
Ada kalanya Dion termenung menatap jauh ke depan dengan tatapan kosong.
Menyembunyikan sebuah kenyataan yang cukup menyakitkan.
Terkadang Dion ingin sekali mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi, tapi setiap mata Dion menatap kedua mata Rolland kata kata yang akan keluar kembali di telannya mentah mentah.
Seperti malam ini, Dion kembali termenung dan terdiam.
"Apa yang sedang Anda lamunkan. " ucap Rolland tiba tiba dan memeluk dari belakang.
"Abi. " pekik Dion terkejut.
Rolland menatap kearah Dion dan tersenyum.
"Apa yang Anda fikirkan. Hemmm? " tanya Rolland.
Yang kemudian duduk di sebelah nya. Dion berbaring dan tidur di pangkuannya.
"Baby berfikir tentang Kita Abi. Tentang hubungan kita. Tidak bisakan ini untuk selamanya Abi? Tidak bisakan Baby ada disisi Abi buat selamanya? " tanya Dion dengan sedikit putus asa.
"Haaa..... " Rolland hanya mampu menghela napas panjang.
Di usap lembut nya pipi Dion.
"Maaf sayang. Itu tidak mungkin. Anda tahu sendiri baik Saya atau pun Anda mempunyai masalah yang sama. Kita sudah di jodohkan, bahkan.... " ucap Rolland dan kemudian terdiam.
"Bahkan apa Abi.? " tanya Dion sedikit curiga.
"Tidak ada. Tidak ada apa apa. " jawab Rolland tak mampu mengungkapkan.
"Baby, boleh Saya bertanya? " tanya Rolland menatap lekat wajah Dion.
"Iya Abi " jawab Dion pendek.
"Apa yang membuat Anda datang kemarin? Apa ada yang Anda sembunyikan dari Saya.? " tanya Rolland.
Sejenak Dion terdiam. Dion mulai gelisah, napas sedikit memburu karena rasa gelisah bercampur dengan rasa takut. Sehingga membuatnya merasa sedikit sesak didada.
"Dion, tenang kan diri Anda. " ucap Rolland yang kemudian mengecup lembut kening Dion.
"Hiks hiks hiks... Maaf Abi. Maaf. Baby bohong, baby berbohong sama Abi. Hiks hiks hiks... Maaf Abi. " ucap Dion yang kemudian menangis.
Dibangunkan tubuh Dion dan di peluk eratnya tubuh mungil itu.
"Ada apa Dion, cerita sama Saya. Apa yang sebenarnya terjadi.? " tanya Rolland khawatir.
"Papa.... Papa... Abi. Dia bikin ulah lagi, Baby di jodohin lagi sama orang lain. " sahut Dion sambil sesegukan.
"Leon membatalkan perjanjian sebelum oma meninggal. Lalu Papa.... Hiks.... Dia jodohin Baby sama anak temannya. Awalnya Dia setuju mau batalin tapi Dia bohong Abi, Dia bohong. " ucap Dion di antara tangisnya.
"Maaf Saya tidak bisa bantu Dion. " ucap Rolland memeluk erat.
"Tapi Abi bukan itu masalah nya. Mereka keterlaluan, mereka kira Baby apaan. Tempat pelampiasan nafsu saja kah. Baby benci mereka Abi. Abi bawa Baby pergi jauh Abi. Baby gak mau disini, Baby gak mau sama mereka Abi. Bawa Baby pergi Abi. " rengek Dion sambil memeluk erat.
"Baby itu tidak mungkin, Saya tidak bisa." jawab Rolland lirih.
"Mereka siapa yang Anda maksud. Hmmm. " tanya Rolland.
"Fernando calon dari Papa sama Ivan. " jawab Dion lirih.
"Abiii....Baby bukan gigolo. Baby bukan barang. Kenapa mereka buat keputusan yang sepihak. " tangis Dion pecah seketika.
"Huwaaaaa..... Baby manusia Abi. Baby bukan tempat pelampiasan nafsu ***. " tangis Dion.
Rolland hanya mampu memeluk dan mencoba menenangkan.
"Baby gak mau tubuh Baby di sentuh mereka. " ucap Dion diantara tangisnya.
"Apa maksudnya Dion? " Rolland semakin bingung.
"Baby akan nikah sama Fernando. Tapi Dion juga jadi milik Ivan. " jawab Dion yang kemudian menjelaskan semua apa yang sebenarnya terjadi selama ini.
"Kenapa Anda tidak pernah cerita, dan kenapa baru sekarang Anda cerita. " ucap Rolland sambil memeluk erat.
"Baby gak tahu mesti cerita bagaimana Abi. Baby takut. " jawab Dion.
Dihapusnya air mata yang membasahi pipi Dion. Diciumnya bibir Dion pelan hingga Dion menjadi tenang.
"Dion sayang. Saya tidak bisa berbuat apa apa sayang, Anda tahu sendiri kita sama sama di jodohkan. Saya juga tidak bisa menolak itu. " jelas Rolland.
"Baby tahu abi. Baby tahu. Hiks... Tapi Abi... " belum selesai Dion berbicara Rolland menutup mulut Dion dengan satu jari.
"Dengar, cobalah menerima apa yang di berikan Papa Anda siapa tahu kebahagiaan Anda ada disana nantinya. " ucap Rolland.
Di pegang nya tangan Rolland.
"Tapi Abi akan selalu ada disamping Baby kan. Sampai waktu baik Abi maupun Baby tiba. Dan itu masih lama kan Abi. Masih tahun depan kan? Masih panjangkan Abi? " tanya Dion mencoba mencari kepastian.
Sejenak Rolland terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Dan kemudian tersenyum dan menganggu pelan. Dipeluk erat tubuh Dion, dan Dion melakukan hal yang sama hingga Dion terlelap karena lelah menangis.
Kemudian di gendong nya tubuh Dion dan di baringkan ke ranjang. Rolland ikut berbaring di sebelahnya.
"Haaaa.... Kucing kecilku yang malang. Maaf Saya belum bisa mengatakan yang sebenarnya. Maaf... " ucap Rolland memeluk tubuh Dion dan ikut terlelap.