Unattainable Love

Unattainable Love
Nikmatnya malam hari



Bibir Dion basah karena nya hingga membuat Rolland makin ingin menikmatinya lagi. Tanpa pikir panjang, Rolland menggendong tubuh Dion dan masuk kedalam kamar.


"Jangan keras keras nanti suaranya ya. " ucap Rolland berbisik.


Wajah Dion makin bersemu merah. Rolland tersenyum tipis.


"Cantik." ucap Rolland pelan.


Didalam kamar yang dingin menjadi panas, hanya terdengar erangan pelan dan tertahan. Dan suara napas yang memburu jika seseorang menguping dan menempelkan telinganya di pintu kamar itu.


Hingga tak lama kemudian hening setelah terdengar suara lenguhan panjang yang bertanda nikmat telah sampai pada ujungnya. Dan akhirnya sepi hanya terdengar suara napas yang memburu. Dan hening kembali karena pemilik kamar tertidur lelap.


Malam berlalu, pagi mulai datang. Mentari sudah mulai menampakan wajahnya. Tapi kedua anak adam belum juga terlihat akan beranjak dari peraduannya.


Di ruang meja makan, Mama Clara sudah duduk manis di kursi meja makan. Terlihat Luth dan juga Gery yang ternyata sudah datang dan duduk di meja makan.


"Loh mana Rolland sama temannya? " tanya Clara sambil mengambil sarapan paginya.


"Tante seperti tidak tahu Rolland saja. Kalau jam 5 pagi belum bangun, berarti Dia akan bangun siang. " jawab Gery ikut mengambil sarapan.


"Kalau Dion mungkin kelelahan karena perjalanan. " sahut Luth.


"Ya sudah biarkan mereka tidur. " ucap Clara.


(Pov Kamar Rolland).


Rolland yang sudah mulai terbangun menatap ke arah sosok pria mungil di samping nya. Diusap lembut nya rambut Dion, di tatapnya penuh penyesalan.


Perlahan Rolland menghela napas panjang. Memandang wajah Dion, menatap tubuh Dion yang hanya tertutup oleh sehelai selimut. Dengan pelan Rolland mengusap pelan pipi Dion dan turun ke leher.


"Kenapa Anda baru datang sekarang Dion? Kenapa tidak dari dulu Anda datang? " ucap Rolland lirih.


"Berat rasanya memberitahu kebenaran pada Anda. " lanjut Rolland.


"Semua terlambat sayang, sangat terlambat. " ucap Rolland lirih dan mengecup bibir Dion.


"Emmmm... " rintih Dion pelan.


Yang kemudian membuka matanya pelan.


"Morning, baby. " sapa Rolland.


"Morning too abi. " jawab Dion pelan.


Di tatapnya wajah Dion yang masih mengantuk dan lelah.


"Capek ? " tanya Rolland.


"Emmm.... Iya. Abi sih bilangnya sekali, tapi ini malah berkali kali. Sudah tahu baby gak pernah di sentuh siapa pun. Dan ini baru pertama kali setelah sekian lama baby di sentuh. Sakit abi. " rengek Dion.


"Maaf ya. Habisnya milik Anda sangat candu. " jawab Rolland.


"Mau mandi? " tanya Rolland.


Dion mengangguk pelan. Segera Rolland bangun dan turun dari ranjang. Begitu juga dengan Dion.


"Bisa jalan.? " tanya Rolland khawatir.


"Bisa." jawab Dion sambil berjalan pelan.


"Sakit ya? " ucap Rolland semakin khawatir.


"Kita sarapan di kamar saja. " usul Rolland.


"Jangan, Dion gak enak sama Mama Clara. Dan lagi nanti kan kita jalan jalan, lepas mandi terus sarapan habis itu ajak baby keliling. " ucap Dion.


"Haaaa... Baik lah. " jawab Rolland pasrah.


Di dalam kamar mandi Rolland benar benar membantu Dion membersihkan badannya dari sisa sisa semalam. Selesai semua keduanya ikut bergabung. Dengan sedikit menahan rasa perih Dion berjalan pelan ke ruang makan, dan tersenyum manis.


"Pagi semua. " sapa Dion.


"Pagi juga. Nyenyak tidurnya semalam Dion. " sahut Clara.


"Iya Ma. Tapi sedikit gelisah. " jawab Dion.


"Gimana mau nyenyak kalau tidur nya ada yang gangguin. " ucap Luth sedikit sewot.


Rolland menatap tajam ke arah Luth sedangkan Gery hanya tertawa kecil.


"Sudah, kalian berdua segera sarapan. Mama berangkat sekarang. " lerai Clara dan beranjak dari kursi dan meninggalkan mereka semua.


"Rolland, Dion. Apa kalian tidak punya otak, kalau mama sampai tahu apa yang terjadi nanti." hardik Luth.


Rolland dan Dion terkejut dan diam tak menjawab.


"Memangnya apa yang mereka lakukan? " tanya Gery pura pura tak tahu.


"Menurut mu apa yang akan mereka lakukan? " ucap Luth balik bertanya.


"Maaf Kak. " sahut Dion lirih.


"Sudah Kak, saya yang salah harusnya saya sedikit menahan diri. " jawab Rolland menyesal.


"Sudah lah. Lebih baik Dion jangan tidur dirumah ini. Biarkan dia menginap di Villa Aldy saja. " usul Luth.


"Di villa Papa. Tapi Papa kan enggak ada di Bandung Kak. " ucap Dion.


"Lebih baik ke rencana awal saja Abi. Baby menginap di hotel terdekat saja. " lanjut Dion.


"Tidak. Lebih aman Anda menginap di villa Aldy." sahut Rolland.


"Bilang saja kamu tidak suka orang lain menatap dan menikmati wajah Dion. " ejek Gery.


Rolland hanya mampu melototkan matanya, Luth tertawa. Dan akhirnya semua setuju Dion tinggal di villa Aldy. Ternyata villa Aldi tak jauh dari rumah Rolland.


Tidak hanya Dion yang akan tinggal disana Rolland pun ikut tinggal disana. Awalnya Clara tak menyetujuinya dan setelah berbagai argumen dan bujuk rayu dari Rolland. Clara setuju dengan pasrah.


Dari hari ke hari hubungan Dion dan juga Rolland semakin erat. Tak jarang mereka jalan jalan ketempat hiburan dan banyak kenangan yang mereka dapatkan.



Ke bahagia terpancar jelas di wajah Dion.


Hari hari yang penuh canda tawa berdatangan silih berganti. Kebahagiaan demi kebahagiaan mereka berdua rengkuh bersama.


Bahkan tak hampir tiap malam suara erangan dan lenguhan menghiasi kamar mereka berdua. Seakan akan dunia hanya milik mereka. Baik Rolland maupun Dion tak satu pun dari mereka ingat apa yang menunggu mereka. Apa yang akan mereka hadapi.