi putriku sudah ke rumah Bara, ini apa maksudnya."
Vero fikir papinya akan senang apa mendengar berita tersebut, justru hal tersebut semakin membuat Amar Salim makin kesal, namun tentu saja dia tidak menunjukkan rasa kesalnya tersebut didepan putrinya.
"Ohh begitu, apa yang kamu lakukan dirumahnya Bara sayang." pura-pura ingin tahu padahal dia tidak ingin tahu.
"Cuma ngobrol saja sama ibu Hamidah pi, ibu Hamidah itu ibunya Bara, ibunya Bara itu baik banget lho pi, ramah lagi." beritahu Vero, difikir papinya peduli apa.
"Hmmm." respon Amar Salim.
"Vero, aku pergi ya." Bara mengintrupsi.
Vero melepas rangkulannya dilengan papinya dan mendekati Bara, "Kok buru-buru Bara, mampir saja dulu." Vero menawarkan.
"Gak usah Ver, aku harus langsung ke cafe."
Amar Salim mendekat dan berkata, "Benar kata Vero, mampir saja dulu Bara, kenapa buru-buru."
Amar Salim tidak benar-benar ingin Bara mampir, hanya saja itu sekedar sebagai basa-basi saja supaya putrinya senang karna dia telah bersikap baik sama Bara.
"Tidak om terimakasih." jawab Bara datar tanpa senyum
"Ya sudah kalau kamu tidak mau mampir." ujar Vero melepas kepergian Bara dengan berat hati.
"Ya udah, aku pergi dulu." ujarnya dan menjalankan motor bututnya.
"Bye Baraa, hati-hati." Vero melambaikan tangannya melepas kepergian Bara dengan senyum.
Hal tersebut tidak lepas dari pandangan Amar Salim, dia sangat tahu kalau putrinya itu mencintai laki-laki bernama Bara, oleh karna itu dia tidak ingin tinggal diam, dia akan segera bertindak sebelum semuanya terlambat, sebelum perasaan putrinya terlanjur dalam untuk Bara.
"Sayang."
"Kenapa pi."
"Papi ada sesuatu untukmu."
"Ohh ya, apa itu pi." Vero terlihat antusias.
"Fikri, bawa kotak itu kemari." perintah Amar Salim pada sopirnya.
"Baik tuan."
Sik sopir membuka pintu belakang dan mengambil paperbag dari sana dan berjalan mendekati tuan Amar Salim dan memberikan paperbag tersebut kepada tuannya.
"Ini tuan."
Amar Salim mengambil paperbag tersebut dari sopirnya.
Mata Vero menatap benda tersebut dengan mata berbinar, "Apa itu pi, apa itu hadiah untuk Vero."
"Iya donk sayang."
"Asyikkk." Vero bertepuk tangan senang karna sudah bisa dipastikan itu adalah barang mahal, ya iyalah, mana pernah papinya memberikannya barang-barang murah, ya maklum sajalah, namanya juga orang kaya.
"Nahh ini." Amar Salim memberikan paperbag tersebut untuk Vero yang diambil dengan penuh semangat oleh Vero.
"Teramakasih papiku sayang." Vero mengambil benda tersebut dari tangan papinya dan mencium pipi Amar Salim sebelum dia berlari masuk kedalam rumah besarnya, Vero sudah tidak sabar ingin melihat isi dari paperbag tersebut.
Amar Salim hanya menggeleng melihat kelakuan putri kesayangannya tersebut, putrinya yang kini sudah mulai tumbuh dewasa, meskipun begitu, Amar Salim selalu merasa kalau putrinya tetaplah seorang gadis kecilnya yang selalu dia manjakan.
Begitu tiba diruang tamu, Vero yang sudah penasaran langsung mengeluarkan sebuah kotak berwarna pink dari dalam paperbag yang diberikan oleh papinya, tanpa menunggu lama, Vero langsung membuka tutup paperbag tersebut, dan didalam kotak tersebut, terlipat sebuah gaun cantik berwarna abu-abu, Vero mengangkat gaun tersebut, matanya memandang dengan takjub.
"Cantik banget." pujinya sembari mendekatkan gaun tersebut dibadannya, "Selera papi emang paling the best deh, pasti gue cantik banget kalau memakai gaun ini."
Amar Salim masuk dan melihat putrinya yang terlihat begitu bahagia, "Bagaimana, kamu sukakan sayang."
"Suka banget pi, terimakasih ya papiku tersayang."
"Sebenarnya itu bukan papi lho yang belikan untuk kamu."
"Hah." kini Vero memandang papinya sepenuhnya, "Kalau bukan papi yang belikan gaun ini untuk Vero, terus siapa pi."
Saat Amar Salim akan menjawab, ponsel Vero berdering, sehingga Vero lebih memilih menjawab panggilan tersebut daripada mendengar jawaban papinya.
"Bentar ya pi, Vero angkat telpon dulu."
Amar Salim mengangguk.
"Kak Kafka, ada apa ya." heran Vero saat melihat nama Kafka terpampang dilayar ponselnya.
"Iya kak Kafka, ada apa ya kakak telpon."
Terdengar suara jawaban dari seberang, "Gak ada hal yang penting sieh Ver, aku hanya mau bertanya, apa om sudah memberikan gaun itu untuk kamu."
"Maksudnya, gaun itu kakak ya yang membelikannya untukku."
Vero memandang papinya, dan Amar Salim mengangguk.
"Iya, bagaimana, apa kamu suka dengan gaunnya." Kafka mengkonfirmasi pertanyaan Vero.
"Iya kak, aku suka, terimakasih banyak ya kak Kafka."
"Syukurlah kalau kamu suka, aku senang dengernya Ver, tadinya aku sempat khawatir kalau kamu tidak akan suka."
"Aku suka kok kak, suka banget malah, gaunnya cantik, kakak seleranya bagus."
"Terimakasih atas pujiannya Vero."
"Ngomong-ngomong, kakak memberikan gaun itu dalam rangka apa ya."
"Bukan dalam rangka acara apa-apa, hanya saja, mami ngundang kamu dan om makan malam dirumah ntar malam."
"Ohh, makan malam toh."
"Apa kamu dan om akan datang Vero."
"Tentu saja kami akan datang."
"Baguslah, aku akan menunggu kamu dan om ya Ver, dan jangan lupa pakai gaun itu, kamu pasti akan sangat cantik memakai gaun itu."
"Ahhh, kak Kafka bisa saja." wajah Vero bersemu merah.
"Oke, sampai ketemu nanti malam ya Vero
"Baiklah kak."
Dua orang itu kemudian memutus sambungan.
"Sayang, sebaiknya kamu siap-siap gieh sana." ujar Amar Salim saat melihat putrinya mengakhiri panggilannya.
"Oke papi."
Vero membereskan kotak tersebut dan memasukkannya ke dalam paperbag sebelum melangkah ke lantai dua dimana kamarnya berada.
Amar Salim menatap punggung putrinya yang menjauh, "Semoga saja ntar malam semua berjalan dengan lancar." ujarnya penuh harap.
****