
"Pemuda itu, kuliah dikampus yang sama dengan anak tuan, cerdas dan berprestasi sehingga dia mendapat beasiswa penuh dari kampus." Khan sedikit menjelaskan tentang Bara.
"Buat apa cerdas dan berprestasi kalau asal-usulnya tidak jelas." batin Amar Salim.
"Untuk menopang hidupnya sehari-hari bersama dengan ibunya, pemuda bernama Bara itu bekerja didua tempat sekaligus, bekerja dibengkel dan juga sebagai penyanyi cafe." Khan melanjutkan penjelasannya.
Amar Salim menghembuskan nafas berat, dia tidak pernah menyangka kalau putri kesayangannya kini tengah dekat dengan laki-laki yang tidak jelas asal usulnya seperti Bara.
"Baiklah Khan, kamu boleh pergi sekarang, nanti saya akan mentransfer sejumlah uang ke rekening kamu."
"Baiklah tuan,saya pamit, kalau tuan membutuhkan bantuan saya, jangan segan untuk menghubungi saya lagi."
"Hmmmm."
Laki-laki tinggi tegap berkepala plontos itu keluar meninggalkan ruangan Amar Salim.
Amar Salim menyandarkan punggungnya yang terasa lelah disandaran kursi kerjanya, saat ini yang ada di fikirannya adalah bagaimana caranya membuat putri kesayangannya berhenti berhubungan dengan Bara.
Sampai saat dia menerima telpon dari nomer yang tidak dikenalnya.
Karna merasa tidak penting, Amar Salim tidak menjawab panggilan tersebut, barulah saat ponselnya berdering untuk yang kedua kalinya dari nomer yang sama dia menjawabnya dengan terpaksa.
Belum sempat dia membuka suara, suara yang sudah sangat dikenalnya terdengar dari seberang.
"Papi…."
"Sayang, ini kamukan." seketika Amar Salim menegakkan tubuhnya demi mendengar suara putrinya.
"Iya papi, ini Vero."
"Sayang, apa yang terjadi, kenapa kamu menghubungi papi dengan nomer asing."
"Ponsel aku rusak papi, aku telpon papi pakai ponsel pak dokter."
"Pak dokter, apa maksudmu sayang, kamu dimana sekarang saya." Amar Salim bertambah panik, apalagi saat putrinya menyebut-nyebut tentang dokter.
"Aku dirumah sakit papi, aku kecelakaan bersama dengan Bara, kaki aku sakit pi." lapor Vero manja.
"Apa, kamu kecelakaan, ya Tuhan." paniklah Amar Salim saat mengetahui kalau putrinya kecelakaan, "Tapi kamu tidak apa-apakan sayang, tidak ada luka yang parahkan."
"Kaki aku yang sakit papi, kaki aku tertindih badan motor, sepertinya aku tidak akan bisa berjalan dengan normal." Vero merengek.
"Baiklah, kasih tahu papi kamu dirumah sakit mana, papi akan kesana sekarang."
"Dirumah sakit XXX."
"Papi akan segera kesana sayang, kamu tunggu papi ya."
Setelah memutus sambungan, Amar Salim segera beranjak ingin segera melihat keadaan putri kesayangannya.
"Chika." Amar Salim memanggil sekertarisnya.
Gadis yang bernama Chika tersebut berjalan mendekati atasannya.
"Batalkan semua agenda pertemuan saya hari ini, saya mau ke rumah sakit melihat keadaan putri saya."
"Nona Vero kenapa tuan." Chika terlihat khawatir.
"Dia mengalami kecelakaan."
"Astaga."
"Saya pergi dulu Chika."
"Baik pak, saya akan membatalkan semua agenda bapak hari ini." ujar Chika mengiringi kepergia atasannya.
"Semoga saja nona Vero tidak apa-apa." harap Vero tulus.
Chika cukup mengenal Vero, karna putri atasannya tersebut kadang sering datang ke kantor hanya sekedar untuk main-main.
*****
Vero mengembalikan ponsel yang dipinjemnya sama dokter yang menanganinya dan Bara.
"Duhhh kakiku, sakit banget." Vero terus saja merengek, bibirnya itu tidak bisa diam dan terus mengatakan hal yang sama berulang kali.
Bara yang sempat khawatir jadi kesal sendiri sekarang, melihat tingkah Vero yang sangat manja, padahal kalau dibilang, mungkin kondisinya lebih parah ketimbang yang dialami oleh Vero, beberapa bagian kulitnya tergores oleh aspal.
"Ver, jangan merengek terus bisakan." tegur Bara saking bosannya mendengar rengekan Vero.
"Ini sakit Bara."
"Emang dengan merengek bisa mengurangi sakitnya, gakkan."
"Hmmm."
"Nanti juga sakitnya hilang dengan sendirinya nona Vero, jadi nona yang sabar ya." hibur sik dokter.
Pintu ruangan dimana Bara dan Vero berada terbuka dengan kasar, terlihat Amar Salim berdiri dengan wajah khawatir.
"Papi."
Amar Salim langsung menyongsong putrinya yang saat ini tengah duduk dibankar diruangan tersebut.
"Apa yang terjadi Vero sampai kamu kecelakaan begini hah." cecarnya begitu didekat putrinya tersebut.
"Itu karna ada orang yang sepertinya berniat jahat sama aku dan Bara pi."
Mendengar nama laki-laki itu disebut membuat papa Amar menoleh pada laki-laki yang memakai kaus hitam yang duduk dikursi yang terdapat diruangan tersebut, dan Amar Salim tahu dan yakin kalau laki-laki itu adalah Barathayudha Arkana, karna laki-laki itu sangat persis dengan yang ada difoto.
Melihat Amar Salim menoleh ke arahnya, Bara tersenyum tipis sebagai sopan santun, sayangnya, keramahan Bara tidak digubris sama sekali oleh Amar Salim, karna dia langusung kembali menoleh kepada putrinya tanpa menyapa Bara sedikitpun.
"Berniat jahat, siapa yang berniat jahat sama kamu sayang."
"Gak tahu pi, saat Bara mengantarkan aku pulang, tiba-tiba saja ada yang memeper motor Bara dan menendang sehingga membuat motor Bara terjatuh."
"Kamu naik motor." Amar Salim mengernyitkan dahinya mendengar penjelasan Vero.
"Iya pi, motornya Bara."
Selama ini, Amar Salim selalu memastikan supaya putrinya selalu hidup mewah dan enak, dan kalau mau kemana-mana selalu menggunakan mobil mewah dan ber ac, dan tentu saja dia tidak tidak terima kalau putri yang selama ini dia jaga dan sayangi serta dilimpahi oleh kemewahan harus bersama dengan Bara, seorang laki-laki miskin yang tidak memiliki apa-apa.
"Ehhh astaga, aku jadi lupakan." Vero terkekeh, "Pi kenalin, itu Bara, teman aku pi." Vero mengedikkan dagunya ke arah dimana Bara tengah duduk.
Karna diperkenalkan begitu, Amar Salim kembali menoleh ke arah Bara.
Meskipun terkenal cuek dan dingin, tapi kalau sama orang tua, Bara akan bersikap sopan, meskipun tadi dia sempat diabaikan oleh papinya Vero, namun Bara kembali menyunggingkan senyum keramahan dan memperkenalkan dirinya secara langsung.
"Hai om, saya Bara, temannya Vero."
"Hmmm." hanya itu respon Amar Salim, intinya laki-laki itu tidak mau beramah tamah sama Bara, apalagi Baralah yang menyebabkan putrinya sampai kecelakaan begini, itu semakin mengukuhkan tekad Amar Salim untuk menjauhkan putrinya dari laki-laki bernama Bara tersebut.
Dari sikap papinya Vero, Bara tahu kalau laki-laki itu tidak menyukai dirinya, dan Bara tidak berusaha untuk membuat dirinya untuk disukai, disukai ataupun tidak, toh itu tidak akan ngaruhkan untuknya.
"Kamu bilang kaki kamu yang sakit, apa masih sakit sekarang."
"Masih pi, mungkin untuk beberapa hari Vero akan menggunakan tongkat."
"Cedera dibagian kaki nona Vero tidak parah tuan, bahkan nona Vero sudah bisa pulang saat ini." dokter yang masih ada diruangan tersebut memberitahu.
"Ohhh syukurlah, saya sangat khawatir saat mengetahui kalau dia kecelakaan, saya fikir putri saya ini terluka parah dokter."
"Syukurnya tidak tuan."
"Kamu dengar itu sayang, kata dokter kamu sudah bisa pulang sekarang."
"Bara juga bisa pulangkan dokter." Vero bertanya.
"Iya, saudara Bara juga bisa langsung pulang karna luka-lukanya sudah kami obati dan lukanya tidak terlalu parah-parah amat." dokter menjelaskan.
"Baguslah kalau begitu."
"Pi, kita antar Bara pulang dulu ya, selain motornya rusak, Barakan juga tengah terluka."
Sebelum Amar Salim mengeluarkan suara untuk membalas kata-kata putrinya, Bara lebih dulu menolak.
"Tidak usah Ver, gue bisa pulang sendiri naik ojek nanti atau gak naik angkutan umum." ya kali Bara mau ikutan dengan mobilnya papinya Vero, orang sudah jelas kalau laki-laki itu tidak menyukainya.
"Gak bisa Bara, lo itu terluka, masak naik angkutan umum sieh, kami anterin lo ya." Vero maksa.
"Gak usah Ver, lagian rumah kita berlainan arahkan, itu pasti akan merepotkan."
"Tapi....."
"Sudahlah sayang, kalau dianya gak mau gak usah dipaksa."
"Tapi papi, Bara itu terluka lho papi, kasihankan kalau harus pulang sendiri."
"Ver, gak usah, gue bisa pulang sendiri, gue itu laki-laki, jadi lo gak perlu khawatirin gue oke." ucap Bara dengan penekanan disetiap kata-katanya sehingga membuat Vero tidak bisa membantah lagi.
"Hmmm, baiklah kalau lo gak mau kami antar Bar, tapi begitu sampai rumah, lo kabarin gue ya."
"Hmmm." jawab Bara ambigu.
Saat mereka akan meninggalkan rumah sakit, Bara akan berjalan lebih dulu saat suara Vero menghentikannya.
"Baraa, kok lo ninggalin gue sieh, kaki guekan sakit, gendong gue kek sampai mobil." mulai deh sik Vero merengek manja.
Memang kakinya Vero sakit sieh, tapi sekedar jalan sieh bisa, tapi memang dasar dianya saja yang memanfaatkan keadaanya untuk meminta Bara untuk menggendongnya.
"Sayang, apa-apaan sieh kamu itu, kan ada papi, papi yang akan gendong kamu."
"Papi gimana sieh, papikan udah tua, mana kuat gendong aku."
"Gini-gini papi masih kuat sayang."
"Gak mau, aku maunya digendong sama Bara saja." ngeyel.
"Baraa, gendong."
Bara mendesah berat sebelum berbalik menghampiri Vero, Bara bisa merasakan aura ketidaksukaan dari papinya Vero saat dia berada didekat laki-laki itu.
Bara menyurukkan tangannya dibawah lutut Vero dan satu tangannya dia letakkan dipunggung Vero, dan dengan entengnya dia mengangkat tubuh Vero meskipun beberapa bagian kulitnya terluka.
Vero tersenyum dan mengalungkan tangannya dileher Bara, dari jarak sedekat ini Vero bisa menghirup aroma Bara yang jadi candu untuknya.
"Gue sangat suka mencium aroma tubuh Bara, rasanya gimana gitu." batinnya memejamkan mata menghirup aroma tubuh Bara.
Bara mulai melangkah keluar ruangan.
Sedangkan Amar Salim hanya melihat dengan tidak suka saat tubuh putri kesayangannya dalam gendongan Bara.
"Pi, papi kenapa malah diam saja, ayok pi jalan."
"Iya sayang." barulah Amar Salim melangkan kakinya mengikuti Bara dibelakang.
"Bara itu cuek, dingin, jutek, kalau ngomong suka bikin orang kesel, tapi kok gue nyaman sieh sama dia, gue gak pernah merasa senyaman ini bersama dengan laki-laki." batin Vero sambari tak lepas menatap wajah Bara.
Bara risih sieh terus ditatap begitu, tapi berhubung papinya Vero tengah bersama dengan mereka, dia tidak menyuarakan protesnya dalam bentuk lisan.
"Gadis ini ngapain sieh lihat gue terus, apa dia baru sadar kalau gue tampan."
Bara mendudukkan Vero dikursi penumpang belakang begitu sampai dimobil Amar Salim.
"Baraa, lo beneran gak mau kami anter."
"Iya."
"Ya udah, lo hati-hati ya."
"Hmmm."
"Jangan lupa lho Bara, begitu sampai rumah, kasih tahu gue ya agar gue tahu lo sampai rumah dengan selamat."
"Iya." diiyain saja sama Bara biar cepat, padahal dalam hati mah dia tidak akan melakukan itu.
"Ohh ya Bara, sampaiin salam gue ya sama ibu, kapan-kapan aku main ke rumah kamu lagi."
Kata-kata putrinya barusan langsung membuat Amar Salim menoleh pada putrinya, "Apa maksudnya ini, main ke rumah Bara, apa hubungan mereka sudah sedekat itu."
"Bye Bara." Vero melambaikan tangannya sebelum mobil melaju.
Vero membuka kaca mobil dan saat mobil papinya mulai meninggalkan area rumah sakit, dia masih melambaikan tangannya sampai Bara sudah tidak kelihatan lagi.
"Sayang."
"Iya pi."
"Apa kamu sudah sedekat itu dengan Bara sampai sudah diajak ke rumahnya segala."
"Iya begitulah pi." jawabnya sambil tersenyum.
"Apa kalian pacaran." Amar Salim menebak, dia berharap sieh hal itu jangan sampai terjadi.
"Gak sieh pi, cuma temenan doank."
Amar Salim mendesah lega, meskipun sebenarnya dia tahu kalau putrinya menyukai laki-laki bernama Bara itu, dan Amar Salim berharap kalau Bara tidak menyukai Vero.
*****
Bara kini tengah istirahat dikamarnya setelah tadi melewati ibunya yang begitu sangat khawatir melihat keadaan putra tunggalnya itu, dan setelah menenangkan ibunya dengan mengatakan kalau dia dan Vero tidak kenapa-napa dan hanya luka kecil saja, akhirnya ibu Hamidah menyuruh putranya untuk beristirahat dikamarnya.
"Papinya Vero sepertinya tidak menyukai gue." gumamnya.
"Wajar sieh, mengingat keluarga mereka berasal dari keluarga berada, biasanya orang-orang seperti itu tidak mau putri mereka berteman dengan laki-laki kere seperti gue, gue juga heran, Vero yang angkuh dan sombong itu tiba-tiba saja ingin berteman dengan gue, padahal sikapnya sebelumnya begitu tidak bersahabat."
Sejak awal memang Bara tahu akan hal ini, dia memiliki keyakinan kalau Vero memaksa-maksa ingin jadi temannya karna ada maksud tertentu, tapi dulu hal itu tidak dia permasalahkan, toh fikirnya dia juga tidak ingin menjadikan Vero sebagai temannya, tapi setelah kebersamaan mereka, beberapa hal telah mereka lewati bersama, Bara mulai kepo tentang penyebab gadis angkuh dan sombong itu ingin bertemannya dengannya.
Saat tengah berfikir kerasa tentang penyebab kenapa Vero ingin berteman dengannya, suara chat masuk mengalihkan perhatiannya, karna malas mengambil ponselnya yang tergeletak dimeja belajar sederhana yang ada dikamarnya, Bara membiarkannya, tapi kemudian, suara chat beruntun membuatnya terpaksa bangun dari rebahannya.
"Siapa sieh yang segitu tidak punya kerjaannya ngechat gue." rutuknya kesal dan berjalan dengan ogah menuju meja belajarnya dimana ponselnya berada.
Dia meraih ponselnya dan melihat siapa sik pengirim pesan beruntun tersebut, siapa lagi kalau bukan Vero, gadis yang saat ini tengah difikirkan oleh Bara.
Vero : Bara, lo udah sampai rumah belum, kenapa lo tidak mengabari gue, guekan khawatir
Vero : Bara, jawab kenapa sieh
Vero : Bara kebiasaan deh suka gitu
Vero : Helowww Bara, lo masih bernafaskan
Vero : Barathayudha Arkana, gak susahkan cuma ngasih tahu kalau lo sudah sampai rumah dan baik-baik saja
Vero : Ihhh Bara mah, lo bikin gue kesel deh
Bara menghembuskan nafas berat, "Apa sieh sebenarnya tujuan lo mendekati gue Ver, gue rasa tidak ada sesuatu hal yang istimewa dari diri gue yang bisa membuat lo ingin berteman dengan gue."
****