Unattainable Love

Unattainable Love
Drama di siang hari.



Matahari mulai merangkak naik, sinarnya mulai terasa menyengat. Dion yang seharian sibuk meraih ponsel nya dan menghubungi seseorang.


"Abi... " 📲 ketik Dion sambil menatap layar ponsel.


"Ahh kenapa gak di balas balas sih. Kemana Abi." gerutu Dion.


"Disaat di butuhkan selalu gak on. " sungut Dion.


"Abi... " 📲ketik Dion lagi.


"Abi kemana sih, ayolah baca chat baby. " 📲 ketik Dion semakin gusar.


"Ahh cuma di baca aja. Kebiasaan banget. " keluh Dion


"Kalo sibuk apa susahnya sih bilang, by atau Dion saya sibuk jangan ganggu dulu. " ucap Dion kesel.


"Abi kenapa cuma di baca aja sih. " 📲 ketik Dion dengan raut wajah kesal.


"Abi... " 📲 ketik Dion lagi.


"Apaan sih??? “ 📲 balas Rolland.


"Kalau tidak penting, jangan spam kenapa.?? " 📲 ketik Rolland lagi.


"Lah kok abi yang marah, harusnya kan Dion marah ini malah kebalik. Dasar payah. " gerutu Dion.


"Kenapa abi yang sewot. " 📲 ketik Dion tak Terima.


"Cerewet, saya lagi sibuk. " 📲balas Rolland dan beralih ke tidak aktif.


"Dasar Rolland bego, apa salahnya bilang, saya lagi sibuk jangan di ganggu dulu. Kan Dion juga bakal ngerti. " omel Dion tak karuan.


"Haaa.....kenapa malah Dion yang di salahin. Rolland begoooo...." maki Dion.


Dion segera beranjak dari sofa nya dan mengambil hoodie kesayangan nya, serta mengeluarkan motor kesayangan pergi ke rumah sahabatnya. Andhika.


Sesampainya di sana segera ditekannya bel pintunya.


Muncul seorang wanita paruh baya yang masih cantik.


"Dion. Masuk Nak. " ucapnya lembut.


"Iya, bunda. " jawab Dion dan masuk rumah setelah usai mencium tangan nya.


"Dhika ada bunda? " tanya Dion.


"Ada di kamar sedang tidur seperti nya. Naik aja. " ucapnya yang ternyata adalah mamanya Dhika.


Tanpa berpikir panjang Dion langsung naik ke atas. Bunda Dhika hanya tersenyum.


Tanpa mengetuk pintu Dion langsung masuk di lihatnya sahabat baiknya sedang terlena di alam mimpi dengan posisi tidur tengkurap.


Tanpa pikir panjang Dion langsung masuk, menghampiri dan menindihnya dengan keras. Tentu saja si empunya berteriak terkejut.


"Dioonnnnnn, ****** lu. Sakit tau. " teriak Andhika terkejut dan juga kesakitan.


"Siapa suruh tidur. " jawab Dion tanpa merasa bersalah.


"Bangun gak, atau gue jatuhin lu ke lantai. " ancam Dhika.


Dion pun turun dari atas tubuh Dhika dan tidur disampingnya. Tapi selanjutnya Dion langsung memeluk Dhika dan menangis.


"Hiks Rolland bego. " ucap Dion di antara isaknya.


"Kenapa lagi dengan Rolland. Beratem lagi.? " tanya Dhika.


"Rolland gak chat sama sekali, Dion khawatir. Terus Dion chat banyak terus cuma di baca aja. Terus Dion.... " belum selesai Dion berbicara segera di potong oleh Dhika.


"Terus Dion tanya kok di baca saja. Dion Dion, mungkin dia sibuk, atau ada keperluan lain. Coba lah mengerti Dion. Gak selamanya kita harus berdiam tanpa aktivitas kan. " potong Dhika.


"Tapi apa salahnya bilang saya sibuk ya. Kenapa harus ngebentak. " bela Dion.


"Haaaa..... Kamu yang harus mengerti Dion. Kamu sudah terbiasa mengerjakan semua yang kamu bisa dalam satu waktu. Belum tentu Rolland bisa seperti itu, mungkin dia hanya bisa fokus di satu aktivitas saja." nasehat Dhika.


"Sudah jangan menangis kayak cewek saja. " goda Dhika.


"Dion bukan Cewek. " sungut Dion.


"Ya sudah berhenti nangisnya. Yuk main ke rumah Putri. " ajak Dhika.


"Ogah nanti Dion jadi obat nyamuk lagi. Males. " jawab Dion malas.


"Saya pacaran kamu main ps sama adik nya. Pas kan, nanti saya beliin snack sama minuman. " bujuk Dhika.


"Memang nya Dion anak kecil apa di bujuk pake makanan. " ucap Dion sambil memukul Dhika pakai bantal.


Dhika tertawa lepas melihat sahabat sekaligus seperti adik baginya kembali ceria.


"Memang, kan kamu cengeng. " goda Dhika sambil turun dari ranjang dan berlari keluar.


"Dhikaaaaaa, awas kamu ya. " teriak Dion yang ikut turun dan berlari mengejar Dhika.


Saat sampai di bawah ternyata Dhika sudah bersembunyi di belakang mamanya.


"Bunda, Dhika tuh. " adu Dion setelah berhenti mengejar.


"Kalian ini sudah mahasiswa, masih saja seperti anak kecil. " sahut mama Dhika.


"Jewer telinga nya Bunda. " sungut Dion.


"Sudah sudah. Sini makan dulu, Bunda buatkan nasi goreng tadi. " ucapnya melerai keduanya.


Alhasil mereka berdua duduk dengan manis di meja makan. Mama Dhika tertawa kecil melihat keduannya. Setelah selesai makan, rencana berubah bukannya pergi mereka berdua kembali kekamar dan menghabiskan waktu di dalam kamar.


"Dion sudah berapa lama kamu jalan secara LDR sama Rolland.? " tanya Dhika tiba tiba.


"Kalau di bilang secara keseluruhan sudah cukup lama. Dimulai dari 2 hari setelah ulang tahun ku di bulan Juli tahun lalu. " jawab Dion sambil membaca komik yang di ambilnya secara acak di kamar Dhika.


"Selama itu tidakkah kamu ada keinginan untuk bertemu muka dengannya. ? " tanya Dhika lagi.


"Dhika bukankah sudah berulang kali aku jawab pertanyaan itu. Aku takut makin terpikat, kamu tahu sendiri masa depanku bukan aku yang memegangnya, tapi oma dan papa. " ucap Dion lirih.


"Rolland tahu itu? " tanya Dhika lagi.


"Awalnya aku enggan untuk mengatakannya. Tapi makin kesini aku makin terpikat dan takut lepas dari nya. Akhirnya aku jujur sama Rolland dan cerita semuanya. " jawab Dion sambil meletakkan komik.


"Respon Dia? " tanya Dhika penasaran.


"Dia terkejut tentu saja. Aku sempat khawatir akan di tinggal Rolland. Tapi akhirnya kami membuat kesepakatan hubungan ini sampai dengan waktu buat kami yang sudah di tentukan. " jawab Dion tersenyum kecut.