Veronica

Veronica
PERKELAHIAN



Vero yang saat ini tengah berada dikamarnya menjadi kesal sendiri gara-gara Bara yang mengabaikan setiap chat yang dia kirim.


"Ihhh, kok cuma diread doank sieh, dibalas kek, dasar menyebalkan."


Vero : Balas Bara, jangan cuma diread doank


Namun ternyata Bara tetap konsisten tidak membalas pesannya, hal itu membuat Vero semakin meradang.


"Baraaa, kenapa sieh lo jadi cowok menyebalkan banget ihh, kenapa lo kayak bunglon, kadang baik, jutek, dan cuek kayak gini." Vero membanting tubuhnya ditempat tidur empuknya, dan alhasil, hal tersebut membuat kakinya menjadi sakit.


"Aw aw aw, sialan, sakit banget kaki gue." Vero memegang kakinya yang sakit karna benturan tempat tidur.


"Ini gara-gara sik Bara berengsek." umpat Vero yang kini mulai memukul-mukul bantal untuk menyalurkan kekesalannya, "Kesel kesel deh gue, ihhh, ingin gue unyeng unyeng deh sik Bara itu."


Saat tengah kesal-kesalnya dengan Bara, pintu kamar Vero terbuka yang memampangkan tubuh papinya.


"Papi." Vero menjatuhkan bantal yang sejak tadi dia pukul-pukul yang dijadikan sebagai pelampiasan.


"Papi tidak ganggu kamukan sayang."


"Tentu saja tidak pi." jawab Vero kini mendudukkan tubuhnya.


Amar Salim melangkah masuk ke kamar putrinya dan duduk dipinggir tempat.


"Ada apa ya pi, papi kayaknya mau berbicara serius denganku ya." tebak Vero.


"Papi hanya ingin membicarakan tentang teman kamu itu sayang."


"Bara pi."


"Iya."


"Emang kenapa dengan Bara pi."


"Sayang, bisakah kamu tidak berteman dengan laki-laki itu." ujar Amar Salim langsung pada intinya.


"Maksud papi apa." tanya Vero mengerutkan kening, selama ini, papinya tidak pernah mencampuri urusan pertemanannya, dan kenapa papinya tiba-tiba melarangnya berteman dengan Bara.


"Papi tidak punya maksud apa-apa sayang, hanya saja, papi tidak suka kamu berteman dengan laki-laki bernama Bara itu."


"Iya tapi alasannya kenapa pi, Bara itu baik kok, dan lagian papi baru saja sekali bertemu dengan Bara, dan papi sudah melarang-larang Vero berteman dengan Bara."


Amar Salim mendesah berat sebelum mengatakan penyebab dia tidak ingin Vero berteman dengan Bara.


"Bara itu anak yang tidak jelas asal-usulnya sayang."


Vero mengerutkan kening tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh papinya.


"Maksud papi itu apa sieh sebenarnya, Vero semakin tidak mengerti."


"Bara itu adalah anak yang lahir dari ayah yang tidak jelas, bisa jadikan ibunya dulunya adalah seorang pelacur yang membuatnya mengandung dan pada akhirnya melahirkan Bara."


"Papi astaga." Vero jadi pening sendiri mendengar kata-kata papinya, "Jangan bicara sembarangan pi." ada ketidak relaan dihati Vero saat papinya menduga kalau ibunya Bara dulunya adalah pelacur, ibu Hamidah yang baik dan ramah, "Lagian darimana papi mengetahu semua ini." tanya Vero heran, karna dia sendiri saja tidak tahu apa-apa sama sekali tentang Bara, dan kenapa papinya yang hanya bertemu sekali dengan Bara tahu kalau Bara tidak memiliki ayah, "Jangan bilang papi menyelidiki tentang kehidupan Bara."


Amar Salim terdiam sejenak sebelum mengakui apa yang dikatakan oleh putrinya, "Iya, papi memang menyelidiki laki-laki itu."


"Papi, apa sieh yang ada difikiran papi, apa papi sebegitu tidak punya kerjaannya sampai menyelidiki Bara segala." Vero meradang.


"Ini semua papi lakukan demi kamu Vero, papi tidak ingin kamu dekat dengan laki-laki yang salah yang hanya akan memanfaatkan kamu."


"Pi, Vero itu sudah besar, Vero tahu mana yang benar dan tidak, papi tidak perlu khawatirin Vero, Vero bisa memilih mana yang Vero inginkan sebagai teman, jadi, Vero sarankan, lebih baik papi tidak perlu ikut campur dengan urusan Vero."


Papi Amar tentu saja marah mendengar jawaban putrinya, suaranya meninggi, "Kamu putri papi Vero, papa berhak ikut campur dengan kehidupanmu supaya kamu tidak salah untuk untuk mencari teman atau bahkan mencari pasangan." ini untuk pertama kalinya papi Amar meninggikan suaranya dihadapan putrinya.


"Papi kok jadi menyebalkan begini sieh "


"Vero, kali ini kamu dengarkan papi ya, papi tidak ingin kamu berteman dengan Bara, apalagi sampai kamu menyukai laki-laki yang tidak jelas asal usulnya tersebut, keluarga kita keluarga terhormat Vero, menjalin hubungan dengan laki-laki yang tidak jelas asal-usulnya hanya akan membuat keluarga kita malu, dan papi tidak ingin mendengar bantahan titik." Amar Salim tidak bisa dibantah untuk kali ini.


Dan setelah mengatakan hal tersebut, dia melangkah keluar dari kamar putrinya.


"Kenapa sieh papi juga ikut-ikutan menyebalkan." teriak Vero kesal, suara teriakannya bergaung disentero kamarnya.


Dan meskipun papinya melarangnya berhubungan dengan Bara, Vero tidak peduli, dia akan tetap menjalin hubungan dengan Bara dibelakang papinya.


*****


Bara hanya tidak masuk kemarin, dan setelah itu, meskipun dibeberapa bagian tubuhnya terluka dan Bara masih merasakan sakit, dia tetap masuk kuliah dan tidak mau ketinggalan pelajaran, selain itu juga, dia tidak mau beasiswa yang dia dapatkan dengan susah payah dicabut oleh pihak kampus.


Rama terkejut melihat sahabatnya yang baru masuk dan mengalami luka dibeberapa bagian kulitnya yang terekpos.


"Baraaa, lo kenapa." tanya Rama saat Bara duduk disebelahnya.


"Kecelakaan."


"Lo kecelakaan, kok bisa."


"Iya bisalah, kenapa pertanyaan lo jadi bodoh begini sieh."


"Maksud gue, apa yang terjadi gitu sampai lo bisa kecelakaan, yang gue tahu, lo adalah pengendara motor yang paling mengutamakan keselamatan, dan patuh sama peraturan."


"Mengutamakan keselamatan dan patuh pada peraturan lalu lintas tidak menjadi jaminan untuk tidak mengalami kecelakaankan Ram."


"Astaga, gue jadi capek sendiri deh ngomong sama lo." desah Rama frustasi, yang Rama inginkan adalah, Bara menceritakan kronologis kecelakaannya gitu.


"Kalau lo capek, tutup tuh mulut elo, jangan banyak tanya."


Rama hanya bisa mendengus, untungnya Rama sudah kenal lama dengan Bara sehingga setiap apa yang dikatakan oleh Bara tidak sampai membuatnya sakit hati, coba kalau orang lain, sudah bisa dipastikan akan sakit hati deh dengan sikap Bara yang jutek dan kalau ngomong bikin sakit hati.


Seseorang memasuki kelas Bara, dan melangkah mendekati Bara.


"Lo yang bernama Bara." tanya sik laki-laki yang tidak lain adalah Saga.


Bara yang mendengar namanya disebut mendongak, dia menatap heran sama laki-laki yang tidak dikenalnya berdiri dihadapannya dan menatapnya dengan tatapan permusuhan.


"Iya, lo ada perlu apa sama gue."


"Gue ingin bicara berdua dengan elo." ujar Saga dan berjalan lebih dulu keluar.


"Siapa sieh itu Bar."


"Fans gue kali." jawab Bara ngasal.


"Berengsek lo, jawaban lo bikin gue ingin nabok lo saja."


Bara kemudian berjalan keluar mengikuti laki-laki yang tidak dia kenal tersebut.


Saga berhenti ditempat yang agak sepi, dia kemudian membalikkan tubuhnya menghadap Bara yang juga otomatis menghentikan langkahnya.


"Gue ingin lo menjauhi Vero." ujar Saga to the point.


"Hak lo apa nyuruh-nyuruh gue menjauhi Vero." tantang Bara, tanpa disuruhpun Bara tidak ingin dekat-dekat sama Vero, gadis itu yang nempel-nempel terus sama dia, tapi saat mendengar kata-kata laki-laki yang tidak kenalnya itu untuk menjauhi Vero, tentu saja membuatnya kesal.


"Karna gue adalah pacarnya Vero paham, jadi sebelum elo menyesal, mulai sekarang lo jauhi Vero."


Bara tersenyum sinis, "Kasihan sekali lo, lo sebegitu tergila-gilanya ya sama Vero sampai ngaku-ngaku sebagai pacarnya, kasihan gue sama elo."


Mendidihlah darah Saga mendengar ejekan Bara, sehingga dia menarik kerah baju Bara dan menonjok pipi Bara bertubi-tubi sehingga membuat tubuh Bara tersungkur.


Darah segar merembas dari sudut bibir Bara, dengan jari jempolnya Bara mengelap darah tersebut dan memberikan tatapan membunuh sama Saga, Bara berdiri begitu cepat dan langsung menyongsong tubuh Saga dan membalas perbuatan Saga dengan tidak kalah ganasnya sehingga Saga tidak memiliki kesempatan untuk membalas sama sekali, dan yang terakhir Bara menghempaskan tubuh Saga dengan keras ke lantai, Saga benar-benar di buat KO sama Bara sehingga laki-laki itu terbaring tidak berdaya dilantai.


"Gue ingatkan sama lo ya, gue gak pernah punya hubungan apa-apa sama Vero, jadi, jangan sembarangan nuduh apalagi main pukul." jelas Bara dengan bahu naik turun.


Bara bukan laki-laki yang tidak punya hati, meskipun Saga telah memukulnya, tapi melihat laki-laki tersebut terlihat tidak berdaya, Bara berusaha untuk membantu, Bara meraih tangan Saga, dia berniat untuk memapah Saga supaya laki-laki yang telah dibuat KO itu bisa mendapatkan pertolongan pertama dengan membawanya ke unit kesehatan kampus.


Namun sayangnya, niat baik Bara itu tidak dihargai sama sekali oleh Saga, karna saat Bara berusaha untuk memapahnya, Saga mendorong Bara yang membuat tubuh lemahnya kembali tersungkur ke lantai.


"Gue gak butuh bantuan elo."


"Oke, terserah, yang penting gue sudah punya iktikad baik untuk nolongin lo." tandas Bara sebelum berlalu meninggalkan Saga.


"Kenapa lagi sieh tuh anak." batin Rama, "Jangan bilang dia habis berantem, tapi dengan siapa, apa sama laki-laki yang tadi nyamperin dia itu, punya masalah apa Bara dengan laki-laki itu."


"Maaf pak saya terlambat, tadi saya ada urusan sebentar." ujar Bara pada dosen pengampu mata kuliahnya yang saat ini berdiri didepan kelas.


Dosen itu tentu saja bertanya mengenai apa yang terjadi pada mahasiswanya tersebut, "Bara, apa yang terjadi denganmu."


"Saya habis mengalami kecelakaan pak."


"Ohh astaga kasihan sekali kamu." sik dosen prihatin, "Makanya lain kali hati-hati Bara."


"Iya pak, terimakasih atas perhatian bapak."


"Baiklah kalau begitu, silahkan duduk Bara."


"Terimakasih pak." Bara berjalan menuju bangkunya.


"Lo kenapa lagi, jangan bilang lo habis berantem sama cowok yang nyariin lo tadi." bisik Rama kepo.


"Emang gue habis berantem sama tuh orang."


"Apa yang terjadi sebenarnya, lo gak kenal sama tuh cowokkan."


"Emang gue gak kenal, dia yang nyerang gue duluan."


"Hehh, kok bisa."


"Gara-gara Vero, katanya dia pacarnya sik Vero."


"Ohh astaga, gue baru ingat sekarang, laki-laki itukan adalah mantan pacarnya sik Vero Bar, yang Vero campakin begitu saja." beritahu Rama, "Gue rasa cowok itu masih menyukai Vero dan tidak rela melihat lo dengan Vero dekat, makanya dia nyerang lo."


"Bisa jadi."


Saat dilihatnya Rama akan kembali buka suara, Bara lebih dulu mencegah dengan mengatakan, "Sekarang Rama, bisakah lo membiarkan gue mengikuti perkuliahan dengan tenang dan jangan ganggu gue dengan pertanyaan-pertanyaan gak penting lo itu."


Rama yang masih ingin menanyakan banyak hal kepada Rama kembali mengatupkan bibirnya.


****


Dua hari sudah Vero hanya bisa terkurung dikamarnya karna kakinya masih belum pulih yang menyebabkannya absen masuk kuliah, dan selama dua hari itu juga Vero tidak pernah bertemu dengan Bara, dan berkomunikasipun tidak sehingga hal itu membuat Vero jadi uring-uringan.


Vero memang intens mengirim chat sama Bara, bahkan menelponnya juga, tapi laki-laki itu tidak menggubris pesan-pesannya sama sekali dan mengabaikan setiap panggilannya, padahalkan Vero kangen, kangen ingin melihat Bara atau seenggaknya mendengar suara Bara kek gitu.


"Bara kok jadi nyuekin gue kayak gini ya."


"Apa jangan-jangan papi datangin rumahnya dan memintanya supaya jangan menghubungi gue." fikir Vero, "Ahh iya pasti begitu, kalau gak, ngapain dia tidak pernah membalas pesan-pesan gue dan mengabaikann panggilan gue, duhh papi itu kenapa jadi menyebalkan kayak gini sieh sekarang, apa salahnya coba gue berteman dengan Bara, dan kalaupun pada akhirnya gue suka, memang itu sesuatu hal yang salah apa." Vero terus saja merutuk sendiri.


"Ehh tapi salah dink, masak iya sieh gue suka sama Bara, gakkan, gue gak suka dengan Barakan, ya gue gak suka, guekan cuma mendekatinya gara-gara taruhan itu." Vero setengah mati menampik kalau dia tidak suka dengan Bara, padahal chatnya tidak dibalas sama Bara membuatnya jadi uring-uringan.


"Akhh kesepian gue, gini ya rasanya kalau sakit, hanya bisa ngedekam dikamar doank, gue bosan hanya bisa tidur doank, duhh gue jadi kangen sama Rara dan Tiar, gue suruh saja mereka kesini." putusnya dan Vero mengetikkan pesan pada kedua sahabatnya itu.


Vero : Woee, jengukin gue doank, gue lagi sakit nieh


Tiar : Bisa juga lo sakit


Vero : Sialan, lo fikir gue robot apa


Rara : Lo sakit apa sieh


Vero : Gue habis jatuh dari motor


Tiar : Yang benar lo


Rara : Yang benar lo


Vero : Ya benarlah, masak iya gue bohong


Tiar : Kapan


Vero : Dua hari yang lalu saat gue balik dari rumahnya Bara


Rara : Innalillahiwainnailahirojiun


Vero yang tidak terlalu mengerti tentang agama menjawab


Vero : Gue masih hidup sialan


Rara : Sik tolol, emang saat orang mati saja kita bilang innalillahiwainnailahirojiun, saat dapat musibah atau kecelakaan kita dianjurkan untuk mengucapkan kalimat itu.


Vero : Iya iya, yang paham masalah agama


Tiar : Terus terus gimana ceritanya Ver sampai lo mengalami kecelakaan


Vero : Malas ah gue ceritanya lewat chat, capek tangan gue ngetiknya, kalau lo mau tahu cerita lengkapnya jengukin gue donk


Rara : Oke, nanti saat kuliah berakhir kita bakalan langsung tancap gas ke rumah lo Ver


Vero : Sekalian beliin gue rujak ibu Dian dikantin, sumpah rindu berat gue ingin makan tuh rujak


Tiar : Lo ngidam


Vero : Gue gak pernah begituan, bagaimana ceritanya gue bisa ngidam


Tiar : Jangan tersinggung, gue bercanda


Vero : Gue tahu keles


Vero : Pokoknya pulang kuliah lo kudu datang, gue tungguin rujaknya


Rara : Rujaknya doank lo tungguin


Vero : Gue lebih ingin makan rujak daripada makan elo


Rara : Sialan lo ya


Vero kemudian kembali membaringkan tubuhnya, membuka galeri ponselnya untuk melihat foto-foto yang tersimpan disana, Vero jadi tersenyum sendiri saat melihat foto Bara yang dia ambil diam-diam saat Bara tengah memasak.


"Ihhh cowok ini, meskipun dia lagi memasak, kok bisa sieh dia kelihatan keren begini, aku jadi rindu deh dengan masakan Bara."


Vero yang tadinya berhenti berbalas pesan dengan kedua sahabatnya kembali mengirimkan gambar tersebut ke group chat, dengan caption yang menyertainya.


Suami idaman bangetkan


Tiar : Itu Bara Ver


Rara : Bara bisa masak emang


Vero : Bisa doank, masakannya itu enak banget lho, pas gue datang ke rumahnya dia yang masakin


Tiar : Busett sik Bara, benar-benar laki-laki idaman bangetkan


Rara : Suami able banget


Vero : Jangan ngiler lo, Bara itu sebentar lagi bakalan jadi pacar gue tahu gak.


Rara : Semoga saja Bara tidak mau sama lo meskipun lo pernah diajak ke rumahnya


Tiar : Amien


Vero : Ihh jahat lo


Tiar : Biarin aja, gue ogah ngerjain tugas-tugas lo selama satu semester kalau lo sampai berhasil membuat Bara jatuh cinta.


Vero : pokoknya, gue akan berhasil membuat Bara jatuh cinta sama gue


****