
Bara tersenyum saat melihat ibunya terlihat akrab dengan Vero, sebelumnya, Bara tidak pernah menyangka kalau gadis itu ternyata punya sisi ramah juga, awalnya dia ragu untuk memperkenalkan Vero sama ibunya mengingat gadis itu berasal dari kalangan orang berada, fikir Bara, Vero adalah tipe orang yang akan risih saat berintraksi dengan orang kurang mampu sepertinya, tapi toh ternyata gadis itu mampu juga bersikap ramah dan akrab sama ibunya.
Setelah terpaku beberapa detik melihat intraksi antara ibunya dan Vero, Bara mendekat dengan membawa nampan berisi teh yang dia buatkan untuk Vero.
"Terimakasih Bara, gue tidak pernah menyangka ternyata lo bisa membuat teh."
Bara tertawa, "Hanya gadis manja seperti lo saja yang tidak bisa membuat teh." ledek Bara.
"Baraaa, kamu itu selalu saja meledekku."
Ibu Hamidah hanya tersenyum melihat intraksi antara putranya dan Vero.
"Bara ini nak, dia tidak hanya bisa bikin teh saja, tapi dia bisa memasak lho, dan masakannya itu enak." beritahu ibu Hamidah.
"Ohh iya, masak sieh."
"Hmmm."
"Makanya, makan siang nanti, kamu ikut makan siang sama kami ya nak." ibu Hamidah menawarkan.
"Memangnya Bara yang akan masak."
"Iya."
"Bu, Vero itukan orang kaya, tidak mungkin maulah dia makan makanan sederhana yang biasa kita makan."
"Siapa bilang, aku mau kok." Vero benar-benar ingin mencicipi masakan Bara.
"Ya sudah, kamu lebih baik sana gieh beli sayur, ibu rasa pak Ujang sudah datang tuh."
"Bara juga yang beli sayurnya bu." tanya Vero tidak percaya, ternyata laki-laki cuek dan dingin itu bisa juga berbelanja sayur-sayuran.
"Siapa orang juga bisa kali, tinggal datangi tukang sayurnya, pilih dan bayar, sudah deh kelar urusan." jawab Rangga.
Ibu Hamidah terkekeh, "Iya begitulah nak Vero, kalau gak lagi kerja, Baralah yang akan membeli sayur dan dia juga yang akan memasaknya." ibu Hamidah menjelaskan.
"Ya Tuhan, gak gue sangka, ternyata laki-laki cuek dan dingin ini bisa juga melakukan hal-hal semacam itu." heran Vero dalam hati.
"Ya sudah Bara, ayok sana, nanti keburu yang bagus-bagus diambil sama ibu-ibu tetangga."
"Baik bu." Bara berdiri dan bersiap keluar, namun Vero merengek ingin ikut.
"Baraaa, ikut."
"Lo disini saja Ver, diluar itu panas."
"Benar nak Vero, diluar itu panas lho, mending nak Vero disini saja ya."
"Tapi aku mau ikut ibu, aku ingin lihat bagaimana caranya belanja."
"Lokan udah sering belanja di mall, ya begitulah cara gue belanja."
"Pokoknya gue mau ikut Baraa."
"Oke oke, baiklah, ayok." desah Bara pada akhirnya, karna Vero kalau tidak dituruti keinginanya akan terus merengek.
Vero tersenyum senang, dia berdiri dan mengikuti Bara keluar.
Mereka berjalan beberapa meter untuk mencari keberadaan tukang sayur.
"Ini masih jauh gak sieh." baru saja berjalan sebentar Vero sudah kecapean gitu, ya maklum sieh, jalannya masih jalan tanah dan dianya pakai sepatu hak tinggi lagi, benar-benar tidak sinkron banget, belum lagi panas.
"Gue bilang juga apa, lo mending tungguin dirumah saja, belum juga apa-apa lo sudah merengek kayak gini." jengkelkan Bara jadinya.
"Habisnya jauh sih Bar, panas lagi."
"Baru saja jalan seuprit lo udah bilang jauh, dasar manja."
"Ihhh Bara mah suka gitu, kesel deh."
"Nahh itu dia mang Ujangnya." tunjuk Bara pada tukang sayur yang dikerubungi oleh ibu-ibu yang saat ini pada tengah membeli sayur.
"Lo beli sayurnya ditempat seperti itu, kenapa gak beli disupermarket saja."
"Duhh, lo bisa diem gak sieh Ver, lo ngoceh mulu sejak tadi." ketus Bara.
"Hmmm."
Mereka berjalan mendekati abang sayurnya.
"Ehh mas Bara, mau beli sayur mas." sapa ibu-ibu komplek yang mengenal Bara.
"Iya bu."
"Wahh, mas Bara sama siapa ini, pacarnya mas Bara ya, cantik sekali pacarnya mas."
Bara tidak mengiyakan ataupun bilang tidak, dia hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan ibu-ibu tersebut, hati Vero agak gimana gitu melihat tanggapan Bara tersebut, seenggaknyakan Bara tidak bilang kalau dirinya bukan siapa-siapa seperti waktu itu.
"Namanya siapa mbak." salah satu ibu bertanya sama Vero.
"Vero bu."
"Mbak Vero sangat beruntung lho kalau nanti pada akhirnya bisa menikah dengan mas Bara ini, selain anaknya tampan, mas Bara juga anaknya baik, jujur, pinter, bertanggung jawab, sayang sama orang tua lagi, ditambah lagi, mas Bara ini pinter masak lho, benar-benar suami idaman bangetkan ibu-ibu."
"Iya." ibu yang lain menimpali, "Mas Bara mau belanja sayur padahalkan dia cowok, kalau suami saya, jangankan disuruh beli sayur, bantuin didapur saja dia ogah."
Vero mesem-mesem sendiri karna ibu-ibu itu berfikir kalau dia adalah pacarnya Bara, sedangkan Bara, dia memilih untuk tidak menanggapi ocehan ibu-ibu tersebut dan fokus memilih sayuran.
Setelah memilih beberapa sayuran, dan membayar belanjaannya, Bara mengajak Vero untuk pulang, tapi sebelum itu dia pamit sama-sama ibu itu terlebih dahulu.
"Mari ibu-ibu saya duluan."
"Mari ibu-ibu." sahut Vero turut menimpali.
"Iya mas Bara, mbak Vero."
Saat mereka sudah tidak kelihatan, mulailah ajang gosip antara ibu-ibu tersebut.
"Cantik sekali ya pacarnya mas Bara, kulitnya itu lho kinclong kayak ubin yang rajin digosok pakai fitsal."
"Rajin perawatan disalon mahal atau gak diklinik kecantikan itu, gak mungkinkan kecantikan seperti itu didapatkan hanya dengan cuci muka doank pakai ponds."
"Bener juga, dan dilihat dari pakaiannya, sepertinya pacarnya mas Bara itu orang berada gitu."
"Kalau mas Bara menikah dengan gadis seperti itu, mas Bara harus kerja ekstra donk ya untuk membiayai perawatan mahal istrinya."
"Ya begitu deh ya kalau pacaran dengan gadis cantik, harus berani keluar modal, benar gak mang Ujang."
"Aduhh, saya tidak mau mengomentarin hal-hal begituan ibu-ibu, saya mah fokus jual sayur saja."
"Ahh mang Ujang ini, masak kasih pendapat saja pelit banget."
****
Tiba dirumah, Bara langsung membawa bahan yang tadi dia beli ke dapur karna dia rencananya akan langsung memasak, sedangkan ibunya menyelsaikan jahitannya.
Vero yang disuruh duduk diruang tamu, namun dia menolak, katanya dia ingin melihat Bara memasak.
Bara mengeluarkan sayur mayur, tempe dan juga tahu yang tadi dibelinya, makananan mereka memang sederhana, tapi bergizi.
Vero tidak lepas memperhatikan Bara yang memotong sayuran kangkung dengan lincahnya, rencananya Bara akan membuat tumis kangkung.
"Baraa, apa ada yang bisa gue bantu." tanya Vero tiba-tiba, rasanya kok tidak enak hanya berdiam diri saja hanya sebagai penonton.
"Lo duduk saja."
"Tapi gue mau bantu." paksa Vero.
"Hmmm, baiklah, lo kupasin tuh bawang merah itu."
"Cuma ngupas bawang doank ya, oke, itu kecil." Vero mengentengkan.
Vero mulai mengambil pisau dapur dan mulai mengupas bawang merah.
Namun baru saja mengupas dua bawang, dia merasakan matanya perih sehingga membuatnya mengerjap-ngerjap, dan dari kedua sudut matanya mengalir buliran bening.
"Baraaa, mata gue perih."
Bara menghentikan aktifitasnya dan menoleh sejenak ke arah Vero, "Padahal baru saja memotong dua bawang donk udah kayak orang yang sudah mengupas satu kilo bawang saja."
"Sini gue tiupin." Bara meniup mata Vero beberapa saat, "Gimana, udah gak perih lagikan."
"Hmmm, lumayan." Vero mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih sedikit perih.
"Sudah lo mending duduk saja, biar gue yang ngerjain semuanya."
"Gue goreng tempe saja ya Bara, kelihatannya lebih gampang."
"Duduk saja."
"Kalau goreng tempe gue pasti bisa." Vero ngeyel.
"Baiklah."
Vero mengambil alih apa yang dikerjakan oleh Bara, sedangkan Bara menyelsaikan pekerjaan Vero.
"Baraaa, kalau sudah coklat kayak gini sudah bisa diangkat gak." tanya Vero menunjuk wajan yang berisi minyak goreng dan tempe.
"Astgaaa."
Bara langsung mendekat dan mematikan kompor, gimana tidak, tempe yang digoreng oleh Vero bukannya berwarna coklat seperti yang dia bilang, tapi hitam pekat alias gosong maksimal.
"Ini sieh namanya gosong Vero." dengus Bara kesal, "Lo kalau gak bisa gak usah sok-sok'an bantu deh, ngupas bawang matanya langsung perih, goreng tempe gosong, mending lo duduk saja, lihatin gue saja."
"Iya, tapi kalau cuma bikin rusak mendingan gak usah, udah deh ya sana mending lo duduk dan lihatin gue saja."
"Hmmm."
Pada akhirnya Vero memilih duduk seperti semula seperti awal, diam-diam, Vero beberapa kali mengambil foto Bara yang tengah memasak.
Dan semua makanan kini sudah matang, Bara yang dibantu oleh Vero membawakan masakan Bara tersebut ke meja makan sederhana, itu memang makanan sederhana dan merupakan makanan rumahan banget, tapi aromanya yang menusuk hidung mampu membuat perut Vero berontak dan minta diisi, dia bahkan sampai menelan ludahnya saat melihat masakan tersebut saat sudah ditata dimeja.
"Lo duduk dulu ya Ver, gue panggil ibu dulu."
"Hmmm."
Gak lama, Bara bersama ibu Hamidah memasuki dapur dan duduk mengeliling meja makan.
"Maaf ya nak Vero kalau makanannya sederhana begini, berbeda dengan makanan yang biasa nak Vero santap."
"Gak apa-apa kok bu."
"Ya sudah, ayok makan nak."
Vero mengambil piring Bara, dia berniat untuk melayani Bara.
"Lo ngapain." tanya Bara saat melihat Vero yang mengambil piringnya.
"Mau ngambilin elo nasi."
"Gak usah biar gue saja."
"Gue ambilin." ngotot Vero dan mengambilkan nasi untuk Bara dan juga lauk pauk.
"Nahh ini." Vero meletakkan kembali piring Bara yang sudah diisi olehnya.
"Kok gue berasa kayak istrinya Bara ya." Vero senyum-senyum sendiri.
"Ibu, apa ibu juga mau diambilkan." Vero menawarkan.
"Gak usah nak, ibu bisa kok ambil sendiri."
Dan kini, mereka bertiga mulai menyantap makanan dipiring masing-masing.
"Dude." gumam Vero dengan mata melebar.
"Lo kenapa."
"Enak Baraa."
"Kan sudah ibu bilang, putra ibu itu pinter masak, gak rugi lho nanti perempuan yang akan jadi istrinya."
Kok Vero berharap dialah perempuan yang akan menjadi istrinya Bara ya.
"Ihhh, apa-apaan sieh gue, kok gue berharap jadi istrinya Bara segala."
****
Hari sudah menjelang sore saat pada akhirnya Vero memutuskan untuk pulang, ibu Hamidah mengantar kepulangan Vero sampai depan rumahnya yang akan diantar oleh Bara.
Sebelum naik ke boncengan motor Bara, Vero menyalami ibu Hamidah terlebih dahulu.
"Saya pamit ya bu."
"Iya nak."
"Kapan-kapan, saya bolehkan main-main kesini lagi."
"Tentu saja boleh donk, pintu rumah kami selalu terbuka untuk kamu nak."
"Terimakasih ibu, ibu baik sekali."
Setelah berbasa-basi sebentar, Vero akhirnya duduk diboncengan motor Bara.
"Bara, hati-hati ya bawa nak Veronya."
"Iya bu tenang saja."
"Pergi dulu ibu." Vero melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan begitu motor sudah dijalankan oleh Bara.
Ibu Hamidah membalas melambaikan tangannya.
Dalam perjalanan.
"Ibu baik dan ramah ya Bara, tidak seperti yang gue fikirkan."
"Hmmm."
"By the way, masakan lo enak banget sumpah, kapan-kapan bolehkan gue ke rumah elo, lo masakin gue lagi."
"Emang lo gak kapok ke rumah gue."
"Ngapain gue kapok, gue senang kok main ke rumah lo, jadi kapan-kapan ajakin gue ya."
"Hmmm."
Saat seperti itu, tiba-tiba sebuah motor melaju disamping mereka dan memeper motor Bara, itu bukan pengguna jalan, tapi adalah orang yang memang mungkin berniat mencelakai entah Bara atau Vero, atau mungkin berniat mencelakai kedua-duanya.
Vero jadi takut, dia reflek mengencangkan pelukannya diperut Bara.
Pengendara motor besar yang wajahnya tertutup helm full face itu berusaha menendang motor Bara, namun Bara berhasil menghindar, tapi kemudian pada akhirnya, setelah berusaha, pengendara itu berhasil juga menendang motor matic Bara, Bara berusaha untuk menjaga keseimbanganya, tapi tendangan itu cukup kuat sehingga pada akhirnya membuatnya jatuh diaspal.
"Akhhh." itu adalah suara Vero yang mengerang kesakitan.
Mengingat Vero, sakit yang Bara rasakan langsung hilang seketika digantikan dengan rasa khawatir.
Bara buru-buru bangun, "Verr." paniknya karna melihat kaki Vero tertimpa badan motor, Bara segera mengangkat bodi motor untuk membebaskan kaki Vero dari besi yang menindih kakinya.
"Vero, lo gak apa-apa."
"Kaki gue sakit Bara." Vero memegang kakinya.
Pandangan Bara mengarah pada kaki Vero karna gadis itu mengeluh sakit dibagian itu.
Beberapa pengendara yang melihat kejadian barusan segera turun dari mobil mereka dan berusaha untuk memberi bantuan.
"Tolong, tolong bawa kami kerumah sakit."
"Iya iya ayok, naik ke mobil saya, saya akan membawa kalian ke rumah sakit." ujar salah satu pengendara mobil.
Bara hampir tidak merasakan sakit saking khawatirnya dengan Vero sehingga dia dengan entengnya mengangkat tubuh Vero dan membawanya ke mobil orang yang akan mengantarkan mereka ke rumah sakit.
"Baraaa, kaki gue sakit banget."
"Iya iya sabar, sebentar lagi kita akan ke rumah sakit dan dokter akan menangani kaki lo oke."
"Hmmm."
Dengan memeluk tubuh Vero, Bara duduk dikursi penumpang belakang sementara mobil mulai melaju ke rumah sakit terdekat untuk memberi pertolongan pertama untuk mereka.
*****
Tok
Tok
"Masuk."
"Mohon maaf pak, ada seseorang yang ingin bertemu dengan bapak, katanya dia sudah membuat janji dengan bapak." sekertaris Amar Salim memberitahu.
"Siapa."
"Katanya namanya Khan."
"Suruh dia masuk."
"Baik pak."
"Silahkan pak Khan, tuan Amar menunggu anda." sekertaris Amar Salim mempersilahkan.
Seorang laki-laki berbadan tegap dan berkepala plontos dengan mengenakan baju serba hitam memasuki ruangan Amar Salim.
"Selamat siang tuan Amar Salim."
Laki-laki yang kini menginjak kepala 6 itu mendongak mendengar sapaan itu.
"Duduk Khan." perintahnya.
Laki-laki botak bernama Khan itu duduk dikursi yang bersebrangan dengan tempat duduk Amar Salim.
"Jadi, bagaimana hasil penyelidikanmu terhadap laki-laki bernama Bara itu." Amar Salim langsung pada intinya.
Khan menyodorkan map coklat yang sejak tadi dibawanya, "Tuan bisa melihatnya sendiri disini, semua tentang laki-laki yang dekat dengan putri tuan itu lengkap didokumen ini."
Amar Salim meraih amplop tersebut dan membukanya, dari sana dia mengeluarkan beberapa berkas dan juga foto, Amar salim memperhatikan foto-foto itu sejenak, foto kebersamaan putrinya dengan laki-laki bernama Barathayudaha Arkana itu yang diambil diam-diam oleh Khan.
Amar salim kemudian membaca berkas-berkas tersebut dengan ekpresi tidak bisa dijelaskan.
"Jadi, putri tunggalku dekat dengan seorang laki-laki yang tidak jelas asal-usulnya begini."
"Hmmm, menurut data yang saya dapat, laki-laki bernama Bara itu hanya tinggal dengan ibunya, sementara ayahnya, tidak tahu dimana keberadaannya."
"Astagaa." Amar Salim sampai memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa pening, dia tidak pernah menyangka putri kesayangannya akan dekat dengan seorang laki-laki yang tidak jelas ayahnya siapa.
****