
"Ya Tuhan, dia begitu sangat tampan." puji Rara saat melihat Kafka dengan kaca mata minus yang membingkai mata laki-laki tersebut dan yang kini tengah berjalan menghampiri Vero.
"Di jomblo lho Ra, jadi kalau benar-benar menginginkan kak Kafka, peper saja dia."
"Memang dia jomblo, tapi dia sukanya sama lo Ver, percuma saja kalau dipeper." jawab Rara dalam hati, sedangkan jawabnya dilisan, "Gak deh Ver."
"Lho, kenapa gak, bukannya lo suka kak Kafka ya."
"Gak aja, gue mau fokus kuliah sajalah dulu, gak mau pacar-pacaran gitu supaya nilai gue gak anjlok." Rara memberikan alasan bohong.
"Terserah lo deh, tapi jangan nyesal ya kalau kak Kafka di embat sama cewek lain, cowok kayak kak Kafka banyak yang mau lho Ra, secara ganteng, muda, kaya raya lagi."
"Gue gak akan nyesal kok."
"Terserah elo deh."
"Hai Vero, hai Tiar, hai Rara." Kafka menyapa ramah komplit dengan senyum yang sangat manis yang mengalahkan manisnya gula tebu.
"Hai kak Kafka." balas ketiga gadis itu kompak menjawab sapaan Kafka.
"Kita berangkat sekarang Ver."
"Iya kak."
"Gue duluan ya, bye Tiar, bye Rara."
"Bye Ver." Rara dan Tiar melambai melepas kepergian Vero.
"Kami pergi duluan ya." Kafka juga pamit.
"Iya kak Kafka."
Rara memandang punggung Kafka dengan pandangan nelangsa.
"Lo benar Tiar, kak Kafka itu menyukai Vero, itu terlihat dari caranya memperlakukan Vero, resiko ya punya sahabat cantik, setiap cowok yang kita sukai selalu saja menyukai Vero."
"Sudah gak usah bergalau ria begitu Ra, noh, cowok-cowok dikampus kita seabrek yang bisa lo pilih."
"Hmmm." desah Rara.
*****
Saat dalam perjalanan pulang untuk mengantarkan Vero pulang ke rumahnya, tiba-tiba mobil yang dikendarai oleh Kafka berjalan lambat, Kafka tahu ada yang tidak beres dengan mobilnya, sehingga sebelum mobilnya benar-benar mogok ditengah jalan, Kafka menepikannya supaya tidak mengganggu pengguna jalan yang lainnya.
Dan benar saja, mobil Kafka sekarang benar-benar berhenti total alias mati.
"Kenapa kak mobilnya." Vero bertanya.
"Gak tahu Ver, sebentar ya aku lihat dulu."
Kafka keluar dari mobilnya dan berjalan ke depan menuju kap mobil dan membukanya, yah padahal dia tidak tahu harus melakukan apa dengan membuka kap mesinnya, tapi dia sok-sok'an saja membukanya sebagai formalalitas semata.
Vero juga ikutan turun dan berjalan menghampiri Kafka, "Apa yang terjadi dengan mobilnya kak."
"Gak tahu Ver."
"Aku fikir kakak membuka kap mobil mengerti akan mesin."
"Hehe." Kafka cengengesan, "Aku gak ngerti sama sekali tentang mesin Ver, aku hanya sok-sok'an saja supaya terlihat keren, aku hanya mengerti tentang perusahaan saja."
"Astagaa kaka Kafka ini ada-ada saja deh."
"Terus ini gimana kak."
"Biar aku telpon bengkel langganan aku dulu Ver untuk memeriksanya."
"Hmmm."
"Kamu sebaiknya tunggu disana dulu gieh, panas soalnya disini." Kafka menunjuk trotoar dimana ada pohon besar dan juga kursi kayu disana.
"Oke." Vero berjalan menuju tempat yang ditunjuk oleh Kafka.
Kafka mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan menghubungi bengkel langganannya.
Setelah meminta pihak bengkel datang memeriksa mobilnya, Kafka kini berjalan menghampiri Vero.
"Gimana kak."
"Aku sudah menelpon bengkel langgananku, dan mereka akan mengirimkan orangnya untuk memeriksa mobil, dan kalau tidak bisa di tangani, nanti mereka akan memawa mobil derek kemari."
"Oh."
Vero mengipas-ngipaskan tangannya diwajahnya karna kepanasan yang membuat wajahnya memerah seperti tomat matang.
"Panas ya." komen Bara.
"Hmmm."
"Sorry ya Ver, gara-gara mobilku mogok kamu harus kepanasan begini."
"Santai saja kak."
Setelah menunggu sekitar 20 menit, salah satu pekerja bengkel akhirnya tiba dan berhenti tepat di depan mobil Kafka yang terparkir.
"Orang bengkelnya sudah datang Ver." Kafka memberitahu.
Vero menoleh ke arah pandang Kafka, alangkah terkejutnya Vero saat melihat kalau orang itu adalah Bara yang saat ini juga tengah menatapnya dengan pandangan dinginnya seperti biasa.
"Bara." gumam Vero tanpa suara tidak menyangka kalau pekerja bengkel yang datang adalah Bara.
"Kamu tunggu disini saja ya Ver, aku mau nemuin orang itu dulu." Kafka kemudian berjalan mendekati Bara.
"Hmmm."
"Ini mobilnya mas." tanya Bara menunjuk mobil Kafka.
"Iya, tiba-tiba saja ini mobil mogok, biasanya juga tidak pernah seperti ini sebelumnya." beritahu Kafka.
"Hmm, biar saya lihat dulu."
Bara sekali lagi menoleh ke arah Vero sebelum memeriksa mesin mobil.
"Ternyata gue harus memperbaiki mobil pacar sik Vero, tahu gitu gue gak mau kesini." rutuk Bara dalam hati sambil mencari-cari dimana letak mesin mobil yang bermasalah, "Apa gue tambah rusakin aja kali ya mobil ini, biar tahu rasa tuh Vero dan pacarnya." niat jahat itu terlintas dibenak Bara, "Ya Tuhan, kenapa gue punya pemikiran jahat seperti itu sieh hanya gara-gara perempuan yang mengumbar cintanya pada sembarang laki-laki, perempuan kayak gitu tidak pantas untukmu Bara, kamu pantas mendapatkan yang jauh lebih baik." Bara berusaha mengenyahka fikiran buruk itu dari otaknya dan mulai memusatkan perhatiannya sama mesin mobil yang saat ini tengah ada didepan matanya.
Sementara itu Vero, dia terus saja memperhatikan Bara dari tempat dimana dia duduk sekarang.
"Ihhh cuek banget sieh jadi cowok, noleh saja kagak." desis Vero, "Tapi Bara ganteng, membuat gue gak bisa memalingkan mata gue sedikitpun sama dia."
Dan setelah diutak-atik beberapa saat, dan Bara telah menemukan kerusakannya dan memperbaikinya, Bara meminta Kafka untuk menstater tuh mobil.
"Coba mas distater."
Kafka mengangguk dan memasuki mobilnya, dan dicobaan pertama, mobil tersebut langsung menyala, Kafka tersenyum senang dan merasa puas dengan hasil kerja Bara.
"Verr." teriak Kafka memanggil Vero, "Mobilnya sudah hidup nieh."
Mendapat informasi tersebut, Vero berjalan menghampiri Kafka.
"Terimakasih ya mas."
"Iya sama-sama."
Saat Vero mendekat, Bara menoleh namun kembali dia membuang pandangannya.
"Ishhh cuek banget, dasar menyebalkan." Vero hanya merutuk dalam hati.
Dan setelah memberikan sejumlah uang jasa sama Bara, Kafka mengajak Vero memasuki mobil.
"Ver, ayok masuk, diluar panas." ujar Kafka penuh perhatian.
"Iya." balas Vero dan melihat Bara untuk terakhir kalinya sebelum mengikuti Kafka memasuki mobil.
Dua orang yang saling mengenal itu sama sekali tidak bertegur sapa sama sekali, mereka sudah seperti dua orang yang benar-benar tidak saling mengenal satu sama lain, benar-benar miris deh mereka itu.
*****
Vero : Cuek banget sieh kamu tadi siang, gak nyapa sama sekali, sombong.
Malamnya Vero mengirim pesan sama Bara.
Bara : Kamunya yang cuek, mentang-mentang lagi sama pacarnya
Vero mengerutkan keningnya saat membaca pesan balasan dari Bara, "Ini apa sieh maksudnya."
Vero : Maksud kamu, cowok yang tadi siang itu kamu sangka adalah pacarku begitu
Bara : Emang pacarmu ada berapa, banyak ya
Vero mendengus membaca pesan balasan yang dikirim oleh Bara.
Vero : Kamu salah paham Bara, cowok yang tadi siang itu kak Kafka, rekan bisnis papa aku, bukan cowok aku, lagiankan aku sudah bilang kalau aku jomblo
Bara tidak membalas pesan Vero tersebut yang membuat Vero jadi gemes dibuatnya sehingga Vero kembali mengirim pesan sama Bara.
Vero : Kok diam sieh Bar, dia bukan pacar aku lho Bara, atau jangan-jangan kamu cemburu ya sama kak Kafka, ayok ngaku
Bara : Apaan sieh lo, ya gaklah, elokan bukan siapa-siapa gue
Vero : Padahal gue berharapnya lo cemburu
Bara kembali tidak membalas pesan Vero.
Bara : Iyalah, emang dimana lagi
Vero : Gue akan kesana
Bara : Ngapain
Vero : Ya ketemu lo lah, masak ketemu pak Agus
Bara : Ini sudah malam, lebih baik lo istirahat, gak baik perempuan kluyuran malam-malam begini
Vero : Tapi gue kangen sama lo, gimana donk
Bara : Guekan bukan siapa-siapa lo, ngapain lo kangenin segala, kangenin tuh kakak Kafka lo itu.
Vero : Ngapain sieh gue harus kangen sama kak Kafka, orang gue sukanya sama elo juga
Vero : Tunggu gue ya Bara, gue otw nieh
Bara : Ver, gak usah, mending diam saja lo dirumah, sudah malam ini
Bara berusaha untuk mencegagah Vero, namun Vero tidak memperdulikan.
Vero : Emang kenapa kalau malam, malam gak gigitkan
Bara : Terserah lo deh, dasar keras kepala
Vero : Lo nanti nyanyiin lagi khusus untuk gue ya Bara
Bara : Gak
Vero : Kalau gitu gue yang akan naik ke panggung dan akan menyanyikan lagu khusus untuk lo
Bara : Jangan coba-coba, dengan suara lo yang cempreng itu bisa membuat para pengunjung cafe langsung mendapatkan gangguan pendengaran
Vero : Suara guekan gak sejelek itu Bara, tega banget deh ngata-ngatain gue
*****
Memang terlihat pasrah, tapi dilubuk hatinya yang paling dalam, Bara sangat senang mengetahui kalau Vero ingin nyamperin dia ke cafe tempatnya bekerja, dan dia bertambah senang lagi setelah mengetahui fakta kalau laki-laki yang sudah dua hari ini menjemput Vero, laki-laki yang bernama Kafka tersebut bukanlah pacarnya Vero, diluar keinginannya, kedua sudut bibir Bara melengkung dengan sempurna, dan dia tidak sabar untuk menunggu kedatangan Vero.
"Wahh, kayaknya lo lagi happy nieh Bar melihat lengkungan dibibir elo, udah baikan lo sama pacar lo yang cantik itu." waitres yang kemarin komen saat melihat Bara dalam suasana hati yang buruk komen, dan dia kembali komen saat melihat lengkungan dibibir Bara.
"Hmmm." Bara hanya menanggapi ucapan rekan kerjanya itu dengan hmm doank.
"Ehh, lo mending siap-siap gieh Bar, bentar lagikan lo bakalan performance."
"Iya."
****
"Pak Adi, pak Adi." Vero berteriak kenceng begitu dia sudah ada dilantai bawah.
Pak Adi yang dipanggil oleh nona mudanya berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri Vero.
"Iya nona, apa nona butuh sesuatu."
"Siapkan mobil, gue mau pergi." perintahnya.
"Pergi nona, nona mau pergi kemana malam-malam begini."
"Emang gue perlu ngasih tahu elo, gakkan."
"Bukan begitu maksud saya nona muda, hanya saja kalau tuan besar tahu...."
"Makanya, tutup mulut lo, jangan sampai papa tahu." kebetulan papanya Vero yaitu tuan Amar Salim tengah melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri.
"Tapi nona..."
"Siapin mobil sekarang gak."
"Iya nona, tapi nona dianter Muhlis ya Nona." pak Adi masih berusaha bernegosiasi.
"Gue gak mau, gue ingin pergi sendiri."
"Tapi nona, ini sudah...."
"Lo siapin mobil sekarang atau gue pecat lo sekarang pak Adi."
"Baiklah nona, baiklah." pak Adi akhirnya mengalah.
Akhirnya pak Adi terpaksa membiarkan nona mudanya pergi sendiri, dia berharap, kalau nona mudanya akan selamat kemanapun tujuan yang ingin dituju, dan kembali ke rumah dengan selamat juga, karna kalau tidak, bisa dipastikan tuan besarnya akan memarahinya habis-habisan kalau putri kesayangannya sampai kenapa-napa.
*****
Vero melambai-lambai heboh saat memasuki cafe kepada Bara yang tengah menyanyi diatas panggung.
"Akhhh, adem banget hati gue mendengar suara Bara yang merdu." gumamnya sebelum mencari tempat duduk yang nyaman untuk menyaksikan penampilan Bara.
"Dia jadi datang ternyata." gumam Bara dalam hati saat melihat Vero, dia senang tentu saja melihat gadis itu datang secara khusus untuk datang melihatnya.
Dan setelah menyanyikan beberapa lagu, Bara turun dari panggung dan berjalan menghampiri Vero.
"Ehhh, Bara nyamperin gue." Vero tersenyum melihat kedatangan Bara.
"Bara."
"Hmmm." Bara duduk dikursi yang berhadapan dengan Vero.
"Lo keren banget Bara."
"Banyak yang bilang begitu."
"Itukan jaket gue." Bara menunjuk jaket yang membungkus bagian luar tubuh Vero, "Balikin sini."
"Gak mau, jaket ini buat gue."
"Enak saja, beli sana."
"Pokoknya gue gak mau, jaket ini untuk gue ya Bara." bujuk Vero.
"Hmmm." desah Bara pasrah.
"Yeyyy, terimakasih Bara, nanti gue ganti dengan yang baru deh."
"Gak perlu."
"Tapi gue mau beliin untuk lo."
"Terserah lo deh." pasrah Bara karna Vero ini anaknya pemaksa.
"Lo kesini sama siapa."
"Sendiri."
"Sendirian."
"Iya, tadinya sik Muhlis mau nganterin, tapi gue gak mau."
"Muhlis itu siapa, pacar lo."
"Ihhh, bukan Bara, muhlis itu sopir gue."
"Kenapa gak lo suruh dia nganterin lo."
"Gak, ntar dia ganggu kita lagi, guekan ingin menghabiskan waktu berdua dengan elo."
Dan Vero menungu Bara sampai selesai bekerja, dan setelah itu barulah dia memutuskan untuk pulang, dan kini, Bara dan Vero berdiri diparkiran.
"Bara, kita naik mobil gue ya."
"Gak, gue mau naik motor gue."
"Oke deh kalau gitu, kita naik motor lo saja."
"Mobil lo."
"Ya tinggal saja disini, besok sik Muhlis yang ambil."
"Disini gak aman Ver, banyak pencuri."
"Ya biarin aja kalau dicuri, ntar papi beliin gue mobil baru." yang namanya orang kaya mah gampang banget ngomong gitu.
Bara mendengus kesal mendengar kata-kata Vero, "Sombong banget sieh lo, kebiasaan banget mamerin harta orang tua elo."
"Bukan sombong Bara, tapi ya memang gitu, papi bakalan beliin gue mobil baru kalau nieh mobil ilang."
"Udah yuk anterin gue balik."
"Lo naik mobil lo, gue naik motor gue, biar gue antar lo sampai rumah lo dari belakang."
"Ihhh Bara, gak efisien baget deh, masak kita iring-iringan sieh."
"Ayok naik mobil lo sana, jangan protes mulu kerjaan lo itu." Bara membalikkan tubuh Vero dan mendorongnya pelan ke arah mobilnya.
Karna menggunakan mobilnya Bara tidak mau, atau menggunakan motor Bara sendiri tetap Bara tidak mau, akhirnya terpaksa Vero mengikuti apa yang dikatakan oleh Bara, diantar dengan cara iring-iringan dari belakang.
*****