
"Lepasin gue brengsek, jangan sentuh gue." Vero berontak, dia benar-benar jijik disentuh oleh Saga.
"Ayolah sayang, nikmati saja semua ini, aku akan memberikan suatu hal yang tidak akan pernah kamu lupakan seumur hidupmu." Saga menjilat telinga Vero.
Vero yang sudah tidak tahan menggigit tangan Saga.
"Akkhhh." Saga berteriak kesakitan dan reflek melepaskan tangannya yang memeluk tubuh Vero dan membalikkannya ke arahnya.
"Wanita sialan." umpat Saga
Plakkk
Saga melayangkan tangannya untuk menampar Vero, tamparan itu sangat keras sehingga membuat tubuh Vero oleng dan sampai jatuh terjerembab ke tanah.
"Awwhhh."
Vero memegang pipinya yang terasa panas, bersamaan dengan darah yang mengalir dari sudut bibirnya, air matanya juga jatuh mengaliri pipinya, Selain merasa terhina dengan perlakuan Saga, dia juga sangat sedih karna ini untuk pertama kalinya dia kasari begini, bahkan papinya sendiri tidak pernah menyakitinya seujung kukupun, dan laki-laki brengsek ini dengan tidak tahu malunya melukainya.
Dan belum hilang kekagetan Vero karna mendapat tamparan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, kini Saga menindihnya dan berusaha untuk melepaskan baju Vero dengan kasar.
"Lepasin lepasin." Vero berontak dengan sekuat tenaga yang dimiliki.
"Semakin kamu melawan, aku akan semakin bernafsu untuk menyentuhmu sampai titik terdalam tubuhmu." Saga tersenyum puas melihat Vero yang tidak berdaya.
"Lepasin gue, hiks hiks, gue mohon Saga." Vero hanya menghiba dan memohon karna dia tahu tidak mungkin melawan Saga karna jelas tenaganya tidak ada bandingannya dibanding Saga.
"Diamlah sayang, nikmati setiap sentuhan yang akan aku berikan kepadamu, dan aku yakin kamu pasti akan melayang ke surga dan pasti akan ketagihan."
Kata-kata Saga membuat Vero benar-benar jijik sehinga dia meludahi wajah Saga, dan tentu saja hal tersebut membuat Saga semakin murka sehingga tangannya kembali menampar Vero bolak balik.
Plak
Plak
"Sepertinya lo benar-benar minta gue untuk main kasar Veronica, baiklah, akan gue turutin apa yang lo inginkan." Saga tersenyum jahat, dia mulai membuka resleting celananya.
"Tidakkk, jangan Saga gue mohon, tolongggg, tolonggggg."
"Hahaha, berteriaklah minta tolong sampai bibir kamu berbusa Vero, disini gak akan ada yang mendengar teriakan minta tolong elo."
*****
Bara mengacak-ngacak rambutnya yang
sudah mencapai kerah, wajah frustasi jelas tergambar diwajah tampannya, hal ini disebabkan karna tiba-tiba tanpa ada angin, lebih-lebih lagi tanpa ada badai, beasiswa yang selama ini susah payah dia perjuangkan dicabut begitu saja tanpa alasan yang jelas oleh pihak kampus, dekanpun tidak menjelaskan dengan alasan yang jelas kenapa beasiswa itu dicabut, padahal selama ini nilai-nilai Bara selalu tinggi dan selama kuliah dia selalu berkelakuan baik dan tidak pernah membuat masalah, Bara merasa ada kejanggalan disini, tapi kejanggalan apa itu, Bara jelas saja tidak tahu, dan hal itu membuat Bara ingin berteriak dan menonjok sesuatu, tapi untungnya Bara memilik pengendalian diri yang sangat baik sehingga untuk sementara dia bisa menahannya, dia tidak mungkin meluapkan emosinya ditempat umum seperti ini sehingga satu-satunya tempat yang saat ini terfikirkan olehnya adalah gudang belakang kampus, oleh karna tergerak untuk menyalurkan emosinya Bara melangkahkan kakinya menuju gudang kosong dibelakang kampus yang tidak berpenghuni, fikir Bara itu adalah tempat dimana dia bisa menyalurkan emosinya sepuasanya.
"Sialan, apa sieh yang sebenarnya terjadi, kenapa tiba-tiba beasiswa gue tiba-tiba bisa dicabut begini." rutuknya sambil menendang kaleng-kaleng bekas yang dijumpainya sepanjang perjalanan menuju belakang kampus.
Sayup-sayup, Bara bisa mendengar suara teriakan minta tolong, namun tidak terlalu dia perdulikan karna dia fikir itu adalah suara mahluk gaib yang sering bersileweran digudang belakang.
Namun semakin dekat, suara tersebut semakin jelas terdengar di indra pendengaran Bara sehingga Bara makin mempercepat langkahnya untuk mencaritahu asal suara minta tolong tersebut.
Bara menghentikan langkahnya saat melihat pergumulan yang dilakukan oleh dua anak manusia beberapa meter didepannya, dan setelah terpaku beberapa saat, Bara mengenali dua orang tersebut.
"Veroooo." desisnya saat mengenali gadis yang ditindih oleh Saga.
Bara dengan langkah cepat mendekat dan Bara langsung menarik kerah baju Saga, mata Bara menyala sempurna menatap Saga.
Sedangkan Vero langsung terduduk begitu terbebas dari kungkungan Saga, dia menyilangkan kedua tangannya didadanya yang agak terekpos karna ulah Saga yang merobek pakaiannya, penampilan Vero benar-benar berantakan.
"Hiks hiks." Vero terisak.
Bara reflek menoleh ke arah Vero, hati Bara hancur dan sakit saat melihat gadis yang sangat dia benci sekaligus dia cintai itu terlihat begitu berantakan, apalagi saat melihat sudut bibir Vero yang berdarah, belum lagi pipi putih mulus Vero yang terdapat stempel lima jari Saga.
"Setan lo, lo apain gadis gue hah." murka Saga dan melayangkan kepalan tangannya dengan kuat diperut Saga.
Bukk
Bara tanpa sadar menyebut Vero dengan panggilan gadisku.
Ukhuk
Ukhuk
Saga terbatuk-batuk saat kepalan tangan Bara menghantam perutnya yang membuat bagian dalam tubuhnya terasa ngilu.
"Sialan, laki-laki macam apa lo yang tega menyakiti perempuan, benar-benar anjing lo."
Buk
Buk
Saga berusaha melawan, sayangnya, pukulannya berhasil ditangkis oleh Bara, dan Bara kembali melayangkan tendangannya di perut Saga membuat laki-laki itu jatuh tersungkur ke tanah.
Bara tidak ingin Vero mengalami hal seperti ini, tapi disisi lain dia punya alasan untuk memukul Saga untuk menyalurkan emosinya yang sejak tadi ditahan.
Dan tanpa ampun, Bara meraih kerah baju Saga dan kembali melayangkan kepalan tangannya bertubi-tubi diwajah Saga, dan kini Saga sudah tidak berdaya karna amukan Bara.
Vero yang shock dengan perbuatan Saga kepadanya mulai sadar akan apa yang dilakukan Bara, Vero memang menginginkan Saga mati, tapi dia juga tidak ingin Bara masuk penjara, oleh karna itu dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, Vero berlari ke arah Bara yang tidak ada tanda-tandanya menghentikan pukulannya kepada Saga meskipun laki-laki itu terlihat sudah mau mati.
"Baraa, hentikan Bar, Baraa, hentikan, kamu bisa membunuhnya Bara."
Entah tidak mendengar atau tidak peduli dengan peringatan Vero sehingga Bara terus memukul Saga.
Vero kemudian memeluk tubuh Saga dari belakang berharap laki-laki yang dia cintai itu berhenti memukul Saga.
Melihat tangan mungil yang melingkari tubuhnya membuat Bara reflek menghentikan apa yang dia lakukan, Bara bisa merasakan bahu bergetar karna suara isakan.
"Hikss hikss, hentikan Bara, aku tidak ingin kamu sampai masuk penjara gara-gara aku, hikss hiks."
Bara memegang tangan Vero, pelukan Vero membuatnya tersadar dari amarah yang menguasainya, "Vero." desis Bara tanpa suara, saat memegang tangan gadis itu, Bara baru menyadari betapa dia sangat merindukan Vero, "Aku merindukan kamu Vero." batinnya.
Melihat Bara sudah tenang, Vero menyandarkan kepalanya dipunggung Bara, karna yang saat ini yang dia butuhkan adalah sandaran, dan punggung orang yang kita cintai merupakan tempat bersandar ternyaman.
"Jangan bunuh dia Bara, jangan kotori tanganmu untuk membunuh sik brengsek itu." suara Vero terdengar sangat lemah.
Bara melepaskan tangan Vero dan berbalik menghadap Vero, dari jarak sedekat ini dia bisa melihat wajah gadis yang dia cintai dengan jelas, stempel lima jari dari tangan Saga masih tercetak dengan sangat jelas, sudut bibir Vero yang masih mengeluarkan darah segar, kombinasi itu mampu membuat Bara kembali murka, dia benar-benar tidak terima wanita yang dia cintai disakiti dengan sedemikian rupa oleh laki-laki brengsek seperti Saga.
"Gue bunuh lo sialan." Bara kembali berbalik dan berjongkok memukul Saga yang sudah tidak berdaya.
Buk
Buk
"Baraa, hentikan Baraa, aku mohon hentikan, demi aku, Baraa, hentikan." Vero kembali memeluk Bara dari belakang sambil memohon.
"Brengsekkk." umpat Bara, "Kalau bukan karna Vero, sudah gue kirim lo ke neraka."
"Bar, sudah Bar." Vero kembali terisak dipunggung Bara.
Bara kembali berbalik, dia memeluk tubuh Vero yang bergetar hebat karna takut.
"Kamu jangan takut, ada aku disini." Bara berbisik untuk menenangkan Vero.
Vero mengangguk, "Aku gak takut lagi Bara, karna aku tahu kamu sudah ada disini untuk melindungiku."
Saat Bara mengurai pelukannya, Bara bisa melihat bagian dada Vero yang putih mulus terekpos, pemandangan indah tersebut membuat Bara menelan ludahnya, sebagai laki-laki normal tentu saja Bara menegang.
"Sialan." umpatnya tanpa sadar.
"Kenapa Bara." tanya Vero tanpa dosa, dia tidak menyadari kalau kulit putih mulusnya yang terekpos membuat kaum adam kelimpungan.
Bara langsung melepaskan jaketnya dan menutupi bagian depan tubuh Vero, "Tutup tuh, takutnya nanti aku juga khilaf."
"Astaga." Vero langsung menyilangkan tangannya didada, padahal dadanya sudah tertutup sempurna oleh jaket Bara.
"Sudah telat nutupnya, aku sudah lihat dengan jelas."
Vero hanya merengut.
"Sebaiknya kita pergi dari sini."
Vero mengangguk.
Bara berjalan duluan, Vero akan mengikuti Bara, namun Vero baru merasakan sekarang kalau kakinya terasa sakit yang membuatnya kesulitan untuk berjalan, dia ingin minta tolong sama Bara, tapi dia malu sehingga dia mengurungkan niatnya.
Bara yang tidak melihat Vero disampingnya menoleh ke belakang dan menemukan Vero masih tetap ditempatnya, dia mendekati Vero dan tanpa basa-basi mengangkat tubuh Vero dengan entengnya.
"Terimakasih Bara." ucap Vero malu-malu.
Bara kembali berjalan tanpa menghiraukan ucapan Vero.
Vero melingkarkan tangannya dileher Bara dan mengistirahatkan kepalanya didada bidang Bara.
"Aku mencintai kamu Bara." desis Vero berbisik yang masih bisa didengar oleh Bara.
"Aku juga mencintai kamu Vero." Bara hanya membalas dalam hati.
****