
Bara membawa Vero ke unit kesehatan kampus, ruangan itu sepi saat Bara masuk.
Bara meletakkan tubuh Vero disalah satu bankar dan tanpa mengatakan apa-apa, Bara berbalik, namun belum sempat dia melangkahkan kakinya, Vero meraih pergelangan tangannya.
"Jangan pergi plisss." mohon Vero, saat ini dia sedih, sedih karna dihina oleh mantan kekasihnya, dan saat ini yang dia butuhkan adalah Bara ada disisinya, meskipun Vero tahu Bara bukanlah tempat berkeluh kesah yang baik, bahkan Bara bukanlah pendengar yang baik, tapi dengan Bara disampingnya sudah lebih dari cukup untuk Vero.
Tidak sepertinya biasanya, Bara diam tidak menanggapi kata-kata Vero, biasanya dia pasti langusung menghempaskan tangan Vero dan berkata dengan jutek, 'Jangan manja lo'
"Baraa, gue kangen lo, pliss jangan pergi."
Bara menghela nafas, bagaimanapun dia berusaha untuk menghilangkan akan kerinduannya sama Vero, tapi tetap saja tidak bisa, gadis itu sudah begitu mempengaruhinya, dia sudah terbiasa dengan keadaan Vero yang selalu merengek-rengek manja kepadanya, apakah dia suka sama Vero, entahlah, dia sendiri saja tidak tahu apakah dia menyukai Vero atau tidak, yang jelas, selama dua hari ini dia merindukan gadis itu, sehingga saat Vero mengatakan kangen padanya, hatinya menghangat, namun bukan Bara namanya kalau tidak bersikap jutek, oleh karna itu dia berkata, "Kerjaan lo ngrepotin gue mulu." meskipun berkata begitu, Bara duduk juga disamping Vero.
Tanpa basa-basi, Vero langsung memeluk Bara dengan erat.
"Lepasin, main peluk saja, lo fikir gue guling apa." Bara berusaha melepaskan tangan Vero dari pinggangnya, namun ternyata tidak semudah itu melepaskan tangan Vero yang memeluknya dengan begitu kuat.
"Gak mau Baraaa, gue kangen, habisnya lo sieh jahat, gak ngabarin gue selama dua hari ini." Vero mengeluarkan keluh kesahnya, dia sudah mulai bersikap manja kepada Bara.
"Gue sibuk." alibi Bara.
"Gue tahu lo sibuk, tapi masak sampai gak punya waktu sieh hanya untuk mengirim pesan singkat untuk nanyain kabar gue."
"Gue gak nanyain kabar lo karna gue yakin lo baik-baik saja, jadi jangan lebay ginikan bisa."
"Siapa bilang gue baik-baik saja, gue gak baik-baik saja tahu."
"Kan ini buktinya lo baik-baik saja."
"Bukan fisik gue yang sakit Bara, tapi ini." Vero menunjuk area dimana hatinya berada.
"Hati lo kenapa."
"Sakitlah, dan itu semua gara-gara lo ya."
Bara mendengus, "Gimana ceritanya hati lo sakit gara-gara gue."
"Ya gue sakit hatilah, habisnya lo nyuekin gue mulu."
"Kan tadi gue sudah bilang kalau gue sibuk, lo tahukan, orang miskin kayak gue harus kudu kerja keras supaya bisa makan, gak kayak lo yang hanya ongkang-ongkang kaki lo bisa mendapatkan apa yang lo inginkan."
"Ya gak kayak gitu juga Bara, elo itu mah selalu saja ngata-ngatain gue, lo punya masalah apa sieh sama gue."
"Masalahnya lo bikin gue repot melulu."
"Kapan sieh gue bikin lo repot, padahal selama bersama dengan elo, gue anteng dan kalem deh."
"Anteng dan kalem dari hongkong kali maksud lo."
"Hehe." Vero cengengesan.
"Baraa."
Sudah bisa dipastikan Bara tidak akan nyahut kalau dipanggil cuma sekali doank.
"Baraaa."
"Apa sieh."
"Gue nyaman sama lo."
"Gue gak."
"Ihhh, kok gitu sieh jawabannya Bara."
"Terus lo mau gue jawab apa, emang itu kenyataannyakan." apa yang dikatakannya benar-benar berlawanan dengan isi hatinya.
"Lo itu ya, tidak bisakah gitu lo berbohong untuk membuat hati gue senang gitu."
"Ngapain gue harus berbohong segala untuk membuat lo senang, lokan bukan siapa-siapa gue."
Vero mendengus kasar mendengar jawaban Bara, "Beneran lo nganggep gue bukan siapa-siapa lo."
"Iya."
"Bukannya kita teman."
"Itunya lo yang maksa-maksa gue untuk jadi teman lo."
"Iya sieh benar juga."
"Bara."
Bara tidak menyahut.
"Baraaa."
"Apaan lagi sieh."
"Kalau gue paksa lo jadi pacar gue, lo mau gak."
Bara langsung menoleh ke arah Vero, dia menatap Vero seolah-olah Vero berasal dari mahluk planet lain.
"Apaan sieh lo, gak lucu."
"Gue beneran, lo jadi pacar gue ya Barathayudha Arkana."
Bara mendengus kasar, dia berfikir Vero bercanda, dan dia tidak suka itu, "Ver, bisa berhenti gak bercandanya."
Vero mendesah, "Siapa yang bercanda sieh Bara, gue serius ngajakin lo pacaran, gimana, lo mau gak jadi pacar wanita tercantik dikampus."
"Gak." tandas Bara.
"Ihhh Bara, tidak bisakah lo memikirkannya lebih dulu, jangan langsung ditolak mentah gitu donk."
"Gak ada yang perlu untuk difikirin, sekali gak, tetap gak."
"Jadi, lo nolak gue nieh."
"Hmmm."
"Jahat banget sieh lo jadi cowok, awas saja ntar lo nyesal kalau ada yang nembak gue."
"Gak bakalan."
"Untuk pertama kali dan untuk terakhir kalinya gue nembak cowok, tapi gue malah ditolak, menyedihkan banget sieh hidup gue." keluh Vero dalam hati.
Vero nyaman dengan Bara, dan kenyamanan itu menimbulkan benih-benih cinta dihati Vero untuk Bara, meskipun Bara memang kalau ngomong suka bikin sakit hati, tapi Vero tidak bisa membohongi perasaannya, dia benar-benar mencintai Bara, entah sejak kapan, Vero tidak tahu, yang dia tahu, dia mencintai Bara, dia yang awalnya hanya mendekati Bara hanya sebagai sebuah taruhan, kini jatuh cinta beneran sama Bara, Vero tidak peduli sahabat-sahabatnya mengatakan apa nantinya kepadanya, apalagi dia yang lebih dulu menembak Bara, satu hal yang pasti, Vero akan membatalkan taruhan yang telah dia sepakati dengan kedua sahabatnya, dia ingin memiliki Bara dan menjadikan Bara sebagai kekasihnya seutuhnya tanpa embel-embel taruhan.
*****
Saat Vero dan sahabat-sahabatnya tengah keluar dari kampus dan menuju parkiran, seseorang yang dia kenal melambai ke arahnya.
"Eehh, lihat deh Ver, cowok cakep itu melambai ke arah lo." beritahu Rara.
"Kak Kafka." gumam Vero saat mengenali kalau laki-laki tersebut adalah Kafka, rekan bisnis papanya yang semalam menjenguknya dan membawakannya tas-tas branded.
Vero membalas lambaian tangan Kafka.
"Lo kenal sama cowok cakep itu Ver." tanya Tiar tidak mengedipkan matanya sedikitpun ke arah Kafka.
"Iya, dia kak Kafka, rekan bisnis papi gue."
"Cakep ya Ver, lo suka gak sama dia."
"Gak." lisannya, dihatinya, "Guekan cintanya sama Bara."
"Bagus deh kalau gitu, kayaknya ini bagian gue deh." gumam Rara yang sepertinya suka sama Kafka, "Ver, kenalin gue sama dia donk."
"Oke, yuk."
Vero dan kedua sahabatnya mendekati Kafka.
Kafka tersenyum manis saat vero dan kedua sahabatnya sudah berada didekatnya.
Vero menyapa, "Hai kak Kafka."
"Hai Ver."
Rara yang berdiri disamping Vero terus saja menyikut-nyikut pinggang Vero untuk mengingatkan supaya Vero memperkenalkannya sama Kafka.
"Sialan sik Rara, gak sabaran banget sieh dia, main sodok-sodok saja, difikir gue bola biliar apa."
"Ohh hai, aku Kafka, senang bertemu dengan kalian." Kafka memperkanalkan dirinya.
"Hai kak Kafka." balas Rara memandang Kafka dengan pandangan kagum.
"Oh ya, kak Kafka ngapain dikampus aku, kakak mau jemput adik, pacar atau calon istri." cecar Vero.
"Mau jemput kamu Ver."
"Kakak mau jemput aku." Vero mengarahkan jari telunjuknnya didadanya.
Kafka mengangguk, "Iya, aku sudah minta izin sama om Amar untuk menjemputmu sekalian aku juga akan ke kantor papi kamu, kata om Amar, kamu akan kesanakan."
"Mmm, iya sieh, tapi aku sudah suruh sopir jemput kak."
"Suruh saja sopirnya balik."
"Iya udah deh."
"Yukk, kita berangkat sekarang." ajak Kafka.
"Iya."
"Gue duluan ya." pamitnya sama kedua sahabatnya.
"Duluan ya Tiar, Rara." sambung Kafka
"Iya kak Kafka, Hati-hati." jawab Rara seperti tidak rela membiarkan Kafka pergi.
Kafka membukakan Vero pintu mobil, dia benar-benar gantle banget.
"Ganteng banget ya kak Kafka Tiar."
"Iya." Tiar membenarkan.
"Ra."
"Hmmm."
"Gue boleh ngasih saran gak ke elo."
"Saran apaan."
"Jangan suka sama kak Kafka."
"Emang kenapa, setiap orang berhakkan untuk jatuh cinta kepada siapapun yang dia kehendaki."
"Iya gue tahu, tapi masalahnya, kak Kafka itu menyukai Vero."
Seketika Rara memutar lehernya dengan cepat ke arah Tiar, "Kak Kafka menyukai Vero, darimana lo tahu."
"Ya tahulah, dari cara kak Kafka mandang Vero dan juga sikapnya, itu kelihatan banget kak Kafka menyukai Vero, jadi, sebelum lo terlanjur jauh rasa suka elo sama kak Kafka, mending bunuh deh tuh perasaan lo."
"Yahh, belum apa-apa gue sudah patah hati duluan." desah Rara nelangsa.
Tiar merangkul bahu sahabatnya itu, "Jangan bersedih begitu, cowok masih seabrek yang bisa lo pilih."
"Hmmm."
"Udah yuk, mending kita cabut dan kita akan bersenang-senang oke." Tiar berusaha untuk menghibur sahabatnya.
****
Bara melihat dengan jelas apa yang terjadi diparkiran, dia yang niatnya akan ke parkiran menghentikan langkahnya saat melihat Vero ngobrol dengan akrab dengan seorang laki-laki, dan kemudian dia juga melihat kalau Vero pergi bersama laki-laki yang tidak dia kenal itu, melihat hal tersebut, tiba-tiba Bara merasakan dadanya panas.
"Dasar cewek murahan, baru saja 3 jam yang lalu dia meminta gue untuk jadi pacarnya, sekarang dia sudah bersama laki-laki lain." meskipun Bara berfikir kalau kata-kata Vero yang memintanya sebagai pacarnya itu adalah hanya bercanda belaka, tapi tetap saja hatinya kesal saat melihat Vero bersama dengan laki-laki lain.
Bara mengepalkan tangannya untuk meredam emosinya, dia rasanya ingin melampiaskan amarahnya dengan memukul sesuatu.
"Hai bro, kenapa lo berhenti disini." Rama yang baru tiba berhenti saat melihat sahabatnya itu berdiri dikoridor kampus yang tidak jauh dari area parkiran.
Rama langsung mundur dua langkah saat melihat wajah sahabatnya itu sudah kayak mau nelan orang.
"Kenapa nieh anak, wajahnya sudah kayak devil begini."
Dengan takut-takut Rama bertanya, "Lo kenapa Bar."
"Gue gak kenapa-napa." saat mengatakan hal itu nada suaranya ketus, orang bodoh juga gak akan percaya kali kalau Bara gak kenapa-napa.
"Gak kenapa-napa ya, tapi lo agak kelihatan gimana gitu Bar, lo beneran gak ken...."
"Kalau gue bilang gak kenapa-napa ya gak kenapa." tandasnya dengan suara meninggi, dan setelah mengatakan hal itu dia langsung berlalu begitu saja tanpa rasa bersalah sedikitpun karna telah membentak Rama.
"Dia sebenarnya kenapa sieh, tumben-tumbenan dia kayak gitu." Rama hanya bisa bertanya-tanya dalam hati.
****
Bara langsung memeriksa ponselnya saat selesai performance, namun dia mendesah berat saat mengetahui kalau tidak ada satupun notifikasi pesan dari Vero, biasanya gadis itu tidak pernah absen mengechatnya, dan biasanya sieh chat-chat dari Vero tersebut tidak pernah dibalas sama sekali sama oleh Bara, dan kini saat mengetahui kalau tidak ada pesan dari Vero membuatnya uring-uringan sendiri.
"Apa saat ini dia lagi sibuk dengan laki-laki itu." bayangan Vero yang merengek manja dan menggayut dilengan laki-laki yang dilihatnya dikampus siang tadi membuat Bara tidak suka dan itu kembali membuat hatinya memanas, dan hal itu tentu saja berimbas sama pekerjaannya.
"Bar, kok lo gak pernah ajak cewek lo yang cantik itu lagi kemari seih." tanya salah satu waitres yang bekerja dicafe tempatnya bekerja sebagai penyanyi.
"Dia bukan cewek gue." tandas Bara, Bara bawaannya emosi melulu.
"Ohh." sik waitres itu langsung pergi secara perlahan dari dekat Bara karna melihat Bara tidak dalam suasana hati yang baik-baik saja.
"Sialan, kenapa sieh gue ingat sama Vero terus." rutuknya kesal sama diri sendiri, "Diakan bukan siapa-siapa gue, jadi terserahlah dia mau jalan sama siapa saja."
Bara berusaha untuk menenangkan perasaannya, sayangnya tidak bisa, oleh karna itu, dia meminta izin sama atasannya untuk pulang cepat dengan alasan sakit, ya bukan fisiknya sieh yang sakit, tapi hatinya.
*****
Saat tengah mengikuti perkuliahan, Vero mendapat notifikasi chat dari Kafka, Vero langsung membukanya, tentunya dari bawah meja karna tidak mau ketahuan sama dosen.
Bunyi pesan yang dikirim oleh Kafka adalah.
Kafka : Hai Ver, siang nanti kosong gak, mau gak kalau makan siang bareng aku
Vero : Boleh
Vero langsung menyetujui ajakan makan siang Kafka.
Kafka : Oke, nanti aku jemput kamu ya dikampus
Vero : Oke
Tiar mendekatkan tubuhnya ke Vero, dengan berbisik dia bertanya, "Lagi chat sama siapa."
"Sama kak Kafka, dia ngajakin gue makan siang."
"Lo pacaran ya sama kak Kafka."
"Gak, kenapa lo ngambil kesimpulan kayak gitu."
"Ya gue fikir, habisnya lo deket banget gitu sama kak Kafka, pakai dibeliin tas mahal lagi."
"Kak Kafka itu sudah kayak kakak buat gue, lo tahu sendirikan gue anak tunggal."
"Kakak adean ya."
"Hmmm."
"Ngomong-ngomong masalah taruhan, tinggal dua hari lagi lho, kayaknya lo bakalan gagal, meskipun lo terlihat akrab dengan Bara, tapi gak ada tanda-tandanya tuh sik Bara bakalan nembak lo, siap-siap saja lo nraktir gue dan Rara selama satu bulan."
Vero hanya terdiam menanggapi ucapan Tiar, dia memang belum menyampaikan niatnya untuk membatalkan taruhan itu kepada kedua sahabatnya.
"Itu dibelakang, apa yang tengah kalian gosipkan hah, teman-teman kalian memperhatikan, kalian malah sibuk bergosip ria." pak Agus yang melihat dua mahasiswinya yang tengah melakukan pembicaraan rahasia itu marah, dia merasa tidak dihargai.
Semua yang ada dikelas itu langsung menoleh ke arah Vero dan Tiar.
"Maafkan kami pak." kompak Vero dan Tiar yang merasa malu karna kpergok bisik-bisik.
"Perhatikan kalian berdua, jangan sibuk bisik-bisik terus."
"Iya pak." jawab Vero dan Tiar patuh.
****