Unattainable Love

Unattainable Love
Kenapa selalu Dion



(sebelum nya)


"Teganya papa jual Dion ke temannya. Dion bukan barang Ko. Dion punya perasaan, Dion punya hati ko. " ucap Dion lemas.


________


(selanjutnya)


"Sudah jangan di bahas dulu, ini dari tadi ponsel kamu berdering siapa tahu ada yang penting. " ucap Hoong sambil memberikan ponsel nya.


"Kak Ivan. " ucap Dion.


"Ya sudah telpon Dia, mungkin dia khawatir sama kamu." ucap Hoong meninggalkan Dion sendiri.


Segera Dion menghubungi Ivan.


"Halo kak ada apa telpon Dion. " πŸ“² ucap Dion saat ponsel nya di angkat.


"Dion kamu kemana saja, beberapa hari ini saya cari kamu, tapi rumah kamu kosong.? " πŸ“²tanya Ivan khawatir.


"Maaf kak. Dion lupa bilang papa jemput Dion di kampus 4 hari yang lalu. " πŸ“² jawab Dion lesu.


"Dion, Dion sayang ada apa dengan kamu. Apa kamu ada masalah sayang? " πŸ“²tanya Ivan semakin khawatir.


"Papa. Papa jodohin Dion lagi kak. Dan kali ini bakal serius. Dion takut, tadi Dion hampir saja di lecehin. " πŸ“² ucap Dion terisak.


"Bajingan....!!! " πŸ“² umpat Ivan.


"Siapa Dia, sini berikan identitasnya dengan lengkap, akan saya habisi Dia. "πŸ“² ucap Ivan penuh amarah.


"Hiks hiks iya nanti Dion kirim. " πŸ“² isak Dion.


"Sudah kamu tenang saja. Semua akan beres. Kapan kamu akan pulang.? " πŸ“² tanya Ivan.


"Besok. Besok Dion pulang. " πŸ“² jawab Dion.


Tak lama kemudian ponsel Dion bergetar, terlihat notif chat masuk, dilihatnya siapa pengirimnya.


"Abi.. " ucap Dion lirih.


"Kak Ivan, kita lanjut besok ya. " πŸ“²ucap Dion.


"Rolland chat kamu? " πŸ“² tanya Ivan.


"Iya." πŸ“² jawab Dion.


Ivan hanya mampu menghela napas pelan dan menutup ponsel nya.


"Abiiii....." πŸ“² ketik Dion.


"Ada apa Dion. " πŸ“² jawab Rolland.


"Abi janji lah satu hal ke Baby, jangan tinggalin baby, tetaplah bersama baby. Abi nikahi baby walau secara virtual. Baby mohon abi. " πŸ“² pinta Dion tak sanggup lagi menahan perasaan.


"Dion, itu tidak mungkin. Anda tahu kan alasannya. " πŸ“²jawab Rolland.


"Abi, baby mau abi. Baby mau sama abi. Baby mohon miliki baby lagi. Abi.. " πŸ“² ketik Dion penuh dengan rasa cemas.


"Baby ada apa sebenarnya.? " πŸ“² tanya Rolland bingung.


"Gak ada apa apa Abi. Gak ada. Peluk. " πŸ“² pintah Dion manja.


/memeluk


/membalas pelukan.


Sedangkan di tempat Dion. Dion sedang menangis sesegukan, tidak tahu lagi harus berkata apa lagi. Harus bercerita seperti apa. Ingin rasanya dia bercerita semuanya menuangkan semua keluh kesah nya.


"Hiks hiks hiks. Huwaaa..... " tangis tak terbendung lagi.


"Mamaaa...jemput Dion maa. Papa kejam sama Dion, Maaa. Gak sanggup rasa Dion hidup lagi Maaa.... " teriak Dion sambil memeluk lutut nya.


"Kenapa Dion lagi, kenapa harus Dion. Kenapa selalu Dion. Hiks hiks hiks." tangisnya sendiri.


Waktu berjalan cepat, akhirnya Dion pulang juga ke Surabaya. Sesampainya di Surabaya Ivan sudah berdiri menunggu nya di depan rumah. Melihat Ivan, Dion segera turun dan memeluk Ivan. Pecah lagi tangis Dion.


"Dion tenangkan diri mu. Semua akan berakhir, perjodohan mu akan segera berakhir Aku janji itu. Sudah ya jangan menangis lagi. " ucap Ivan.


"Apa Rolland tahu soal ini? " ucap Ivan.


"Belum Dion belum cerita ke Abi. Dion gak tahu harus berkata apa. " jawab Dion.


"Lebih baik kamu cerita semua masalah ini ke Rolland. " ucap Ivan.


"Emmm. Iya nanti malam Dion akan cerita semua. " jelas Dion.


Semenjak percakapan itu Ivan menghilang entah kemana dan tak ada yang curiga.


Hingga.....


Tiba tiba ponsel Dion berdering. Dilihatnya nmr yang tertera.


Segera diangkatnya ponsel itu.


"Iya Ko ada apa? " πŸ“² tanya Dion dengan enggan.


"Pulang ke Cirebon sekarang juga. " πŸ“² perintah Liam.


"Ada apa Ko. Semua baik baik saja kan. ? " πŸ“²ucap Dion menjadi panik.


"Tidak, semua buruk. Lebih baik kamu segera pulang, tiket pesawat sudah koko pesan 1 jam lagi penerbangan nya. Bawa semua surat perjalanan kamu. Cepat. " πŸ“² perintah Liam sambil menutup ponsel.


"Ada apa lagi sih. Gak cukup kah masalah yang ada selama ini. " gerutu Dion sambil menyiapkan semua keperluan yang ada.


Dan sengaja Dion hanya membawa tas ransel.


Sambil menunggu mobil online Dion berchat ria dengan Rolland, lagi lagi Dion tak mengatakan pada Rolland kemana dia akan pergi.


Setelah mobil online datang segera Dion berpamitan dan beranjak dari kursinya.


Perjalanan tak memakan waktu lama, hanya beberapa jam saja, setibanya Di bandara, Dion sudah di jemput oleh sopir pribadi Liam. Tanpa banyak bicara Dion segera naik dan mobil melaju kencang.


Awalnya Dion tak merasa panik atau gelisah. Hanya saja saat masuk pekarangan rumah, ada sedikit keramaian di dalam nya Dion mulai merasa khawatir. Semua saudara yang memang tinggl di dekat rumah Oma berdatangan.


"Mang, ada apa sebenarnya?" tanya Dion pada sopir yang bernama Mamang.


"Emm itu tuan Fernando sama Tuan Ivan. " jawab nya gugup.


"Fernando, Ivan. Ada apa dengan mereka. " Dion semakin bingung.


Mobil yang menjemput Dion berhenti di depan pelataran. Dilihat Fernando dan Ivan berdiri saling berhadapan. Awalnya Dion tak tahu apa yang sedang terjadi, saat turun dari mobil betapa terkejut Dion melihat adegan yang sebenarnya cukup memalukan.


"KALIANNNNN..." teriak Dion saat melihat Fernando dan juga Ivan saling menodongkan pistol.


"Apa yang kalian mau sebenarnya. " pekik Dion emosi.


"Dion, bujuk mereka berdua, banyak anak anak disini Dion. " pintak Xia Xi.


"Iya Ce ce. " jawab Dion.


"Apa kalian gak malu, tingkah kalian seperti anak kecil tahu gak. " ucap Dion marah.


"Cepat turunkan pistol kalian itu. " perintah Dion.


"Anda tanya kan sendiri pada teman Anda ini. Apa yang dia perbuat selama ini. " ucap Fernando menahan emosi.


"Ivan jelaskan.? " tanya Dion datar.


Ivan terdiam tak menjawab bahkan tak mengalihkan pandangan nya sedikit pun dari Fernando.


"Anda tahu apa yang di lakukan pria bodoh ini. Hampir setiap hari dia teror saya untuk melepaskan Anda. Dan bahkan menyewa seorang hacker untuk mengobrak-abrik data komputer Saya. Dan perbuatannya itu hampir membuat perusahaan yang saya pegang mengalami kerugian besar." jelas Fernando marah.


"Dan kebetulan ternyata selama ini Dia tinggal di rumah Oma, makanya Saya datang kesini meminta penjelasan nya. Anda lihat sendiri apa yang Dia perbuat. " lanjut Fernado.


"Ada untungnya juga saya bawa pistol setiap hari. Kalau tidak mungkin saat ini tubuh saya sudah jatuh ke tanah menjadi mayat. " ucap Fernando lagi.


"Kak Ivan apa yang kau lakukan. " ucap Dion lirih.


"Aku lakukan ini untuk mu juga Dion. Agar kau bisa lepas dari tangan nya dan kembali kepadaku. " jawab Ivan.


"Kau sudah gila apa. Aku gak pernah cinta kamu atau pun Dia. " teriak Dion.


"Dion, hentikan mereka sekarang juga. Sebelum Papa kamu datang. " pintah Hoong.


"Ivan, Fernando dengar kalian berdua, aku gak peduli dengan kalian terserah kalian mau mati konyol pun aku gak akan peduli dengan kalian. " pekik Dion dan membalik badannya.


"Ohh apa Anda kira saya main main dengan ini. " ucap Fernando merasa di remehkan.


"Dion, kamu tahu benar siapa Aku. Apa Aku pernah main main. " sahut Ivan.


Dengan segera Fernando menaikan pelatuk pistol nya, begitu juga dengan Ivan.


Dan....


Doorr.... Doorr....


Terdengar dua kali bunyi tembakan dan juga pekikan kesakitan dari mulut Fernando dan juga Ivan. Tidak hanya itu suara itu juga mengejutkan semua orang.


Suara histeris dan tangisan anak anak karena takut dan terkejut terdengar.


Wajah Dion memucat dilihat keduanya, ternyata kedua bahu mereka bersimbah darah. Kembali Fernando dan juga Ivan saling menodongkan pistol nya.


"Aku tidak sedang bercanda Dion. Pilih dengan tegas Aku atau pria itu. " ucap Ivan.


"Kalian pikir aku ini apa Haaaah....!!!!. Barang yang bisa kalian perebutan kan begitu saja. " ucap Dion bergetar.


Liam segera menghampiri Dion dan memeluk Dion.


"Dion kita bicara kan ini didalam. Lihat lah keponakan keponakan kecil menangis apa kamu tidak kasih dengan Hendra juga." bujuk Liam