Veronica

Veronica
GAGAL



"Gak mau, gue gak mau dianterin sama elo, gue maunya dianterin sama Bara." tolak Vero cepat.


"Kalau lo gak mau, ya udah sana lo naik taksi atau apalah, jangan bikin susah gue kayak ginilah." ketus Bara jengkel.


"Kok gitu sieh ngomongnya Bara, kaki guekan lagi sakit lho, makanya gue minta dianterin sama lo."


"Makanya sana dianterin sama Rama saja."


"Gak mau, diakan bukan siapa-siapa gue."


"Gue juga bukan siapa-siapa lo."


"Lokan teman gue."


"Drama apa sieh ini sebenarnya." batin Rama yang hanya jadi penonton, "Dan kenapa juga Vero kayak manja gitu sama Bara, setahu guekan mereka tidak saling kenal sebelumnya, dan sejak kapan juga mereka berteman, tidak mungkin sejak pagikan."


"Ya Tuhan gadis ini, apa sieh maunya sebenarnya, sejak tadi pagi dia terus menggrecoki gue." Bara mengeluh dalam hati.


"Baraaa, ayoklah anterin gue kenapa sieh, dapat pahala lho kalau berbuat baik, apalagi sama orang yang tengah sakit kayak gue gini." Vero masih mencoba keberuntungannya membujuk Bara.


"Gue gak bisa nganterin elo, gue harus kerja soalnya."


"Iya gue ikut dengan lolah ke tempat kerja elo."


"Apaan sieh lo." Bara menatap Vero sebal, "Pakai ikut segala, emang lo mau ngapain ikut gue, gak punya kerjaan banget."


"Ya gak apa-apakan gue ikut elo, daripada gue langsung pulang kan bosan gue dirumah, anggap saja sekalian mau nyari pengalaman baru gitu lho."


"Katanya lo lutut lo sakit, ya harusnya itu lo langsung pulang dan istirahat, bukannya ikut gue."


"Tapi gue mau ikut lo Bar." Vero nyolot, "Iya Bara ya, gue ikut lo, plisss." Vero sampai memohon gitu deh, intinya saat ini Vero tengah-tengah gencarnya memeper Bara demi tercapainya tujuan utamanya.


Bara mendesah berat sebelum menjawab dengan berat hati, "Baiklah, asal lo jangan ngerepotin."


Bara terpakasa mengiyakan, karna kalau tidak, gadis manja ini akan terus merengek sampai keinginannya dituruti, selain itu juga, Bara risih juga jadi perhatian beberapa mahasiswa yang berlalu lalang karna ulah Vero yang terus merengek kayak anak kecil.


"Oke pak boss, gue janji tidak akan ngerepotin elo." pose hormat.


"Ram, lo ngapain masih betah berdiri disana, lo gak berniat balik apa." Bara menegur Rama yang masih betah berdiri ditempatnya.


Ramakan terpaku dengan intraksi antara Vero dan Bara, dia heran saja, Bara yang anti sama Vero tiba-tiba saja diintilin terus sama Vero, dan yang anehnya lagi, Bara mengiyakan lagi keinginan Vero yang ingin ikut dengannya, oleh karna itu, nanti Rama berniat untuk mengintrogasi sahabatnya itu lebih lanjut.


"Iya, ini juga gue mau balik." Rama jalan ke arah motornya.


Vero melihat Bara duduk diatas motor butut yang waktu itu dia tabrak, dan bibirnya yang tidak memiliki rem itu nyerocos tanpa perasaan, "Kita pakai motor ini Bar, gak berniat gitu lo ganti motor, motor inikan udah butut, kayaknya sieh udah gak layak pakai dan sudah saatnya pensiun dan masuk meseum."


"Lo tahu motor gue jelek, ngapain lo merengek-rengek minta dianterin sama gue, sudah sana mending lo balik sendiri dan gak usah ikut gue segala." jelaslah Bara tersinggung dengan ucapan Vero yang tanpa saringan itu.


"Ehh eh, bukan begitu maksud gue Bara, elahh lo itu cowok apa cewek sieh, dikit-dikit ngambek, sorry sorry." Vero buru-buru meminta maaf karna dia yang biasanya mengomentari sesuatu dengan bibirnya jujur tapi pedes itu membuat Bara tersinggung.


"Baraa, Vero, gue duluan ya." ucap Rama melambaikan tangannya meninggalkan parkiran.


Bara hanya mengangguk.


"Duhhh, turun deh level gue duduk diboncengan motor butut begini, tapi demi misi, gue harus menghilangkan gengsi gue."


Vero duduk dibelakang dan langsung melingkarkan tangannya diperut Bara dengan kenceng yang membuat Bara langsung protes.


"Ini lo apa-apan sieh Ver pakai meluk-meluk segala."


"Guekan takut jatuh Bara, lagiankan ini untuk pertamakalinya gue naik motor."


"Makanya kalau lo takut jatuh, lo naik taksi sana."


"Gak, gue mau sama lo aja."


"Tapi gak usah meluknya kenceng begini juga, sesak nafas gue."


Vero sedikit mengendurkan pegangannya.


Bara mendesah pasrah sebelum menjalankan motornya meninggalkan parkiran.


Motor jelas tidak sama dengan mobil, menggunakan motor harus rela panas-panasan terkena sinar matahari langsung dan rambut berantakan diterbangkan angin, berbeda dengan menggunakan mobil dengan suasana yang adem dan ayem.


Dan Vero yang 20 tahun hidupnya yang kalau pergi kemana-mana selalu menggunakan mobil mewah dan ber ac, kini untuk pertamakalinya harus berpanas-panasan kayak gini duduk diatas boncengan motor Bara, kulit putih mulusnya yang terekpos jadi memerah karna kena sengatan sinar matahari siang hari yang terik, belum lagi rambutnya yang halus kayak sutra megar kayak rambut singa.


"Ini neraka yang bocor atau gimana sieh, panas banget sumpah." keluhnya saat Bara berhenti dilampu merah.


Dalam hati Bara tertawa mendengar keluhan Vero, "Rasain lo, siapa suruh lo merengek-rengek ingin ikut sama gue."


"Lama amet lagi tuh lampu ijonya, gue udah kepanggang ini, 10 menit lagi kayaknya gue udah siap untuk disantap." Vero terus saja ngoceh.


Bara berusaha untuk menahan tawanya, dia bahkan berharap lampu merah tetap berwarna merah sampai satu jam kedepan, dia benar-benar menikmati saat Vero yang saat ini duduk dibelakangnya tersiksa seperti sekarang ini.


Dan saat lampu lalu lintas itu berubah warna, Bara kembali melajukan motornya yang membuat Vero bernafas lega karna kalau motor sudah berjalan, rasa panasnya tidak terlalu dirasakan, palingan cuma angin doank yang menampar wajahnya dan menerbangkan rambutnya.


Bara menghentikan motornya didepan sebuah gerbang yang berdiri megah dan kokoh, Vero sebenarnya menolak diantar pulang, dia ingin ikut Bara ketempat kerja Bara, tapi tentunya dengan alasan Vero tidak ingin menggrecokinya saat bekerja, Bara memutuskan untuk mengantar Vero untuk pulang saja.


"Turun lo, sudah sampai nieh kita diistana lo." cetus Bara saat dilihatnya Vero sama sekali tidak mau mengangkat bokongnya dari boncengan motornya.


"Sampai depan rumah gue donk Bara, tanggung amet."


"Inikan sudah sampai depan rumah lo."


"Sampai depan rumah gimana, ini namanya sampai depan gerbang, rumah gue masih lumayan jauh dari gerbang utama."


Rumah besar kediaman keluarga Salim memang memiliki halaman yang luas, sehingga jarak antara rumah utama dan gerbang jaraknya lumayan jauh, kalau jalan dari gerbang sampai rumah utama, bisa dipastikan bisa berpotensi membuat orang ngos-ngosan dengan tambahan betis segede talas bogor.


"Sudah turun, tinggal jalan kaki saja apa susahnya sieh, gue harus segera ke tempat kerja ini."


"Bawa saja gue ke tempat kerja elo ya."


"Turun Vero." desis Bara tajam karna kekesalannya sudah mencapai batas maksimal.


Dengan terpaksa Vero akhirnya turun karna agak takut mendengar suara Bara.


"Apa lo...."


Wushhhh


Tanpa menunggu apa yang akan dikatakan oleh Vero, Bara langsung melajukan motornya meninggalkan Vero begitu saja.


*****


Sepulang kuliah, Bara bekerja disebuah bengkel untuk mencukupi kebutuhannya dan ibunya, Bara tidak seperti teman-teman seusianya yang menghabiskan waktunya dengan senang-senang atau nongkrong, dia harus bekerja keras untuk bertahan hidup bersama dengan ibunya, Bara hanya tinggal bersama dengan ibunya tanpa figur seorang ayah, sampai sekarang, Bara tidak pernah tahu siapa ayah kandungnya karna saat dia menanyakan akan hal itu kepada ibunya, ibunya selalu mengatakan kalau ayahnya sudah meninggal, dan kalau sudah meninggal, Bara ingin tahu dimana makam ayahnya, tapi ibunya selalu mengelak dan tidak pernah mau menjawab pertanyaan Bara itu. Dan meskipun penasaran ingin mengetahui siapa ayah kandungnya, akhirnya Bara menyerah untuk mencari tahu mengingat ibunya tidak pernah mau memberitahunya.


"Kamu telat lagi Bara, kalau begini terus, bisa rugi saya memperkerjakan kamu." omelan pak Anto bossnya yang menyambut kedatangan Bara.


Gara-gara harus mengantarkan Vero, Bara jadi telat begini, Beberapa kali Bara sering terlambat juga sieh karna jadwal kuliah yang kadang digonta-ganti sesuai dengan keinginan dosen.


"Maafkan saya pak, tadi saya ada urusan mendesak." bohongnya.


"Urusan mendesak-urusan mendesak, itu saja terus alasanmu Bara, kamu fikir hanya kamu yang punya urusan." pak Anto tidak menolerir alasan yang diberikan oleh Bara.


"Sekali lagi, maafkan saya pak, saya janji ini untuk terakhir kalinya saya terlambat seperti ini."


"Baiklah, saya memaafkan kamu kali ini Bara, tapi gaji kamu saya potong lima %."


"Lagi."


"Kamu tidak perlu protes Bara, saya rasa kita impas disini."


Bara hanya bisa mendesah pasrah, setiap kali dia terlambat, gajinya yang jadi sasaran kena potong, sepertinya dalam bulan ini dia tidak akan menerima gaji sama sekali karna habis dipotong terus sama bossnya.


"Apa lagi yang kamu tunggu Bara, mulai bekerja sekarang." perintah sang boss.


Bara mengangguk lemah, dia berjalan ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya untuk memulai pekerjaannya.


*****


Setelah setengah jam berendam dibathub kamar mandinya yang luas dan mewah, kini Vero duduk didepan kaca meja riasnya, Vero melihat pantulan wajahnya yang putih bersih dan agak kemerah-merahan, meskipun wajahnya polos tanpa polesan make up, Vero tetap cantik.


"Apa yang kurang sieh dari gue." dia bertanya-tanya pada bayanganny di cermin, "Gue cantik, sudah jelas itu, seksi juga, banyak laki-laki yang bertekut lutut dan bersedia melakukan apapun untuk gue, tapi kenapa sik batu bara itu sampai sekarang tidak bisa gue taklukkan, jangankan menaklukkannya, dapat nomernya saja susahnya minta ampun." Vero bermonolog.


"Apa sekarang gue sudah tidak menarik lagi ya, ahhh gue rasa, gue tetap menarik, masih banyak kok cowok yang kepincut sama pesona gue, ya kecuali Bara itu yang agak susah untuk ditaklukkan, atau jangan-jangan dia....." Vero berpraduga, "Tapi masak sieh laki-laki kayak Bara kayak gitu, apa gue tanyaiin langsung aja kali ya sama orangnya." Vero menggeleng karna fikirnya itu bukanlah ide yang baik, "Mana mungkin gue nanyain itu secara langsung, sudah gila apa gue, tapikan gue penasaran."


Vero penasaran apakah Bara itu menyukai perempuan atau laki-laki, mengingat Bara sama sekali tidak ada tanda-tandanya menyukai dirinya, (Iya itu sebenarnya wajar Vero, secantik-cantiknya kamu, tidak semua laki-laki suka sama kamu, hal itu membuktikan kalau kamu wanita biasa dan bukan Dewi.)


Vero mengambil kalender kecil yang ada dimeja riasnya, dengan spidol bertinta merah dia memberi tanda silang pada salah satu tanggal disana, tanda silang yang berarti dia telah gagal dalam mengambil hati Bara untuk hari ini.


"Oke Vero, lo harus tetap semangat, hari ini lo boleh gagal menaklukkan sik batu bara itu, tapi besok, lo harus berhasil oke, semangat-semangat, demi terbebas dari tugas selama satu semester." mengingat hal itu semangat Vero kembali tumbuh.


*****


Saat akan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah ditempat tidur sederhananya, Bara mendapatkan notifikasi pesan dari sahabatnya yaitu Rama.


Rama : Bar, lo sebenarnya ada hubungan apa dengan Vero


Bara : Gak ada


Rama : Jangan bohong lo


Bara : Kalau elo gak percaya ya udah


Rama : Gue penasaran sumpah, lo jawab pertanyaan gue dengan benar kenapa sieh


Bara tidak membalas, diakan sudah menjawab pertanyaan Rama barusan, dan kalau Rama tidak percaya itu bukan urusannyakan.


Rama : Woee Baraa, kok lo malah diam sieh


Rama : Lhaa, benaran jadi patung sik kunyukkk


Rama : Halo Baraa, lo masih bernafaskan


Bara : Berisik lo


Rama : Ada hubungan apa lo sama Vero


Bara : Kami tidak punya hubungan apa-apa,


Rama : Lo jujur sama gue kenapa sieh, sama gue ini main rahasia-rahasiaan segala


Bara kembali memutuskan untuk tidak membalas chat Rama karna menurut Bara itu tidak penting.


Rama : Astagaa, lo benar-benar membuat gue penasaran ya


Rama : Barathayudha Arkana


Bara : Dasar bebal


Rama : Ahhh sialan emang lo


Karna tidak kunjung mendapatkan jawaban yang dia inginkan, akhirnya Rama menyerah mengintrogasi Bara dan membiarkan Bara beristirahat dengan tenang setelah seharian berjibaku dengan aktifitas yang padat, Rama akan mengintrogasi Bara jilid ke dua besok saat dia bertemu langsung dengan sahabatnya tersebut.


*****


Pagi itu, anak-anak jurusan tehnik arsitektur terutama anak-anak dikelasnya Bara dihebohkan dengan kedatangan Vero yang tiba-tiba nyasar dikelas mereka, dan teman-teman Bara yakin kalau kedatangan Vero adalah untuk menemui Bara, ya jelaslah mereka berfikir begitu setelah melihat vidio Bara yang menggendong Vero beredar digrup chat kampus.


Vero terlihat begitu bersinar dan anggun bak dewi yang baru turun dari kahyangan sehingga teman-teman kelas Bara terpesona dan tidak tahan untuk tidak menyapa.


"Hai Vero."


"Makin cantik aja ya Vero."


"Ada perlu apa nieh Ver terdampar dikelas cowok kayak gini."


Vero hanya berjalan dengan cuek tanpa mengindahkan sapaan-sapaan tersebut, dia berjalan menghampiri Bara yang tidak menyadari kehebohan teman-temannya karna kunjungan Vero yang tiba-tiba, Bara mah kalau sudah pacaran dengan buku, jangankan orang, angin topan sekalipun dia tidak pedulikan.


Rama yang melihat kedatangan Vero menyodok pinggang Bara untuk memberitahu.


"Apaan sieh Ram lo main sodok- sodok saja, lo fikir pinggang gue gak sakit apa."


Rama mengedikkan dagunya ke arah kedatangan Vero yang membuat Bara menoleh.


Bara mendesah, "Dia lagi, mau ngapain sieh dia."


Kedatangan Vero dikelas mereka untuk nyamperin Bara semakin memperkukuh kecurigaan Rama kalau memang Bara dan Vero memiliki sebuah hubungan.


"Hai Bara." sapa Vero saat tiba didepan Bara dengan senyum manisnya yang membuat teman-teman Bara kena diabetes meletus.


***