
Kamu membencinya, tapi apa yang harus kamu lakukan saat melihat orang yang kamu benci sangat disayangi oleh ibumu, hal itulah yang dirasakan oleh Bara, dia sangat membenci Vero, tapi melihat Vero yang begitu sangat akrab dengan ibunya saat dia kembali memasuki kamar inap ibunya, hati Bara agak pedih juga, bahkan Bara bisa melihat kalau ibunya terlihat menyayangi Vero, gadis yang telah mempermainkan perasaannya, Bara memilih untuk tidak menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Vero, karna baginya, hal seperti itu tidak perlu untuk diketahui oleh ibunya.
"Ibu sepertinya sangat menyukai Vero ya Bar." Rama berbisik ditelinga Bara.
Gak usah dikasih tahu Bara juga tahu, orang rabun sekalipun akan tahu melihat intraksi ibunya dengan Vero, dua wanita berbeda generasi itu terlihat begitu akrab dan tertawa bersama, saking asyiknya entah apa yang mereka obrolkan membuat kedua wanita itu tidak menyadari kehadiran Bara dan Rama yang telah kembali.
Barulah ketika Rama menegur kedua wanita itu, mereka menoleh, "Lagi membicarakan apa sieh ibu sama Vero, kelihatannya sangat seru."
"Ohh, kalian sudah kembali toh."
"Iya ibu, apa yang ibu bicarakan nieh dengan calon menantu ibu." goda Rama yang membuatnya langsung mendapat plototan tajam dari Bara.
"Sorry, lupa ngerem." ujarnya tanpa suara pada Bara.
Vero menunduk malu mendengar godaan Rama, sedangkan ibu Hamidah terkekeh, "Ini masalah perempuan Rama, kalian yang laki-laki tidak perlu tahu, bukan begitu nak Vero."
"Iya bu, ini rahasia perempuan." dukung Vero.
Saat menoleh pada Bara, Vero langsung menunduk, tidak kuat rasanya dia memandang tatapan Bara yang terus menatapnya tajam.
Bara berjalan menghampiri ibunya dan Vero, Vero mendongak saat Bara mendekat, tatapan mata mereka beradu untuk sejenak sebelum Bara membuang pandangannya, hal itu membuat Vero sakit, karna Vero bisa merasakan dari tatapan mata Bara kalau laki-laki itu membencinya.
"Apa sebegitu bencinya kamu sama aku Bara." desahnya dalam hati.
"Ibu, berhenti ngobrolnya, ibu harus istirahat." Bara memperingatkan ibunya dengan lembut.
"Ibu mau ngobrol dengan Vero Bara, kapan lagi coba ibu akan ketemu dengan nak Vero lagi, secara nak Veronya sibuk terus." ibu Hamidah menolak.
Vero buru-buru membantah, "Kata siapa Vero sibuk ibu, Vero bisa kok tiap hari jengukin ibu kalau ibu mau."
Ibu Hamidah menatap putranya dan Vero bergantian, "Lho, kata Bara, nak Vero sibuk kuliah dan sibuk dengan tugas-tugas kuliah yang menumpuk sampai gak punya waktu untuk...."
"Ibu." potong Bara dengan suara tegas sebelum ibunya menyelsaikan ucapannya, "Istirahatlah ibu supaya ibu cepat sembuh."
Ibu Hamidah mengangguk patuh, kadang kalau putranya itu sudah tegas membuatnya agak takut juga.
"Vero, maafkan ibu ya nak, ibu harus istirahat, Bara bisa marah sama ibu kalau ibu membantah, lanjutkan obrolannya sama Bara saja ya."
"Iya ibu gak apa-apa, Bara benar ibu, ibu memang harus istirahat supaya lekas sembuh."
"Dasar wanita jahat, bisa-bisanya dia bermuka dua kayak gini, bersikap baik dan lembut dihadapan ibu gue." umpat Bara dalam hati.
Bara membantu ibunya untuk berbaring dan menarik selimut untuk ibunya sampai sebatas dada, "Istirahatlah ibu."
Ibu Hamidah mengangguk patuh.
Setelah ibunya memejamkan mata, Bara mencengkram lengan Vero dan menariknya keluar, Vero hanya meringis karna merasakan sakit karna kuatnya Bara mencengkram lengannya.
Rama hanya melihat adegan tersebut, dia tidak tahu harus berbuat apa, ya jelaslah dia tidak mau ikut campur dengan urusan antara Vero dan Bara karna itu bukan urusannya.
"Baraa sakit." Vero meringis menahan sakit pada lengannya namun tidak dipedulikan oleh Bara, dia terus menyeret Vero.
"Balik sana lo." usir Bara menghempaskan lengan Vero begitu mereka sudah berada diluar ruangan.
"Baraaa." mata Vero berkaca-kaca, "Aku...."
"Lo gak dengar kata-kata gue hah, pergi lo, gue gak sudi melihat wajah lo lagi, dan ingat satu hal ya Vero, jangan pernah berani-beraninya lo menampakkan batang hidung lo lagi didepan mata gue, apalagi didepan ibu gue, mengerti lo." bentak Bara.
"Baraaa, tolong dengarkan penjelasanku dulu, ini semua tidak seperti yang kamu bayangkan." Vero menghiba, dia merasa putus asa karna Bara terus mengusirnya dan tidak mau mendengarkan penjelasannya sama sekali.
"Gue gak perlu mendengarkan penjelasan wanita licik dan jahat kayak lo, semua sudah berakhir Vero, anggap saja diantara kita tidak pernah terjadi sesuatu."
"Tapi aku tidak ingin semua ini berakhir Bara, aku benar-benar mencintamu, aku tulus mencintamu Bara."
"Simpan kata-kata cinta lo untuk laki-laki tolol yang dengan mudahnya lo perdaya Vero, gue bukan laki-laki bodoh dan dungu yang dengan mudahnya lo perdaya begitu saja." Bara mengatakan hal tersebut sambil mengepalkan tangannya, dia merasa menjadi salah satu laki-laki bodoh yang sudah terpedaya oleh Vero.
"Tapi aku tidak pernah mengatakan cinta kepada siapapun Bara, kamu adalah....." Vero terdiam sesaat, "Kamu adalah laki-laki pertama yang aku cintai Bara." meskipun malu, tapi Vero mengakui hal itu juga.
"Sudah cukup ocehan lo Veronica Salim, sekarang lo bisa pergikan jauh-jauh dari sini, gue muak melihat wajah elo itu."
"Baraaa." reflek Vero meraih tangan Bara, air mata Vero saat ini sudah jatuh dengan derasnya, "Percaya sama gue, gue benar-benar cinta sama elo, gue..."
Sebelum Vero menuntaskan kata-katanya, Bara menghempaskan tangan Vero, "Lo pergi sendiri atau lo mau gue seret Vero."
Hiks Hiks
"Baiklah, aku akan pergi, tapi satu hal yang perlu kamu ketahui Bara, aku benar-benar mencintaimu, meskipun awalnya aku hanya menjadikanmu hanya sebagai taruhan saja, tapi sumpah, aku mencintaimu." Vero berusaha untuk meyakinkan Bara yang terlihat tidak peduli sama sekali.
Dengan langkah gontai Vero berjalan menjauh, dia sempat menoleh kebelakang dan menemukan Bara yang masih berdiri ditempatnya, Vero benar-benar berharap Bara menghentikannya, namun setelah beberapa saat menunggu, laki-laki itu tidak kunjung juga melakukannya yang membuat Vero kembali melanjutkan langkahnya dengan berat.
"Ternyata kamu benar-benar membenciku Bara." desisnya dengan hati terluka.
Vero berjalan sambil menangis sesekali dia menghapus air matanya dengan punggung tangannya, karna berjalan tidak memperhatikan jalan, membuatnya menabrak seseorang.
"Maafkan aku." gumam Vero dan berniat akan pergi, namun lengannya ditahan oleh orang yang dia tabrak.
"Vero, apa yang terjadi." ternyata laki-laki yang dia tabrak adalah Kafka, Kafka menyusulnya karna Vero sudah cukup lama tidak kembali, Kafka berfikir kalau terjadi apa-apa sama Vero, dan memang terjadi apa-apa, buktinya gadis itu menangis.
Vero menggeleng, tapi bersamaan dengan itu, air matanya semakin deras mengalir membasahi pipi mulusnya yang tanpa polesan make up.
Kafka menarik punggung Vero mendekat dan memeluknya, sepertinya memang pelukanlah yang dibutuhkan oleh Vero untuk saat ini.
"Kita kembali ke mobil ya." ajak Kafka yang diangguki oleh Vero.
Dengan merangkul Vero, Kafka membawanya ke parkiran, Kafka benar-benar laki-laki yang sangat pengertian, dia tahu saat ini Vero tidak ingin menceritakan apa yang saat ini tengah dialaminya, sehingga yang Kafka lakukan adalah membiarkan Vero menangis, karna untuk sebagian orang, menangis sedikit tidaknya bisa membuatnya sedikit lebih baik.
Pak Adi jelas sangat khawatir melihat nona mudanya yang datang dalan keadaan menangis dalam pelukan Kafka.
"Apa yang ter...."
"Ssssttt." Kafka menempelkan jari telunjuk dibibir sebagai kode meminta pak Adi tidak bertanya dulu.
"Muhliis, ayok jalan." pintanya sama sik sopir yang langsung mematuhi perintah dari kepala pelayan tersebut.
*****
Benci tapi cinta, itulah mungkin yang saat ini menggambarkan perasaan Bara sama Vero, Bara tidak sepenuhnya membenci gadis itu atas apa yang telah dia lakukan, benih-benih cinta yang telah ditanamkan oleh gadis itu tentu saja tidak sepenuhnya bisa dienyahkan oleh Bara begitu saja, Bara tahu dia sangat keterlaluan sama Vero, kata-katanya sangat kasar dan pasti menyakiti hati gadis itu, namun yang dia ingat adalah bahwa, Vero telah mempermainkannya dengan menjadikannya sebagai taruhan hanya sebagai hiburan semata, hal itulah yang membuat rasa bersalah karna telah membentak Vero sirna, namun, Bara bukannya laki-laki yang tanpa hati, setelah Vero tidak terlihat oleh pandangannya, Bara berlari menyusul Vero, bukan untuk minta maaf, tapi hanya sekedar untuk memastikan kalau gadis itu bisa sampai dimobilnya.
Dan begitu dia berhasil menemukan Vero, dia melihat gadis itu tengah berpelukan dengan Kafka, dan hal itu membuat Bara geram, "Dasar wanita murahan, semudah itu mengumbar kata-kata cinta kepadaku dan kemudian dengan sangat mudahnya dia memeluk laki-laki lain." rutuknya melihat Vero yang berjalan yang dibawa oleh Kafka.
Bara merasakan hatinya sakit mengetahui kenyataan kalau Vero dengan mudahnya dipeluk-peluk oleh laki-laki lain.
"Akhhh, peduli apa gue." desahnya berusaha untuk tidak peduli, "Lagian dia bukan siapa-siapa guekan, mau dia dipeluk oleh banyak laki-laki sekalipun itu bukan urusan gue, jadi, ngapain gue peduli." meskipun mengatakan hal tersebut, namun Bara tidak sepenuhnya tidak peduli, ada bagian dari dirinya yang tidak suka saat melihat Vero disentuh oleh laki-laki lain, dan ketika dia tidak berhasil mengenyahkan bayangan Vero yang dipeluk oleh Kafka, itu membuatnya sangat frustasi.
"Brengsek, kenapa gadis jahat itu bisa mempengaruhi gue sampai sebegitunya." Bara mengacak-ngacak rambutnya saking frustasinya.
****
Kafka mengantarkan Vero sampai kamarnya, Kafka membantu Vero untuk berbaring ditempat tidurnya, menarik selimut untuk Vero sebelum berkata, "Istrihatlah, pejamkan matamu dan hilangkanlah semua beban fikiran yang mengganjal dihatimu Veronica." Kafka mengelus rambut Vero.
Kafka selalu bisa membuat Vero tenang, sehingga perlahan tapi pasti, Vero mulai memejamkan matanya dan terbawa sampai ke alam mimpi untuk sesaat melupakan apa yang membuat hatinya perih dan sakit.
Begitu mengetahui Vero sudah tertidur, Kafka meninggalkan kamar Vero, dia tidak tahu penyebab gadis itu menangis dan dia tidak mau memaksa Vero untuk memberitahunya akan hal itu, dan satu hal yang Kafka ketahui, kalau dia tidak suka melihat Vero menangis.
Ketika Kafka keluar, Pak Adi sudah berada dibalik pintu kamar nona mudanya.
"Bagaimana tuan keadaan nona muda." pak Adi bertanya saat melihat Kafka keluar.
"Saat ini Vero lagi tidur, biarkanlah dia istirahat."
Pak Adi mengangguk, "Tuan, menurut tuan, kenapa nona menangis hebat seperti itu, apa gara-gara laki-laki itu." pak Adi menduga-duga.
"Laki-laki yang dia temui dikoridor rumah sakit itu maksud pak Adi." tebak Kafka.
"Bukan tuan, laki-laki yang bernama Bara."
"Bara." ulang Kafka.
Kafka pernah lihat orangnya, tapi dia tidak tahu namanya.
"Iya, saya dengar, kalau laki-laki bernama Rama itu adalah temannya Bara, apakah laki-laki bernama Bara itu lagi ya yang membuat nona sampai menangis hebat seperti ini, sama seperti waktu nona pergi ke rumahnya Bara."
Kafka mengerutkan keningnya tidak mengerti, "Bara, siapa dia pak Adi."
Pak Adi menggeleng, "Kalau tuan bertanya sama saya siapa dia, saya juga kurang tahu tuan, tapi kalau saya bisa menyimpulkan, mungkin laki-laki itu adalah pacarnya nona Vero tuan."
"Vero punya pacar."
"Itu hanya dugaan saya saja tuan, saya tidak tahu pasti."
"Hmmm, Vero punya pacar, masuk akal juga mengingat kelakuannya yang tiba-tiba sering menangis seperti orang yang tengah patah hati." gumam Kafka dalam hati.
"Sebaiknya kita kebawah pak Adi, biarkan Vero istirahat."
"Iya tuan."
*****
Satu minggu berlalu, Vero sudah mulai masuk kuliah, selama satu minggu ini, Vero berusaha untuk melupakan Bara dengan berbagai cara, mulai dari shoping dengan teman-temannya, melakukan hal-hal yang membuatnya senang, kumpul-kumpul dengan Rara dan Tiar, dan kadang juga dia jalan keluar bersama dengan Kafka, bukan sebagai pasangan, tapi sebagai kakak adik, karna Vero menganggap Kafka seperti kakaknya sendiri, Kafka sering menghiburnya, Vero memang terhibur dan untuk sesaat bisa melupakan Bara, namun setelah dia kembali sendirian, bayangan Bara kembali memenuhi fikirannya, dan itu membuat Vero frustasi, begitu besarnya Bara mempengaruhi dirinya, namun, Vero tidak menyerah begitu saja, dia bertekad untuk melupakan Bara dengan berbagai cara dan upaya, tapi apakah bisa dia melupakan Bara saat dirinya dengan tidak sengaja bertemu dengan laki-laki itu saat dia dalam perjalanan menuju kelasnya.
Vero mematung saat melihat Bara dan Rama yang tengah berjalan ke arahnya, bukan ke arahnya sieh, lebih tepatnya Bara berjalan ke arah parkiran.
Jantung Vero berdetak hebat, kakinya tidak bisa digerakkan seperti tertancap diubin, sekuat apapun dia berusaha melupakan Bar, tapi usaha itu tidak berbekas sama sekali saat dia bertemu dengan Bara secara langsung seperti ini.
"Baraa." gumamnya dengan bibir bergetar.
Sedangkan Bara, dia terlihat cuek dan tidak peduli, itu yang dia tampakkan diluar, tidak ada yang tahu apa yang terjadi didalam sana, sesungguhnya dada Bara bergemuruh, dia benci sama gadis itu, tapi rasa cinta itu juga masih betah bersemayam dihatinya untuk gadis itu, sehingga tidak heran, setiap akan tidur, wajah gadis itu selalu terbayang-bayang dalam benaknya.
"Baraa, Vero tuh." Rama yang berjalan bersisian dengan Bara memberitahu.
"Gak penting." desis Bara.
"Elahh, jangan cuek-cuek gitulah sama Vero Bar, sapa dia kek." Rama menyarankan.
"Gak sudi gue." tandasnya yang membuat Rama menggeleng.
Vero masih berdiri ditempatnya, kakinya rasanya tidak bisa dia gerakkan sama sekali, dia terpaku menatap laki-laki yang selalu dia rindukan itu, namun Bara seperti ogah menatapnya dan terus berjalan tanpa menghiraukannya.
Sampai ketika sudah dekat, Bara tetap tidak menoleh sedikitpun, dia tetap konsisten tidak mau menatap Vero.
Rama yang tidak memiliki masalah apa-apa dengan Vero menyapa saat sudah didekat Vero, "Hai Ver, lo kuliah." sapanya ramah.
Vero hanya menjawab dengan anggukan sembari matanya tidak lepas memperhatikan Bara yang semakin menjauh.
Rama menoleh ke belakang dan melihat Vero yang menatap punggung Bara dengan tatapan penuh kerinduan.
"Vero masih natap lo Bar."
Namun Bara tidak peduli, dia tetap berjalan dan tidak mau menoleh ke belakang.
****
Begitu Bara sudah tidak terlihat dipandangannya, air mata Vero tiba-tiba merembas dari sudut matanya yang segera dia hapus, "Gue merindukan lo Bara." gumamnya.
"Tapi gue harus kuat, gue harus kuat, gue harus melupakan Bara, gue harus bisa melupakan dia, toh dia juga tidak menyukai guekan, buat apa gue masih berharap sama dia." Vero berusaha untuk menghibur dirinya, "Oke Vero, lo pasti bisa melupakan Bara, semangat."
Vero berusaha untuk tersenyum sebelum kembali melanjutkan langkahnya menuju kelasnya.
****