
Vero melangkah masuk dengan bibir masih mengulas senyum manis, dibantu dengan cahaya remang-remang dari rembulan yang menembus gorden, Vero berjalan menuju kamarnya yang berada dilantai dua.
Saat melewati ruang tamu, lampu tiba-tiba menyala, Vero otomatis menghentikan langkahnya dan melihat papanya duduk disinggle sofa, laki-laki itu kini tengah menatap ke arahnya, bukan tatapan kemarahan, melainkan tatapan kasih sayang seperti yang biasa laki-laki itu berikan kepada putri semata wayangnya.
"Papi." Vero langsung menyongsong ke arah papi Amar, laki-laki yang selama ini telah menjadi orang tua tunggal untuknya karna maminya meninggal saat Vero masih kecil.
Vero menubrukkan tubuhnya memeluk laki-laki kesayangannya itu, satu-satunya laki-laki yang tidak akan pernah menyakitinya dan tidak akan pernah membuatnya menangis.
"Papi kok belum tidur sieh."
Papi Amar mengelus rambut halus putrinya, "Bagaimana papi bisa tidur kalau putri kesayangan papi belum balik, papikan tidak bisa tenang sayang sebelum memastikan kamu baik-baik saja, kamu kemana saja sieh." tanya papi Amar dengan penuh kelembutan.
Bukannya menjawab pertanyaan papinya, Vero malah menguburkan wajahnya didada papinya, sumpah, rasanya Vero malu kalau ingat kejadian saat dia mencium pipi Bara.
"Lho, bukannya menjawab pertanyaan papi, putri kesayangan papi ini malah menyurukkan wajahnya didada papi."
Vero berusaha untuk membuat wajahnya kembali normal sebelum menarik wajahnya dari dada papinya dan menjawab pertanyaan papi Amar, "Vero habis menghabiskan waktu bersama teman pa."
"Rara." tebak papi Amar.
Vero menggeleng.
"Tiar."
Vero menggeleng lagi.
"Terus kamu menghabiskan waktu dengan temanmu yang mana sayang, bukannya teman kamu hanya Rara dan Tiar."
"Papi fikir teman Vero hanya mereka berdua doank, Vero punya teman yang lain papi." saat mengatakan hal tersebut, Vero tersenyum dan itu mendorong papi Amar untuk bertanya.
"Cowok ya."
Vero tersenyum lagi, wajahnyapun bersemu merah, dia mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan papinya itu.
"Apa dia pacar kamu."
Vero menggeleng, "Bukan pi, teman."
"Teman tapi mesra."
"Ya begitulah." jawabnya malu-malu.
"Papi tidak melarang kamu berteman dengan siapa saja sayang, tapi papa harap kamu bisa memilih teman yang baik dan tidak menjurumuskan kamu ke hal-hal negatif."
"Iya pi, Vero tahu, papi tidak perlu khawatir, Vero bisa kok memilih teman."
Papi Amar mengangguk, dia percaya dengan putrinya itu.
"Dan ini sayang, kenapa pakai jaket cowok." papa Amar melihat jaket yang membungkus tubuh putrinya.
"Ohh ini, ini jaketnya Bara papi, katanya udara malam tidak baik untuk kesehatan sehingga dia meminjamkan jaketnya kepadaku." mengingat perlakuan manis Bara waktu diparkiran kembali membuat Vero senyum-senyum sendiri.
"Ohhh, Bara toh rupanya laki-laki yang telah membuat putri kesayangan papi ini sejak tadi senyum-senyum terus." papi Amar bukan orang yang bodoh, dari bahasa tubuh putrinya dia tahu kalau putrinya itu menyukai laki-laki bernama Bara yang diklaim oleh Vero sebagai temannya itu.
"Ehhh, emangnya sejak tadi aku senyum-senyum terus ya pi."
"Kamu tidak sadar sayang."
Vero mengangguk.
"Apa kamu menyukai laki-laki itu."
"Papi apa-apan sieh, tentu saja tidak, Vero dan Bara cuma teman papi, tidak lebih." bantahnya.
Vero memang berencana menaklukkan Bara, dan itu hanya sekedar taruhan, dan setelah berhasil membuktikan kepada kedua sahabatnya kalau dia bisa menakklukkan Bara, dia akan mencampakkan Bara.
"Oke baiklah papi percaya." lisan papi Amar, tapi tentu saja dia tidak percaya begitu saja dengan kata-kata putrinya itu, dia berjanji untuk menyelidiki laki-laki bernama Bara tersebut yang telah membuat putrinya senyum-senyum begitu.
"Karna ini sudah malam, kamu sebaiknya istirahat sayang."
"Iya pi, papi juga harus istirahat ya."
Papi Amar mengangguk.
"Selamat malam pi." Vero mencium pipi papinya sebelum naik ke kamarnya.
"Malam sayang."
Begitu putrinya sudah tidak terlihat, papi Amar terlihat menghubungi seseorang.
"Halo tuan, pasti ada sesuatu hal yang penting sehingga tuan menghubungi saya malam-malam begini."
"Khan, saya minta kamu menyelidiki laki-laki bernama Bara."
"Bara tuan."
"Iya, dia laki-laki yang saat ini tengah dekat dengan putriku."
"Baiklah tuan, serahkan semuanya sama saya, tuan akan mendapatkan informasinya dalam waktu dekat."
Sebagai seorang ayah, tentu saja tuan Amar tidak ingin putrinya dekat dengan sembarang orang, dia tidak ingin putri kesayangannya itu dimanfaatkan oleh orang-orang yang yang hanya berteman karna tahu kalau Vero adalah putri dari seorang Amar Salim, intinya disini, Amar Salim hanya ingin melindungi putrinya, itu saja.
****
Begitu Bara tiba dirumah kontrakan yang selama satu tahun ini dia tempati bersama ibunya, dari luar Bara melihat lampu masih menyala yang menandakan kalau ibunya belum tidur, dan benar saja, saat membuka pintu, Bara bisa melihat punggung ringkih ibunya membelakanginya, perempuan tangguh yang telah melahirkan dan membesarkannya selama ini terlihat khusyuk mengerjakan jahitan baju yang merupakan pesanan tetangga sehingga dia tidak tahu kalau putranya itu sudah pulang.
"Ibu." tegur Bara.
Mendengar suara putra semata wayangnya itu barulah ibu Hamidah berbalik, wanita yang kulit wajahnya sudah keriput disana sini tersenyum saat melihat putranya itu sudah pulang.
"Yudha." ibu Hamidah selalu memanggil putranya dengan panggilan Yudha.
Bara menghampiri ibunya dan menyalami tangan keriput yang selama ini telah berjuang membesarkannya sehingga seperti sekarang ini, Bara berjanji, begitu lulus, dia akan mencari pekerjaan sehingga nanti kehidupannya dan ibunya menjadi lebih baik.
Bara duduk dan mengistirahatkan kepalanya dipangkuan ibunya, tempat nyaman yang selalu membuat penat dan lelahnya hilang seketika.
"Kenapa belum tidur ibu."
"Ibu lagi nyelsaiin baju pesanan tetangga nak, soalnya mau diambil besok."
"Kan bisa diselsaikan besok bu, ini sudah malam lho, ibu harus istirahat, ntar sakit lagi."
Ibu Hamidah mengelus kepala putranya itu, "Iya, sebentar lagi ibu akan istirahat nak, apa kamu sudah makan."
"Sudah, ibu sendiri bagaimana."
"Ibu juga sudah makan nak, kamu sebaiknya istirahat gieh, kamu pasti capekkan."
"Ibu juga."
"Iya sebentar lagi, tanggung banget ini kalau harus ditinggalkan."
"Hmmm, baiklah, tapi ibu janji ya selesai ini ibu harus istirahat."
"Iya, sana kamu tidur, besokkan kamu akan kuliah."
"Iya bu." Bara berjalan meninggalkan ibunya yang kembali menyelsaikan pekerjaannya.
****
Vero langsung terbangun, biasanya Vero tidak pernah bangun sepagi ini, dia bangun karna harus membuatkan bekal untuk Bara seperti janjinya semalam.
Vero melirik ke arah meja riasnya, dimana kalendar dengan dua tanggal yang sudah dia silang, tanda silang yang berarti sudah dua hari ini dia masih belum bisa menaklukkan Bara, dan hari ini dia berjanji untuk bisa menaklukkan hati Bara.
"Pokoknya hari ini gue harus bisa, gue harus bikin Bara terkesan dengan masakan gue."
Oleh karna itu, setelah hanya sekedar cuci muka dan sikat gigi, Vero melangkah menuju dapur untuk melaksanakan niatnya tersebut.
Vero sudah memutuskan masakan apa yang akan dia buat, yang simple dan sederhana, apalagi kalau bukan nasi goreng, masakan sejuta umat yang banyak disukai oleh penduduk indonesia, selain itu, menurut Vero, membuat nasi goreng tidaklah susah, ya itu yang dia fikir, selama inikan Vero tidak pernah yang namanya memegang peralatan dapur apalagi memasak, ini untuk pertama kalinya dia memasak hanya gara-gara ingin membuat Bara terkesan.
Berbekal dengan vidio di youtube sebagai pemandu, Vero mempersiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan dan mulai mengeksekusinya.
Dengan memakai celemek dan juga topi yang biasa dikenakan oleh koki-koki profesional, Vero memfoto dirinya, dan foto tersebut dikirim pada Bara dan diberi caption.
Pagi Bara, lihat nieh, gue sudah siap bertempur untuk membuat nasi goreng spesial untuk lo, gimana menurut lo, apa penampilan gue sudah seperti koki-koki profesional gitu gak.
Dan setelah itu, barulah Vero memulai aktifitasnya.
Suara berisik dari dapur dipagi buta begitu tentu saja memancing keingintahuan para pekerja dirumah kediaman Salim penasaran tentang apa yang tengah terjadi di dapur sehingga mendorong beberapa pelayan itu berjalan ke dapur untuk mencari tahu, dan disana, mereka melihat nona muda mereka tengah melakukan sesuatu yang sangat mustahil untuk dilakukan yaitu memasak.
"Nona, apa yang nona lakukan." salah satu pelayan itu bertanya dan mendekati sang nona.
"Memangnya lo gak lihat apa yang tengah gue lakukan." balas Vero ketus.
"Mmm, maksud saya nona, kenapa nona memasak, biarkan koki yang..."
"Diem, cerewet lo ah, ganggu konsentrasi gue aja." ketus Vero dan berhasil membungkam bibir sang pelayan.
"Apa yang terjadi sieh dengan nona, apa nona kemasukan jin atau mahluk apa gitu, kenapa tiba-tiba ingin memasak begitu, padahal dia bisa menyuruh koki untuk memasakkanya kalau mau makan sesuatu."
"Ya mana aku tahu."
Vero yang memasak, tapi para pelayan tersebut yang pada khawatir, apalagi saat melihat cara nona muda mereka memegang pisau saat memotong bawang, benar-benar mengkhawatirkan.
"Nona, apa nona butuh bantuan, biar kami saja yang...."
"Bisa diam gak sieh lo sialan, sekali lagi lo buka suara, gue pecat lo."
Nah lho, kalau ancamannya sudah begitu, siapa coba yang berani menyapa, oleh sebab itu, para pelayan itu kini hanya jadi penonton saja daripada dipecat beneran.
"Awhhh awhhhh." Vero mengaduh sambil memegang jarinya yang terluka karna tidak hati-hati saat memotong bawang.
Tiga pelayan yang sejak tadi menonton aktifitas Vero tersebut pada panik dan langsung menghambur mendekati sang nona.
"Ya Tuhan nona, tangan nona terluka, cepat ambil obat merah."
Pelayan yang lain berlari mengambil kotak P3K.
Terjadi kegaduhan didapur karna sang nona muda terluka, pasalnya kalau tuan besar mereka tahu kalau putri kesayangannya terluka meskipun lukanya hanya seuprit, bisa panjang masalahnya, bisa-bisa semua orang dirumah bakal kena amuk.
"Aduhh nona, makanya hati-hati, pegang pisaunya yang benar nona." nasehat pelayan yang mengobati lukanya Vero.
Pelayan itukan cuma menasehati, bukan menggurui, tapi malah kena bentak sama Vero.
"Lo nyalahin gue, berani-beraninya elo nyalahin gue."
"Ehhh tentu saja tidak nona, mana mungkin saya menyalahkan nona." ujar sik pelayan takut, "Duhh lebih baik diem saja deh biar aman." batin sik pelayan kini menutup bibirnya rapat-rapat.
"Nahh nona, sudah selesai." ujar sik pelayan setelah mengobati sang nona.
"Nona, nona lebih duduk saja, biar nanti masakan nona kami yang melanjutkan."
"Gak bisa, gue harus menyelsaikan masakan gue, lo semua, gue larang untuk ikut campur." teriak Vero.
"Tapi nona, tangan nonakan...."
"Gue bukan gadis manja ya yang hanya gara-gara luka seuprit begini doank gue mengeluh, sudah sana pada menyingkir lo semua, tinggalkan gue sendiri menyelsaikan masakan gue, keberadaan lo hanya menggrecoki gue saja." usir Vero.
Lama bekerja dengan keluarga Salim membuat para pelayan itu sangat tahu sifat nona muda mereka yang angkuh, sombong dan suka marah-marah itu, mungkin karna sudah terbiasa sehingga para pelayan tersebut tidak ambil hati dengan bentakan sang nona muda.
"Apa lagi yang lo tunggu, pergi sana."
"Bail nona, baik." para pelayan tersebut buru-buru menjauh sebelum sang nona muda memecat mereka, namun nyatanya, mereka tidak benar-benar pergi, karna kini mereka menyaksikan sang nona muda dari jarak beberapa meter, ya tidak mungkin ditinggalkan begitu saja mengingat takutnya Vero nanti kenapa-napa seperti tadi.
"Ada apa sieh sebenarnya dengan nona, kenapa jadi sangat ngotot begini sieh ingin memasak, tidak mau dibantu lagi." para pelayan tersebut tentu saja bertanya-tanya dan juga heran kenap sik nona muda yang biasanya mendapatkan apa yang dia inginkan dengan memberi perintah kini harus bersusah payah segala memasak.
Tiba-tiba pak Adi yang merupakan kepala pelayan dirumah besar tersebut memasuki dapur, dia kaget melihat sang nona tengah sibuk memasak sehingga membuat dapur sudah seperti kapal pecah sedangkan para pelayan hanya menonton saja.
"Apa yang kalian lakukan hah, kenapa bisa kalian membiarkan nona muda kalian memasak begitu sementara kalian hanya jadi penonton saja."
"Anu pak Adi, bukannya kami tidak mau membantu, hanya saja, nona muda yang menolak untuk dibantu." para pelayan tersebut terlihat takut mendengar bentakan pak Adi.
Mendengar penjelasan pelayan tersebut, pak Adi bertanya pada nona mudanya secara langsung untuk mengonfirmasi, "Nona, kenapa nona memasak, kalau nona ingin makan sesuatu, biar koki saja ya nona yang memasakkannya untuk nona."
"Jangan ikut campur pak Adi, gue tidak butuh bantuan koki atau siapapun itu, gue ingin memasak sendiri tanpa bantuan dari siapapun."
"Tapi nona..."
"Gue bilang ingin memasak sendiri, bisa tidak lo mengerti." mulai lagikan sik Vero meradang.
"Hmmm, baiklah kalau begitu nona." pasrah pada Adi ternyata apa yang dikatakan oleh para pelayan barusan benar adanya, nona mudanya tidak membutuhkan bantuan.
****
Ditempat kediaman Bara, pagi itu Bara, terbangun karna suara notifikasi chat beruntun yang masuk ke ponselnya.
"Duhh siapa sieh yang pagi-pagi gini gangguin orang, benar-benar tidak punya kerjaan banget." rutuknya sambil mengambil ponselnya untuk memeriksa siapa gerangan pengganggu tersebut.
"Gadis itu." desahnya saat melihat nama Vero tertera dilayar ponselnya.
Bara membuka pesan-pesan tersebut, dan diluar keinginannya dia tersenyum melihat foto Vero menggunakan celemek dan topi koki dikepalanya.
"Ternyata dia benar-benar melakukan apa yang dia katakan semalam." lirihnya, "Semoga saja gue tidak keracunan dan dilarikan ke rumah sakit saat memakan masakannya." harap Bara.
Namun kok dia tiba-tiba dia jadi semangat ya pergi ke kampus, bahkan dia bersiul saat menuju kamar mandi yang membuatnya ditegur oleh ibunya.
"Kamu kelihatannya senang sekali Yudha pagi ini."
"Ehhh ibu, gak kok bu." bantahnya.
"Kamu tidak bisa berbohong lho sama ibu, ibu adalah wanita yang mengandung dan melahirkan kamu, jadi, kamu kenapa Yudha, apa ini gara-gara perempuan nak."
"Mmmm." setelah sempat ragu, akhirnya Bara mengangguk juga, "Iya bu, tapi dia hanya teman, tidak lebih." jelasnya karna dia tidak mau ibunya itu berfikir macam-macam.
"Kapan-kapan, bawa ke rumah dan kenalin ya Yudha teman kamu itu sama ibu."
"Dia hanya teman bu, gak perlu...."
"Iya ibu tahu, ibu hanya ingin mengenal teman putra ibu, itu saja gak lebih, jadi Yudha, kapan-kapan bawa dia kemari ya nak." ibu Hamidah mengulangi kata-katanya.
Bara mendesah sebelum mengiyakan permintaan ibunya, "Baiklah ibu, kapan-kapan aku akan mengajaknya ke rumah."
"Ibu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan teman kamu itu Bara."
Bara hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan ibunya.
****