
Hiks
Hiks
Vero mulai menangis lagi, hal itu membuat Kafka khawatir karna berfikir kalau gadis itu kesakitan, dia mendekat dengan langkah lebar.
"Hei, apa yang terjadi Vero, kamu sakit ya, mana yang sakit." tanyanya penuh kelembutan.
"Sini." Vero memegang area dimana hatinya berada untuk memberitahu kalau hatinya yang sakit bukan fisiknya.
Kafka yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Vero tentu berfikir kalau area yang dipegang oleh Vero tersebut beneran sakit dalam artian sesungguhnya sehingga responnya begini, "Aku panggilkan dokter ya, tunggu sebentar."
Vero menggeleng, karna memang sakit yang saat ini dia rasakan bukanlah yang dibutuhkan adalah dokter medis melainkan dokter hati bernama Barathayudha Arkana, namun Vero tidak mungkin juga menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada dirinya sama Kafka mengingat Kafka hanyalah orang yang tidak terlalu dia kenal dekat, Kafka hanya seorang pemuda yang merupakan rekan kerja papinya saja.
Melihat gelengan Vero Kafka berkata, "Vero, biar dokter yang tangani ya agar gak sakit lagi." bujuknya.
Lagi-lagi Vero menggeleng, yang dia katakan adalah, "Apa aku boleh minta peluk kak Kafka." yah, selain yang dia butuhkan adalah Bara, Vero juga butuh pelukan, karna pelukan bisa membuat orang sedikit lebih tenang.
Agak heran sih Kafka mendengar permintaan Veri, Vero sakit, seharusnya yang dia butukan itu adalah
dokter, lha ini malah minta peluk, tapi toh Kafka dengan senang hati memberikan apa yang diminta oleh Vero, "Tentu saja Vero."
Kafka duduk didekat Vero dan memeluk gadis yang tengah menangis tersebut, fikir Kafka, mungkin saat ini Vero lagi bersedih karna merasa sendirian karna papinya tidak ada disampingnya, oleh karna itu Kafka inisiatif menghibur Vero, "Kamu jangan sedih ya Ver, ada aku disini, aku akan selalu ada untukmu dan menjagamu." sambil mengelus rambut Vero dengan lembut.
Apa yang dilakukan oleh Kafka membuat Vero sedikit lebih tenang sehingga membuat isakannya berhenti.
Karna demi menjaga Vero, Kafka tidak masuk kerja dan meminta Arya yang merupakan tangan kanannya untuk mengurus perusahaan selama dia tidak masuk, dia menjaga Vero bukan hanya karna amanat dari Amar Salim tapi juga karna dia ingin, dia ingin menjaga dan tetap berada disamping wanita yang dia cintai dan memastikan wanita yang dia cintai baik-baik saja.
"Vero, kita sarapan ya." tawarnya saat melihat Vero yang sudah sedikit lebih tenang.
Dalam pelukan Kafka Vero menggeleng, "Gak laper."
"Sarapan walaupun cuma sedikit meskipun kamu gak lapar, dipaksa ya agar kamu cepat sembuh dan bisa segera pulang." bujuk Kafka lembut dan penuh perhatian, Kafka seperti membujuk anak kecil saja.
Demi mendengar kata-kata sembuh, Vero tidak menolak lagi, dia membenarkan kata-kata Kafka, dia harus sembuh supaya bisa menemui Bara untuk menjelaskan kesalahpahaman ini kepada Kafka, karna dia tidak mungkin menghubungi Kafka mengingat nomernya telah diblokir.
Karna tidak mendengar penolakan Kafka kembali berkata, "Ayok kita sarapan, aku suapin mau."
Vero mengangguk manja yang membuat Kafka tersenyum.
Saat Kafka akan mengambil sarapan yang dibawakan oleh pihak rumah sakit, Vero menolak, "Gak mau yang itu, aku gak mau makan makanan rumah sakit, gak enak, hambar."
Kafka terkekeh, "Makanan ini sehat lo Ver, ini bagus untuk mempercepat proses penyembuhan kamu."
"Aku gak mau sarapan kalau yang itu." Vero keras kepala.
"Baiklah baiklah, kita sarapan bubur yang tadi aku beli saja ya."
"Hmmm."
Vero sarapan dengan disuapin oleh Kafka, Vero makannya lahap meskipun tadi dia bilang gak lapar, bahkan sampai bubur itu tidak bersisa sama sekali, dan hal itu membuat Kafka tersenyum, "Nah, sekarang minum obat oke."
"Gak mau, obatnya pahit." Vero benar-benar manja deh.
"Yang namanya obat tentu saja pahit Veronica, kalau yang manis itu namanya permen."
"Ayok minum obatnya, setelah itu istirahat ya, bukannya kamu ingin sehatkan."
"Hmmm."
Vero mengambil pil yang disodorkan oleh Kafka dan menelannya dengan bantuan air putih untuk memudahkan pil itu masuk ke tenggrokannya.
"Good girls." Kafka mengelus rambut Vero.
Vero memang agak nurut sama Kafka, coba kalau disuruh sama pak Adi, sudah bisa dipastikan kalau gadis itu gak akan mau dan akan membentak pak Adi habis-habisan.
"Nah Vero, ayok sebaiknya kamu istirahat sekarang, aku menunggumu disini."
Vero mengangguk patuh, Kafka membantu Vero membaringkan tubuhnya dibankar dan menarik selimut untuk Vero sampai sebatas dada.
Saat Vero sudah mulai terlelap, Bara berjalan menuju sofa yang ada diruangan inap tersebut, dia membuka leptopnya dan bekerja sambil menunggu Vero.
*****
Sore harinya, Vero mendapat kunjungan dari kedua sahabatnya yaitu Tiar dan Rara.
"Hai Vero." sapa Tiar begitu melihat sahabatnya itu duduk bersandar dibankar.
Kedua gadis itu agak terkejut saat melihat Kafka juga ada diruangan Vero.
"Ehh ada kak Kafka juga ternyata." ujar Rara saat melihat Kafka duduk disofa.
"Hai Tiar, hai Rara." sapa Kafka dengan senyum ramahnya, "Kalian mau jenguk Vero ya."
"Iya kak Kafka."
Kafka berdiri dan berjalan mendekati Rara dan Tiar, "Karna kalian disini, bisakah saya menitip Vero sebentar, saya mau keluar sebentar."
"Oh, tentu saja bisa kak."
"Vero, aku keluar sebentar ya."
Vero mengangguk menanggapi ucapan Kafka.
"Apa ada yang ingin kamu titip."
Vero menggeleng.
"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu." pamitnya berjalan ke pintu keluar.
"Bye kak Kafka." Rara yang sejak awal menyukai Kafka melambai melepas kepergian Kafka.
Tiar dan Rara kemudian berjalan mendekati Vero.
"Nieh Ver, kami bawain buah untuk lo." Rara meletakkan parcel buah yang dia bawa dinakas, "Dimakan ya agar lo cepat sembuh."
"Hmmm."
Tiar dan Rara menarik kursi dan duduk didekat bankar tempat Vero berada.
"Lo berdua tadi bertemu Bara gak dikampus." tanyanya saat kedua sahabatnya itu duduk.
"Gak." jawab Rara dan Tiar kompak.
"Kami gak bertemu Bara Ver."
Vero mendesah berat, wajahnya terlihat sendu.
"Permasalahan yang kemarin belum kelar Ver, lo belum ngejelasin yang sebenarnya sama Bara." cecar Tiar.
Vero mengangguk, "Bara benar-benar marah sama gue, dia tidak mau menjawab telpon gue, mengabaikan chat gue, dia bahkan memblokir nomer gue, sedih tahu gak gue." curhat Vero, matanya sudah mulai berkaca-kaca, "Gue benaran cinta sama Bara, dia cowok pertama yang benar-benar membuat gue jatuh cinta."
Rara dan Tiar saling melempar pandangan, mereka ikut prihatin dengan kondisi Vero saat ini, mereka bertiga tentunya tidak ada yang menyangka kalau ulah iseng mereka menjadikan Bara sebagai taruhan membuat Vero jatuh cinta beneran sama cowok itu.
"Semalam, gue datang ke rumahnya, gue ingin menjelaskan semuanya, tapi, dia dan ibunya tidak ada dirumah."
Tiar berdiri dan duduk disamping Vero, Tiar merangkul sahabatnya untuk memberi penguatan, Vero membaringkan kepalanya dibahu sahabatnya itu, yang saat ini Vero butuhkan adalah sandaran.
"Lo yang sabar ya Ver, kami janji sama elo, kami akan membantu elo untuk menjelaskan semuanya sama Bara."
Vero mengangguk.
"Ver, maaf nieh kalau gue membahas hal yang diluar topik." intrufsi Rara, "Kok Kafka ada disini sieh, apa dia yang jagain lo dari kemarin." Rara bertanya untuk menyuarakan keingintahuannya.
"Iya, dia yang nungguin sejak semalam."
"Lo yang ngasih tahu dia kalau lo dirumah sakit."
"Papi gue yang nelpon dia memintanya untuk jagain gue."
"Baik banget ya kak Kafka itu."
"Makanya, lo deketin dia gieh, limited edition tuh."
Rara menggeleng, dalam hati berkata, "Mana bisa gue deketin cowok yang sukanya sama elo, dasar Vero bahlul, sejelas itu kak Kafka nunjukin rasa sukanya sama elo tapi lo gak bisa lihat, di otak lo hanya ada Bara, Bara dan Bara doank."
"Ver, menurut gue ya." Tiar menimpali, "Kalau Bara masih tetap marah sama elo dan dia gak mau maafin elo, sebaiknya lo sama kak Kafka saja deh."
Vero menarik kepalanya dari bahu Tiar, dia memandang Tiar seolah-olah Tiar menyuruhnya untuk lompat dari jurang, "Jangan aneh-aneh lo Tiar."
"Apanya yang aneh sieh Ver, ya kalau menurut gue pribadi sieh ya, ngapain gitu lo ngejar-ngejar cowok secuek Bara, ya mendingan sama kak Kafka saja kali, kak Kafkakan dewasa banget orangnya, baik dan perhatian lagi."
"Tapi gue cintanya sama Bara, bukan sama kak Kafka, gimana sieh lo, ya gak mungkin juga gue mau sama kak Kafka, gue sudah menganggap kak Kafka sebagai kakak gue sendiri, lagiankan Rara suka sama kak Kafka, ya kan Ra."
"Iya gue emang suka, tapi kak Kafka sukanya sama elo." jawab Rara dalam hati, jawabnya dilisan, "Udah gak kok, jadi lo gak usah merasa gak enakan gitu sama gue kalau lo mau sama kak Kafka."
"Udah gue bilang gue gak mau, kenapa sieh lo berdua nyuruh-nyuruh gue sama kak Kafka, lagian kak Kafka juga udah nganggep gue kayak adiknya sendiri, ya gak mungkinlah dia mau sama gue."
"Dasar Vero tolol, dia gak bisa lihat apa kak Kafka menyukainya." ujar Tiar dalam hati.
"Ehh Ra, ambilin ponsel gue donk." pinta Vero sama Rara saat ponselnya berdering.
Rara meraih ponsel Vero yang tergeletak dinakas dan menyerahkannya sama Vero.
"Siapa yang nelpon gue Ra."
"Papi lo." beritahu Rara.
"Halo papi."
"Sayang, bagaimana keadaan kamu, maafkan papi ya nak karna gak bisa pulang, papi gak bisa ninggalin kerjaan disini, tapi papi berjanji akan secepatnya pulang."
"Gak apa-apa pi, ada kak Kafka yang nemenin aku disini, jadi papi tidak perlu khawatir." lapor Vero sama papinya.
"Ohh syukurlah, anak itu benar-benar baik dan bisa diandalkan."
"Papi, beliin tas ya kalau papi nanti pulang."
"Iya sayang, nanti papi belikan, sama pabriknya sekalian."
"Ahh papi ini terlalu berlebihan."
"Baiklah sayang, papi tutup dulu, kamu sebaiknya istirahat supaya cepat sembuh."
"Baik pi."
"Bye sayang, love you."
"Love you to papi."
"Papi kapan pulangnya Ver." Rara bertanya begitu Vero memutus sambungan.
"Gak tahu, tapi seih papi bilang secepatnya."
Tiar dan Rara cukup lama menemani Vero dirumah sakit, ketiga sahabat itu membicarakan tentang banyak hal, kehadiran kedua sahabatnya itu seenggaknya membuat Vero sedikit terhibur dan tidak terlalu memikirkan Bara lagi, sampai ketika Kafka kembali, Tiar dan Rara pamit pulang.
"Cepat sembuh ya Ver, kampus sepi tanpa lo." gumam Tiar sebelum pergi.
Rara menimpali, "Pak Agus juga katanya merindukan lo tuh." canda Rara.
"Pak Agus itu sukanya sama lo Ra, bukan gue."
"Udah ah Ra, jangan ngegibahin pak Agus terus, kasihan pak Agus ntar bibirnya dia gigit lagi." tandas Tiar.
"Ok ya Ver kami balik dulu, kak Kafka kami balik ya."
Kafka tersenyum, "Hati-hati ya Tiar, Rara."
"Oke kak, titip Vero ya kak, kalau anak itu rewel atau nakal, jewer saja dia kak."
"Udah sana pada pergi lo berdua." usir Vero.
"Iya iya, ini kami pergi."
"Mereka lucu ya Ver." komen Kafka begitu pintu tertutup dari luar.
"Iya cantik-cantik, tapi cantikan kamu."
"Ohh, itu sieh gak perlu diragukan lagi donk."
Bara terkekeh mendengar jawaban Vero.
"Dari kedua gadis itu, kak Kafka sukanya yang mana."
"Maksudnya." Kafka mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Vero.
"Iya kak Kafka suka yang mana antara Tiar dan Rara."
"Kalau aku suka kamu boleh gak."
"Hahha." Vero tertawa menanggapi ucapan Kafka, di fikirnya Kafka hanya bercanda.
Kafka juga ikutan tertawa.
"Kak Kafka kak Kafka, ada-ada saja deh kakak ini." Vero geleng-geleng.
"Dia fikirnya aku bercanda apa." desah Kafka dalam hati.
****
Saat ini Rama berjalan di koridor rumah sakit, tangannya membawa parcel sebagai buah tangan untuk menjenguk ibunya Bara, tadi pagi Bara menelponnya supaya memintakan izin sama dosen karna dia tidak bisa masuk kuliah karna menjaga ibunya yang tengah sakit. Dan sepulang kuliah Rama berniat untuk menjenguk ibu Hamidah ibunya Bara dirumah sakit.
Saat berjalan dirumah sakit, Rama melihat Vero yang berjalan berlawanan arah dengannya, Vero terlihat berjalan dengan dua orang laki-laki, laki-laki itu adalah Kafka dan pak Adi yang sengaja datang ke rumah sakit untuk menjemput Vero karna dia sudah diizinkan pulang oleh dokter.
"Itu Verokan." gumam Rama memperhatikan Vero, "Dia ngapain dirumah sakit, dan sama siapa dia itu."
Vero tidak memperhatikan sekelilinganya sehingga dia tidak melihat Rama, barulah saat Rama menyapanya dia menoleh.
"Vero."
Karna namanya dipanggil otomatis Vero menoleh, "Lo..." Vero berusaha mengingat-ingat nama temannya Bara itu.
"Gue Rama Ver, sahabatnya Bara."
"Oh iya Rama, astgaa, lo ngapain disini Rama." Vero agak antusias melihat Rama.
"Siapa Ver." tanya Kafka penasaran sebelum Rama menjawab pertanyaan Vero.
"Teman." jawab Vero seadanya.
"Mmm, kak Kafka, pak Adi, bisakah kalian tunggu dimobil dulu, aku mau ngobrol sama Rama sebentar."
"Tapi nona, nonakan.."
"Aku bilang tungguin dimobil pak Adi." ketus Vero yang tidak suka dibantah.
"Baiklah Vero, saya dan pak Adi akan menunggumu dimobil oke." putus Kafka penuh pengertian untuk memberikan privasi sama Vero untuk ngobrol berdua dengan Rama.
"Terimakasih kak Kafka."
"Ayok pak Adi kita tunggu dimobil saja."
Saat dilihatnya pak Adi akan membantah, Kafka mendahuluinya dengan berkata, "Gak apa-apa pak Adi, Vero sudah baik-baik saja dan saya yakin dia tahu jalan menuju parkiran, iyakan Vero."
"Iya, pak Adi mending duluan saja, aku ada perlu dengan teman aku sebentar."
"Baiklah nona." pasrah pak Adi, padahalkan dia masih khawatir dengan kondisi nona mudanya itu dan kalau bisa tidak mau meninggalkannya.
"Jadi." Vero memulai saat Kafka dan pak Adi sudah pergi, "Lo ngapain disini Rama." Vero mengulangi pertanyaannya.
"Gue jengukin ibu Hamidah."
"Ibunya Bara maksud elo."
Rama mengangguk.
"Bara dan ibunya dirumah sakit ini, mereka kenapa."
"Bukan mereka, tapi ibu Hamidah, dia dirawat sejak dua hari yang lalu dirumah sakit ini karna sesak nafas."
"Bara ternyata disini, gue dan dia begitu sangat dekat ternyata."
"Lo sendiri ngapain disini Ver." Rama balik nanya.
"Gue juga dirawat disini."
"Lo dirawat disini juga."
"Iya, tapi sekarang gue sudah diizinkan untuk pulang."
"Ohh, syukurlah."
"Ram, gue ikut lo ketemu Bara dan ibunya ya."
"Baiklah, ayok." ajak Rama yang diikuti oleh Vero, dua orang itu berjalan bersisian.
Hati Vero berdebar hebat saat membayangkan pertemuannya dengan Bara, dua hari tidak bertemu dengan Bara dan tanpa komunikasi apapun membuat Vero kangen, dia ingin melihat Bara, dia ingin memeluk Bara dan mengatakan sama laki-laki itu kalau dia sangat mencintainya, Vero berharap Bara sedikit lunak dan mau diajak bicara dan mendengar penjelasannya.
Vero berhenti sejenak untuk menenangkan debaran jantungnya yang bertalu-talu, sejujurnya, dia agak grogi.
Rama yang tidak melihat Vero berjalan disampingnya menoleh ke belakang, "Ver, ayok, kenapa lo malah berhenti."
"Iya." jawabnya dan kembali melanjutkan langkahnya menyusul Rama.
Jantung Vero semakin berdetak tidak karuan saat Rama akan mendorong kenop pintu dimana kamar tempat ibunya Bara dirawat, Vero sibuk memikirkan kata-kata yang akan dia katakan saat bertemu dengan Bara.
*****
Saat ini Bara tengah mengupas kulit jeruk untuk ibunya saat pintu dibuka, Bara dan ibu Hamidah reflek menoleh ke arah pintu.
"Hai Bara, hai ibu." Rama menyapa,
"Rama." gumam Bara karna tidak menyangka kalau sahabatnya itu akan datang.
"Coba tebak gue bawa siapa."
Bara mengerutkan keningnya, berfikir bahwa, Rama datang bersama siapa, dan dia tidak punya gambaran sama sekali siapa yang saat ini datang bersama dengan Rama.
"Emang lo datang sama siapa."
"Tadaaa." Rama menggeser tubuhnya sehingga memperlihatkan Vero yang tersenyum kaku dan tengah memilin-milin jari tangannya.
Rahang Bara langsung mengeras begitu mengetahui kalau Rama datang bersama dengan gadis yang tidak pernah ingin dilihatnya.
"Kejutan." gumam Rama tidak bisa membaca ekpresi wajah Bara, di fikirnya Bara akan senang apa dengan kehadiran Vero.
Vero tahu Bara masih marah, itu terlihat sangat jelas dari pancaran mata Bara yang menatapnya dengan pandangan permusuhan, hal itu membuat Vero semakin salah tingkah, namun dia berusaha untuk menyapa.
"Hai Bara, hai ibu, aku harap kehadiranku tidak mengganggu."
Jawab Bara dalam hati, "Tentu saja kehadiran elo mengganggu."
Ibu Hamidah yang tidak tahu menahu tentang permasalahan yang dihadapi antara anaknya dan Vero tentu saja menyambut dengan antusias kehadiran Vero.
"Vero, ayok kemari nak." panggil Hamidah yang tidak menyangka kalau gadis itu akan datang menjenguknya.
Hati Vero agak menghangat melihat sambutan ramah ibu Hamidah, dia melangkahkan kakinya mendekati ibu Hamidah yang saat ini tengah duduk bersandar dibankar.
Rama ikut mengikuti Vero masuk, Rama menyerahkan bingkisan yang dibawanya kepada Bara.
"Ini sedikit buah tangan untuk ibu Bara."
"Kamu ini repot-repot segala Rama, kalau kamu mau datang ya datang saja, gak usah bawa apa-apa." lirih ibu Hamidah yang merasa tidak enak.
"Gak repot kok, cuma buah doank."
Vero tidak berani melihat ke arah Bara yang sejak tadi memberinya tatapan tajam sampai ibu Hamidah memintanya untuk duduk.
"Nak Vero, ayok duduk." ujarnya menunjuk kursi yang diduduki oleh Bara barusan.
"Iya ibu."
"Rama, ikut gue." perintah Bara, dia ingin mengintrogasi sahabatnya itu.
"Mau kemana sieh, gue baru juga datang." protes Rama.
Bara menatap Rama tajam yang membuat Rama tidak bisa membantah.
"Oke oke, gue ikut lo, tapi bisa tidak matanya tidak perlu melotot gitu, bikin gue takut saja."
Tanpa mengindahkan kata-kata Rama, Bara meminta izin sama ibunya, "Ibu, tunggu sebentar ya, ada hal yang akan Bara bicarakan dengan Rama."
Ibu Hamidah mengangguk.
Bara kemudian berjalan keluar yang diikuti oleh Rama, Rama bertanya-tanya dalam hati, ada apa gerangan yang ingin dibicarakan oleh sahabatnya itu sampai tidak boleh didengarkan oleh orang lain.
"Terimakasih ya nak kamu mau datang menjenguk ibu, ibu sangat senang melihatmu."
Vero tersenyum tipis menanggapi kata-kata ibu Hamidah, dia senang ternyata wanita itu tetap sama, masih ramah dan baik kepadanya, "Sebenarnya aku tidak sengaja ketemu Rama dirumah sakit ini ibu, begitu Rama bilang dia ingin menjenguk ibu, Vero menawarkan diri untuk ikut."
"Kamu ada dirumah sakit ini, siapa yang sakit."
"Aku ibu, hari ini aku sudah dibolehkan untuk pulang oleh dokter dan kebetulan aku bertemu dengan Rama saat Rama baru tiba dan aku dalam perjalanan pulang." Vero menjelaskan.
"Kamu sakit juga, astaga, pantas saja wajah kamu terlihat pucat sayang." ibu Hamidah mengelus pipi Vero.
"Tapi sekarang aku sudah baik-baik saja ibu."
"Syukurlah nak."
"Vero berharap, ibu cepat sembuh ya dan cepat pulang dari rumah sakit."
"Amin, terimakasih doanya sayang."
******
Bara berjalan agak menjauh dari ruangan ibunya dirawat dan berjalan ke tempat yang agak sepi, dan setelah memastikan kalau pembicaraan mereka tidak akan didengarkan oleh siapa-siapa, barulah Bara berhenti, Rama juga reflek menghentikan langkahnya.
Bara berbalik menghadap Rama, "Jadi, kenapa lo bawa gadis itu ikut kesini."
"Vero maksud lo."
"Emang berapa banyak gadis yang lo bawa hah." ketus Bara tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.
"Santai donk bro, gak usah ngegas gitu."
"Lo tahukan kalau gue dan dia gak akur."
"Iya gue tahu...."
"Kalau lo tahu, terus kenapa lo ajakin dia."
"Duhhh bisa gak sieh lo gak usah main potong ucapan orang, guekan belum kelar ngomongnya." kesal juga sik Rama karna Bara sejak tadi bawaannya ingin marah-marah terus dan menyalahkannya.
"Gue dan Vero tidak sengaja ketemu dirumah sakit ini."
"Kalian bertemu disini."
"Dia bilang sieh dia habis dirawat juga dan hari ini dia sudah diperbolehkan pulang." jelas Rama.
"Dia sakit, sakit apa." terbersit rasa kasihan dihati Bara saat mengetahui kalau Vero sakit.
Rama melanjutkan penjelasannya yang belum kelar, "Nah, kami tidak sengaja bertemu, dia nanya ke gue mau jengukin siapa, gue bilang donk mau jengukin ibu lo dan dia memaksa ingin ikut, jadi, itu bukan salah guekan Bar."
Bara mendesah berat, Bara memang membenarkan kalau itu bukan kesalahan Rama.
****