
Waktu berjalan dengan sangat dan sangat cepat bagi Dion. Tak terasa semua berjalan hampir satu tahun. Hubungan mereka yang berlangsung secara virtual semakin erat. Banyak yang terjadi di antara keduannya Waktu Dion habis hanya di gunakan untuk ber chat ria bersama Rolland. Terkadang di warnai dengan canda tawa, terkadang di warnai dengan pertengkaran dan tangisan. Dan pernah juga hampir berpisah. Sedangkan sedikit demi sedikit Dion mulai melepaskan diri dari basecamp. Semua menyadari perubahan itu.
Hingga sebuah malapetaka menghampiri keluarga Dion.
Disaat Dion semakin erat dengan Rolland, rasa cinta Dion semakin berkembang. Lagi lagi Dion kehilangan orang yang di kasihinya. Oma. Kim Soe Yoon meninggal karena sudah terlampau berumur. Dion kehilangan sosok pegangan hidup, kehilangan sosok yang di cintainya. Hampir 1 minggu keluarga besar Dion berduka. 1 minggu pula jenasah Kim Soe Yoon di semayamkan di rumah duka yang berada di rumah induk.
Tamu datang dan pergi silih berganti. Mereka lupa mereka lengah sehingga setelah Kim Soe Yoon di kremasi. Tiba tiba Baby All mengalami demam tinggi. Membuat semua orang panik. Mereka dan juga Dion lupa kalau Allcahya mempunyai tubuh yang lemah dan sangat rentan. Alhasil lagi lagi Dion kehilangan orang yang di cintainya. All dinyatakan terkena wabah korona. Kematian baby All memberikan syok berat pada Dion. Hampir seharian Dion hanya mampu terdiam dan enggan untuk berbicara
"Aaaaaaa.., . " teriak Dion di dalam kamar usai menguburkan jenasah Allcahya.
"Kenapa lagi lagi harus kehilangan. " teriak Dion.
Segera Ivan menghampiri dan memeluk tubuh Dion.
"Dion tenang lah sayang tenang. " ucap Ivan menenangkan.
"Ivan, kenapa semua pergi. Apa salah Dion? Kenapa semua ninggalin Dion. " ucap Dion menangis keras dalam pelukan Ivan.
"Sabar, sayang. Masih ada Rolland dan saya juga kan? " ucap Ivan menghibur.
"Tapi Kak Ivan, kenapa harus Allcahya yang pergi. Kenapa harus dia. " tangis Dion.
Bahkan Dion tak bercerita pula kepada Rolland. Karena tak ingin kembali menangisi kepergian Allcahya. Dan kembali merasa bersalah.
Kepergian Oma dan Allcahya membuat Dion sedikit terpuruk, untung saja masih ada Rolland yang menemani.
Semula Dion merasa dengan kepergian Oma sedikit banyak bisa merubah takdir Dion yang terikat sebuah tradisi. Ternyata semua hanya tinggal angan saja. Dengan kepergian Oma, kedudukan yang semula ada di tangan Oma beralih ke anak tertua Oma.
Sesuai dengan surat wasiat Oma, yang mengharuskan untuk Dion mematuhi semua tradisi yang ada. Bahkan berlaku untuk semua anak sulung di keluarga itu. Dion hanya mampu pasrah dan diam.
Seiring berjalannya waktu hubungan antara Dion dengan Rolland semakin erat dan dekat. Panggilan sayang pun diberikan satu sama lain. Abi dan Baby. Rolland dan Dion.
Hampir setiap hari setiap saat Dion habiskan waktu senggangnya atau bahkan di sela sela kesibukan nya untuk bercengkrama. Terkadang tertawa, terkadang bertengkar dan tak jarang pula Dion menangis. Semua di lalui dengan penuh warna. Tak jarang pula Dion di buat jengkel dan khawatir. Bagi Dion tiada hari tanpa Rolland. Ponsel pun selalu melekat erat ditangan Dion.
Lalu Ivannn.... !!!!
Walau Ivan tahu di hati Dion cuma ada Rolland, di pikiran Dion cuma ada nama Rolland. Tak sedikit pun ada keinginan Ivan untuk menjauhi Dion. Ivan tahu betul sekeras apapun Dion berusaha, keinginan Dion untuk bersamanya tak akan bisa terwujud. Keluarga Dion tak menghendaki kehadiran Rolland. Ivan hanya menunggu waktu yang pas dan tepat untuk merengkuh dan memiliki Dion seutuhnya.
waktu terus berjalan, semua berjalan seperti biasa tanpa ada insiden, tanpa ada drama, tanpa ada sesuatu. mungkin itu yang ada di benak Dion. semua tenang dan damai. Tapi tidak dengan Kim Gu Nam. Secara diam diam Kim Gu Nam kembali menghubungi seseorang, kawan terdekatnya tanpa sepengetahuan semua keluarga.