
Vero menggenggam tangan Bara saat mereka berjalan diparkiran, namun Bara langsung melepas tautan tangan Vero.
"Kok dilepas sieh Bar."
"Gak enak Ver dilihat oleh mahasiswa lainnya."
"Kamu ini gimana sieh Bara, gak enak mulu deh, ya biarin saja orang lihat agar orang tahu kita pacaran, agar cewek-cewek ganjen dan genit yang suka godain kamu tidak godain kamu lagi."
"Meskipun cewek-cewek pada genit dan ganjen sama aku, tapi itukan gak ngaruh sama sekali untukku Ver, karna hatiku hanya untukmu."
Duh, udah jadi taman bunga dah tuh hatinya Vero mendengar kata-kata Bara, kata-kata Bara kontan membuatnya senyum-senyum.
"Hmm, baiklah kalau gitu, gak apa-apa deh kita gak gandengan tangan." ujarnya pada akhirnya.
Mereka berjalan bersisian dikoridor kampus.
"Baraa, anterin gue ke kelas ya."
"Lo bisa sendirikan Ver, jadi jangan manja."
"Ihh lo itu mah gak ada romantis-romantisnya, orang mah kalau pacaran dianterin kek gitu, ini mah lo gak mau." rajuknya.
"Astaga, gini amet ya punya pacar, merepotkan, tahu gini gue mendingan jomblo saja, gak repot hidup gue." batin Bara.
"Baiklah, ayok gue anterin." pasrahnya mengikuti kemauan Vero.
Vero tersenyum mendengar ucapan Bara, "Yukk." dengan penuh semangat Vero langsung mengalungkan tangannya dilengan Bara.
"Tapi gak perlu pakai gandeng-gandeng segala bisakan."
"Iya iya." Vero melepas tangannya dari lengan Bara.
"Gandeng tangan saja gak boleh, apalagi cium." desis Vero.
"Kamu bilang apa Ver."
"Aku gak bilang apa-apa kok sayang, hehe."
"Hmmm, ayok jalan."
"Oke sayangku."
Mereka kembali berjalan menuju dimana kelas yang biasa ditempati oleh anak-anak ekonomi berada.
"Oke sudah sampai, kamu masuk gieh." ujar Bara saat sudah tiba didepan kelas Vero.
"Bara, temenin aku dulu ya, kelas aku belum akan dimulai kok."
"Emang kelas kamu belum akan dimulai, tapi kelas aku sebentar lagi akan dimulai."
"Yahh, padahal aku masih kangen dan gak mau berpisah." manjanya.
Rara dan Tiar datang dan melihat Vero dan Bara didepan kelas.
"Bara, Vero." sapa Tiar.
"Tiar, Rara." Vero sangat antusias melihat kedua sahabatnya itu, dia ingin mengumumkan dengan bangga kalau Bara sudah berstatus sebagai pacarnya saat ini, oleh karena itu, Vero merangkul lengan Bara dengan mesra, "Tiar, Vero, perkenalkan, pacar gue." ujarnya dengan senyum mengembang.
Tiar dan Rara saling melempar pandangan satu sama lain, dan hal yang mereka fikirkan dalam benak masing-masing adalah, "Selamat mengerjakan tugas-tugas Vero selama satu semester penuh." dan menyadari akan hal itu membuat kedua gadis itu mendesah berat karna harus doubel mengerjakan tugas.
"Lo dan Vero benaran pacaran Bara." Rara mengkonfirmasi berita tersebut sama Bara, berharap kalau apa yang dikatakan oleh Vero bohong.
"Iya." jawab Bara singkat, padat dan jelas.
"Akhh mereka benar-benar pacaran ternyata, yahh gue harus terpaksa nerima nasib." batin Tiar nelangsa.
"Selamat ya untuk kalian berdua." ucap Tiar dengan setengah hati.
"Makasih Tiar."
"Selamat Vero, Bara." Rara menimpali dengan terpaksa.
"Terimakasih juga Rara." senyum Vero mengembang, senyum untuk memberitahu kedua sahabatnya kalau dia begitu bahagia.
"Aku balik dulu ya." pamit Bara.
"Sun dulu donk ayank." Vero menunjuk pipinya supaya Bara mengecupnya.
"Apaan sieh, jangan aneh-aneh deh kamu." setelah mengucapkan hal tersebut Bara berlalu meninggalkan Vero.
"Ihh ayank Bara mah emang gitu, bikin gemas gue saja."
Rara dan Tiar mendekati Vero, mereka tentunya ingin mengintrogasi Vero.
"Baraaa." panggil Vero dengan suara manja.
Bara berbalik.
Vero menautkan kedua jari tangannya sehingga membentuk hati, "I Love you Bararhayudha Arkana."
Bara hanya menggeleng sebelum kembali melanjutkan perjalanannya, sumpah dia malu banget dengan tingkah Vero.
"Apa keputusan gue sudah benar pacaran dengannya." gumamnya dalam hati.
"Mmmuah mmuahhh." Vero memberi ciuman jarak jauh.
"Gak usah lebay deh lo Ver." komen Rara yang agak gimana gitu melihat keberhasilan Vero menaklukkan Bara.
"Namanya juga orang lagi berbunga-bunga ya wajarlah Ra, ntar kalau lo punya pacar juga akan kayak gue jugakan."
"Gue gak akan selebay lo kali." timpal Rara tanpa suara.
"Beneran lo pacaran sama Bara, bukti vidio Bara nembak lo mana." Tiar meminta bukti untuk lebih meyakinkan dirinya kalau Bara dan Vero beneran pacaran.
"Hmmm, gak ada vidionya sieh, tapi lo lihat nieh." Vero mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan chat yang dikirim oleh Bara yang memintanya untuk menjadi pacar Bara semalam.
Rara dan Tiar saling lirik dengan nelangsa.
"Yahh, kalah taruhan kita Ra, ternyata Bara sangat gampang ditaklukkan oleh Vero, Bara sama saja dengan laki-laki lain."
"Iya, padahal gue membuat Bara sebagai taruhan gue fikir Bara tidak akan tergoda sama sekali dengan Vero, tahunya...."
"Vero gitu lho, mana ada cowok yang bisa menaklukkan pesona gue, meskipun itu Bara sekalipun."
Ketiga gadis yang masih berdiri didepan kelas tersebut tidak menyadari kehadiran Bara yang kembali karna ada sesuatu yang ingin dia katakan sama Vero, pendengaran Bara masih berfungsi dengan sangat baik, Bara bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Tiar dan Rara barusan. Dada Bara bergemuruh, sakit rasanya mengetahui kalau gadis yang kini berstatus sebagai pacarnya itu hanya menjadikannya sebagai ajang taruhan saja, rahang Bara mengeras karna menahan emosinya, telapak tangannya mengepal.
Vero ingin menjelaskan kepada kedua sahabatnya kalau dia ingin membatalkan taruhan tersebut, dia ingin mengatakan kalau dia benar-benar mencintai Bara, namun sebelum hal tersebut terlaksana, Bara yang sejak tadi mendengar percakapan Vero dan kedua sahabatnya menyahut.
"Ohh, jadi selama ini lo mendekati gue sebagai ajang taruhan saja Ver."
Ketiga gadis itu langsung menoleh ke arah sumber suara.
Bara mendekat, wajahnya jelas menahan emosi sekaligus kepedihan.
Vero kaget karna Bara yang tiba-tiba kembali, dia berusaha untuk menjelaskan karna dia tidak ingin Bara salah paham, "Bara aku...tadi itu..."
"Aku tahu sejak awal kamu mendekatiku ada maksud tertentu Ver, hanya saja, aku tidak pernah menyangka kalau ternyata kamu dan teman-temanmu hanya menjadikan aku sebagai taruhan hanya untuk membuktikan kalau semua laki-laki bisa takluk dikakimu, benar-benar wanita jahat kamu Vero." suara Bara terdengar sangat dingin dan menusuk sampai ke tulang sehingga yang mendengarnya merinding.
Mata Vero berkaca-kaca, dia mencintai Bara, dia tidak ingin kehilangan Bara, oleh karna itu, Vero berusaha untuk menjelaskan semuanya sejelas-jelasnya supaya Bara tidak salah paham, "Bara itu tidak seperti yang kamu dengar, aku benar-benar men...."
"Mulai sekarang, kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi Vero, anggap kita tidak pernah saling mengenal." tandas Bara memotong ucapan Vero yang belum kelar, "Selamat tinggal Vero."
Setelah mengucapkan kalimat perpisahan, Bara kembali berbalik pergi, Bara berusaha menahan perih dan luka yang diciptakan oleh gadis bernama Veronica Salim, kalau dia seorang gadis, mungkin saat ini Bara sudah menangis, tapi bagi seorang laki-laki, pantang yang namanya menangis apalagu hanya gara-gara wanita.
"Baraaa." teriak Ver.
Vero yang tidak ingin hubungan yang baru dibangunnya bersama Bara berakhir begitu saja langsung mengejar Bara, dia ingin Bara mendengarkan penjelasannya karna Vero tidak ingin kehilangan Bara, dia benar-benar sangat mencintai laki-laki itu.
"Baraa."
Vero berhasil mengejar Bara dan mensejajarkan langkahnya dengan Bara.
"Dengarkan dulu penjelasan aku Bara, apa yang kamu dengar tadi tidak seperti yang kamu bayangkan Bara, aku benar-benar mencintaimu Bara, aku mohon, percayalah padaku." air mata Vero mengalir deras.
Bara terus berjalan tanpa mengindahkan apa yang dikatakan oleh Vero, Bara benar-benar marah dan tidak peduli lagi dengan gadis itu, Bara sangat menyesal mengenal Vero, dia juga merutuki kebodohannya yang mau-maunya diperdaya oleh gadis macam Vero.
"Baraaa, dengarkan aku Bara, jangan kayak gini." Vero berusaha menahan lengan Bara.
Bara melepaskan tangan Vero dari lengannya, Bara menatap Vero tajam dan mencengkram tangan Vero dengan kuat sehingga membuat Vero meringis kesakitan.
"Sakit Baraa."
"Lebih sakit hati gue yang lo permainkan." batin Bara.
"Jangan pernah lo sentuh gue lagi, gue gak sudi disentuh oleh gadis licik dan jahat kayak lo." Bara menghempaskan tangan Vero dengan kasar yang membuat tubuh Vero oleng dan terjatuh ke lantai.
Dan tanpa peduli sedikitpun dengan Vero, Bara kembali melanjutkan langkahnya dengan tubuh tegak, seolah-olah untuk memberitahu pada dunia, kalau apa yang telah dilakukan oleh Vero kepadanya tidak berpengaruh sama sekali untuk hidupnya.
"Baraaa, hiks hikss." Vero terisak melepas kepergian Bara yang tidak memperdulikannya.
"Baraaa."
Rara dan Tiar yang tadinya hanya jadi penonton berlari untuk menolong Vero.
"Vero, ya Tuhan, lo gak kenapa-napa." tanya Tiar khawatir melihat sahabatnya tergelelatak dilantai
Vero menggeleng, meskipun jatuh, secara fisik dia tidak apa-apa, hatinya yang nyesak karna Bara memutus hubungan yang baru saja terjalin.
Rara dan Tiar berusaha untuk membantu Vero berdiri.
"Ayok bangun Ver."
"Gue cinta sama Bara, gue benar-benar cinta sama dia." gumam Vero ditengah isakannya.
Sejak menyaksikan Vero mengejar Bara barusan dan melihat Vero berusaha menjelaskan kepada Bara, baik Tiar dan juga Rara tahu kalau sahabat mereka itu benar-benar mencintai Bara.
"Ver, mending kita masuk dulu ya, gak enak tuh anak-anak yang pada berlalu lalang pada lihatin elo."
"Sudahlah Ver, jangan nangis lagi, bentar lagi teman-teman yang lain akan pada berdatangan, ntar mereka pada kepo lagi kenapa lo nangis kayak gini." imbuh Rara.
"Iya, nanti pas perkuliahan berakhir, lo bisa menemui Bara dan jelaskan semuanya oke, nanti kita temenin elo deh dan ngebantu elo untuk menjelaskan semuanya sama Bara." sahut Tiar.
Tanpa mengindahkan kata-kata sahabatnya, Vero malah berdiri, dia tidak mau diam berpangku tangan, dia harus menemui Bara dan menjelaskan semuanya sama Bara, Vero benar-benar tidak ingin hubungannya yang baru dia bangun dengan Bara berakhir begitu saja.
Vero menghapus sisa air matanya, "Gue harus bertemu dengan Bara, iya gue harus menemuinya, gue harus menjelaskan semuanya kepada Bara, gue akan bilang sama Bara kalau gue benar-benar mencintainya, dan gue akan menjelaskan kalau gue berniat untuk membatalkan taruhan yang pernah kita sepakati."
Vero kemudian berlari menuju pintu keluar, Rara dan Tiar saling lirik sebelum berlari mengejar Vero.
"Verrr."
"Tunggu Verr, apa yang lo lakukan."
Namun Vero tidak mengindahkan panggilan kedua sahabatnya, dia juga tidak peduli dengan tatapan para mahasiswa yang menatapnya dengan rasa ingin tahu, yang Vero pedulikan saat ini adalah ingin bertemu dengan Bara, dia ingin menjelaskan semuanya sama Bara, itulah yang Vero inginkan saat ini.
Vero langsung masuk ke kelas Bara, dan kebetulan perkuliahan belum berlangsung, namun anak-anak dikelas itu sudah pada berdatangan yang membuat suasana kelas itu ramai. Mata Vero menjelajah setiap sudut ruang kelas tersebut namun dia tidak menemukan orang yang dia cari disana.
Teman-teman Bara termasuk Rama yang sudah sangat mengenal Vero menatap Vero yang berdiri didepan dengan bingung, pasalnya gadis yang senantiasa tampil cantik itu terlihat berantakan, namun Vero tidak memperdulikan tatapan teman-teman Bara tersebut.
Karna melihat Rama, Vero mendekati Rama karna setahunya Rama adalah sahabatnya Bara.
"Bara mana." tanya Vero sama Rama.
"Rama belum datang."
Rara dan Tiar datang menyusul, dua gadis itu langsung menyongsong ke arah Vero.
"Ver Ver, ayok kita pergi, gak enak tuh jadi tontonan orang-orang." Rara mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.
Tiar dan Rara menarik lengan Vero supaya keluar dari kelas yang isinya cowok semua.
"Ayok Ver keluar, lagian Baranya gak adakan."
"Bara pasti ada diperpustakaan, iya, dia pasti ada disana." kesimpulannya itu membuat Vero kembali berlari menuju perpustakaan.
"Verooo, astaga anak itu, apa sieh yang dia lakukan, kenapa dia jadi menggila begini." keluh Tiar mulai jengkel dengan tingkah sahabatnya tersebut.
"Tiar, ayok kejar Vero."
Dengan terpaksa Tiar kembali mengejar Vero menuju perpustakaan.
Namun ternyata, hasilnya tetap nihil, Bara juga ternyata tidak ada diperpustakaan, perpustakaan sepi melompong saat Vero masuk.
"Baraaa, lo dimana hiks hiks." Vero menangis saking putus asanya karna tidak bisa menemukan Bara dimanapun.
"Vero." Rara dan Tiar menghampiri Vero.
"Hiks hiks." Vero terisak dan memeluk Tiar, Tiar mengelus punggung Vero.
"Gue benar-benar mencintai Bara, gue gak ingin putus sama dia, hiks hiks."
"Bara saat ini lagi emosi Ver, biarkanlah hatinya tenang dulu, baru lo jelasin semuanya ke dia, dia pasti akan mengerti kok Ver." Tiar berusaha untuk menenangkan Vero.
Vero mengangguk, dia sangat berharap Bara mau mendengarkan penjelasannya.
*****
Bara memacu motornya dengan kecepatan tinggi membelah jalan raya ibu kota yang padat oleh kendaraan bermesin, dia tidak peduli akan keselamatan dirinya sendirinya, hatinya sangat sakit, dia merasa menjadi laki-laki paling bodoh sedunia karna Vero berhasil membodohinya, Vero mendekatinya, dan mengatakan cinta padanya, tahunya, gadis itu hanya menjadikannya sebagai taruhan belaka, Bara enar-benar merasa sangat sakit hati.
Entah berapa lama Bara memacu motornya sampai Bara menghentikan motornya, tahu-tahunya Bara sudah berada dipantai, pantai memang tempat yang selalu Bara tuju saat hatinya tengah resah atau hanya untuk mencari ketenangan saja, dan saat ini, kemarahannya pada Vero membawanya ke pantai, Bara ingin berteriak sekenceng-kencengnya supaya sesak dihatinya hilang.
Akhhhhhh
Akkkkkkk
"Dasar wanita sialaan, wanita licik, wanita jahat, gue benci sama elo, gue benci." Rangga berteriak mengeluarkan hal yang membuat hatinya sesak.
Ditengah teriakannya tersebut, Bara mendengar ponselnya berbunyi, Bara mengabaikannya karna dia yakin itu merupakan panggilan dari Vero, Bara benci sama gadis itu, dia benar-benar benci.
Bara berada dipantai beberapa jam untuk menenangkan fikirannya, sudah lebih dari 20 panggilan yang dia abaikan, dan juga pulahan chat yang juga masuk ke ponselnya yang dia abaikan juga, namun saat akan beranjak pulang setelah merasa agak tenang, tangannya tergerak untuk merogoh kantong jaketnya hanya untuk memeriksa panggilan dan chat tersebut dari siapa, meskipun Bara yakin, kalau panggilan dan chat tersebut sebagian besar berasal dari Vero.
Dan benar saja, 15 panggilan dari Vero, 3 dari Rama, dan duanya lagi dari bossnya dibengkel, Bara memutuskan untuk tidak bekerja hari ini, bagaimana dia mau bekerja kalau suasana hatinya saat ini dalam keadaan tidak baik-baik saja, Bara yakin bossnya sudah pasti akan marah atau lebih parah lagi mungkin akan memecatnya, tapi Bara tidak peduli, fikir Bara, terserah dia mau dipecat atau tidak.
Dan Bara memeriksa setiap chat masuk yang memang sebagian besar dikirim oleh Vero.
Vero : Bara, kamu dimana
Vero : Aku nyariin kamu dimana-mana, tapi kamunya gak ada
Bara : Bara Jawab a**ku**
Vero : Bara aky benar-benar cinta sama kamu
Bara tersenyum sinis membaca pesan tersebut.
Vero : Ayok ketemu, aku mau menjelaskan semuanya sama kamu, kalau apa yang kamu dengar tadi tidak seperti yang kamu bayangkan
Tangan Bara tergerak untuk membalas.
Bara : Jangan pernah hubungin gue lagi wanita licik, gue benci sama lo
Setelah mengirim pesan tersebut, Bara memblokir nomer Vero.
"Memang sudah seharusnya sejak awal gue tidak mengenal lo."
*****
Vero yang dalam kondisi galau setengah mati sepanjang hari ini hanya mengurung diri dikamarnya menunggu pesan belasan dari Bara, dan persedian tisu dirumahnya dia habiskan untuk menghapus air matanya dan juga ingusnya yang berleleran, kamarnya kini dipenuhi oleh sampah tisu yang berserakan dilantai.
"Baraaa, kenapa lo gak membalas pesan gue, menyebalkan sekali sieh lo." rutuk Vero memukul-mukul bantalnya.
"Sedih banget dah gue, baru pertama kali jatuh cinta udah kayak gini, hiks hiks"
"Nona, nona muda, makan dulu nona, nona belum makan lho sejak tadi siang." suara dari para pelayannya diluar berusaha untuk membujuknya.
Plakkk
Vero melempar bantal dengan lemparan yang sangat keras ke pintu yang membuat dua pelayan tersebut terkejut.
"Jangan ganggu gue, lo budek ya, jauh-jauh dari gua kalau lo gak mau gue makan."
"Astaga, apa sieh yang sebenarnya terjadi dengan nona muda, apa dia kesurupan."
"Ayok sebaiknya kita laporan sama pak Adi saja."
Dua pelayan yang sejak tadi membujuk Vero buru-buru turun ke bawah untuk melaporkan kondisi nona muda mereka kepada kepala pelayan rumah besar tersebut.
Saat mendengar suara notifikasi pesan masuk diponselnya, Vero langsung meraih ponselnya, dia sangat berharap itu adalah pesan dari Bara, dan memang benar itu pesan dari Bara, namun bunyi pesan itu membuat Vero seperti kesetrum listrik ribuan volt.
"Tidak tidak, Bara tidak boleh melakukan hal ini sama gue, dia tidak boleh membenci gue, tidak boleh." jeritnya frustasi.
Vero langsung menghubugi nomer Bara, sayangnya, nomer tersebut tidak aktif.
"Apa, jangan bilang dia memblokir nomer gue, sialan."
Akhhhhhhh
Vero berteriak dikamarnya, pak Adi yang berada ditangga bersama dengan dua pelayan lainnya tergesa-gesa naik ke atas, takut kalau terjadi apa-apa dengan nona muda mereka, dan tanpa mengetuk atau permisi terlebih dahulu, pak Adi langsung mendorong pintu kamar Vero saking khawatirnya dia mendengar teriakan tersebut.
"Nona, apa yang terjadi nona."
"Sialan, kenapa lo main masuk kamar gue seenaknya, keluar lo semua, gue benci lo semua, gue benci." Vero melempar bantal ke arah pak Adi, Vero benar-benar mengamuk.
"Iya nona, kami keluar." pak Adi dan dua pelayan yang mengikutinya buru-buru keluar kalau tidak mau kena lemparan entah apa itu yang bisa dijangkau oleh tangan Vero selanjutnya.
"Tuhkan pak Adi, pak Adi bisa lihat sendiri, nona itu kayak orang yang kesurupan."
"Apa pak Adi tidak memberitahu tuan besar saja tentang keadaan nona Vero." salah satu pelayan menyarankan.
"Jangan dulu, tuan tengah sibuk-sibuknya saat ini, takutnya nanti konsentrasi tuan terganggu kalau kita memberitahunya tentang kondisi nona Vero."
"Tapi kalau nona kenapa-napa gimana, kalau nona mati...."
Pak Adi menatap tajam pada pelayan tersebut, "Jaga ucapanmu itu."
"Iya pak Adi, maafkan saya, saya tidak bermaksud mendoakan nona mati." sik pelayan langsung membungkam bibirnya.
Kembali ke kamar Vero, "Tidak bisa kayak gini, gue harus menemui Bara dirumahnya, gue harus ketemu rumah Bara dan menjelaskan semuanya sama Bara."
Vero bergegas meraih jaket Bara dan mengambil tasnya, dengan berlari dia keluar kamar.
Tiga orang yang tengah rapat diluar kamar Vero langsung menoleh saat kamar Vero terbuka.
"Nona, nona mau kemana."
"Bukan urusan lo, kenapa sieh kerjaan lo nanya-nanya terus." Vero meradang.
"Tapi nona, nonakan....."
"Kalau lo keluarin satu haruf lagi dari bibir lo, gue pecat lo." ancam Vero yang kemudian langsung melesat turun.
"Nona."
Pak Adi dan dua pelayan lainnya langsung mengejar Vero.
"Saya mohon nona, nona jangan pergi, kondisi nona tidak dalam keadaan baik-baik saja." pak Adi sampai memohon begitu.
"Lo bukan papi gue, lo gak punya hak sedikitpun untuk ngelarang-ngelarang gue, jadi, sebelum lo benar-benar gue pecat, lebih baik lo menyingkir dari hadapan gue." bentak Vero.
"Tapi nona ditemani sama Muhlis ya nona." pak Adi berusaha bernegosiasi.
"Gue gak mau, gue mau pergi sendirian menemui Bara.
***