Unattainable Love

Unattainable Love
Sebuah kejutan (1)



Keesokan harinya Dion memaksa pulang.


Sedangkan Ivan dan Fernando malam itu juga di minta untuk pulang. Karena perjanjian berlaku pada detik itu juga.


"Dion, apa kamu akan baik baik saja di Surabaya sendiri. Ivan sudah tidak bisa menjaga kamu. " ucap Xia Xi.


"Ce ce, masih ada Andhika dan Bunda. Dion gak sendiri kok. Ce ce jangan khawatir ya. " ucap Dion menyakinkan.


"Dion bukan hanya Ce ce saja yang khawatir Saya juga. " sahut Liam.


"Koko Liam. Dion sudah bukan Dion yang dulu. Yang selalu berfikir sempit. Sejak bersama Rolland, Dion sudah berubah. Ada Rolland disisi Dion walau jauh tapi itu sudah cukup buat Dion. " jelas Dion.


"Rolland ya. Kamu bahkan tidak tahu seperti apa wajah Rolland, kenapa kamu begitu percaya dan cinta sama Dia? " tanya Xia Xi.


"Entah Ce ce. Awalnya Dion hanya berharap bisa berteman saja, dan mungkin secara gak langsung menjadikan Rolland sebagai tempat Dion untuk melupakan kematian Felix. Tapi makin kenal, Dion makin nyaman. Lama lama Dion benar benar mencintai Rolland." jelas Dion.


"Rolland pun sempat marah dan meminta putus saat dia merasa menjadi pengganti. Tapi jujur awalnya iya. Tapi lama lama Dion jatuh hati. Ini yang Dion cari, dia yang Dion inginkan. Saat Rolland minta putus, Tiba-tiba hati Dion kosong hilang Dion gak terima, Dion gak mau lagi kehilangan orang yang Dion cintai. " lanjut Dion.


"Akhirnya kami bersama lagi. " ucap Dion tersenyum senang.


"Hubungan kamu itu aneh Dion. Bukankah cinta kalian hanya sebatas virtual semata. " ucap Xia Xi.


Dion menggeleng pelan.


"Kalau hanya Virtual semata gak akan ada rasa Ce ce. Tapi Dion benar benar jatuh cinta. Berkali kali Dion coba lepas tapi gak bisa. Gak bisa Ce ce. Dion tahu Rolland gak akan ada disisi Dion, karena dia juga dijodohkan. Rolland kelak bukan milik Dion. Tapi selama itu belum terwujud, Dion ingin bersama Rolland. " ucap Dion tertunduk lesu.


"Dion ku yang malang. Kenapa bisa seperti ini kamu sayang. " ucap Xia Xi memeluk Dion.


Liam ikut memeluk, Dion hanya mampu terdiam dan tersenyum hambar.


"Haaa... Sudah lah. Nikmati saja dulu waktu mu. Koko akan mendukung mu. Bilang sama Koko kalau nanti Rolland berbuat jahat sama kamu. " hibur Liam.


"Yang berbuat jahat bukan Rolland, Koko. Tapi Dion. Dion sering ganggu Rolland. " ucap Dion terkekeh pelan.


"Dasar. Jangan sering sering buat Rolland marah, nanti dia bisa pergi lo. " nasehat Xia Xi.


"Iya Ce ce. Koko , Dion pulang sekarang ya. " ucap Dion.


"Iya, sopir sudah menunggu seperti biasa. " sahut Liam.


Sesampainya di Surabaya hari sudah menjelang sore. Dalam perjalanan seperti biasa Dion ber chat ria dengan Rolland, tak sedikitpun Dion mengatakan masalah yang terjadi dengannya.


Dion tak ingin menambah masalah baru lagi. Dan juga Dion tak tahu harus bercerita seperti apa,? Dan bagaimana mengatakan nya. Karena selama ini yang Rolland ketahui Dion sudah di jodohkan dengan Leon, dan masa bebas nya sampai Dion berusia 21 tahun.


Tanpa Rolland ketahui bahwa banyak masalah yang terjadi dengan Dion.


Sesampainya dirumah Dion segera membersihkan diri. Dion menelpon Dhika agar bisa menemani nya.


Tak lama kemudian Dhika datang dengan membawa beberapa makanan buatan Bunda.


Usai makan malam Dion dan juga Dhika asyik berbincang bincang ringan di ruang keluarga, seperti biasa Dion berchat ria dengan Rolland, sedangkan Dhika dengan kekasihnya Putri. Dan disela sela itu terjadi obrolan ringan.


"Dion, masih tidak maukah kamu bertemu dengan Rolland? " tanya Dhika.


"Apakah bisa,? " tanya Dion sambil membalas Chat dengan Rolland.


"Tentu saja Bisa. Siapa bilang tidak bisa? " sahut Dhika.


"Tapi aku takut Dhika. " jawab Dion sambil sibuk menatap layar ponsel.


Sejenak wajah Dion berubah murung, Dhika menatap dengan serius.


"Yahhh....yahh....nah kan Dia gambek lagikan. " pekik Dion tiba tiba.


"Astaga abii, salah sedikit aja udah ngambek. Mana susah banget bujuk nya. " ucap Dion sambil bersungut ria.


"Udah samperin sono, terus kasih kecup biar gak ngambek lagi. " ucap Dhika sekenanya.


"Bego, Surabaya Bandung. Jauh gila. " gerutu Dion.


"Buat dekat aja apa susahnya sih. " ucap Dhika.


"Etto. Buat dekat kepala kau pe'ak. " gerutu Dion.


Dhika tertawa senang.