Unattainable Love

Unattainable Love
Pagi sebelum badai datang.



Badai masih belum selesai berhembus. Badai berikutnya datang di saat pagi menyapa. Udara dingin membuat Dion enggan itu bangun, Dion kembali meringkuk manja dalam pelukan Rolland. Seakan-akan takut menghilang. Rolland hanya mampu tersenyum melihat tingkah Dion yang semakin manja.


"Dion sayang, seandainya saja Anda perempuan. Saya akan meminta Mama untuk melamar Anda. " keluh Rolland sembari mengecup kening Dion.


"Emmm.... " rintih Dion pelan.


Rolland menatap dan tersenyum kembali. Tetapi senyuman itu menghilang saat dering ponselnya berbunyi. Dilihatnya nomor yang tertera.


"Gery, tumben pagi pagi telpon. " ucap Rolland heran.


Segera Rolland mengangkat ponselnya takut membangunkan sosok mungil yang tertidur lelap disampingnya.



"Halo Gery ada apa? " 📲 tanya Rolland saat ponsel tersambung.


"Bersiap siap lah, Dia akan tiba hari ini. Dan tante meminta Gue buat antar Dia ke villa. " 📲 jawab Gery .


"Apa, jangan bawa dia kesini. Saya belum bercerita tentang Dia ke Dion. " 📲ucap Rolland terkejut.


"Terlambat. Gue gak bisa menolak permintaan Tante. Lebih baik Lu cepat cerita sebelum semua terlambat. " 📲 sahut Gery yang


kemudian memutuskan sambungan ponselnya.


Sejenak Rolland terdiam, di tatapnya wajah Dion tanpa sadar air mata Rolland turun perlahan. Rolland tak tahu harus berkata dan menjelaskannya seperti apa. Dion terbangun saat dirasa ada yang membasahi pipinya. Dilihatnya pipi Rolland yang basah.


"Abi, kenapa Abi menangis? Ada apa Abi? " tanya Dion tiba tiba.


Seketika itu Rolland tersadar dan menghapus air mata nya.


"Tidak, tidak ada apa apa. Anda sudah bangun, ayo mandi kemudian kita sarapan. Bibi pasti sudah menyiapkan sarapan kita. " jawab Rolland mengalihkan pembicaraan.


"Abi menyembunyikan sesuatu dari Baby kan? " tanya Dion menatap sedih.


"Tidak ada yang Saya sembunyikan. Nanti selesai sarapan Saya akan mengatakannya. Sekarang kita mandi lalu sarapan. Oke. " ucap Rolland menenangkan.


Dion hanya mengangguk pelan. Dan beranjak dari ranjangnya.


"Abi, mandi bareng ya. " ucap Dion manja.


Rolland pun beranjak dari ranjang dan menyusul Dion di kamar mandi. Bukan hanya mandi, ******* dan lenguhan terdengar sangat merdu dari kamar mandi. Peluh dan keringat membasahi tubuh keduanya.


"Haa... Haa.. Ini kah acara mandi berdua nya. " ucap Rolland diantar napas yang masih memburu.


"Hehehehe, " tawa Dion sambil memeluk tubuh Rolland.


"Abi, mau lagi." ucap Dion menatap sayu.


"Sudah cukup untuk hari ini. Nanti malam lagi ya. " bujuk Rolland.


Diciumnya bibir merah Dion. Dion pun ******* lembut bibir Rolland, tautan kembali terjadi. Saling memberi dan menerima, saling melilitkan dan menghisap dan saling mencari kenikmatan sebelum badai menerjang. Jembatan saliva sebagai bukti betapa nikmat ciuman mereka.


Kegiatan pagi berakhir dengan acara benar benar hanya mandi. Usai mandi mereka segera keluar dari kamar. Betapa terkejut Rolland melihat Gery sudah ada di meja makan.


"Geryyyy... Kapan kamu datang. " pekik Dion terkejut tanpa tahu apa apa.


"Baru juga saya sampai. Gimana kabar mu? " tanya Gery mengalihkan pandangan ke arah Rolland.


"Baik kok sangat baik. Ka.... " belum sempat Dion melanjutkan ucapnya tak lama kemudian muncul seorang gadis berambut coklat dengan bola mata berwarna biru.


Menandakan bahwa Dia bukan gadis dari Indonesia. Wajahnya yang cantik, kulitnya yang bersih sangat kontras dengan rambutnya yang panjang tergerai.



"Jesicha." desis Rolland lirih tapi terdengar jelas di telinga Dion.


Dion hanya mampu menatap penuh tanda tanya.


"Hallo, Rolland apa kabar nya. " ucap gadis itu lembut.


"Baik, Anda sendiri? " jawab Rolland balik bertanya.


"Baik juga. Siapa pria cantik di sebelah kamu Rolland? " tanyanya dengan nada manja.


Sejenak Dion terdiam mendengar nada suaranya yang seperti sangat akrab dengan Rolland, dan memiliki hubungan yang bisa di bilang lebih dari sekedar kenal.