Unattainable Love

Unattainable Love
Kenapa harus Dion



Dion hanya mampu mencengkram rambutnya sendiri dan berteriak histeris. Dan terduduk


"Apa salah Dion, abi. Kenapa Tuhan menghukum Dion seperti ini Abi. Huwaaaaaa........ Dion gak mau seperti ini abii... Dion gak mau kehilangan lagi abi, gak mau. Huwaaaaa.... Udah cukup Dion kehilangan orang yang Dion cintai, Dion gak mau lagi Abi gak mau. " tangis histeris Dion tak terbendung lagi.


Beruntung saat itu Jesicha pergi keluar bersama Gery kesuatu tempat sehingga tak mendengar semua teriak Dion. Segera Rolland memeluk dan melepaskan cengkraman tangan Dion di rambutnya.


"Cukup Dion, hentikan, sudah cukup. Jangan sakiti diri anda sendiri. Saya tidak suka itu, Anda tahukan itu." bentak Rolland.


Seketika Dion terdiam dan hanya menyisakan isak tangisnya.


"Dengar sayang, dengarkan saya. Hingga hari dimana saya akan menikah, saya berjanji akan ada disisi Anda. Dan setelah menikah pun saya akan ada disisi Anda walau dengan status yang berbeda. Saya akan selalu ada untuk Anda. " bujuk Rolland.


"Tapi semua akan berubah abi. Tidak seperti yang dulu lagi. " ucap Dion sambil terisak, air matanya tak henti hentinya mengalir.


"Apa bedanya dengan sekarang atau nanti. Apa bedanya dengan satu bulan lagi atau satu tahun lagi Dion. Semua nya akan sama bukan. " jelas Rolland menghapus air mata Dion.


"Tapi Abi... " belum selesai Dion berbicara.


Rolland mencium bibir Dion dan ******* bibir Dion dengan penuh nafsu.Dion membalas ciuman itu diantara isak tangisnya. Tak lama kemudian Rolland melepas ciuman itu.


"Maafkan saya Baby, maaf. " ucap Rolland lirih.


"Abi, tinggalkan baby sendiri. Baby ingin sendiri sejenak. " ucap Dion lirih. Dan berdiri.


Rolland pun berdiri seakan akan enggak untuk meninggalkan Dion seorang diri.


"Abi. Baby baik baik saja. Baby ingin sendiri abi. " pintah Dion lirih sambil sesegukan.


Mau tak mau Rolland keluar dari kamar Dion, segera Dion menutup pintu kamar dan mengunci pintunya. Baik Dion maupun Rolland sama sama bersandar di pintu dan terduduk.


"Huwaaaaaa......." tangis Dion kembali pecah.



Setelah puas menangis Dion berdiri pelan tapi hanya mampu beberapa langkah dan....


Brukkk.....


Tubuh Dion terjatuh dan pingsan. Mendengar suara jatuh segera Rolland berdiri dan memanggil Dion sembari memukul pintu kamar Dion.


"Dionnn...Dionn....jawab Dionn... " teriak Rolland sambil memukul pintu kamar Dion.


Di dobraknya pintu kamar Dion tapi tak juga bergeming, suara gaduh mambuat Gery, Jesicha dan Juga Luth yang saat itu baru datang berlari ke kamar Dion.


"Rolland ada apa ini.? " teriak Luth.


"Saya tidak tahu Kak, Saya dengar suara Dion terjatuh. Pintu kamarnya di kunci dari dalam. " ucap Rolland khawatir.


"Ayo kita dobrak pintu nya bersama sama. " perintah Luth.


Dan benar saja, saat pintu berhasil di buka Dion sudah tergeletak di lantai.


"Dionnn.... " pekik Rolland dan segera menghampiri serta memeluk tubuh nya.


"Jangan cuma di peluk saja bego. Cepat kamu angkat dan baringin Dia di ranjang. Gery panggil dokter Shu cepat." hardik Luth sambil memberi perintah.


Jesicha yang masih belum paham situasi yang ada hanya mampu terdiam. Gery segera menghubungi dokter pribadi keluarga Aldy.


Sedangkan Rolland segera membaringkan Dion di ranjang. Sambil melonggarkan ikat pinggang Dion.


Suasana sangat kacau, rasa bersalah dan khawatir bergabung menjadi satu. Dokter Shu datang dan segera memeriksa Dion dengan teliti. Dokter Shu hanya berkata Dion mengalami syok berat dan itu yang membuat nya tak sadarkan diri.