Unattainable Love

Unattainable Love
Sebuah perjanjian hitam di atas putih



"Kalian masuk kedalam, jika kalian masih bersikeras seperti ini. Bukan mayat kalian yang terjatuh lebih dulu. Tapi mayat ku. " ucap Dion serius.


Liam pun memapah Dion. Dan memerintahkan untuk segera memanggil dokter. Dan benar saja, baru dua langkah Dion sudah limbung dan tak sadarkan diri. Semua menjadi panik begitu juga dengan Fernando dan Ivan.


Dua dokter segera di panggil. Seorang untuk kedua orang yang terluka, seorang lagi khusus untuk Dion.


"Bagaimana kondisi Dion. ? " tanya Liam.


"Untung saja kali ini syok yang di terimanya tidak terlalu mengguncang jiwanya. Harusnya kalian tahu Dion tidak bisa menerima syok yang berlebihan. Atau dia akan memilih tidur dengan jiwa yang satunya. " nasehat dokter spesialis yang memang di khusus kan untuk memantau keadaan Dion baik mental maupun fisiknya.


Fernando yang tak begitu memahami kondisi mental Dion hanya menatap tak percaya.


Akhirnya Hoong menceritakan semuanya. Ada hubungan apa antara Dion dengan Ivan. Dan seperti apa sebenarnya kedudukan Ivan di mata keluarga mereka. Dan juga kenapa Ivan begitu keras kepala dan melakukan apapun untuk memisahkan perjodohan mereka. Fernando pun sadar keberadaan Ivan juga penting bagi Dion.


Tak lama kemudian Dion tersadar, ternyata Gu Nam sudah ada di sisi Dion.


"Pa, lihat kelakuan pilihan Papa itu. Apakah orang yang seperti itu yang Papa ingin berikan pada Dion. " ucap Dion sambil duduk pelan.


"Dion bukan salah Fernando saja. Ivan juga bersalah. Dan kamu harus tegas memilih siapa." ucap Gu Nam.


"Papa kira akan semudah itu Dion bisa memilih. Jika Dion memilih Ivan, Dion yakin mayat Fernando yang tergeletak, dan begitu juga sebaliknya. Lalu siapa yang harus Dion pilih, atau lebih baik Dion saja yang menjadi mayat." ucap Dion menatap Gu Nam.


"Dion." panggil Fernando.


Dan di belakang Fernando sudah ada Ivan.


"Kami sudah membuat kesepakatan. Dan kami berdua setuju. " ucap Fernando.


"Kesepakatan apa yang kalian buat? " tanya Dion dingin.


"Anda bisa tetap Ivan walau kita sudah menikah. " jawabnya.


Seketika itu Gu Nam berdiri dan menatap tajam kearah Fernando. Bukan hanya Gu Nam. Liam, Hoong dan juga Dion tentu juga sangat terkejut.


"Fernando, apa maksud dari ucapan Anda.? " ucap Gu Nam datar.


"Papa Gu Nam. Dengarkan penjelasan Saya. Saya tahu kenapa Ivan tidak mau melepaskan Dion. Karena Dia juga menyukai Dion, begitu juga dengan Saya. Kami sama sama keras kepala tidak mau melepaskan Dion ataupun merelakan Dion. Jadi dari pada nanti nya ada mayat yang jatuh disini, kami sepakat akan menjaga Dion bersama sama." ucap Fernando.


"Tapi tentu saja tidak tinggal seatap. Karena pekerjaan kami berbeda tempat. " lanjut Ivan.


Gu Nam menatap ke arah Dion yang menahan amarah. Gu Nam tidak tahu harus berkata apa lagi. Memang benar yang di ucapkan Dion. Jika memilih Fernando, Ivan yang celaka. Begitu sebaliknya jika memilih Ivan, Fernando yang merenggangkan nafasnya. Jika menerima keduanya apa sanggup Dion menghadapinya??.


"Saya benar benar bingung harus berbuat apa lagi. " ucap Gu Nam pasrah.


Dion terdiam tak tahu harus berkata lagi. Melihat itu Liam pun mulai angkat bicara. Dan mendekati Dion.


"Dion, bagaimana dengan kamu. Apa kamu mau menerima keduanya.? " tanya Liam khawatir.


"Apa Dion ada pilihan lain Ko? " ucap Dion balik bertanya dengan wajah datar dan dingin.


"Apa mereka mengerti perasaan Dion. " ucap Dion meninggikan suaranya.


"Mereka itu bodoh. Di otaknya hanya ada ***, *** dan ***. Apa ini yang di namakan cinta? " ucap Dion menatap tajam kearah Fernando dan juga Ivan.


Tak ada yang membentak atau membantah ucapan Dion. Semua terdiam.


"Haaa.... " Liam menghela nafas panjang.


"Sekarang apa mau kamu Dion? " tanya Liam.


"Apapun permintaan kamu mereka berdua akan menurutinya. " ucap Liam serius.


"Dion gak tahu harus bicara apa Ko. Permintaan yang seperti apa yang bakal membuat mereka menuruti nya. " ucap Dion bingung.


"Syarat ya, syarat. " beo Dion, dan kemudian terdiam sejenak.


"Papa, Dion mau. Dion Terima permintaan mereka. " ucap Dion tiba-tiba.


Sehingga membuat keduanya bernafas lega.


"Tapi dengan beberapa syarat tentunya." ucap Dion.


"Apapun syarat kamu, kami berdua menerimanya Dion. " ucap Ivan penuh percaya diri.


"Baiklah, Dion pegang omongan kalian. " sahut Dion tersenyum licik.


"Syarat nya adalah. " ucap Dion sambil menatap serius.


"1. Dion minta ke bebas hingga Dion cukup umur buat menikah. Hingga Dion berusia 21 atau 22 tahun.



Selama masa bebas tidak ada satupun di antara kalian mendekati Dion. Dan hanya sebatas telpon dan itu pun 1 kali dalam 1 minggu.


Setelah menikah dan mengikat janji setia dengan kalian. Bukan Dion yang mendatangi kalian, tapi kalianlah yang menghampiri Dion, tentu saja dengan sebuah perjanjian juga. " ucap Dion tegas.



Fernando dan juga Ivan terkejut dengan ucapan Dion.


"Dion itu syarat yang sulit. " ucap Fernando.


"Kalau kau tak suka maka mundur saja. " sahut Dion.


"Dion, jika tidak saling bertemu mana mungkin terjalin rasa cinta." lanjut Ivan.


"Cinta. Cinta katamu. Dari mana nya perbuatan mu itu di sebuat cinta. " ucap Dion meremehkan.


"Kak Ivan, bukankah Dion sudah pernah bilang. Dion tidak pernah mencintai kakak. " pekik Dion sambil memegang dadanya.


"Sudah cukup kalian berdua, sudah untung Dion mau. Jika tak suka maka mundur saja. " ucap Hoong sambil memeluk Dion dan membujuk agar bisa lebih tenang.


"Baiklah Saya terima persyaratan Anda. " ucap Fernando.


"Saya juga. " sahut Ivan.


"Papa, Dion mau perjanjian ini tertulis. Bukan hanya ucapan belakang, apa bisa? " tanya Dion.


"Bisa. Liam telpon pengacara sekarang juga dan buatkan draf perjanjiannya.? " perintah Gu Nam.


"Masalah kali ini Papa tidak bisa membantu banyak, tapi jika ingin menambahkan poin lagi tambahkan saja. Papa rasa mereka tidak akan menolaknya. " ucap Gu Nam.


"Papa Gu Nam, bisa saya tambahkan satu pion penting lagi. " pintah Liam.


"Apa itu Liam. ? " tanya Gu Nam.


"Jika setelah mereka terikat sumpah dan ada yang berselingkuh, maka pada saat itu juga hubungan mereka putus. Ini berlaku buat Fernando dan juga Ivan. " ucap Liam tegas.


Gu Nam menatap pasrah. Dion mengangguk setuju. Sedangkan keduanya mau tak mau harus setuju juga.


Pada saat itu juga Liam menghubungi pengacara. Draf di buat, dan di bacakan ulang oleh pengacara. Semua setuju, orang orang yang bersangkutan menandatangani draf tersebut, tentu saja beberapa ikut tanda tangan sebagai saksi.


Lega sudah, masalah selesai. Tapi tidak dengan Dion. Pikiran nya semakin kacau.