
Bahkan sampai pagi menjelangpun Vero tidak mau menegur papinya, itu terbukti saat akan berangkat kuliah, Vero main nyelonong saja tanpa menegur papinya yang saat ini tengah berada meja makan untuk sarapan, sampai papinya sendiri yang lebih dulu menegur.
"Sayang, kenapa buru-buru, ayok sarapan dulu."
Vero mengehentikan langkahnya dan memutar lehernya ke arah papinya dan menjawab, "Vero gak mau sarapan bareng papi, asal papi tahu, Vero marah sama papi." Vero tidak menyembunyikan keketusan nada suaranya.
Amar Salim menghela nafas berat, putrinya itu memang memiliki sikap keras kepala, salah satu sikap yang diwariskan olehnya, menjodohkannya dengan Kafka merupakan hal yang tepat mengingat Kafka memiliki sikap yang sabar, Amar Salim yakin Kafka akan mampu menghandle Vero kalau seandainya mereka nanti sudah menikah.
"Papi tidak ingin berdebat dengan kamu Vero pagi-pagi begini." Amar Salim berusaha untuk sabar menghadapi putrinya itu.
"Siapa juga yang mau berdebat dengan papi, malas banget, hanya menghabiskan energi saja, intinya, sebelum papi membatalkan perjodohan Vero dengan kak Kafka, jangan harap Vero mau bicara dengan papi." lha, emang sekarang Vero lagi apa namanya, lagi bicarakan, tapi ya sudahlah, suka-sukanya Vero, gadis cantik mah bebas.
"Vero, jangan bikin papi marah." agak emosi juga Amar Salim mendengar jawaban putrinya yang kurang ajar itu.
Pak Adi yang berdiri disamping tuannya dan sejak tadi melayani Amar Salim berusaha untuk menenangkan tuannya, dia takut sakit tuannya kembali kambuh seperti semalam, "Tuan, sabar tuan, nanti penyakit tuan kambuh lagi."
Tanpa mengindahkan peringatan dari kepala pelayannya, Amar Salim kembali berkata kepada putrinya, "Kafka adalah laki-laki baik dan bertanggung jawab, papi bisa memastikan kalau kamu akan bahagia kalau bersamanya, jadi, perjodohan ini akan tetap terlaksana, baik kamu setuju atau tidak." tegas Amar Salim, hal ini dia lakukan semata-mata supaya putri kesayangannya itu mendapatkan yang terbaik, dan yang terbaik menurut versi Amar Salim yaitu dengan menjodohkan Vero dengan Kafka.
"Papi egois, papi jahat, papi hanya mementingkan diri papi sendiri tanpa memikirkan perasaan Vero, pokoknya Vero tidak mau dijodohkan dengan kak Kafka, apalagi menikah dengannya."
"Vero kamu...."
"Kalau papi begitu ngebet sama kak Kafka, kenapa tidak papi saja yang menikah dengannya."
Setelah mengeluarkan kekesalannya, Vero berlari keluar, air matanya lolos begitu saja dari pelupuk matanya.
"Ya Tuhan, apa salahku sampai putriku yang telah aku besarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang jadi pembangkang seperti ini."
Seperti biasa, kalau dia emosi, pasti rasa sakit dijantungnya akan kambuh, dari saku jasnya Amar Salim mengambil botol kecil dan mengeluarkan sebutir pil dari sana dan menelannya untuk meredakan rasa sakit yang dia rasakan.
Melihat tuannya, pak Adi berkata, "Tuan harus mengontrol emosi tuan, itu tidak baik bagi kesehatan tuan."
"Kamu juga pasti akan emosi Adi kalau punya anak pembangkang dan keras kepala seperti Vero, padahal saya selalu menuruti keinginan anak itu, kenapa dia jadi pembangkang begini, padahal semua yang saya lakukan untuknya hanya untuk kebaikannya."
Pak Adi hanya diam, dia tidak merespon keluhan tuannya, takut nanti dia salah kalau menanggapi.
****
"Pagi nona." sapa Muhlis ramah saat melihat Vero berjalan ke arah mobil.
Muhlis otomatis membukakan pintu belakang untuk nona mudanya tersebut.
Keramahan Muhlis dijawab dengan ketus oleh Vero, "Gue tahu ini pagi, lo fikir gue buta apa."
Ya maklumin saja, orang yang lagi emosi, bawaannya pengen marah mulu dan ingin menyalurkannya pada setiap orang yang ditemui, kalau Muhlis sieh sudah biasa dengan sikap nonanya itu, dia sudah biasa dimarahin dan kadang juga dibentak meskipun tidak melakukan kesalahan sekalipun, seperti kali ini, padahal dia cuma menyapa doank, ehh malah dapat bentakan, memang nasib jadi orang kecil.
****
Sesampainya dikampus, Vero bukannya menuju kelasnya, dia malah melangkahkan kakinya menuju kelas yang biasa digunakan oleh anak-anak tehnik arsitektur, tujuan Vero apalagi kalau bukan untuk menemui Bara, karna saat ini dirinya lagi kesal, jadi fikir Vero, hanya dengan melihat Bara itu akan bisa meredakan amarahnya.
Sayangnya saat dia tiba dikelas anak-anak tehnik, dia sama sekali tidak melihat Bara dikelasnya.
"Bara belum datang kali ya." fikirnya saat tidak melihat keberadaan Bara disana.
"Vero, kamu nyari Bara ya."
Dari belakang punggungnya Vero mendengar sebuah sapaan, Vero yang saat ini berdiri diambang pintu reflek menoleh kebelakang, dia menemukan Rama sahabatnya Bara yang ternyata menegurnya.
"Iya, Baranya mana."
"Bara gak masuk." Rama memberitahu.
"Bara gak masuk." Vero mengulangi.
"Iya, tadi pagi dia ngechat aku untuk memintakan izin, katanya dia gak enak badan."
"Bara sakit gitu maksudnya."
"Iya."
Setelah mendapatkan informasi tersebut, tanpa permisi, lebih-lebih mengucapkan terimakasih sama Rama karna telah memberitahukannya informasi tentang Bara, Vero langsung pergi begitu saja.
"Ahh, untung cantik, kalau gak, sudah gue lempar nieh sepatu gue ke kepalanya." gumam Rama yang melihat punggung Vero menjauh.
****
Vero berjalan keluar area kampus, tujuannya adalah untuk mencari taksi karna dia berniat ke rumah Bara untuk melihat kondisi laki-laki yang dia cintai itu.
"Kok Bara bisa sakit sieh, perasaan semalam dia baik-baik saja deh." Vero bermonolog sendiri sambil berjalan.
Sampai diluar kampus, Vero menyetop taksi pertama yang dilihatnya, setelah duduk dibelakang, Vero menyebutkan alamat rumah Bara yang akan dituju kepada sopir taksi.
Taksi berjalan dan melaju ke alamat yang disebutkan oleh Vero.
Dan kini Vero sudah berdiri didepan rumah kontrakan sederhana yang ditempati oleh Bara dan ibunya, rumah itu terlihat sepi.
Vero melayangkan kelapalan tangannya untuk mengetuk pintu.
Tok
Tok
"Baraa, ibu." panggilnya, namun tidak ada sahutan.
Vero kembali mengulangi, "Barraaa, ibu, buka pintunya, ini Vero."
Tetap tidak ada sahutan, "Apa tidak ada orang kali ya, apa Bara ke rumah sakit." duga Vero.
Namun beberapa saat kemudian, Vero melihat pintu ditarik dari dalam, dan pintu terbuka yang memampangkan tubuh Bara yang terlihat lemah dengan wajah pucatnya.
"Baraaa." Vero agak terkejut melihat kondisi Bara yang memprihatinkan.
"Ahhh kamu Ver." suara Bara terdengar lemah dan parau.
"Baraa, astagaa, apa yang terjadi, kenapa bisa seperti ini, kita ke rumah sakit ya Bar."
"Sudahlah jangan berlebihan Ver kayak aku kena penyakit mematikan saja, aku baik-baik saja kok, cuma panas biasa."
"Panas biasa gimana sieh Bar, wajah kamu pucat begitu, ayok kita kerumah sakit." Vero memaksa.
"Aku sudah bilang tidak kenapa-napa, istirahat yang cukup juga pasti aku akan sembuh kok."
"Hmmm, baiklah kalau kamu gak mau." Vero akhirnya menyerah dan tidak memaksa Bara lagi.
"Kamu ngapain kesini."
"Jenguk kamu, kata Rama kamu sakit, makanya aku kesini."
"Ohh."
"Ayok masuk Ver."
"Iya."
Vero berjalan mengikuti Bara dibelakang.
"Duduk Ver."
Vero mengangguk dan duduk dikursi yang sudah usang, Bara juga duduk dikursi satunya.
"Ibu mana Bara." Vero melihat sekelilingnya untuk mencari keberadaan ibunya Bara.
"Ibu sejak kemarin bantuin tetangga yang ikut bazar, sepertinya besok baru pulang."
"Astaga, kasihan sekali kamu Bar tidak ada yang urus." Vero prihatin.
"Hmmm." Vero bergumam tidak yakin mendengar ucapan Bara barusan.
"Apa kamu sudah minum obat Bar."
"Nanti saja."
"Kok nanti sieh, kapan sembuhnya coba."
"Iya nanti aku pasti akan minum obat kalau sudah sarapan."
"Jadi, kamu belum sarapan."
"Ya begitulah."
"Gimana bisa sembuh kalau kayak gini, sarapan belum, minum obat apalagi." omel Vero seperti mengomeli anaknya sendiri.
Bara hanya pasrah diomeli begitu.
"Ayok." Vero berdiri dan memapah Bara.
"Mau kemana." bingung Bara saat Vero memegang lengannya.
"Istirahat dikamar, aku bikinin kamu bubur untuk sarapan ya, setelah itu minum obat dan istirahat agar kamu cepat sembuh."
"Gak perlu repot-repot Ver." bukan itu sieh maksud Bara, dia hanya tidak mau memakan masakan Vero lagi, karna terakhir kali Vero membawa bekal untuknya, perut Bara sakit selama tiga hari.
"Gak repot kok, lagian ibukan gak ada, jadi aku yang harus merhatiin kamu karna aku disini." Vero sepertinya tidak bisa dibantah.
"Ayok ke kamar." paksa Vero.
Pada akhirnya, terpaksa deh Bara mengikuti keinginan Vero, dia hanya berharap masakan Vero kali ini tidak membuatnya sakit perut lagi.
Dari kamarnya Bara mendengar bunyi berkelantongan yang sangat berisik dari arah dapur, dia berharap kalau Vero tidak mambakar dapurnya.
"Dia masak atau ngamuk sieh." gumam Bara lemah.
Setengah jam kemudian, Vero terlihat memasuki kamar Bara dengan membawa nampan yang diatasnya berisi mangkuk bubur dan segelas air putih dan juga obat penurun panas yang diambil oleh Vero dikotak p3k.
"Bar, ayok bangun sarapan dulu."
Dengan ogah-ogahan Bara bangun dari posisi berbaringnya dan bersandar disandaran diranjang.
Vero mendekat, bubur yang dimasak Vero masih mengepulkan uap panas.
Melihat bubur yang ada ditangan Vero Bara hanya berharap supaya setelah memakannya tidak membuatnya bertambah sakit nantinya.
"Aku suapin ya Bara."
"Tidak perlu Ver, aku bisa sendiri."
"Jangan membantah Bara, kamu itu lemah, mana bisa makan sendiri."
"Hmm baiklah." pasrahnya.
Dan ternyata bubur bikinan Vero bisa dibilang layak untuk dimakan meskipun tidak bisa dibilang enak juga, tapi seenggaknya aman untuk perut Bara.
Dan setelah makan bubur buatan Vero, dengan masih dibantu oleh Vero Bara minum obat.
"Nahh, sekarang kamu istirahat, aku tungguin kamu disini."
"Gak usah Ver, kamu mending balik gieh."
Agak tersinggung Vero mendengar pengusiran Bara, "Kamu jahat sekali Bara ngusir aku, padahalkan aku sudah membuatkan kamu sarapan dan membantu kamu minum obat, ehh sekarang aku malah kamu usir, habis manis sepah dibuang."
"Bukan begitu maksud aku Vero, kamu pasti punya kegiatankan lainkan, kuliah misalnya, masak iya kamu berdiam disini nungguin aku terus."
"Aku gak ada kegiatan apa-apa kok hari ini Bar, jadi boleh ya aku disini nemenin kamu." bohongnya, tadi saja dia bolos kuliah dan lebih memilih datang kerumah Bara untuk melihat kondisinya.
"Hmmm, terserah kamu saja deh." pasrah Bara, lagi-lagi dia hanya bisa pasrah.
Mendengar kata-kata Bara membuat Vero tersenyum.
"Asal kamu jangan menggangguku saja."
"Aku tidak akan menganggumu Bar, aku janji."
"Hmmm." Bara kini mulai memejamkan matanya, dan tidak butuh lama, Bara benar-benar terlelap, mungkin pengaruh dari obat yang tadi dia konsumsi.
Sedangkan Vero, dia malah memperhatikan wajah Bara dari dekat sambil senyum-senyum, saat Bara tertidur, dia bisa dengan leluasa memperhatikan wajah Bara.
"Tampan sekali sieh, rahangnya kokoh, hidungnya mancung, alisnya tebal, bibirnya merah alami, menggoda iman saja."
"Kalau aku kecup, Bara marah gak ya." ingin rasanya Vero mengecup bibir Bara yang merah alami tanpa pernah tersentuh nikotin, "Ingin banget gue." Vero meneguk salivanya.
"Tapi jangan ahh, takutnya Bara marah lagi, kalau dia ngusir gue gimana, kalau dia gak mau berteman dengan gue lagi gimana." pemikiran tersebut membuat Vero mengurungkan niatnya.
"Lebih baik gue keluar saja, daripada disini gue tergoda dengan bibir Bara, takutnya gue khilaf dan nyosor lagi."
Karna takut tergoda, Vero memutuskan keluar dari kamar Bara.
****
Hari sudah menjelang siang saat Bara terbangun, dan sekarang kondisinya sudah agak membaik, badannya sudah tidak sepanas seperti pagi tadi, Bara bersyukur, karna bisa dibilang, ini semua gara-gara Vero, coba kalau Vero tidak datang dan tidak memaksanya untuk sarapan dan minum obat, dia pasti masih tergolek lemah dan tidak berdaya.
"Kemana gadis itu, apa dia sudah pulang." Bara bertanya-tanya saat dia tidak melihat Vero dikamarnya, Bara agak kecewa juga sebenarnya saat tidak menemukan Vero saat dia terbangun.
Bara menoleh ke arah gorden jendela kamarnya yang agak tersingkap, dari sana Bara bisa melihat hujan turun dengan derasnya.
"Hujan." gumamnya.
Bara merasakan kerongkongannya kering, hal tersebut membuatnya beranjak turun dari tempat tidurnya menuju dapur untuk mencari air minum untuk mengobati dahaganya.
Saat keluar dari kamarnya, mata Bara tertuju pada Vero yang terduduk dikursi usang ruang tamunya, gadis itu tengah tertidur dengan menggunakan lipatan tangannya sebagai bantal yang diletakkan dimeja.
Melihat pemandangan tersebut reflek membuat bibir Bara melengkung membentuk kurva.
"Ahh ternyata dia masih disini." melihat Vero masih berada dirumahnya membuat Bara senang.
Bara mengurungkan niatnya kedapur, sebagai gantinya, dia berjalan mendekati Vero.
"Dinginnnn." diluar kesadarannya Vero menggigau.
Dan Bara mendengar suara igauan tersebut.
Meskipun ini siang hari, tapi karna lagi hujan lebat sehingga wajar saja Vero kedinginan.
Bara tersenyum, dia kemudian mengangkat tubuh Vero dengan entengnya, tujuannya adalah membawa Vero ke kamarnya, karna bisa dipastikan disana lebih hangat.
Bara membaringkan tubuh Vero ditempat tidurnya yang sederhana, saat Bara membaringkan tubuhnya, Vero membuka matanya, mata cantik dan besar itu mengerjap-ngerjap.
"Baraaa." gumamnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Mata sayu Vero memandang Bara, suara serak Vero ditambah mata sayu tersebut membangkitkan salah satu bagian dari diri Bara yang berada diantara ************.
"Sial." umpat Bara menyadari akan hal tersebut.
Bara tahu, kalau dia berada cukup lama didekat Vero, itu bisa membuatnya khilaf, oleh karna itu, begitu membaringkan Vero, dia bergegas pergi, sayangnya, pergelangan tangannya ditahan oleh Vero.
"Jangan pergi." ujar suara serak Vero.
****