Unattainable Love

Unattainable Love
Terulang kembali (1)



Semua berjalan seperti biasa, tugas kuliah, bercengkrama dengan sahabat, berchat ria dengan Rolland semua di lalui walau tak jarang diwarnai dengan berbagai macam drama. Terkadang membuat Dhika ikut senewen dengan tingkah Dion yang terkadang tertawa, marah bahkan menangis.


"Dion, jujur nih ya. Aku gak paham dengan dunia kalian itu. Kadang ceria, tapi kadang tiba tiba kamu nangis. Kalian itu pacaran virtual apa pacaran real sih.?" ucap Dhika bingung.


"Virtual serasa real. " jawab Dion sambil tertawa kecil.


"Heeh. Aku tanya beneran bukan candaan. " tegur Dhika.


"Lah kan memang bener. Hubungan nya secara virtual tapi suasana terbawa sampai ke real. " jelas Dion.


"Dion, aku kasih saran mending kamu langsung ketemuan sajalah. " ucap Dhika.


"Kau..... " belum selesai Dion berbicara ponsel Dion berbunyi nyaring.


Dilihat nya siapa yang menghubungi nya.


"Siapa? " tanya Dhika penasaran.


"Papa." jawab Dion pendek dan segera mengangkat telponnya.


"Halo. Siang Pah. " 📲 sapa Dion.


"Siang. Dion kampus kamu sudah selesai? " 📲tanya Gu Nam.


"Sudah. Ini juga mau pulang. " 📲 jawab Dion.


"Bagus lah. Motor tinggal saja di kampus, sebentar lagi sopir menjemput kamu seperti biasa. " 📲sahut Gu Nam.


"Jemput. Kenapa Papa selalu saja mendadak, tidak bisakah Papa memberi kabar sehari sebelum nya. " 📲 ucap Dion kesal.


"Sudah jangan banyak protes, tunggu sopir di pintu gerbang. " 📲 ucap Gu Nam dan langsung memutuskan ponsel.


"Haissss.... Kebiasaan buruk. " omel Dion.


"Kenapa lagi?" tanya Dhika.


"Pulang dan mendadak. Benar benar sudah kelewatan. Mana capek juga, dikiranya Surabaya - Cirebon itu dekat apa. " gerutu Dion.


"Sabar, nanti beli sesuatu gih buat isi perut. Tadi belum makan siang kan. " ucap Dhika.


"Iya nanti aku mampir beli beberapa roti dan snack sama beberapa minuman ringan. " jawab Dion.


Beruntung kampus sudah mulai sepi hanya ada beberapa anak yang sedang menunggu atau sengaja pulang terlambat. Tak lama kemudian sebuah Van yang biasa menjemput Dion tiba Di depan gerbang kampus, Dion segera masuk dan melambaikan tangannya.


Dalam perjalanan ke Cirebon yang begitu jauh dan melelahkan tidak lagi terasa membosankan bagi Dion, karena selama perjalanan Dion asyik ber chat ria dengan Rolland.


Dion tidak memberitahu Rolland bahwa saat ini dia sedang dalam perjalanan menuju Cirebon. Karena Dion sendiri tidak tahu ada hal apa sehingga Papanya Kim Gua Nam memintanya untuk pulang.


Sesampainya di Cirebon hari sudah malam, Dion langsung ke kamarnya di lantai atas untuk istirahat. Bukannya langsung istirahat di ranjang, Dion lebih memilih menghabiskan waktunya di balkon, tempat paling Dion sukai disaat datang ke Cirebon.


Segera Dion merebahkan badannya di sofa sambil menikmati angin malam dan menatap bulan yang menghias langit malam. Tanpa Dion sadari seseorang sudah masuk kedalam kamarnya dan menghampiri sambil membawa selimutnya.


"Dion, bukannya istirahat di tempat tidur ini malah rebahan dibalkon. Nanti masuk angin" ucap orang tersebut sambil menyelimuti Dion.


"Koko. Bikin Dion terkejut saja. " ucap Dion terkejut bukan main.


"Kaget ya. " ucapnya lembut.


"Iya. Sangat. " jawab Dion sambil memberi ruang untuk nya duduk dan kemudian Dion merebahkan kepalanya di pahanya.


"Koko Liam. Ada apa Papa manggil Dion lagi? " tanya Dion tanpa menatapnya.


"Kamu akan tahu besok, Dion. " jawab orang yang di panggil Liam.


"Ko, kenapa tidak langsung memberitahu Dion saja.?" tanya Dion lagi.


"Dion ada saatnya koko beritahukan sesuatu, tapi ada kalanya juga koko harus diam. " jelas Liam.


"Kamu akan tahu besok. Dan disaat yang dibutuhkan kami. Koko Liam, Koko hoong sama Ce ce Xia Xi akan bantu kamu. " ucap Liam sambil mengusap lembut rambutnya pelan.


Liam tersenyum kecut. Dion tertidur pulas di pangkuan Liam. Dengan pelan Liam memindahkan Dion ke ranjang dan ikut berbaring di sebelah Dion.


Keesokan harinya usai sarapan seorang pelayan memanggil Dion dan meminta untuk turun dan berkumpul di ruang keluarga.


Segera Dion bergabung, ternyata sudah ada Papa, dan beberapa saudara papanya yang lain bahkan Koko Liam, Koko Hoong dan Ce Ce Xia xi juga ada disana. Selain itu juga ada adik adik Omanya yang dari jauh juga. Tentu saja Dion terkejut.


"Dae Joon " panggil salah satunya.


Dion pun segera menghampiri nya. (Dae Joon atau lengkap nya adalah Kim Dae Joon. Nama lain dari Dion, nama yang di berikan oleh Soe Yoon sebagai nama Dion saat berkumpul di Cirebon.)


"Ya, Oma kecil. " sahut Dion segera menghampiri dan duduk di samping nya.


"Baiklah, yang bersangkutan sudah datang. Gu Nam bicara sekarang. " perintah nya.


"Dion." panggil Gu Nam.


"Joon. Dae Joon. " ucap seorang lagi untuk mengingatkan.


Dion tertawa kecil, Liam memukul pelan dari arah belakang. Segera Dion menoleh dan senyum nyengir. Gu Nam menghela napas panjang.


"Joon, sesuai dengan surat wasiat Oma. Kamu harus menerima semua keputusan kami, atau status anak tertua akan berpindah ketangan Nuan. " ucap Gu Nam.


"Papa tahu kamu masih ingin bebas, kami tidak mempermasalahkan itu. Tapi perjodohan tetap berjalan. " lanjut Gu Nam tegas.


"Apa maksud Papa. Bukannya Leon sudah menolaknya, dan kita sudah mengembalikan apa yang pernah keluarga Leon berikan untuk syarat pertunangan itu??. " ucap Dion tenang.


"Joon dengar kan Papa kamu selesai bicara dulu!!." ucap kakak Gu Nam.


Dari arah belakang Hoong memegang pundak Dion, lagi lagi Dion menengok kebelakang dan tersenyum tipis.


"Kamu benar. Kita sudah membatalkan pertunangan antara kamu dengan Leon. Papa sudah menemukan kandidat lain untuk calon suamimu. Semua juga setuju. Dia adalah anak teman papa, jangan khawatir dia anak yang baik dan dewasa. Sama seperti kamu dia juga gay. " jelas Gu Nam.


"Papaaaa.... " bentak Dion seketika.


"Dion bukan barang yang harus di tawarkan kesana kesini. Harusnya papa bilang dulu sama Dion sebelum papa mengenalkan dia sama Dion. " ucap Dion mulai sedikit marah.


"Joon, seperti inikah sikap kamu sama papa kamu. " tegur seseorang.


"Oma Sen Yee. Joon tahu anak pertama jodoh ada di tangan kalian, tapi tolonglah lihat Joon. Joon beda dengan Koko dan Ce ce, Joon punya orientasi *** yang berbeda. Joon ingin memilih sendiri pendamping hidup Joon. " jelas Dion sambil berdiri depannya.


"Kami tahu kamu berbeda, kamu istimewa sangat istimewa. Oleh karena itu kami memilihkan nya pun tidak sembarangan Joon. " jelas orang yang di panggil Sen yee.


"Ini bukan istimewa Oma. Joon tidak suka ini. " ucap Joon lirih.


"Joon, kamu tidak punya hak untuk menolak yang ini. " bentak Gu Nam.


"Tapi Pa. !!! Joon sudah punya yang Joon cintai. Joon ingin menikah dengannya, dia pun juga seorang gay sama seperti Joon. " jelas Dion.


"Cukup Joon. Kami tidak bisa menerima nya. " tegur adik Gu Nam.


"Tapi Paman... " ucap Dion lirih.


"Paman, Papa Gu Nam, Oma. Boleh Liam ikut bicara. " ucap Liam mulai tak sabar.


Semua serentak menoleh kearah Liam. Gu Nam menyetujui.


"Lebih baik sebelum mempertemukan mereka berdua, biarkan Joon berbicara dengan calonnya melalui ponsel. Jika lewat ponsel Joon merasa cocok baru pertemukan mereka. " usul Liam.


Tentu saja Dion terkejut. Dion mengharapkan bantuan dari Liam dan yang lainnya untuk menolak, tapi sebaliknya Liam memberi usul yang sebaliknya. Di tatapnya tajam Liam. Sedangkan Liam hanya tersenyum tipis.


"Kamu benar juga Liam. Papa akan kirim nomer Dia ke ponsel kamu, begitu juga sebaliknya. " ucap Gu Nam.


Dan semua setuju dengan usulan Liam. Dengan cepat Dion berlari ke kamar atas. Di sana Dion meluapkan amarahnya.


"Aaaaaaaaa...... " teriak Dion sembari melemparkan barang yang ada di sampingnya.