Unattainable Love

Unattainable Love
Dia yang selalu ada di sisiku



(Kembali ke Dion)


Saat istirahat tiba, seperti biasa Dion dan Andhika selalu duduk di bangku paling pojok di kantin kampus sambil menikmati hidangan di depan mata mereka.


"Dion, kamu mau sampai kapan seperti ini? " tanya Dhika di sela sela makan nya.


"Seperti ini gimana maksud kamu? " jawab Dion balik bertanya.


"LDR, tanpa tahu wajah masing-masing. Tanpa mendengar suara masing-masing. " jelas Dhika.


Dion menatap malas kearah Dhika.


"Dhika, berapa kali kamu tanya soal ini. Toh kamu juga sudah tahu jawabanya. " ucap Dion lirih.


"Dion coba untuk bertemu, siapa tahu setelah Oma mengenal Dia, Oma akan berubah fikiran. " jelas Dhika.


"Dhika, sudah lah jangan di bahas lagi. Nanti kalau memang harus ketemuan, pasti bakal ketemu kok. Aku ingin berjalan seperti ini dulu. " ucap Dion datar.


"Haaa... Terserah kamu, aku cuma memberi saran saja. " sahut Dhika.


Tak lama kemudian terdengar suara dering dari ponsel Dion. Dilihatnya nama yang tertera di ponsel.


"Siapa, angkat gih buruan sebentar lagi kita ada kelas. " ucap Dhika.


"Haaa... Kak Ivan. " jawab Dion pelan.


"Angkat gih " ucap Dhika.


Mau tak mau Dion mengangkat ponselnya yang mulai berisik itu.


"Ya hallo Kak. Ada apa? " 📲 tanya Dion dengan enggan.


"Nanti malam ada acara? " 📲 tanya Ivan.


"Enggak ada, nanti malam Dion free. " 📲 jawab Dion.


"Ya sudah. Nanti malam saya jemput. " 📲 ucap Ivan dan langsung menutup ponselnya.


"Kebiasaan." gerutu Dion.


Dhika hanya terkekeh kecil. Mereka pun kembali ke ruang mereka hingga semua kegiatan kampus usai.


Malam hari. Seperti permintaan Ivan. Dion bersiap siap dan menunggunya di teras rumah.



Ivan, lebih lengkap nya adalah Stevanus Ivan Renhoar. Dion memanggilnya Ivan.


Bagi Dion, Ivan adalah sosok kakak, yang selalu ada untuk Dion. Ivan tahu benar siapa Dion, seperti apa Dion, dan juga mengenal hampir seluruh keluarga besar Dion dari pihak Papanya.


Oma nya meminta Ivan untuk selalu menjaga dan mengawasi Dion.


Ivan mencintai Dion hanya saja Dion tak pernah membalas cintanya dan hanya menganggapnya sebagai Saudara. Ivan tak merasa keberatan, cukup Dion ada di samping Ivan itu sudah lebih dari cukup.


Tak lama kemudian sebuah mobil sedan berhenti di depan rumah Dion.


Segera Dion menghampiri dan tersenyum manis.


"Kita mau kemana Kak? " tanya Dion.


"Kencan " jawab Ivan tersenyum.


"Dihh kencan. Kenapa harus sama Dion. Sana sama Samuel aja. " gerutu Dion.


"Hahaha... " Ivan hanya tertawa lepas.


"Malah ketawa. " Dion semakin manyun.


"Temani saya makan malam, setelah itu kita nonton. Sudah lama kita tidak nonton. " ucap Ivan.


"Haisss. Kirain mau kemana. " jawab Dion.


Alhasil mereka menghabiskan waktu bersama hingga malam.


Waktu berlalu dengan semestinya, tak ada yang aneh tak ada yang mencolok. Ivan berusaha untuk meraih hati Dion, tapi Dion semakin hari semakin jauh darinya. Dan semakin tenggelam dengan kisah cintanya yang hanya secara virtual atau Long Distance Relationship (LDR) tanpa mengetahui wajah masing-masing.


Dhika selalu sama menasehati, memberi saran agar bisa bertemu muka. Lagi lagi Dion masih menolak nya.


Hingga suatu hari secara tiba tiba, Oma , orang yang paling tua, yang paling memegang kedudukan serta kendali di keluarga Papa nya meminta Dion untuk datang ke rumah utama.


Awalnya Dion merasa curiga, apa lagi dia sudah melewati usia 18 tahun, lebih tepatnya sekarang usia Dion 19 tahun.


"Haaa... Gimana ini. Pasti oma mulai mengengkang Dion. Enggak, Dion gak mau. " ucap Dion gelisah saat menerima pesan dari papanya untuk segera pulang ke rumah utama.


Hampir satu minggu Dion tak bisa tidur, tampak jelas di wajah imutnya.


"Kenapa Dion, wajah kamu kusut sekali sayang? " tanya Ivan saat berada di rumah Dion.


"Oma memanggil, dia minta Dion untuk pulang ke Cirebon. Dion merasa gelisah, gak seperti biasa Oma manggil Dion untuk pulang. " jelas Dion.


"Kalau Oma meminta pulang, ya pulang saja. Nanti saya temani gimana. " ucap Ivan sambil merangkul tubuh mungilnya dan memeluk nya pelan.


"Emmm. Iya, temani Dion pulang ya. " pintah Dion sambil menatap Ivan.


"Tentu saja. " jawab Ivan dan mengecup pelan bibir Dion.


"Ivannn.... Dasar. " gerutu Dion terkejut sambil memukul kepala Ivan.


Ivan hanya terkekeh pelan dan kembali memeluk tubuh mungil Dion. Dion tersenyum tipis.