
"Pagi papi." Vero berjalan riang menghampiri Amar yang duduk dimeja makan, Vero mencium pipi Amar.
"Pagi juga sayang." balas Amar.
"Sepertinya kamu bahagia sekali hari ini sayang." ujarnya melihat putrinya itu tidak berhenti tersenyum.
"Gak juga pi." bantah Vero, padahal mah dia beneran lagi happy, itu terlihat jelas diraut wajahnya.
"Oh ya pi, makan yang banyak ya, itu nasi goreng buatan aku lho." Vero menunjuk nasi goreng yang ada dipiring hadapan papinya.
"Ohh ya, papi tidak tahu lho kalau kamu bisa masak sayang."
"Bisa donk pi."
Salah satu pelayan menghampiri Vero dan menyerahkan kotak bekal sang nona, "Ini nona kotak bekalnya."
"Hmmm." gumamnya tanpa mengucapkan terimakasih sedikitpun.
"Bekal, kamu bawa bekal sayang."
"Ini buat seseorang pi, intinya hanya seseorang yang istimewa yang boleh mencicipi masakan perdana aku, salah satunya papi."
"Apa seseorang itu laki-laki bernama Bara itu." tebak Amar tepat sasaran.
Vero mesem-mesem, dia kemudian mengangguk malu, "Iya pi."
Para pelayan pada berbisik satu sama lain, "Nona Vero punya pacar."
"Iya, dan dia bela-belain masak demi pacarnya, padahalkan dia gak bisa masak."
"Wahh, pasti pacarnya nona tampan ya, secara gitu nona sangat cantik."
Para pelayan itu menyimpulkan sendiri.
"Baiklah pi, Vero berangkat dulu oke." kembali Vero mencium pipi papinya sebelum berangkat.
"Kamu tidak sarapan dulu sayang."
"Nanti saja pi dikampus." teriak Vero.
"Jadi." Amar memperhatikan nasi goreng yang ada dipiringnya saat putrinya sudah pergi, "Ini masakan putriku."
"Iya tuan." jawab pak Adi kepala pelayan dirumah besar, "Kami sudah melarang nona untuk memasak, tapi nona tetap memaksa ingin memasak."
"Hmmm, saya fikir, dia bela-belain memasak gara-gara laki-laki bernama Bara itu."
"Apa itu pacarnya nona tuan."
"Saya kurang tahu Adi."
Amar kemudian meraih sendok dan mencicipi masakan putrinya, alhasil, saat nasi berwarna coklat itu berada dimulutnya, ekpresinya seperti menelan garam satu genggam.
"Kenapa tuan." panik pak Adi saat melihat wajah tuannya.
Amar meraih beberapa lembar tisu dan memuntahkan nasi yang belum sempat tertelan itu, tangannya kemudian meraih gelas berisi air putih dan meneguknya sampai tandas.
"Tuan, tuan tidak apa-apa." tanya pak Adi.
"Rasanya sangat asin Adi, lebih asin daripada air laut." komen Amar, dan dia bersyukur karna putrinya itu telah pergi, karna kalau gak, dia mungkin akan terpaksa menelan nasi goreng tersebut karna tidak mungkin dia membuat putri kesayangannya itu kecewa.
"Apa kamu berminat mencicipi nasi goreng buatan putriku Amar." Amar menawarkan kepada kepala pelayannya itu.
"Tidak tuan, terimakasih." tolak pak Adi.
*****
Tiba dikampus, Vero langsung berjalan menuju kelas Bara, dia begitu bersemangat sehingga sepanjang dalam perjalanan menuju kelas Bara dia terus tersenyum, senyumnya itu menarik laki-laki untuk menyapanya.
"Pagi Vero."
"Pagi."
Tumben banget Vero ngejawab, ya mungkin karna suasana hatinya tengah bahagia kali ya.
"Alamak, bergetarlah hati gue, sapaan gue dibalas sama Vero." sik cowok memegang dadanya yang bergetar.
Vero tiba didepan kelas Bara, tiba-tiba saja jantung Vero berdetak kencang, apalagi saat mengingat saat dia mencium pipi Bara tadi malam, itu membuat wajah Vero memanas dan merasa malu.
"Duhh, kok rasanya gue malu ya." gumamnya, dia juga merasa grogi.
"Oke tenang Ver, tenang." Vero berusaha menenangkan dirinya, "Lo harus bersikap biasa saja oke."
Dan setelah berusaha menenangkan dirinya dan menormalkan ekpresi wajahnya dan tentunya tidak lupa juga mengulas senyum dibibirnya, Vero memantapkan hatinya untuk memasuki kelas Bara, dan senyumnya langsung sirna begitu melihat seorang gadis duduk disamping Bara.
"Ishhh." sungutnya, "Siapa sieh gadis sialan itu, ganjen banget sieh cekikikan segala, gue ingin menjambak rambutnya." mata Vero menyala, dengan menghentakkan kakinya dia berjalan mendekati Bara dan gadis itu.
Suara langkah itu membuat Bara dan sik gadis mendongak dan menatap ke arah sumber suara.
"Lo siapa." tunjuk Vero pada gadis yang saat ini bersama Bara.
"Gue..."
"Dia Tia." jawab Bara.
"Dia ngapain disini, cekikikan-cekikian, ganjen banget jadi cewek."
"Tia gak ganjen, dia teman gue waktu SMA." jelas Bara.
"Dia siapa Bar, kok kayak gak suka gitu lihat lo sama gue." tanya Tia.
"Dia bukan siapa-siapa." jelas Bara acuh tak acuh.
Jderrr
Sudah seperti petir disiang bolong, Vero sampai menganga mendengar jawaban Bara, apa yang dikatakan Bara memang tidak salah, dia bukan siapa-siapa untuk Bara, tapi fikir Vero, apa kebersamaan mereka sedikitpun tidak ada artinya bagi Bara sehingga dia dengan entengnya mengatakan kalau dia bukan siapa-siapa, tiba-tiba saja Vero merasakan dadanya sesak.
"Ohhh, bukan siapa-siapa toh, gue fikir pacarnya Bara tadi, lagaknya kayak pacar lo aja Bar."
"Dasar Bara resek, menyebalkan, ihhh sumpah gue kesel banget." Vero hanya bisa mengumpat dalam hati.
Vero berbalik, dengan langkah lebar dia berjalan menjauh, dia berusaha sekuat mungkin untuk menahan air matanya yang sudah membentuk bendungan dipelupuk matanya.
"Verrr....." panggil Bara, dia hanya memanggil, tidak punya niatan untuk mengejar.
Namun panggilan Bara sama sekali tidak diindahkan oleh Vero, Vero terus melangkah menjauh tanpa memperhatikan jalannya sampai dia menabrak seseorang.
"Lo kalau jalan lihat-lihat donk, punya mata gak sieh lo." bentak sik cowok yang ternyata adalah Rama yang baru memasuki kelas.
Namun begitu melihat kalau yang menabraknya adalah Vero, Rama buru-buru meminta maaf, "Ehh Vero, sorry sorry, gue fikir bukan elo tadi."
Rama terpaku saat melihat pelupuk mata Vero yang digenangi oleh air mata.
"Lo bisa menyingkir gak, gue mau lewat." bentak Vero karna Rama tepat berada didepannya, sementara dia ingin segera pergi menjauh dari Bara.
"Ohh sorry." Rama menggeser tubuhnya membiarkan Vero untuk melanjutkan langkahnya.
Rama hanya menatap punggung Vero yang terlihat bergetar, dia tahu gadis itu saat ini tengah menahan tangisnya, Rama yakin, Baralah yang membuat Vero seperti itu.
Rama menatap Bara yang terlihat anteng seperti orang yang tidak bersalah sama sekali, "Dasar Bara, gak peka banget dah jadi cowok, apa dia gak punya inisiatif kek gitu untuk mengejar Vero, ini malah lempeng saja."
Rama berjalan mendekat, dan bertanya, "Lo apain tuh sik Vero."
"Maksud lo apa."
"Vero nangis tuh."
"Nangis gimana ya."
"Ya gue mana tahu, yang jelas, itu pasti gara-gara elo." tuduh Rama.
"Kok bisa gara-gara gue, orang gue gak ngapa-ngapain dia." jawabnya santai.
"Duhh, ngomong sama elo bikin gue emosi ya Bar." rutuk Rama kesal.
"Bar, gue balik ke kelas dulu dah ya." pamit Tia.
Bara mengangguk.
"Siapa tuh cewek." tanya Rama saat Tia sudah tidak terlihat.
"Teman gue waktu SMA."
"Dia marah kenapa, lagian dia tidak punya hak untuk marah, dia bukan siapa-siapa gue."
"Bukannya kalian pacaran ya."
"Katanya siapa."
"Ya elo nganterin dia balik, apa itu bukan yang namanya pacaran."
"Ye elahh, cuma nganterin dia pulang mana bisa dikatakan pacaran, lagian juga gue nganterin dia karna dia maksa."
"Pasti lo bikin dia baper deh atau gimana sehingga dia berharap lebih sama elo."
"Gak, gue biasa-biasa saja tuh sama dia, gue gak pernah memperlakukan dia dengan istimewa."
"Terus, kenapa Veronya nangis gitu."
"Ya gue mana tahu, intinya gue gak pernah ngapa-ngapain dia."
Rama hanya mendesah berat, memang sahabatnya itu orangnya tidak peka.
*****
Entah kenapa, kalau lagi sedih atau kesal, sejak mengenal Bara, Vero selalu larinya ke perpustakaan, menurutnya perpustakaan tempat yang cocok untuk suasana hatinya galau.
"Bara sialan, brengsek, bisa-bisanya dia mengatakan hal itu dengan entengnya tanpa memikirkan perasaan gue, hiks hiks." Vero dengan kasar menyeka air matanya yang bergeritikan membasahi pipinya.
"Ishhh, kok gue jadi nangis gara-gara laki-laki brengsek itu sieh, menyebalkan." meskipun bilang begitu, air matanya tidak berhenti mengucur membasahi pipi mulusnya.
"Apa yang terjadi sieh sebenarnya sama gue, kok gue jadi sedih dan sakit hati kayak gini gara-gara sik brengsek itu mengatakan tidak memiliki hubungan apa-apa sama gue, memang dia benarkan, kita memang tidak memiliki hubungan apa-apa, gue saja yang terus ngintilin dia dan maksa-maksa dia ikut kemanapun dia pergi, hiks hiks." Vero masih terisak, "Tapi itukan gue lakukan untuk menaklukkan dia gara-gara taruhan gue sama teman-teman gue."
"Gak gue sangka, dia begitu sulit untuk ditaklukkan kayak gini." Vero terus ngoceh sendiri.
"Dan ini juga, kenapa sieh hati gue rasanya sakit dan sesak begini." Vero memukul dadanya yang terasa sesak seolah-olah dipenuhi oleh segenggam pasir sungai.
Ya mungkin ini semacam karma untuk Vero mengingat selama ini dia selalu dengan seenak hatinya menyakiti hati laki-laki dan mencampakkanya sesuka hatinya tanpa memikirkan perasaan mereka, dan kini Vero merasakan bagaimana sakitnya perasaan cowok-cowok yang pernah dia campakkan.
"Padahal, gue sudah bela-belain bangun pagi dan membuat bekal untuk dia, ehh dianya malah kayak gitu sama gue, dasar laki-laki brengsek, gue benci sama lo, benci."
Entah berapa lama Vero berada diperpustakaan, sepertinya cukup lama saat dia merasakan seseorang duduk dikursi sampingnya, Vero yang sejak tadi menelungkupkan wajahnya mendongak saat merasakan ada seseorang yang duduk kursi sampingnya.
Vero menoleh ke samping, dia menemukan Bara dengan ekpresi datarnya.
"Ngapain lo disini."
"Ya bacalah, inikan perpustakaan." jawab Bara enteng.
Vero mendengus mendengar jawaban Bara, dia meraih tasnya dan bersiap untuk pergi, namun Bara menahannya dengan meraih pergelangan tangannya.
"Lepasin gue." Vero berontak dan berusaha melepaskan tangan Bara yang memegang pergelangan tangannya.
"Duduk." perintah Bara.
"Gak mau."
"Duduk Vero." ujar Bara dengan penuh penekanan dan kata-kata Bara yang penuh penekanan tersebut membuat Vero akhirnya menurut, dia kembali duduk meskipun terpaksa.
"Lo habis menangis." cetus Bara tanpa rasa bersalah saat melihat kelopak mata Vero yang bengkak, dia benar-benar tidak sadar dialah yang menyebabkan mata Vero sampai bengkak begitu.
"Enggak." bantah Vero langsung membuang pandangannya saat Bara menatapnya.
"Lo menangis karna apa hemm."
"Sudah gue bilang gue gak nangis juga."
"Terus kenapa itu mata lo bengkak begitu."
"Ini....ini digigit serangga saja tadi."
"Maaf deh kalau kata-kata gue barusan membuat lo sakit hati sampai nangis kayak gini."
"Sudah gue bilang gue gak nangis." masih kukuh tidak mau mengakui.
"Oke deh, gue percaya kalau elo gak nangis." Akhirnya Bara berhenti mencecar Vero, sebagai gantinya dia berkata, "Katanya, lo bikinin gue bekal, mana."
"Sudah gue buang." bohong Vero padahal tuh kotak bekal masih tersimpan dengan manis ditasnya.
"Sayang banget ya, padahal gue ingin banget lho mencicipi masakan elo." desah Bara pura-pura kecewa.
Karna masih sakit hati dengan kata-kata Bara membuat Vero tidak juga kunjung mengeluarkan kotak bekal yang memang sengaja dia bawakan untuk Bara, untuk beberapa menit, dua anak manusia itu masih konsisten dengan kebungkaman masing-masing.
"Ntar, lo mau gak ikut gue ke rumah."
"Rumah, rumah siapa."
"Rumah guelah."
"Ehhh." respon Vero karna tidak menyangka Bara akan mengajaknya ke rumahnya, "Dia ngajakin gue ke rumahnya, ini benarankan, atau dikesambet gitu, tapi kok dia ngajakin gue ke rumahnya ya." Vero senang sekaligus heran juga.
"Lo mau gak, kalau gak mau juga gak apa-apa." ucap Bara karna Vero tidak kunjung merespon kata-katanya.
Rasa kesal dan sakit hati menguar sudah dari benak Vero, digantikan dengan antusiasme saat mendengar ajakan Bara, "Iya iya gue mau, gue mau ikut ke rumah lo." meskipun dengan matanya yang bengkak, kini Vero bisa tersenyum kembali.
"Kenapa lo ngajakin gue ke rumah elo."
"Iseng aja."
Vero mendengus.
"Ibu gue, katanya ingin bertemu dengan teman gue."
"Ibu elo."
"Hmmm."
"Maksud elo, lo mau ngenalin gue gitu sama ibu lo."
"Bukan ngenalin, tapi...yahh, yahh begitulah." ujarnya pada akhirnya karna memang bisa dibilang begitu, ibunya ingin mengenal temannya, ya temannya ya Vero, masak iya Rama sieh yang dia kenalin sama ibunya.
Vero tersenyum semakin lebar, dia kemudian membuka resleting tasnya dan mengeluarkan kotak bekal yang dibawanya untuk Bara, "Nieh." Vero menyodorkan kotak bekal itu sama Bara.
"Katanya tadi dibuang."
"Gue bilang gitu habisnya gue kesal banget sama lo."
"Ngaku jugakan, mata lo bengkak gara-gara kesal sama gue."
"Hmmm."
"Emang ada kata-kata gue yang membuat lo sakit hati, perasaan gak ada tuh kata-kata gue yang berpotensi membuat lo sakit hati."
"Ada, ada banget, lo bilang gue bukan siapa-siap elo, itukan bikin gue kesel." kata-kata yang hanya diucapkan oleh Vero dalam hati, lisannya, "Sudahlah gak usah bahas itu lagi, mending lo makan saja, itu gue khusus masak untuk lo."
"Kayaknya sebelum makan masakan elo, gue kudu nelpon ambulan dulu."
"Buat apa."
"Iya siapa tahu gitu gue keracunan saat makan masakan elo." canda Bara.
"Ihhhh Bara, gak lucu banget deh bercandanya." Vero manyun.
Bara terkekeh, "Gue cuma bercanda, gak usah manyun gitu bibir lo, jelek tahu."
"Hmmm."
"Ya udah gue makan nieh." Bara membuka kotak bekal tersebut dan matanya langsung disambut oleh nasi goreng lengkap dengan telur ceplok dan juga suwiran ayamnya, dari penampilannya sieh menggiurkan, tapi tidak tahu deh dengan rasanya.
Bara mengambil sendok untuk menyendok nasi goreng dan mengarahkannya ke mulutnya, dan voila, mata Bara langsung melebar, bukan karna enak, tapi karna keasinan.
"Gimana, enak gak." tanya Vero penuh harap.
"Hmmmm." Bara mengacungkan jempolnya.
"Yeyyyy." Vero kegirangan karna masakannya dipuji oleh Bara.
Entah kenapa, Bara yang biasanya selalu ceplas ceplos, kali ini dia tidak ingin membuat Vero kecewa, sehingga dia terpaksa menahan rasa asin dan menelan makanan tersebut ke lambungnya.
****