Veronica

Veronica
MENGAJAK VERO JALAN



"Papiiiii." teriak Vero girang saat melihat papinya sudah pulang dari perjalanan bisnis yang dilakukannya, gadis itu berlari menyongsong ke arah papinya dan memeluk laki-laki yang sangat dia cintainya itu.


Amar Salim tentu sangat senang melihat putri semata wayangnya itu setelah lebih seminggu dia meninggalkan putrinya bersama para pelayan dirumah, dia baru bisa pulang sekarang setelah membereskan beberapa urusan bisnis di luar negeri.


"Papi kok gak bilang kalau papi mau pulang hari ini."


"Sengaja mau memberi kamu kejutan sayang, kamu terkejutkan."


"Tentu saja Vero terkejut papi, papi bawakan apa yang Vero pintakan."


"Bawa donk sayang, gak mungkin papi lupa kalau yang minta anak kesayangan papi ini."


"Makasih papi, muuuaahhh." Vero mencium pipi papinya, "Papi adalah papi yang terbaik diseluruh dunia."


"Oleh-olehnya papi suruh pelayan untuk taruh dikamar kamu."


"Benarkah, kalau begitu, aku ke kamar dulu ya papi, Vero sudah tidak sabar melihat tas-tas yang papi beliin untuk Vero."


"Iya sayang."


Muuuaahhhhh, sekali lagi, Vero mencium pipi papinya sebelum berlari menuju kamarnya, gadis itu terlihat begitu bersemangat, padahal tadi di kampus kerjaannya hanya bermuram durja.


Amar Salim hanya menatap punggung putrinya yang berjalan menjauh, wajah hangat yang selalu dia tampakkan didepan putri kesayangannya itu sirna begitu Vero menjauh digantikan dengan wajah dingin datar.


"Adi, ikut saya ke ruang kerja saya." perintahnya pada kepala pelayannya yang bertanggung mengurus rumahnya beserta isinya itu.


"Baik tuan."


Tuan Amar Salim melangkah menuju ruang kerjanya diikuti oleh pak Adi dibelakangnya.


Amar Salim duduk dikursi kerjanya, sedangkan pak Adi berdiri dari jarak beberapa meter sambil menunduk, dia rasanya tidak sanggup melihat wajah tuannya yang menatapnya bak elang yang siap untuk memangsa.


"Jadi Adi, apa saja yang terjadi dengan putriku selama saya pergi."


Pak Adi menceritakan apa yang dia ketahuinya, tentang Vero yang mendatangi rumah Bara, jatuh sakit dan sampai dirawat dirumah sakit, sampai pada Vero yang selalu terlihat murung dan jarang mau makan beberapa hari ini tidak luput dari hal yang dilaporkan oleh pak Adi kepada tuannya.


Rahang tuan Amar Salim mengeras, wajahnya terlihat merah padam dengan tangan mengepal, dia begitu sangat marah mendengar laki-laki bernama Bara itu membuat putri kesayangannya menangis dan menderita, dia memang tidak suka melihat Vero dekat-dekat dengan Bara, tapi dia juga tidak suka mengetahui kalau Bara membuat putrinya disakiti sehingga membuat putri kesayangannya itu sampai jatuh sakit.


"Kurang ajar, berani-beraninya anak itu membuat putri kesayanganku sampai menangis, aku saja yang sebagai ayahnya tidak pernah menyakitinya sedikitpun apalagi sampai membuatnya menangis." geram Amar Salim, dia benar-benar marah saat mendengar setiap detail yang diceritakan oleh kepala pelayannya, hal itu membuat Amar Salim berjanji akan memberi pelajaran untuk Bara, dia ingin Bara menderita dan merasakan apa yang dirasakan oleh putrinya.


"Tapi untungnya ada tuan Kafka tuan, tuan Kafka selalu datang ke rumah dan menghibur nona muda, dan kadang juga tuan Kafka mengajak nona keluar, dan dengan kehadiran tuan Kafka, nona muda agak terhibur tuan." lapor pak Adi.


"Ahh iya, anak itu benar-benar bisa diandalkan, tidak salah saya menyuruhnya menjaga putri kesayanganku." pujinya, "Bagaimana menurutmu Adi kalau saya menjodohkan Vero dan Kafka."


"Itu ide yang bagus tuan, dan sepertinya, tuan Kafka juga menaruh hati sama nona."


"Iya, sepertinya memang itu hal yang terbaik, saya sudah tua dan mulai sakit-sakitan, Vero memang membutuhkan orang untuk menjaganya saat nanti saya pergi."


"Tuan, jangan bilang begitu, kalau nona mendengar kata-kata tuan, nona pasti akan sedih."


Amar Salim terkekeh, "Hmmm, itu memang kenyataannyakan Adi, tapi seenggaknyakan, saya sudah mencarikan putri saya orang yang tepat yang bisa menjaganya kalau saya pergi nanti, jadi saya bisa pergi dengan tenang."


Pak Adi diam tidak tahu harus menanggapi kata-kata tuannya barusan, kenyataanya memang kesehatan tuannya akhir-akhir tidak bisa dibilang baik.


"Baiklah Adi, kamu boleh keluar sekarang."


"Baik tuan, saya permisi dulu." pamit pak Adi berbalik dan berjalan keluar meninggalkan ruangan kerja tuannya.


"Awas kamu Bara, saya tidak akan melepaskan kamu, kamu telah menyakiti putriku, dan kamu harus merasakan akibatnya." geram Amar Salim begitu pak Adi telah keluar dari ruangannya.


Laki-laki yang saat ini sudah kepala enam itu benar-benar tidak terima saat mengetahui kalau laki-laki itu telah membuat putri kesayangannya menangis bahkan sampai membuat Vero masuk rumah sakit.


****


Kafka : Malam cantik


"Kak Kafka." gumam Vero saat membaca pesan yang berasal dari nomer Kafka, Vero murni menganggap Kafka sebagai kakak, tidak lebih sehingga dia tidak merasa aneh apalagi baper dengan perhatian yang diberikan oleh Kafka kepadanya.


Vero : Malam juga kak


Kafka : Malam minggu lho ini, gak berniat keluarkah


Vero : Maunya sieh gitu, tapi sayangnya aku gak ada pacar yang ngajakin malam mingguan


Kafka : Kalau diajakin sama kakak mau gak


Vero : Nanti pacarnya kakak marah lagi.


Kafka : Nasib kakak sama seperti kamu Vero, kakak juga gak ada pacar


Vero : Ahh yang benar saja, masak laki-laki setampan dan sekaya kakak gak ada pacarnya, gak percaya aku


Kafka : Kamu juga, masak wanita secantik dan sesempurna kamu gak ada pacarnya


Kafka membalikkan kata-kata Vero.


Vero : Kakak kok mengembalikan kata-kata aku sieh


Kafka : Habisnya kamu gak percaya sieh dikasih tahu


Vero : Hmmm


Kafka : Jadi gimana Veronica, mau keluar sama kakak gak


Vero : Memangnya kita mau kemana kak


Kafka : Ke tempat yang asyik pokoknya


Vero : Oke deh


Kafka : Good girls


Kafka : Oke, kamu mending siap-siap, dandan yang cantik oke, buat aku terpana dengan kecantikanmu


Vero : Gak dandan saja kakak terpana dengan kecantikanku hehe


Kafka : Ahh iya benar juga, kamu itu dalam segala situasi dan keadaan selalu terlihat cantik dan sempurna


Vero : Gombal


Kafka : Saat dipuji, kenapa sieh wanita selalu bilang begitu, padahalkan sebenarnya mereka suka dipuji


Vero : Kakak sok tahu


Padahal mah Vero membenarkan dalam hati apa yang dikatakan oleh Kafka.


Kafka : Lha, malah asyik berbalas pesan begini, sana gieh siap-siap


Vero : Kakak sieh ngajak chat terus


Kafka : Oke oke, kakak berhenti kirim pesannya, siap-siap gieh, kakak otw nieh


Vero : Oke


Saat mengakhiri chatnya dengan Kafka, Vero mulai bersiap-siap.


45 menit kemudian, Vero mendengar suara pintu kamarnya diketuk dari luar yang kemudian disusul oleh suara dari pelayannya.


"Nona, tuan Kafka sudah menunggu nona dibawah."


"Baiklah, suruh dia nungguin gue sebentar."


"Baik nona."


Vero menggunakan dress selutut, berwarna abu-abu tanpa lengan, saat dia akan keluar, tiba-tiba saja kata-kata Bara terngingang-ngiang ditelinganya.


Vero berjanji untuk melupakan Bara dalam hal apapun, tapi dia malah meraih jaket Bara, Vero memeluk jaket tersebut dan mendekatkannya ke hidungnya untuk mencium aroma Bara yang masih melekat dijaket itu, bahkan Vero tidak pernah mau mencuci jaket tersebut karna tidak mau baunya Bara hilang.


"Baraa, gue kangen elo, kenapa sieh begitu susahnya untuk ngelupain elo." desahnya mulai sedih.


"Jangan bersedih Vero, jangan sedih oke, cepat atau lambat lo pasti bisa melupakan Bara." Vero berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri, memang itu yang sering dia lakukan saat dia mulai kangen dengan Bara akhir-akhir ini.


Meskipun dia memiliki keingan yang kuat untuk melupakan Bara, toh Vero malah mengenakan jaketnya Bara, "Ukhh, rasanya masih sama, seperti dipeluk sama Bara." gumamnya.


"Duhhh." Vero menepuk keningnya sendiri, "Kenapa gue malah sibuk memikirkan Bara sieh, kak Kafka sudah lama nungguin gue." Vero kemudian bergegas turun ke bawah.


Saat Vero turun, dia melihat papinya tengah ngobrol dengan Kafka diruang tamu.


Kafka tersenyum begitu melihat Vero berjalan mendekatinya, "Hai kak Kafka."


"Hai cantik." sapa Kafka.


Kafka selalu saja memanggil Vero cantik, tapi memang beneran cantik sieh tuh anak.


"Tolong jaga putri saya ya Kafka." pesan Amar Salim.


"Om tidak perlu khawatir, saya akan menjaga Vero, dengan nyawa saya sekalipun.


"Om percaya sama kamu Kafka." Amar Salim menepuk pundak Kafka, "Kamu sama seperti almarhum papamu, bertanggung jawab dan bisa dipercaya."


"Terimakasih om atas kepercayaan yang om berikan untuk menjaga hal yang paling berharga yang om miliki."


Amar Salim tersenyum, dia semakin yakin untuk melaksanakan niatnya untuk menjodohkan putrinya dan Kafka, karna baginya, Kafka adalah laki-laki terbaik.


"Ayok kak kita berangkat sekarang."


"Iya ayok."


"Pi, kami berangkat ya."


"Iya sayang."


Vero mendekat dan mencium pipi papinya.


Muuuaahhhh


"Ingat ya, jangan pulang terlalu malam.".


"Iya om."


Kafka benar-benar laki-laki idaman wanita deh, begitu tiba didepan mobil, dia membukakan pintu untuk Vero, dan memang Kafka selalu melakukan hal itukan, "Silahkan masuk tuan putri." ujarnya bergaya layaknya pangeran, hal itu membuat Vero tersipu malu.


"Kakak kok manis banget sieh, beruntung banget deh wanita yang nantinya akan menjadi pacar kakak."


"Kalau kamu saja yang jadi pacarnya kakak mau gak."


Meskipun dengan nada bercanda, tapi Kafka serius mengatakan hal itu, dan ya Vero juga beranggapan kalau Kafka cuma bercanda belaka sehingga dia menanggapinya dengan tertawa garing.


"Bercandanya juga jangan keterlaluan kakak, nanti kalau aku baper gimana."


Kafka nyengir, "Tuhkan, aku dianggap hanya bercanda doank sama Vero, padahal akunya serius." batinnya.


Setelah Vero masuk, Kafka berjalan mengitari mobil dan masuk ke pintu pengemudi, dia kemudian menoleh ke arah Vero dan menggeleng, dia mendekatkan tubuhnya ke arah Vero, Vero yang berfikir kalau Bara akan menciumnya bersiap untuk memukul Bara, namun hal itu tidak jadi dia lakukan karna ternyata Bara bukannya mau menciumnya, tapi akan memasangkan sabuk pengaman ditubuh Vero.


"Jangan kebiasaan mengabaikan keselamtan ya Vero, ingat, saat berkendara, keselamatan itu yang paling penting, tetap pakai sabuk pengamannya."


Vero yang merasa malu karna telah salah sangka dengan Kafka hanya bisa menganguk, "Duhh apa sieh yang ada difikiran gue, kok bisa-bisanya gue berfikiran kalau kak Kafka mau nyium gue, untung gue belum memukulnya, kalau gue sampai memukulnya, bisa malu banget gue." batinnya.


"Berangkat sekarang Vero."


Lagi-lagi Vero hanya mengangguk menanggapi ucapan Kafka.


Dalam perjalanan, Vero bertanya, "Kak Kafka, ini kita mau kemana sieh."


"Ke tempat yang asyik intinya, dan aku yakin kamu pasti suka."


"Hmmmm."


Sampai setelah 20 menit kemudian Kafka memarkir mobilnya diparkiran sebuah cafe.


Vero melongokkan wajahnya ke luar jendela, dia kenal tempat itu, sangat kenal, Kafka membawanya ke cafe tempat Bara bekerja.


"Inikan....inikan tempat Bara bekerja."


Jantung Vero seketika berdetak sangat cepat, karna bisa dipastikan dia bisa bertemu dengan Bara ditempat tersebut, ada rasa senang dihatinya saat mengetahui dia bisa bertemu dengan Bara, tapi terbersit rasa sedih juga mengingat dia pasti akan tambah tidak bisa melupakan laki-laki itu saat bertemu dengannya.


"Duhh gimana ini, padahalal gue sudah berusaha mati-matian supaya gak ketemu Bara lagi, ehh tahunya kak Kafka membawaku untuk bertemu dengannya."


"Vero, kenapa malah diam, ayok turun." ujar Kafka saat membukakan pintu mobil untuk Vero.


"Oh iya." dengan ragu Vero keluar.


"Ayok." Kafka meraih tangan Vero dan menggenggamnya membawanya masuk ke cafe.


Saking nervousnya sehingga Vero membiarkan saat Kafka menggandeng tangannya, bahkan saat memasuki cafe.


Dan padangan Vero langsung tertuju ke arah panggung dimana biasanya Bara performan, dan yah memang Vero melihat Bara ada disana, laki-laki yang dia cintai itu tengah bersiap-siap akan menampilkan sebuah persembahan untuk pengunjung cafe, dan kebetulan juga disaat bersamaan Bara menoleh ke arah pintu cafe dimana Vero berdiri dengan tangan yang digandeng oleh Kafka.


Bara tentu tidak menyangka kalau gadis itu berada dicafe tempatnya bekerja, dengan laki-laki yang pernah Vero bilang sudah dianggap sebagai kakaknya sendiri. Bara masih membenci Vero, tapi ada rasa sakit dihatinya saat melihat Vero bersama dengan laki-laki lain, apalagi laki-laki itu sampai menggandeng tangannya dengan mesra.


"Bergandengan tangan dengan mesra, apa itu yang namanya sudah dianggap kakak sendiri, dasar wanita murahan." rutuk Bara kesal, ingin rasanya dia melemparkan gitar yang saat ini dipangkunya pada laki-laki yang menggandeng tangan Vero tersebut.


Dan Bara baru memperhatikan kalau Vero mengenakan jaketnya, bukan jaketnya lagi sieh karna atas paksaan gadis tersebut Bara memberikan jaket itu kepada Vero, tapi untuk saat ini, ingin rasanya Bara mengambil jaketnya kembali dari Vero.


"Bara kok bisa sieh makin tampan begitu, guekan tambah gak bisa move on." Vero mendesah dalam hati saat melihat Bara yang menurutnya semakin tampan saja.


"Vero, kenapa malah berdiri disini, ayok kita masuk, kita menghalangi jalan orang lho."


"Oh iya."


Kafka membawa Vero menuju meja kosong, Vero tidak lepas memperhatikan panggung dimana sekarang Bara sudah mulai menyanyikan sebuah lagu dengan suaranya yang merdu.


"Ver, ayok duduk, kenapa malah bengong."


"Iya."


Kafka melihat arah pandang Vero, dan dia langsung mengenali Bara karna Bara pernah memperbaiki mobilnya yang rusak, Kafka tentunya tidak menyangka kalau laki-laki yang pernah memperbaiki mobilnya tempo hari bekerja sebagai penyanyi juga dicafe yang dia kunjungi.


"Ver, bukannya dia laki-laki yang pernah memperbaiki mobilku waktu itukan." tunjuk Kafka ke atas panggung.


"Iya kak, itu memang lak-laki yang pernah memperbaiki mobil kamu waktu itu."


"Dia bekerja disini juga ternyata sebagai penyanyi cafe, suaranya asyik juga ya Ver."


"Iya."


"Kamu terpesona ya." goda Kafka saat dilihatnya Vero tidak berkedip menatap ke arah panggung dimana Bara tengah performance.


"Hmmm."


Padahal tadi Kafka cuma iseng doank menggoda Vero, ehh, mendengar jawaban Vero, meskipun cuma hmm doank kok dia malah tidak suka.


"Kamu terpesona karna suaranya atau karna rupanya." Kafka kembali bertanya.


Namun Vero yang fokus menatap Bara tidak mendengar pertanyaan Kafka.


"Astaga, Vero benar-benar terpesona lagi sama laki-laki itu, membuat aku cemburu saja." desah Kafka dalam hati.


****