Veronica

Veronica
CAFE



"Verrr." Kafka sampai menyentuh tangan Vero untuk menarik perhatian gadis itu saking fokusnya menatap Bara.


"Ehh, kenapa kak." tanya Vero.


"Segitunya terpesonanya ya kamu sama laki-laki itu."


"Hmmm." Vero menunduk, "Emang salah ya kak."


"Ahh Vero, aku yang berjuang mati-matian mengambil hatinya dia malah tertariknya sama laki-laki lain." Kafka merasa nelangsa agak terluka sieh mendengar pangakuan Vero tersebut.


Namun Kafka berusaha untuk tersenyum mendengar jawaban Vero, "Tentu saja gak, laki-laki itu memang pantas diidolakan sieh, tampan dengan suara yang bagus, ya wanita mana sieh yang tidak akan menyukainya."


"Hmmm." gumam Vero kembali menatap ke arah panggung dan kebetulan Bara sudah menyelsaikan lagu yang tadi dia bawakan ketika tiba-tiba ada seorang gadis yang naik ke panggung dan meminta foto bersama dengan Bara, dan saat akan turun, gadis itu mencuri ciuman dipipi Bara.


"Apa yang dilakukan oleh gadis itu, sialan, kenapa dia main sosor saja." geram Vero dalam hati.


Vero yang melihat hal tersebut tentu saja panas hatinya, ingin rasanya dia melabrak gadis tersebut dan menjambaknya karna telah berani-beraninya mencium Bara didepan mata kepalanya sendiri, tapi Vero masih punya cukup kesadaran untuk tidak melabrak gadis itu karna dia ingat siapa dirinya, dia bukan siapa-siapanya, Bara bahkan membencinya.


Vero merasa dadanya sesak tiba-tiba, "Kak Kafka, aku ke toilet dulu ya." pamit Vero dan langsung berdiri.


"Mau ditemenin Ver."


"Gak usah kak."


Vero melangkahkan kakinya menuju toilet dengan terburu-buru, ada sesuatu hal yang perlu untuk ditumpahkan disana, apa lagi kalau bukan air mata.


Setelah menangis beberapa saat, Vero mengumpat didepan cermin panjang didepan wastafel, "Gadiss brengsek, sialan, kenapa berani-beraninya dia mencium Baraku, Bara juga genit, mau saja dicium-cium begitu, dasar menyebalkan, gue benci Bara, gue benci gadis itu, benci benci sebenci bencinya." Vero terus merutuk sendiri ditoilet, untungnya toilet itu sepi sehingga tidak ada yang merasa terganggu dengan teriakannya.


Vero sudah cukup lama ditoilet saat Vero mendengar chat masuk di ponselnya.


Kafka : Vero, apa kamu baik-baik saja, lama amet ditoiletnya.


Vero : Iya kak, ini juga aku sudah mau balik kok


Setelah Vero menenangkan dirinya, dia melangkah keluar, dan betapa kagetnya dia saat melihat Bara bersandar disamping pintu toilet.


"Astaga ya Tuhan." Vero memegang dadanya saat melihat laki-laki yang selama satu minggu ini dia rindukan kini berada sangat dekat dengannya, saking dekatnya, Vero bahkan bisa mencium aroma parfum Bara, aroma parfum Bara merupakan salah satu hal yang di kangen oleh Vero.


Benci, cinta, kesal, ingin marah, semua hal itu berbaur menjadi satu dalam benak Vero, tapi dari semua rasa yang dia rasakan, rasa yang paling dominan adalah rasa cinta, ingin rasanya Vero melemparkan tubuhnya dalam pelukan laki-laki itu, dia ingin mengatakan kalau dia begitu merindukannya, tapi yah, akhir-akhir ini Vero memiliki pengendalian diri yang sangat baik sehingga dia tidak sampai melakukan hal memalukan hal itu, kalau sampai dia memeluk Bara, sudah bisa dipastikan Bara akan semakin membencinya atau mungkin juga akan mendorongnya sampai jatuh ke lantai.


"Mmmm, Bara." Vero salah tingkah, "Hai, kamu apa kabar." tanyanya gugup.


Bara dengan wajah datarnya menatap Vero tajam, "Seperti yang lo lihat, gue baik, sangat baik malah."


"Ohh, baguslah kalau begitu, aku senang dengarnya Bar."


Mereka terdiam lagi, Bara juga tidak mengerti, entah karna dorongan apa coba dia menyusul Vero ke kamar mandi, apakah mungkin dia merindukan gadis cerewet itu tapi dia malu untuk mengakuinya, entahlah, hanya Bara, Tuhan dan beserta staf-stafnya yang tahu apa yang saat ini Bara rasakan sama Vero.


Vero juga, kenapa malah diam sieh, seharusnya dia pergi saja gitu berhubung Bara juga kerjaannya hanya diam saja.


"Itu yang lo pakai, jaket guekan." setelah beberapa saat terdiam malah hal itu yang dikatakan oleh Bara.


"Ehhh ini..." Vero menyentuh jaket yang melekat ditubuhnya itu, "Ini bukan jaket lo lagi ya Bara, kan lo udah ngasih jaket ini ke gue."


"Lo mintanya maksa, makanya terpaksa gue kasih."


"Tapi yang penting inikan sudah menjadi milik akukan sekarang, mau aku mintanya maksa atau gak, nanti aku ganti deh ya dengan yang baru."


"Gak perlu, gue gak butuh jaket baru."


"Tapi gue ingin ngasih elo."


"Gue bilang gak perlu ya gak perlu."


"Mmm, baiklah Bara kalau elo gak mau." pasrah Vero.


"Kenap elo masih nyimpen jaket itu Vero, kenapa gak lo buang saja, itu jaket murahan."


"Mana bisa gue membuang jaket pemberian elo, lagian masih tersisa aroma tubuh lo dijaket ini, gue suka." jujur Vero mengungkapkan isi hatinya.


Dalam hati Bara tersenyum mendengar jawaban Vero, dia tidak pernah menyangka kalau gadis itu mau menyimpan jaket itu dan memakainya.


Untuk sesaat mereka bisa ngobrol dengan normal seolah-olah tidak ada masalah diantara mereka.


"Ibu bagaimana kabarnya Bara."


"Ibu baik kok." ucapnya, "Tapi dia sering nanyain elo, dia terus nyuruh gue ngajakin elo ke rumah dan gue sudah kehabisan alasan untuk membohonginya tentang kenapa lo gak bisa datang ke rumah." tambahnya dalam hati.


"Syukurlah kalau ibu baik-baik saja, aku senang dengarnya, sampaiin salamku sama ibu ya Bara."


Bara hanya mengangguk.


"Lo terlihat sehat dan bahagia Vero."


"Aku memang sehat Bara, tapi aku tidak bahagia, tahukah kamu kalau aku merindukanmu." inginnya Vero meneriakkan kata-kata itu secara langsung, sayangnya, kata-kata itu hanya bisa dia ucapkan dalam hati saja.


"Ohh iya, aku...aku sehat kok Bar, dan aku...aku juga bahagia kok."


"Laki-laki siapa."


"Laki-laki yang bersama kamu itu, dia pacar barumukan sekarang."


"Dia itu bukan...." Vero ingin membantah kata-kata Rangga, dia tidak ingin Bara salah paham tentang dirinya dan Kafka, namun sebelum kata-katanya kelar dengan sempurna, Kafka terlihat berjalan menghampirinya.


"Itu pacar lo datang, gue pergi dulu, nanti dia salah paham lagi ." setelah itu Bara langsung main pergi begitu saja.


Vero ingin menghentikan Bara, tapi Kafka sudah berada didekatnya dan bertanya, "Ver, apa kamu sebenarnya mengenal laki-laki itu."


Vero mengangguk, "Kami kuliah dia kampus yang sama." hanya itu yang dikatakan oleh Vero, dia tidak menjelaskan kalau Bara adalah laki-laki yang dia sukai yang awalnya dia jadikan sebagai taruhan.


"Ohh, kamu sudah kenal toh sebelumnya, tapi kenapa kalian seperti orang yang tidak saling mengenal saat dia memperbaiki mobilku."


"Kami hanya saling kenal kak, tidak pernah saling menegur sebelumnya." jelasnya kembali berbohong, menurut Vero, Kafka tidak perlu tahu terlalu jauh tentang kehidupan pribadinya.


"Oh begitu, terus dia ngapain nemuin kamu tadi."


"Ehh itu..dia tidak mendatangiku secara pribadi, dia juga kebetulan lagi ke toilet dan saat bertemu kami bertegur sapa, cuma say hai doank." ujar Vero lagi-lagi bohong.


"Oh." gumam Kafka percaya begitu saja.


"Vero, kita sebaiknya pulang ya, sudah malam ini, nanti om khawatir."


"Baiklah kak."


******


Bara menatap kepergian mobil yang membawa Vero pergi bersama dengan laki-laki yang Bara anggap adalah pacar barunya Vero.


"Lo ternyata memang benar-benar sudah menjalani hidup lo dengan bahagia ya Ver, lo gak tahu akibat yang keisengan lo terhadap gue, meskipun gue sangat membenci lo, tapi disaat bersamaan gue juga tidak bisa mengenyahkan perasaan gue sama elo, ditambah dengan ibu yang selalu nanyain elo dan membicarakan lo disetiap ada kesempatan yang membuat gue semakin tidak bisa melupakan elo, lo benar-benar wanita jahat ya Vero, mempermainkan perasaan orang dengan kejamnya." desah Bara mengiringi kepergian mobil Kafka.


"Tapi kalau di fikir-fikir, laki-laki itu memang pantas sieh bersanding dengan elo Ver, kaya dan tampan sedangkan gue hanya laki-laki miskin yang dengan seenaknya lo permainkan."


*****


Hanya ada beberapa orang yang ada dikelas saat Vero memasuki kelas yang biasa ditempati oleh anak-anak ekonomi bisnis, saat dia mendudukkan bokongnya dikursi yang biasa dia duduki, dia mendengar suara notifikasi ponselnya yang ada didalam tasnya.


Vero menemukan nomer asing yang tertera dilayar ponselnya.


081XX : Vero, ini aku Bara, temuin amu dibelakang gudang yang tidak terpakai, ada hal penting yang mau aku omongin ke kamu


"Baraaa, astaga, Bara ngechat gue." hebohnya sambil membekap bibirnya saking tidak percayanya, "Ya Tuhan, Bara ngechat gue."


Tanpa curiga sedikitpun, Vero langsung beranjak pergi dari duduknya, tentu saja dia tidak menyangka sekaligus begitu sangat senang ternyata Bara kembali menghubunginya.


Sebelum jauh melangkah, Vero menghentikan langkahnya, dia mengeluarkan bedak dari dalam tasnya dan merapikan penampilannya karna dia mau bertemu dengan Bara jadi dia fikirnya dirinya harus tampil cantik dan sempurna.


Dia juga mengeluarkan lipstiknya dan menebalkan lipstik dibibirnya, "Oke sempurna, gue siap untuk bertemu dengan Bara sekarang." ujarnya tersenyum lebar.


"Semoga saja Bara mau memperbaiki hubungan kami." harapnya dalam hati dan melangkah dengan pasti dan riang gembira karna pemikirannya itu.


Saat tiba dibelakang gudang yang sudah tidak difungsikan, tempat itu sepi, hanya orang normal saja yang akan datang kesana. Saat tiba disana, Vero melihat sebuah punggung kokoh membelakanginya, Vero tersenyum lebar karna berfikir itu adalah Bara, sehingga dengan berlari dia menyongsong pemilik punggung yang dia pikir adalah Bara.


"Baraa." panggil Vero dengan suara lembut begitu sudah dekat.


Laki-laki yang sejak tadi membelakangi Vero tersebut membalikkan tubuhnya mengahadap Vero, dan begitu terkejutnya Vero saat mengetahui siapa laki-laki tersebut, laki-laki itu bukanlah Bara tapi Saga, mantan kekasih Vero yang tergila-gila sama Vero.


"Lo..." tunjuk Vero geram, tentu saja dia sangat marah karna laki-laki itu membodohinya dengan mengirim pesan atas nama Bara.


"Halo sayang, kamu semakin cantik saja." Saga tersenyum jahat, sama dengan otaknya yang dipenuhi oleh fikiran-fikiran jahat saat ini.


"Brengsek, lo ngerjain gue hah." Vero meradang.


"Masih saja bermulut pedas ternyata, tapi aku suka, aku akan membungkam bibir kamu itu sayang." Saga mengerling nakal.


"Tutup mulut lo brengsek." bentak Vero jijik sama laki-laki yang kini mentapnya seolah ingin menelanjanginya itu.


"Galak seperti biasa, tapi aku suka, sangat suka."


Vero mendengus, dia benar-benar jijik sama cowok itu, Vero heran sama dirinya sendiri, kok bisa-bisanya dulu dia pernah pacaran dengan laki-laki tersebut meskipun hanya sebentar doank sieh.


Karna merasa tidak ada gunanya dia mendengarkan ocehan Saga, Vero berniat pergi, perasaannya juga tidak enak, saat dia akan membalikkan tubuhnya, sebuah tangan besar melingkar diperutnya dengan sangat kencang, refleks Vero berontak, dia merasa kesulitan bernafas.


"Lepasin gue sialan, lepasin tangan kotor lo ini." Vero berontak sekuatnya berusaha untuk melepaskan belitan tangan Saga.


"Haha." Saga tertawa jahat, "Sekian lama aku menunggu kesempatan ini, tidak mungkin aku melepaskan kamu sayang, lebih baik kamu diam dan nikamati setiap sentuhan yang akan aku berikan sayang." Saga berusaha untuk mencium Vero.


"Lepasin gue brengsek, apa yang akan lo lakukan, sialan."


"Memberikan kamu sesuatu hal yang indah yang tidak mungkin akan kamu lupakan sayangku."


Kata-kata itu bagai bencana untuk Vero.


****