
Sejenak Dion terdiam mendengar nada suaranya yang seperti sangat akrab dengan Rolland, dan memiliki hubungan yang bisa di bilang lebih dari sekedar kenal.
"Ahh... Kenalkan ini Emm... Adik angkat saya, Dion namanya. " ucap Rolland dengan ragu ragu dan merasa bersalah.
"Dion. Halo Dion perkenalkan saya Jesicha calon istri Rolland. " ucap Jesicha tersenyum manis dan mengulurkan tangan nya.
"Sa.... Saya Dion, salam kenal. " jawab Dion sambil menyambung uluran tangannya dan berpura pura tersenyum.
"Dion apa Anda sakit. Kenapa wajah Anda pucat dan tangan Anda sedingin es. " tanya Jesicha khawatir.
"Di... Dion. Baik baik saja, ahh tidak Dion sedikit pusing. Permisi. " ucap Dion sembari menahan semua perasaan yang berkecamuk didadanya.
Napasnya terasa sesak, perasaan bercampur aduk, antara terkejut, sakit, merasa di khianati, kecewa, marah dan sekaligus sedih. Semua bercampur menjadi satu. Rolland menatap penuh dengan rasa bersalah.
Dion meninggalkan ruang makan dengan berlari. Tak sanggup rasa nya tetap berdiri disana. Jesicha hanya mampu menatap dengen perasaan kebingungan.
"Gery temani Jesicha sebentar. " ucap Rolland dan berlalu mengejar Dion yang sedang berlari.
Dion berlari ke kamarnya. Didalam kamar Dion berteriak keras.
"Aarrrrggggggg..... " teriak Dion histeris.
"Abiiiiii penipuuuu.., abiiiiii pembohong. Huwaaaaa..... " tangis Dion pecah kembali.
Rolland langsung masuk kedalam kamar ditutupnya pintu kamar dan memeluk erat tubuh Dion. Dion memutar tubuh nya dan menatap wajah Rolland, air mata nya turun tanpa bisa di bendung lagi.
"Kenapa abi gak cerita, kenapa abi gak bilang kalau dia ada disini kenapa abiii? Kenapaaaa....? " tanya Dion diantara tangisnya.
"Abi, apa salah Dion? Dimana salah Dion? Kenapa abi tega sama Dion? Kenapa abi? Huwaaaaaa.......abiiiii......" tanya Dion sambil memeluk erat tubuh Rolland dan menangis histeris.
"Maaf, Anda tidak bersalah. Saya lah yang bersalah. Ini salah saya. Maaf kan saya. " jawab Rolland sambil mencium ubun ubun kepala Dion.
"Abi kenapa dia datang kesini abi. Jelaskan? " tanya Dion terisak.
"Semua dipercepat Dion. Percepat Dion. Pernikahan kami di percepatan. Jesicha tahu saya mencintai orang lain, dan dia meminta semua di percepat. " jawab Rolland lirih.
Di cengkraman nya baju Rolland.
"Hiks hiks hiks.... Abi hanya milik Baby cuma milik baby. " teriak Dion tak Terima.
"Dion, Dion sadarlah, saya mohon sadarlah sayang. Itu tidak mungkin, Anda harus bisa menerima semua ini. Baik saya maupun Anda harus bisa saling menerima. Dion dengarkan cepat atau lambat Anda juga akan menikah bukan." jelas Rolland mencoba memberi pengertian.
"Selain itu Anda tahu sendiri, keluarga saya tidak mengijinkan sebuah pernikahan sesama jenis." lanjut Rolland.
"Bukan kah dari awal saya sudah pernah memberitahukan semuanya pada Anda. " ucap Rolland lirih.
"Enggak, Baby gak mau Abi. Enggak sekarang abi, enggak sekarang. " sahut Dion tak Terima.
"Baby gak mauuuu... Baby.... Baby gak mauuu abiii.... Gak mauuu.... Huwaaaaa..... " pekik Dion sambil menangis.
"Saya mohon Dion. Saya juga tidak bisa berbuat apa apa, saya janji kita akan tetap berhubungan walaupun saya sudah menikah. " bujuk Rolland sambil menghapus air mata nya.
"Masih bisa berhubungan seperti biasanya, masih bisa bermanja seperti biasa, masih bisa bercinta seperti biasa? " tanya Dion tak percaya.
"Bukan hubungan seperti itu Dion. Tapi hanya sebatas Adik kakak. " sahut Rolland lirih.
Dion terkejut bukan main, bagaikan tersambar petir. Ucapan Rolland benar benar menjadi sebuah tamparan yang keras buat Dion.
Di lepasnya cengkraman tangannya, wajah Dion semakin memucat, antara sadar dan tak sadar bibir Dion mengigil menahan amarah, kesedihan dan juga sakit yang teramat sakit. Dion berjalan mundur beberapa langkah.
"Enggak abii.... Baby gak mau hubungan yang seperti itu hikss hiks hiks... Baby gak mau yang seperti itu abiiiiiiii..... Gak mauuuu...." teriak Dion histeris.
"Kenapa, kenapa Dion kehilangan lagi. Apa salah Dion? Dion gak pernah nyakitin siapa pun, tapi kenapa Dion mesti kehilangan orang yang Dion cintai. " pekik Dion putus asa.
"DIONNN....." bentak Rolland.
"Kenapa harus Dionnnn, abiiii.... Kenapa lagi lagi Dion yang harus pasrah kehilangan orang yang Dion cintai. " pekik Dion tak Terima.
"Dulu Mama, terus Rahmad, lalu felix, sekarang. Sekarang Abi juga pergi. Gak bisakah Dion menikmati sedikit rasa cinta. Gak bisakah Dion mempertahankan Cinta Dion. " teriak Dion sembari mencengkram rambutnya sendiri.