Unattainable Love

Unattainable Love
Terulang kembali (2)



Barang barang di kamar Dion hancur berkeping-keping, ranjang tidur nya berantakan.


"Sialll..... Brengsek semua. Apanya yang mau bantu? Apanya yang mau nolong? Liammm bodoh. " umpat Dion tak karuan.


"DION, CUKUP!!!! " bentak seseorang.


Seketika Dion melihatnya, dan segera berlari menghampiri.


Dan....


Bugh...


Sebuah pukulan manis mendarat dengan mulus di pipi pria itu yang ternyata adalah Liam.


"Ahkk.... " pekik Liam terkejut.


"DION, DASAR BODOH." bentak seorang lagi.


"BODOH. SIAPA YANG BODOH. " teriak Dion penuh amarah.


"Koko Liam bilang, kalian akan membantu Dion. Bantuan macam apa ini. Hah... " bentak Dion.


"Koko Liam, Koko Hoong sama saja gak punya perasaan. " teriak Dion.


"Dion tenang dulu. Kami akan jelaskan Dion. " ucap Liam sambil mengusap pipinya yang terpukul.


"Dion harus tenang seperti apa Ko?? Kalian malah memberi usul seperti itu. Gimana Dion bisa tenang?? " ucap Dion yang kemudian mulai menangis.


Pundaknya bergetar menahan amarahnya yang masih meluap. Liam dan Hoong memeluk tubuh Dion yang berguncang hebat.


"Huwaaaaaa..... Kalian kejam sekali. Apa salah Dion. " tangis Dion pun pecah.


"Dion, kami lakukan ini juga untuk kamu sayang." jelas Hoong.


"Dengar kan Koko, ada untungnya kamu tahu nomor telpon Dia. Tunggu dia menghubungi mu dan jelaskan kalau kamu ingin menolak perjodohan ini. Berunding lah dengan dia agar sama sama menolaknya. " ucap Hoong.


"Jika kalian berdua sepakat untuk menolak maka dengan sendirinya perjanjian itu akan batal. " lanjut Hoong.


Dion pun terdiam, dan terisak.


"Iya Dion, kami sudah memikirkan ini semua. Tentu saja kami tahu siapa dia. Dia paling membenci pria lebay, dan satu yang paling menguntungkan. Suara kamu bisa bermanfaat. " sahut Liam.


"Hiks maaf Ko, maaf Dion pukul Koko tadi. " ucap Dion.


"Tapi pukulan kamu masih sekeras dulu, walau kamu makin cengeng aja. " goda Liam.


Hoong hanya tertawa kecil mendengar nya.


"Koko.... Dion gak cengeng. " sungut Dion.


"Sudah sudah, lihat kamar kamu berantakan sekali. Seperti habis ada badai saja. " ucap Hoong melihat sekeliling.


"Liam panggil bibi, untuk membereskan yang berantakan dan sekalian minta seseorang untuk menyingkirkan yang rusak dan ganti dengan yang baru. " ucap Hoong.


"Dan kamu Dion, karena ini ulah kamu maka biaya perbaikan sama mengganti barang yang rusak kamu tanggung sendiri dari tabungan kamu." ucap Hoong tegas.


"Kok Dion, Ko. Dion dari mana duitnya. " jawab Dion sambil terisak.


"Kamu kira Koko bodoh apa. Tabungan kamu banyak, belum lagi kamu masih terus dapat masukkan dari yang lain selain dari Papa Gu Nam dan juga Oma. " jawab Hoong.


"Dan lagi tiap bulan kamu dapat tambahan dari Liam. " lanjut Hoong.


"Tapi kan itu jatah buat anak anak panti Ko. " sahut Dion tidak mau kalah.


"Jatah anak panti sudah ada yang bantukan. " ucap Hoong sambil menyentil kening Dion.


"Tapi setengah aja ya Ko. Sisanya Koko Liam sama Koko Hoong." rajut Dion.


"Siapa yang ngerusak siapa yang bayar. " gerutu Liam.


"Ayo lah Koko, bantuin. " ucap Dion manja.


"Haaa.... Memang gak bisa kalau sudah kena rengekan anak manja." keluh Liam.


Hoong tertawa kecil.


Dan segera Hoong mengajak Dion ke kamarnya sedangkan Liam meminta beberapa orang pelayan untuk membereskan kekacauan di kamar Dion.


"Dion, Rolland tahu kamu ada di Cirebon? " tanya Hoong.


"Iya, Dia tahu. Cuma Dion gak bilang kalau ada masalah. Dion cuma bilang rindu sama Hendra." jawab Dion.


"Apa kamu akan cerita masalah ini ke Rolland.? " tanya Hoong lagi.


"Tentu saja, tapi tidak sekarang. Nanti kalau waktunya tepat. " jawab Dion.