Unattainable Love

Unattainable Love
Sebuah keinginan



Tak lama kemudian, Seorang wanita yang sedikit berumur datang masuk kedalam rumah. Rolland dan yang lain segera menyapa Beliau.


"Selamat Malam semua. " sapa beliau tanpa menatap siapa saja yang berada di meja makan.


"Malam Ma. " sapa mereka bertiga serentak.


"Malam Mama. " sahut Dion.


Seketika semua menoleh kearah Dion.


"Uppss, Maaf selamat malam tante. " ralat Dion.


Melihat ada yang berbeda, dan asing segera wanita itu menoleh. Sejenak terteguk karena bingung.


"Sebentar, perasaan tadi yang bilang suaranya seperti perempuan. Tapi disini tidak ada perempuan yang ada 2 putra mama dan Gery dan juga siapa ini? " ucap perempuan itu bingung.


"Ini teman saya dari Surabaya Ma. " ucap Rolland.


"Dion perkenalkan ini Mama saya. " lanjut Rolland.


Dion segera berdiri dan menghampiri.


"Selamat malam tante. Saya Dion temannya Rolland, maaf kalau kedatangan Dion mengganggu Tante. " ucap Dion memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangan.


Mama Rolland menyambut tangan Dion sambil terteguk tak percaya.


"Dion, kamu cowok ? " tanya Mama Rolland tak percaya dengan pendengaran nya.


Dion tersenyum mendengar pertanyaan Mama Rolland. Karena bukan kali pertama pertanyaan itu ditujukan pada dirinya.


"Iya Ma... Eh tante. Dion pria asli kok. " jawab Dion sambil sedikit membungkuk dan menempelkan punggung tangan Mama Rolland ke keningnya.


Mama Rolland terkejut dan kemudian tersenyum.


"Ah maaf Ma.. Emm tante. " ucap Dion terkejut dan melepaskan tangannya pelan.


"Tidak apa apa. Panggil saja Mama Clara kalau mau. Apa ini sudah menjadi kebiasaan kamu? " tanya Clara.


"Iya Ma.. Emm tante. " ucap Dion gugup.


Grey kembali tertawa kecil. Dion duduk dengan wajah semu merah karena malu.


"Iya Ma. Almarhum Mama Dion sering bilang, jika berkenalan atau bertemu orang yang sebaya dengan orang tua hendaklah cium tangannya, itu sopan santun yang benar. " jawab Dion tersenyum.


"Dan lagi sejak kapan Mama saya jadi Mama kamu? " keluh Luth tak suka.


"Luth,.. " tegur Tante Clara sambil duduk di sebelah Luth.


"Sejak hari ini. Iya kan Ma. " jawab Dion sambil tersenyum.


"Seperti nya Dion sudah terbiasa memanggil saya Mama.? " tanya Clara.


"Em.. Iya. Rolland sering cerita tentang Mama Clara ke Dion. Jadinya Dion ikut manggil Mama. " jawab Dion polos.


Rolland hanya mampu menepuk jidatnya sendiri. Clara tertawa kecil. Suasana hangat berlanjut hingga acara makan malam selesai. Usai makan malam Grey pamit untuk pulang, Luth kembali kekamar menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Sedangkan Clara segera membersihkan diri dan beristirahat.


Tinggal Rolland dan Dion berdua di ruang keluarga. Dion menyandarkan kepalanya di bahu Rolland, sejenak Rolland mengusap pelan rambut Dion.


"Baby, jujur saya masih tidak bisa percaya bertemu Anda dan melihat Anda langsung." ucap Rolland.


"Sama Abi. Rasa nya ini seperti mimpi yang indah. Kalau mimpi baby gak mau bangun Abi. " jawab Dion lirih.


"Bodoh. Ini bukan mimpi Baby. " ucap Rolland mengecup kening nya.


Dion tersenyum senang.


"Abi, boleh baby tidur dikamar abi aja. “ ucap Dion menatap kearah Rolland.


Sejenak Rolland terkejut mendengarnya, kemudian tersenyum tipis.


"Apa Anda tidak takut saya makan Anda nantinya. " ucap Rolland sambil mengangkat dagu Dion.


Dion menatap lekat mata Rolland. Mata keduanya saling menatap tanpa berkedip.


"Tidak. Kalau abi mau makan, makan saja baby sepuas abi." ucap Dion berbisik.


Rolland mencium lembut bibir Dion. Dion pun membalas ciuman dengan sebuah *******. Bibir saling bertautan, saling *******, mencari kenikmatan masing-masing dan kemudian terlepas hingga tautan mereka tampak jelas dengan adanya jembatan saliva yang masih belum terputus.