Unattainable Love

Unattainable Love
The last



Dion pun meminum obat itu dan kembali berbaring. Tak menunggu waktu lama Dion kembali terlelap.


Dhika menarik selimut dan menyelimuti Dion.


Dan beranjak dari ranjang.


"Maaf kalau sahabat saya membuat kalian kesusahan. " ucap Dhika menghampiri Rolland dan juga Gery.


Sejenak Rolland terdiam.


"Perkenalkan Nama saya Andhika, panggil saja Dhika. Jangan khawatir saya dan Dion hanya sebatas Sahabat dan juga Saudara, saya sendiri lurus. " ucap Dhika sambil tertawa kecil.


Rolland merasa sangat lega, terpancar jelas di wajah Rolland, rasa cemburu yang tadinya tampak jelas kini menjadi tenang. Disitulah terjadi obrolan santai, Dhika menjelaskan kenapa Dion sampai seperti itu.


Waktu terus berjalan, semakin lama semakin mendekati waktu bagi Rolland dan juga Jesicha bertunangan dan sekaligus pernikahan. Sesuai dengan keinginan Jesicha. Karena Jesicha sadar di hati Rolland hanya ada nama Dion seorang. Egois memang, tapi itulah cinta, Jesicha tak ingin Rolland berpaling darinya.


"Dion mari kita pulang. Sudah cukup lama kita disini. " ucap Dhika.


"Enggak Dhika. Dion ingin melihat Abi. " ucap Dion lirih.


"Tidak. Kali ini kamu harus menuruti apa kataku." perintah Dhika.


"Hari ini juga kita pulang ke Surabaya. Jangan memberi beban Rolland lagi Dion. Kasihan Dia. Sudah cukup oke. Mari kita pulang. " bujuk Dhika.


"Tapi Dhik.... " sahut Dion.


"Dion dengar, sudah bagus Rolland menganggap kamu adik, sudah cukup Rolland menganggap kamu orang yang paling berharga baginya. " nasehat Dhika.


"Jangan memperkeruh keadaan Dion. Saya yakin kamu pasti bisa. Dulu kamu bisa melepaskan Rahmad, dan kali ini aku yakin kamu pasti bisa. " lanjut Dhika.


Dion terdiam tak bersuara. Hanya isak tangis yang terdengar. Dhika membereskan semua barang Dion ke dalam kopernya. Setelah semua beres, Dion meminta waktu sejenak untuk menemui Rolland yang saat sedang bersama Jesicha.


"Abi, bisa bicara sebentar.? " ucap Dion dari belakang.


Ditatap nya Dion lekat lekat.


"Kak Jesicha, pinjam abi sebentar. Hanya sebentar saja. " ucap Dion lirih.


Jesicha hanya mampu menghela napas panjang. Rolland segera beranjak dan menghampiri Dion.


"Ada apa Dion. " tanya Rolland.


"Abi jangan disini. " ucap Dion sembari menarik tangan Rolland.


Dion berjalan menuju kamar Rolland. Segera kedua nya masuk dan menutup pintu kamar.


"Abi. Baby akan pulang hari ini. Lepas ini, baby gak tahu masih bisakah kita bertemu lagi. " ucap Dion mendekat dan memeluk tubuh Rolland.


Rolland pun membalas pelukan Dion.


"Abi, meskipun Abi bukan milik Baby. Tapi ingat satu hal baby akan tetap selalu mencintai Abi. " lanjut Dion.


"Dion, dengar kan Saya, lupakan lah saya. Lepaskan saya dari hati anda. " ucap Rolland.


Dion menggelengkan kepala pelan.


"Itu gak mungkin bisa terjadi Abi. Hati ini sudah menjadi milik Abi. Walaupun Abi bukan milik baby. Tapi bagi baby. Abi adalah milik baby. " jelas Dion


"Dion....." panggil Rolland lirih.


"Abi, jangan pernah lupakan baby ya. Baby akan selalu cinta abi. " di kecupnya lembut bibir Rolland.


"Abi, baby gak akan pernah ucapin kata selamat tinggal. Tapi Baby akan ucapin kata semoga abi selalu berbahagia dengan nya. " ucap Dion lirih sambil mengeluarkan air mata.


"Dion. Maafkan saya ya. " ucap Rolland lirih.


Di hapusnya pelan air mata Dion yang turun. Dion hanya mampu tersenyum tipis.


"Emmm iya." jawab Dion.


"Maaf, maaf, maaf. Sekali lagi saya membuat Anda terluka lagi. " ucap Rolland lirih.


"Iya, iya.... Hikss.... Hikss.... " jawab Dion sambil berderai air mata.


Rolland melepaskan pelukannya, di ciumnya dan dilumatnya bibir Dion. Dion membalas ciuman dan ******* Rolland dengan berderai air mata. Tak lama kemudian Rolland melepas ciumannya dan menyisakan saliva yang membasahi bibir merah Dion.


"Abi..... Jangan lupakan Baby, jangan pernah tinggalkan Baby. Apapun status kita kelak, tetaplah ada disisi Baby. Mau kan?? " pinta Dion.


"Iya. Saya tidak akan meninggalkan Anda, saya akan selalu ada untuk Anda. Ingatlah jaga diri Anda baik baik. " jawab Rolland.


"Emm... Iya..... " jawab Dion lirih.


Dion tersenyum manis.


"Selalu tersenyum seperti ini. Oke. " ucap Rolland.


Dion mengangguk pelan. Dan melepas pelukan. Rolland mengecup kening Dion pelan. Dion hanya mampu terdiam dan memejamkan matanya.


"Abi, baby pulang ya. Salam buat mama Clara ya. " Dion pun berpamitan dan pergi meninggalkan Rolland sendiri.


Rolland mengangguk pelan. Dan menatap punggung pria mungil yang pernah ada dihatinya. Rasa enggan untuk melepas kepergian Dion membuat Rolland sesak.


Tak terasa air mata keduanya turun tanpa aba aba. Rolland terduduk lemas dikamar nya. Sedangkan Dion menangis tersedu sedu dalam pelukan Dhika di dalam mobil online mereka. Ternyata Dion sengaja meninggalkan sepucuk surat untuk Rolland.


Dear kekasih ku tersayang.


Mungkin setelah abi menemukan surat ini, baby sudah pergi jauh.


Abi sayang terimakasih atas segala waktu yang pernah abi berikan kepada baby. Terimakasih atas cinta yang pernah abi berikan kepada Baby. Terimakasih atas kasih sayang yang pernah abi berikan kepada baby.


Abi ini bukan sebuah perpisahan, melainkan sebuah perubahan. Baby akan mencoba hanya menganggap abi sebagai kakak. Baby akan belajar menjadi adik yang baik untuk abi.


Abi, baby sadar sedari awal cinta kita gak akan mungkin bisa bersama. Hanya saja baby masih belum terima, ini terlalu cepat buat baby.


Haaaa....


Cinta yang gak bisa baby gapai. Kenapa begitu susahnya baby meraih cinta. Abi ku sayang. Walau abi bukan milik baby, setidaknya baby pernah ada di hati abi, begitu juga sebaliknya.


Terimakasih abi. Terimakasih banyak. Baby akan simpan semua kenangan ini.


Dari ku


Dion.


Rolland hanya mampu menghela napas panjang. Tak tahu harus berkata apa lagi. Baik Rolland maupun Dion hanya mampu menerima kenyataan yang ada. Bahwa cinta mereka tidak akan pernah bersatu.


Bukan karena status sosial. Tapi karena perbedaan pandangan dalam keluarga dan juga agama.


Keluarga Rolland menginginkan sosok yang seiman, dan lurus sejalan. Dion yang selalu menggenggam tasbih ditangannya, sedangkan Rolland yang selalu mengenggam salib di tangannya. Itu sudah menjadi perbedaan yang cukup mencolok.



Dan di kelurga Rolland menginginkan sesuatu yang lurus sesuai norma yang ada, dan tak mengizinkan sebuah ikatan yang melanggar aturan norma dalam masyarakat.


Sedangkan keluarga Dion. Memiliki kebebasan dan segala hal. Hanya saja mempunyai peraturan yang cukup mengikat yaitu pasangan hidup anak sulung mereka lah yang memutuskannya. Tak peduli seagama atau tidak. Tak peduli sesuai dengan aturan norma yang berlaku atau tidak.


Baik Dion maupun Rolland hanya mampu memendam dan menyimpan rasa cinta mereka. Menjadikan semua sebagai kenangan, bahwa pernah ada rasa cinta di dalam hati mereka.


Berakhir sudah perjalanan cinta mereka. Kandas sudah keinginan Dion yang ingin bersama Rolland. Dunia memang kejam, kenyataan memang membuat sakit. Dion hanya mampu menatap langit. Berharap semua hanya sebuah mimpi.


"Dion. Lepaskan dia pelan pelan. Gue yakin lu pasti bisa. " ucap Dhika memeluk Dion.


"Emm... Iya. Semoga Dion bisa. " jawab Dion lirih.


"Selamat tinggal Bandung. Selamat tinggal Rolland. Aahh.... Tidak bukan selamat tinggal. Tapi.... Semoga bahagia Kak Rolland. " ucap Dion lirih dan segera masuk ke badan pesawat.


Pesawat lepas landas meninggalkan kota bandung Dion hanya mampu terisak lirih, menangis dalam diam.