
Ini lah kisah mereka.
Pagi itu mentari bersinar cukup cerah. Tampak seorang pemuda yang masih meringkuk terlelap di atas ranjang nya. Tak lama kemudian dia mengeliat pelan.
"Eghh.... Aahhh.... " keluh nya lirih sambil menggeliat pelan.
"Sudah pagi ya rupanya, jam 8. Haaa.... Kampus pagi. " ucapnya malas.
Setelah cukup sadar barulah dia beranjak dari ranjang empuknya dan pergi ke kamar mandi.
Setelah semua beres dengan segala aktivitas kecilnya dia pun bercermin.
"Hmmm cukup tampan, manis dan memikat. Astaga Dion kenapa kamu bisa setampan dan semanis ini coba, gimana kalau Rolland melihat mu. " ucapnya memuji dirinya sendiri sambil tersenyum manis.
Yah. Nama pemuda itu adalah Dion Christian Raveena. Panggil saja Dion. Seorang pemuda peranak Indo-Korea, tak jarang semua teman teman gadisnya memanggilnya oppa.
Wajah yang notebene nya sangat mirip dengan orang Korea, tampan, manis sekaligus cantik. Dan banyak pula gadis gadis yang iri saat melihatnya.
Bukan hanya itu postur tubuhnya yang juga mendukung dengan wajahnya hingga banyak yang salah mengira kalau dia seorang gadis.
Jika di lihat hanya dengan matanya. Tapi setelah tahu seperti apa dia, mereka akan berfikir dua kali lipat untuk mendekatinya terutama para gadis gadis.
Dion akan bersikap manis dan baik jika mereka hanya menganggap Dion teman tapi akan bersikap sinis di saat yang bersamaan kalau gadis itu menaruh perhatian lebih kepada Dion. Banyak yang menjulukinya iblis bertopeng malaikat.
(Kembali ke cerita)
Tiba tiba...
Brakkk.... brakkk... brakkk....
Terdengar ketukan yang cukup keras.
"Kamprett, bikin terkejut saja. " maki Dion setelah lamunannya terganggu dengan suara keras itu.
Brakkk....Brakkk.....Brakkk.....
Terulang lagi ketukan yang cukup keras.
"Astaga ini bocah sabar sedikit kenapa sih. " umpat nya.
"Sebentar woiiii jangan pukul pukul pintu ku, entar roboh. " teriak Dion sambil meraih tas dan berlari keluar kamarnya.
Di bukanya pintu rumahnya.
"Lu ya, kalau ketuk pintu pelan sedikit kenapa sih. " hardik Dion saat tahu siapa yang mengetuk pintunya. .
"Kamu itu kalau tidak keras apa bisa mendengar ketukan ku, haah. " sahutnya.
"Dasar tukang bercermin." lanjutnya sambil menyentil keningnya pelan.
Dion hanya mampu terkekeh pelan.
Orang di depannya adalah teman sekaligus sahabat Dion.
Andhika Verdiansyah namanya. Mereka berteman sejak di bangku SMA. Andhika tahu betul siapa dan seperti apa Dion. Dan Dhika nama panggilannya selalu ada disamping Dion saat Dion membutuhkannya.
Dhika sudah menganggap Dion seperti adik sendiri begitu juga sebaliknya. Karena tidak mungkin bagi Andhika yang notebene nya pria normal mencintai Dion.
Yah. Dion walau dia seorang pria tapi dia seorang gay. Pecinta sesama jenis. Dan Dhika tahu itu. Apa Dion tidak punya kekasih jawabnya adalah punya.
(Kembali ke cerita)
"Ayo, sudah hampir siang. Kamu ada kuliah pagi kan hari ini? " ucap Andhika.
Dion hanya mengangguk pelan. Diambilnya helm dari tangan Dhika dan langsung memakainya.Tanpa banyak kata Dhika segera naik dan menyalakan motornya sedang kan Dion langsung naik dan duduk di belakang Dhika.
"Dasar penebar pesona. " sungut Dhika.
"Ehh siapa yang penebar pesona, mereka aja yang keganjenan sungguh menjijikan. " gerutu Dion.
Dan tanpa aba aba.
"Jaga bicara mu. " tegur Dhika sambil memukul kepala Dion pelan.
"Heii... Sakit tahu. " sungut Dion mengelus pelan kepalanya.
"Tidak semua perempuan seperti itu Dion. " tegur Dhika.
"Iya iya, sudah ayo masuk kelas. " ucap Dion sambil memanyunkan bibirnya.
"Dasar." ucap Andhika lirih.
Disaat hendak masuk tiba tiba notif ponsel Dion berbunyi. Dilihatnya pesan masuk seketika itu wajah Dion tersenyum penuh arti.
"Siapa?? Dia ya." ucap Dhika saat melihat Dion yang tiba tiba berhenti.
"Iya. Ayo tuntun aku seperti biasa. " jawab Dion.
"Astaga Dion." ucapnya sambil menggandeng lengan Dion, dan Dion mengikuti Dhika tanpa melihat jalan.
"Pagi, Dion. " π² sapanya.
"Pagi juga sayang. Baru bangunkah??. " π² balas Dion.
"Iya." π² balasnya.
"Tidak ada kampus hari ini?? Kok baru bangun tidur. " π² tanya Dion.
"Hari saya bolos. Anda sendiri?? " π² tanyanya.
"Dion sudah ada di kampus. " π²balas Dion.
"Hmmm. Ya sudah belajar yang benar, saya mau mandi dulu. " π² ucapnya.
"Iya. Kiss morning nya mana. " π² pintah Dion sembari duduk di bangku setelah masuk di dalam kelas.
"Muuaachh. Sudah kan. " π² balasnya.
Seketika wajah Dion bersemu merah, Andhika hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat sahabat nya seperti itu.
"Iya." π² balas Dion.
Dan kemudian percakapan berakhir sudah.
"Haaa... Seneng nya. " ucap Dion sambil merebahkan kepalanya di meja.
"Dasar, pagi pagi sudah ngebucin. " tegur Dhika.
"Biarin yang penting happy. " sahut Dion sambil tersenyum.
Waktu pun berlalu begitu saja jadwal kampus yang padat, perbedaan jadwal kampus yang berbeda terkadang membuat Dion kesulitan untuk berkomunikasi dengannya.
Dia. Kekasih Dion yang tersembunyi, tak ada yang tahu kalau Dion sedang menjalin dan merajut cinta dengan seseorang.
Karena kekasih Dion berada cukup jauh dengannya. Hanya Andhika yang tahu tanpa mengetahui wajahnya tentunya. Karena Dion berpacaran secara virtual dan LDR.
Perkenalan mereka cukup unik. Mereka bertemu di dunia Maya, sebuah grup yang berisi segelintir orang. Mereka saling mengucapkan cinta tanpa tahu wajah masing masing. Hanya sebuah nama, tempat tinggal dan melalui ponsel. Tapi bagi Dion itu sudah lebih dari cukup dan mampu membuat nya tersenyum.
Rolland Stenly Ghantara, pria yang sudah mencuri hatinya yang sebenarnya hampir mati tak berperasaan setelah kekasih nya pergi meninggalkan nya.
Rolland panggilannya, entah bagaimana awal mulanya yang pasti semua berjalan begitu saja. Sudah cukup lama Dion dan juga Rolland berpacaran. Banyak yang terjadi.