Veronica

Veronica
KE RUMAH BARA



Dengan senyum mengembang Vero berjalan menuju kantin dimana kedua sahabatnya tengah menunggunya disana.


"Kenapa sahabat lo yang satu itu, senyum-senyum kayak orang gila." Rara mengedikkan dagunya ke arah kedatangan Vero untuk memberitahu Tiar.


Tiar menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Rara, "Dilihat dari gelagatnya sieh sahabat lo itu lagi bahagia Ra, mungkin dia dapat undian mobil gratis kali." tebak Tiar.


"Dia mah udah sultan sejak lahir Tiar, gak butuh kali dia yang namanya undian-undian segala, tinggal minta langusung deh dibeliin sama papinya."


"Hai cantikk." sapa Vero ceria dan duduk dikursi yang tersisa.


"Lo kenapa Ver, kayaknya lo lagi bahagia banget gitu, lo habis ketemu Kin Nam Jon." tebak Rara asal karna Vero penggemar berat Kim Nam Jon leader group boy band BTS.


"Ya bukanlah, gak mungkin banget deh Kim Namjon nyasar dimari."


"Terus lo kenapa."


"Lo berdua tahu gak."


Rara dan Tiar kompakan pada menggeleng karna memang tidak tahu.


"Bara itu ngajakin gue ke rumahnya, dia bilang ingin ngenalin gue dengan ibunya, hebat gak tuh." senyum Vero mengembang.


Tiar dan Rara saling melempar pandangan satu sama lain, mereka sama-sama memikirkan hal yang sama dibenak mereka.


"Beneran Bara ngajakin elo ke rumahnya Ver."


"Ya benarlah, masak gue bohong."


"Apa lo sudah berhasil...."


"Hmmm, doi sieh belum nyatain perasaanya ke gue, tapi dari caranya dan ingin memperkenalkan gue sama ibunya sieh kayaknya bentar lagi dia bakalan nembak gue." ujarnya penuh percaya diri.


Vero tersenyum bahagia saat membayangkan Bara menyatakan perasaannya, bukan perasaan bahagia karna berhasil membuktikan bahwa kalau semua laki-laki bisa dia taklukkan, tapi lebih kepada rasa bahagia karna hatinya berbunga-bunga karna cinta beneran, padahalkan belum tentu juga Bara suka sama dia, Veronya saja yang kegeeran gara-gara Bara berniat memperkenalkannya sama ibunya.


"Dan lo berdua, siap-siap saja kerjain tugas gue selama satu semester penuh."


Baik Tiar dan juga Rara pada mendesah frustasi karna berfikir kalau mereka pasti akan kalah taruhan.


****


"Mmm Bara, berhenti ya ditoko kue didepan." pinta Vero saat dalam perjalanan menuju rumah Bara.


"Lo mau ngapain."


"Beli kuelah Bara, masak beli baju."


"Maksud gue, lo beli kue untuk apa."


"Ya gue mau beli oleh-oleh buat ibulah Bara."


"Gak usah bawa oleh-oleh segala Ver."


"Tapi gue mau bawain sesuatu lho Bara buat ibu, ayoklah mampir sebentar ya."


"Hmmm, oke." ujar Bara pasrah karna Vero memaksa.


Sementara Vero membeli kue, Bara menunggu Vero diluar, gak lama Vero keluar dengan membawa paperbag berisi kue yang dia beli sebagai buah tangan untuk ibunya Bara.


"Sudah selesai."


"Iya."


"Yuk jalan." ajak Vero duduk kembali diboncengan motor Bara.


Vero tiba-tiba merasakan jantungnya berdetak cepat, "Duhh, kok jantung gue berdetak cepat kayak gini ya." batinnya, "Kalau ibunya Bara tidak menyukai gue gimana." padahalkan dia bukan siapa-siapanya Bara, dia malah mengkhawatirkan apakah ibu Bara menyukainya atau tidak, mungkin Vero merasa seperti akan diperkenalkan sebagai calon menantu saja kali ya.


"Barr."


Bara tidak menyahut.


"Baraaa."


"Apa."


"Apa ibu lo baik."


"Iya, emangnya kenapa."


"Kalau ibu lo gak suka sama gue gimana."


"Kenapa lo berfikir begitu."


"Mmmm, gak tahu, gue tiba-tiba khawatir saja."


"Lo tenang saja deh, ibu gue orangnya baik, meskipun dia doyan makan daging, tapi bisa gue pastikan dia gak bakalan doyan sama daging lo."


"Apaan sieh Baraa, gue serius, lonya bercanda."


Bara terkekeh, "Lagian lo lucu, pakai mengkhawatirkan apakah ibu suka sama lo apa gak segala, guekan bukan akan memperkenalkan elo sebagai calon istri gue, tapi ibu gue hanya ingin bertemu dengan teman gue saja."


"Hmmm, meskipun begitu, gue tetap saja khawatir ibu elo tidak akan menyukai gue."


Satu tangannya memegang stir dan satunya lagi dia gunakan untuk mengelus tangan halus Vero yang melingkar diperutnya, anehnya, Vero kok merasa tenang gitu saat tangan Bara mengelusnya.


"Hmmm, semoga."


****


Mata Vero menjelajah menatap sekeliling lingkungan dimana rumah Bara berada, lebih tepatnya seih rumah kontrakan Bara, rumah yang begitu sangat sederhana, sangat jauh dengan keadaan rumahnya yang besar dan mewah.


"Setelah melihat tempat tinggal gue yang jelek dan kumuh, lo nyesel ya temenan sama gue." imbuh Bara saat dilihatnya Vero mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tinggalnya.


"Ehh tentu saja tidak, gue seneng kok berteman dengan lo." bantah Vero.


"Itu bukan cuma dibibir doankkan, besok lo gak akan menjauhi guekan setelah melihat tempat tinggal gue."


"Tentu saja tidak, orang berteman itukan bukan karna melihat status sosialnya, tapi ketulusanya."


"Nona muda yang sombong dan manja ini ternyata bisa juga ya bicara tentang ketulusan." ledek Bara.


"Apaan sieh lo Bar, gue gak seperti yang lo bilang ya, gue baik, tidak sombong dan gak manja." manyun.


"Iya iya, gak usah manyun gitu napa sieh, kan cuma bercanda gue."


"Hmmm."


"Ayok masuk." Bara meraih pergelangan tangan Vero dan menautkannya dengan telapak tangannya dan membawa Vero masuk ke rumah kontrakan sederhananya.


Bara sieh melakukan itu dengan santai dan reflek saja, tapi dia tidak tahu apa efeknya bagi jantung Vero yang detakannya itu semakin kencang kayak gendrang yang ditabuh saat perang, Vero terus menatap tangannya yang saat ini dalam genggaman tangan Bara, tangan besar Bara menyelebungi tangannya yang mungil, dan Vero merasakan kehangatan dan nyaman.


"Ibu." pangil Bara.


Barulah Vero mengalihkan perhatiannya dari tangannya dan Bara yang bertaut, dia mencari-cari sosok yang dipanggil oleh Bara dengan sebutan ibu, hatinya kembali dikuasai oleh rasa khawatir, khawatir kalau ibunya Bara tidak akan menyukainya.


"Ibu, ada teman aku nieh datang."


"Iya nak sebentar." seseorang wanita berwajah teduh dan mengenakan jilbab berwarna biru laut datang dari belakang dan berjalan menghampiri mereka.


Ibu Hamidah yang merupakan ibunya Bara tersenyum ramah sama gadis yang saat ini tengah bersama putranya itu, dan hal itu membuat Vero jadi gugup.


Mata ibu Hamidah tertuju pada tangan putranya yang menggenggam tangan Vero dengan posesif.


"Teman harus pegangan tangan seperti itu ya." goda ibu Hamidah.


Bara buru-buru melepaskan tangannya dari tangan Vero, Bara terlihat salah tingkah dihadapan ibunya.


Ibu Hamidah tersenyum melihat tingkah putranya tersebut.


"Mmmm, ibu, kenalkan ini Veronica Salim, temanku bu."


Vero tersenyum dan mendekat dan meraih tangan ibu Hamidah dan menciumnya, "Salam kenal ibu, saya Vero temannya Bara."


"Kamu temannya Bara nak."


"Iya bu."


"Kamu cantik sekali."


Vero tersipu malu mendapatkan pujian dari ibu Hamidah, "Terimakasih ibu." jawabnya, dan seketika rasa khawatir yang sejak tadi menguasainya menghilang karna sikap ibunya Bara yang begitu sangat ramah padanya.


"Oh iya ibu." Vero menyerahkan paperbag berisi kue yang memang dia belikan sebagai buah tangan untuk ibu Hamidah, "Saya bawa sedikit buah tangan untuk ibu, diterima ya."


"Aduhh, kamu kok repot kayak gini sieh nak, padahal kamu mau ke gubuk kami saja ibu sudah sangat senang lho."


"Gak repot kok bu."


"Ayok nak duduk dulu." ibu Hamidah mengarahkan Vero ke kursi kayu yang ada diruang tamu.


"Terimakasih ibu."


"Maaf lho nak, kalau tempatnya seperti ini."


"Gak apa-apa kok bu."


"Ver, lo minum apa." intrufsi Bara.


"Lo yang mau bikin minum." heran Vero.


"Ya iyalah, masak elo sieh, lokan tamu dirumah gue."


Ibu Hamidah terkekeh.


"Jadi lo mau minum apa Ver."


"Jangan sok-sok'an menawarkan seperti kita punya banyak stok minuman saja Yudha, adanya cuma teh doank gitu kok."


"Ahh iya benar juga." Bara membenarkan, "Teh saja ya Ver karna adanya cuma itu."


"Iya."


Bara kemudian berjalan kebelakang meninggalkan ibunya dan Vero, sebelum benar-benar menghilang, Bara sempat menoleh ke belakang, dia tersenyum melihat intraksi antara ibunya dan Vero.


"Gadis itu, bisa juga dia bersikap ramah." gumamnya dan kembali melanjutkan perjalanannya.


****