
(episode sebelum nya)
"Kembalilah, belum saat nya kamu tidur dengan ku. Jika saat nya tiba aku akan menjemputmu lagi. " ucap Raja tersenyum dan pergi meninggalkan nya.
Dion pun bangun dan berjalan ke sebuah cahaya yang begitu hangat.
___________________&&_____________
(Kembali ke cerita)
Berlahan Dion mulai membuka matanya dilihat disekeliling nya suara isak tangis Soe Yoon, tangisan ce ce dan meimei nya dan genggaman erat dari Leon.
"Haus." ucap Dion lirih mengejutkan semuanya.
Segera ucapan syukur terukur di semua bibir orang orang yang ada didalam ruangan.
"Haus." pintah Dion kembali.
Segera Leon mengambil segelas air putih dan membantu Dion untuk duduk, dia sendiri dengan sangat lembut menopang tubuh Dion dengan tubuhnya dari arah belakang.
Sekilas Dion teringat perlakuan tersebut dengan seseorang yang pernah hadir dalam hidupnya. Dion hanya tersenyum lemah. Bukannya melepas dan membiarkan Dion berbaring kembali, melainkan menyandarkan Dion dalam dadanya. Tentu saja itu membuat Ivan semakin terbakar rasa cemburu. Tapi Ivan tidak bisa berbuat apa apa.
"Dion, Dion sayang. Kenapa kamu berbuat senekat ini lagi sayang. " ucap Soe Yoon cemas.
"Karena Oma dan yang lainnya tidak mau mendengarkan permintaan Dion. Kalian tidak pernah bertanya apa yang keinginan Dion. " jawab Dion lirih sambil menempatkan tubuhnya dengan posisi yang cukup nyaman untuk bersandar.
Dengan pelan Leon membantu Dion agar bisa merasa nyaman.
"Dion, kami akan mendengarkan apa yang kamu inginkan. " ucap Leon lembut.
"Leon.!!! " bentak Soe Yoon.
"Oma dengarkan dulu permintaan Dion. Jika memang tidak masuk diakal baru kita akan meluruskan nya. Saya rasa Dion sudah cukup dewasa dan mengerti akan tanggung jawab nya sebagai anak pertama dari Papa Kim Gu Nam. " ucap Leon yang kemudian menatap kearah Dion.
Dion mengangguk lemah.
"Baik lah apa mau kamu. ? " tanya Soe Yoon.
"Beri Dion waktu. Biarkan Dion bebas untuk beberapa waktu Oma, sebelum terikat sumpah setia. Biarkan Dion menikmati kebebasan Dion. " pintah Dion lirih.
"Hingga Dion berusia 21 Pa. Hanya 2 tahun yang Dion minta. " ucap Dion.
"Apa kamu sadar dengan permintaan mu itu Dion. " bentak Gu Nam.
"Gu Nam, ini rumah sakit tahan sedikit emosi. " ucap Soe Yoon.
"Tapi Amma, ini sudah keterlaluan. Dion harus nya sadar apa tugas dan kewajiban putra pertama. Dion kamu sudah mengecewakan Papa. " ucap Gu Nam merasa kecewa.
"Pa, pernah kah Dion meminta sesuatu dari Papa. Tidak pernah? " ucap Dion sinis.
"Dion hanya meminta hak Dion, biarkan Dion bebas untuk beberapa waktu. Jika sudah selesai silakan kalian jual Dion pada siapapun. " ucap Dion datar.
"DIONNNN!!! “ bentak Gu Nam.
"Sudah. Sudah. Tidak kah kalian tahu. Dion baru saja sadar. Oma, Papa Gu Nam biarkan Dion istirahat. " ucap Liam.
Mereka menatap Dion yang masih pucat, tentu saja tatap matanya masih terlihat kosong.
"Biarkan Dion istirahat dulu. Leon, Ivan jaga Dion baik baik. Yang lain ayo keluar kita bahas masalah ini dirumah. " perintah Soe Yoon.
Waktu berjalan lambat bagi Dion. Proses penyembuhan Dion relatif cepat. Seperti biasa waktu Dion selalu habis dengan Rolland. Hampir setiap hari, setiap saat dan setiap menit hanya ada Rolland, Rolland dan Rolland. Hingga membuat Leon semakin merasa terabaikan.
"Dion." panggil Leon saat berduaan di kamar.
Lebih tepatnya di Villa tempat dimana Dion sedang melakukan proses pemulihan baik fisik maupun mentalnya.
"Ya. Ada apa. " jawab Dion pelan tanpa melihat kearah Leon.
"Bisakah kamu meletakkan ponsel barang sejenak. " pintah Leon.
Seketika itu Dion menatap wajah Leon.
"Ada apa Leon? " tanya Dion tak mengerti.
"Dion. Apa arti diriku dimata kamu? " tanya Leon menatap lekat wajah Dion.