Unattainable Love

Unattainable Love
Bodohnya Dion.....



"Hiks hiks hiks Dion gak mau kehilangan Dia Raja. Dion juga cinta Dia. " ucap Dion yang kemudian berdiri dan mulai menghilang.


(Back to story)


"Ughh...aarrrrggggggg..... " teriak Dion tiba tiba hingga membuat semua terdiam.


Sejenak tubuh Dion menegang dan kemudian lemas dan terdiam. Segera Dokter Shu menghampiri dan memeriksa ulang.


"Syukur lah Dia sudah sadar, dan sekarang tertidur. Biarkan Dia istirahat. " ucap Dokter Shu mulai tenang.


"Maksud paman.? " tanya Luth bingung.


"Semacam trauma, mungkin dia memiliki sebuah trauma yang membuat Dia tidak bisa menerima sebuah syok yang berlebihan. Untuk lebih jelasnya hanya keluarga atau orang terdekatnya yang tahu. " jelasnya.


Setelah dirasa semua selesai Dokter Syam pulang kembali. Semalam Rolland menjaga Dion takut terjadi apa apa, hingga membuat Jesicha datang menghampiri kamar Dion.


"Rolland. Siapa sebenarnya Dion itu? " tanya Jesicha penuh curiga.


"Bukankah saya sudah bilang Dia adalah adik saya. " jawab Rolland.


Yang kemudian beranjak dari ranjang Dion dan menghampiri Jesicha. Digenggamnya tangan Jesicha dan di kecupnya pelan.


"Berikan saya waktu untuk menemaninya. Setelah itu saya akan ada disisi Anda. Untuk saat ini Dia sangat membutuhkan saya. Hanya beberapa hari saja. " ucap Rolland.


Tidak serta merta Jesicha mengabulkan permintaan Rolland. Dengan sebuah debat yang cukup melelahkan akhirnya Jesicha mengijinkan.


Keesokan harinya Dion terbangun dari tidurnya, wajahnya masih sedikit pucat. Dilihatnya disamping ranjang nya tampak Rolland yang sedang tertidur pulas.


"Hiks hiks hiks.. Abi. Harus kah baby pergi? Haruskah Baby menghilang? “ ucap Dion lirih.


"Abi.... Baby gak mau pisah dari abi. " lanjut Dion lirih.


Rolland pun terbangun ditatap nya Dion dengan tatapan lembut.


"Sudah bangun Baby. " ucap Rolland.


"Good morning baby. " sapa Rolland kembali.


"Abi... Hiks hiks hiks. " isak Dion.


"Dasar cengeng. Bukankah saya ada disamping Anda. Kenapa masih saja menangis. " ucap Rolland.


Di peluknya Rolland dengan erat.


"Iya." jawab Rolland pasrah.


Tak lama kemudian seorang pelayan memberitahukan kalau ada seorang pria yang mencari Dion. Rolland memerintahkannya untuk mengantar pria itu ke kamar.


Tak lama kemudian pria itu masuk dan menatap penuh amarah dan juga khawatir. Di belakang pria itu ada Gery.


"Dhika....." ucap Dion lirih saat tahu siapa yang datang.


"Dasar bodoh Lu. Gak bisakah lu gak bikin gue khawatir. Bisa bisanya lu sekarat di rumah orang. " hardik Dhika sembari menghampiri Dion.


Tentu saja ucapan itu membuat Rolland naik pitah, belum sempat Rolland membalasnya Gery segera menarik tangan Rolland dan memberi isyarat agar tidak ikut campur.


"Lu sadar gak, lu itu bikin gue panik. Otak lu itu lu taruk dimana Dionn. " bentak Dhika.


"Hiks hiks hiks.... Huwaaa.... Maaf Dhika, maafin Dion. Dion gak sadar. " tangis Dion kembali pecah.


Dhika memeluk erat tubuh Dion.


"Lu tahu gak, kalau lu pergi bukan cuma gue yang kehilangan lu bego. Lu gak mikirin Hendra, gimana dengan Dia nanti nya Dion. " ucap Dhika lirih dan memeluk erat tubuh Dion.


Rasa khawatir dan cemas tampak terlihat jelas di raut wajah Dhika.


"Iya, maaf. Rolland jahat dia mau ninggalin Dion. " keluh Dion.


"Lu itu ya....." ucap Dhika.


Ditatap nya wajah Dion, dihapusnya air mata Dion. Rolland hanya mampu memandang tanpa bisa berbuat apa apa.


"Dengar, bukankah lu pernah bilang kalau kalian sama sama di jodohkan. Gak peduli sekarang atau kapan pun rasanya pasti sama. Dion jangan jadi beban buat Rolland. Tidak kah kamu kasihan dengan Rolland. Lepasin Dia pelan pelan. " nasehat Dhika.


Dion hanya mampu terdiam.


Segera Dhika mengambil sebotol obat, kemudian mengeluarkan 2 butir pil dari botol itu.


"Minum ini lalu tidur. Gue yakin semalam tidur lu gak nyenyak. " ucap Dhika.


Dion pun meminum obat itu dan kembali berbaring. Tak menunggu waktu lama Dion kembali terlelap.


Dhika menarik selimut dan menyelimuti Dion.


Dan beranjak dari ranjang.