Veronica

Veronica
KAMU DAN KAFKA SUDAH PAPI JODOHKAN



"Mi, siapa sieh sebenarnya yang akan datang." tanya Katya yang saat ini tengah membantunya maminya menata makanan dimeja.


Mami Mahima bukannya menjawab pertanyaan putrinya, dia malah tersenyum misterius sama seperti Kafka.


"Mi, jawab kek, mami sudah kayak abang Kafka saja deh, ditanya bukannya dijawab malah senyum doank." Katya protes, pasalnya, dia tidak mendapat jawaban hanya dengan senyum maminya itu.


"Nanti juga kamu tahu."


"Mami kok gitu."


"Sudah kamu tidak usah banyak tanya-tanya lagi, tata itu makanan ya agar rapi, mami ke dapur dulu untuk melihat apakah makanan penutupnya sudah siap apa belum."


"Hmmm." gumam Katya yang kini semakin penasaran dengan tamu yang akan datang.


Saat itu Kevin yang baru pulang lewat diruang makan saat adiknya tengah menata makanan, dia berhenti dan bertanya sama adik perempuannya tersebut.


"Kat, siapa sieh sebenarnya yang akan datang, kok kesannya kita semua diwajibkan hadir gitu, penting banget ya tamunya."


"Ya Katya juga tidak tahu abang, soalnya abang Kafka dan mami Katya tanyain gak mau ngasih tahu."


"Padahal abang tengah mengerjakan tugas kelompok saat mami menelpon dan meminta abang untuk cepat pulang."


"Abang lebih baik sana bersih-bersih gieh, sebentar lagi tamunya akan datang, jangan sampai mereka mencium bau abang yang bau asam, bisa rusak selera makan mereka."


"Enak saja kamu Kat kalau ngomong, abang itu meskipun belum mandi tetap wangi lho."


"Ishh apaan sieh yang wangi, orang baunya abang tercium sampai sini."


"Kevin." tegur mami Mahima yang kembali datang ke meja makan, "Apa yang kamu lakukan disini, sana mandi, sebentar lagi tamunya datang lho."


"Hmmm, iya mi."


Kevin berjalan meninggalkan adiknya dan maminya, meskipun begitu, dia masih bertanya-tanya siapakah gerangan tamu yang diundang oleh abang tertuanya tersebut untuk makan malam ke rumah keluarga mereka sehingga dia diwajibkan hadir juga.


****


Ting


Tong


Mami Mahima dan Katya mendengar suar bell rumah mereka berbunyi.


"Nahh, itu tamunya sudah datang."


Katya sudah tidak sabar untuk melihat siapa yang datang.


"Kamu panggil abang-abang kamu ya Kat, biar mami yang bukain pintunya."


"Baik mi." patuh Katya dan berjalan setengah berlari untuk memanggil kedua kakak laki-lakinya, sedangkan mami Mahima berjalan kedepan untuk membukakan pintu.


Senyum mami Mahima tersungging lebar saat melihat orang yang dia tunggu-tunggu kini berdiri didepan pintu.


"Mahima Diandra." sapa Amar Salim tersenyum lebar saat melihat istri dari almarhum sahabatnya itu.


"Mas Amar." Mahima mendekat dan menjabat tangan sahabat almarhum suaminya itu.


"Wah wah, kamu itu semakin berumur semakin cantik saja Mahima, kalau almarhum suami kamu masih hidup, dia pasti akan membangga-banggakan kecantikan istrinya ini."


Mahima terkekeh, "Mas Amar bisa saja."


Mata Mahima melirik kebelakang dimana Vero berdiri dibelakang sang papi.


"Aku tebak, gadis cantik ini pasti putrimukan mas."


Amar Salim menoleh ke belakang, "Tentu saja."


Mahima mendekat dan mencium pipi Vero dengan akrab, "Kamu cantik sekali sayang, tidak heran kalau Kafka kepincut sama kamu."


Vero hanya mengerutkan kening karna tidak mengerti apa yang dimaksud oleh mami Mahima, namun dia tidak bertanya lebih lanjut tentang maksud dari perkatan mami Mahima barusan.


"Ehh, kok jadi berdiri disini sieh, ayok masuk mas Amar, Vero sayang, kita ngobrolnya didalam saja."


Amar Salim dan Vero mengikuti pemilik rumah masuk ke dalam rumah yang tidak kalah besar dan megahnya dengan rumah mereka.


Sementara itu, Katya hanya butuh waktu 10 detik untuk sampai dilantai dua, dia ingin segera memanggil kedua kakak laki-lakinya dan cepat turun kembali ke bawah karna penasaran tingkat tinggi dengan tamu yang diundang oleh Kafka.


"Abanggg, abang Kafka." Katya dengan heboh mengetuk pintu kamar Kafka, "Tamunya sudah datang itu, ayok cepetan turun."


Katya kemudian beralih mengetuk kamar Kevin yang bersebelahan dengan kamarnya Kafka, "Abang, ayok turun, itu tamunya sudah datang."


Setelah memberitahu amanat dari sang mami, Katya kembali berlari turun kebawah.


Kafka dan Kevin berbarengan membuka pintu kamar mereka.


"Dasar Katya, bisa tidak dia tidak seheboh itu." komen Kevin.


"Ayok sebaiknya kita turun Kev."


"Iya bang."


***


Dan kini, kedua keluarga itu sudah duduk mengelilingi meja panjang dan bersiap untuk menyantap hidangan yang memang sudah dipersiapkan oleh mami Mahima untuk menyambut kedatangan keluarga Salim.


Sementara itu Katya, sejak melihat Vero, gadis remaja itu tidak henti-hentinya memperhatikan Vero, dan terus bergumam dalam hati, "Bukannya itu gadis yang fotonya ada dihpnya abang, bener-bener cantik banget sumpah, lebih cantik daripada difoto." Katya terus saja mengagumi kecantikan Vero dalam hati.


"Abang, bukannya dia gadis yang fotonya ada dihp abangkan." Katya yang kebetulan duduk didekat Kafka berbisik.


"Iya." Kafka membalas dengan berbisik pula.


"Apa dia pacar abang."


"Kepo saja kamu."


Katya merengut mendengar jawaban Kafka.


"Apa sieh yang dibisikin oleh abang dan Katya." Kevin yang penasaran dan hanya bisa menyimpan rasa penasarannya dalam hati karna tidak mungkin mengutarakannya secara lisan.


Sama seperti Katya, Kafka juga mengagumi kecantikan Vero, Vero benar-benar bersinar meskipun dengan dandanan natural, beberapa kali Kafka mencuri-curi pandang ke arah Vero, dadanya berdebar kencang saat melihat gadis yang selalu menjadi mimpi-mimpi indahnya tiap malam kini ada dihadapannya.


"Sebelumnya saya ucapkan terimakasih sama mas Amar dan Veronica sudah mau datang memenuhi undangan makan malam keluarga kami." mami Mahima memulai, "Saya merasa terhormat karna mas Amar telah mau meluangkan waktu berharganya untuk datang bersilaturrahmi ke rumah kami."


"Terimakasih atas sambutannya Mahima, saya yang seharusnya berterimakasih karna kamu telah mengundang kami ke kediaman keluarga kalian, dan terimakasih karna telah menerima kami dengan baik." timpal Amar Salim.


Mahima tersenyum merespon ucapan Amar Salim, "Tentu saja mas Amar, mas Amar dan Vero, pintu rumah kami selalu terbuka lebar untuk kalian, apalagi sebentar lagi keluarga besar kita akan bersatu."


Vero masih diam dan menyimak, dia tidak berfikir yang aneh-aneh tentang apa yang dikatakan oleh mami Mahima barusan tentang keluarga besar yang akan bersatu.


Kafka hanya tersenyum mendengar kata-kata mami tirinya itu, dia hanya berharap Vero seperti dirinya, menerima perjodohan yang telah dirancang jauh-jauh hari oleh kedua orang tua mereka.


"Keluarga besar kita akan bersatu, ini apa maksudnya, apa abang atau aku akan dijodohkan dengan gadis cantik itu." batin Kevin, "Tapi kayaknya gak mungkin aku yang akan dijodohkan meskipun tentunya aku tidak menolak dijodohkan dengan gadis secantik itu, ini pasti abangkan yang akan dojodohkan, secara abang sudah matang, duhh, betapa beruntung bang Kafka, tidak pernah pacaran, tapi sekalinya dapat wanita, dapatnya wanita super cantik bak dewi yang baru turun dari kahyangan." ini sik Kevin agak lebay sieh.


"Iya, saya harap semuanya berjalan dengan lancar." Amar Salim menimpali, "Saya sudah cukup tua dan mulai sakit-sakitan, saya berharap putri kesayangan saya ini ada yang menjaga saat nanti saya sudah tiada, dan saya fikir, orang yang tepat untuk menjaganya adalah Kafka."


Mendengar kata-kata sang papi, Vero dengan sangat cepat menoleh ke arah papinya, dia bertanya-tanya apa maksud papinya dengan seseorang yang menjaganya, fikir Vero, dia sudah besar dan tidak perlu dijaga, "Pi, apa maksud papi." tidak ingin menduga-duga, Vero menyuarakan rasa penasarannya akan maksud dari papinya barusan.


"Kamu dan Kafka sudah papi jodohkan sayang."


****