
“Terima kasih nenek.” Ucap Ye Yan yang mulai tenang.
“Tidak apa apa, sekarang kau tidak apa apa kan?” Ucap kakek Zhou Jing Yong.
Ye Yan mengangguk anggukkan kepalanya. “Iya.” Ucap Ye Yan perlahan.
“Aku ingin istirahat sebentar.” Ucap Ye Yan.
Kakek Zhou Jing Yong dan nenek Gao Meng Ji'a pergi dari sana dan membiarkan Ye Yan beristirahat.
...----------------...
Dalam kamar seorang gadis cantik terlihat sedang terduduk lesu di atas kasurnya.
Terlihat dengan jelas gadis cantik itu sangat khawatir akan sesuatu dan mengeluarkan keringat dingin di seluruh tubuhnya. Wajahnya tampak sangat sangat pucat.
Gadis cantik itu tak lain dan tak bukan adalah Ye Yan. Ia tampak terus memikirkan mimpi itu.
“Benar juga, sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaranku bos memberikanlu gelang giok itu.” Ucap Ye Yan seketika teringat akan sesuatu.
Ia dengan cepat bangkit dan mencari ke seluruh kamarnya gelang giok itu.
“Aku ingat dengan jelas bos memberikanku gelang giok itu, tapi ku taruh dimana gelangnya?” Ucap Ye Yan.
Ia terus mencari dimana mana namun tak menemukannya.
Ia duduk di kursi dan mengingat ngingat kembali. “Oh iya, aku kan di dunia modern mati dan menggenggam gelang giok itu.” Ucap Ye Yan.
“Dan jika diingat ingat lagi…Kan yang kesini hanya jiwaku, tubuhku sama sekali tidak ikut kemari…” Ucap Ye Yan lagi.
“Jadi artinya gelang giok itu tidak ikut kemari'kan.” Ucap Ye Yan langsung teringat.
Ia menjentikkan jari jarinya ke keningnya dan duduk bersila di atas kasurnya.
“Tapi mungkin saja gelang giok itu ada di kediaman ini dan terletak di sekitar kediaman perdana menteri.” Ucap Ye Yan.
Ia dengan cepat keluar dari kamarnya dan pergi mencari gelang giok itu.
Ia ke taman dan mencarinya ke mana mana dan tak menemukannya, ia pergi ke ruang tengah dan mencarinya namun tak menemukannya lagi.
Ia menyusuri satu kediaman penuh dan tak menemukannya.
Ia berjalan kembali lagi menyusuru jalanan yang pernah ia lalui sambil mencari.
Di tengah perjalanan ia malah bertemu dengan kakek neneknya yaitu, kakek Zhou Jing Yong dan nenek Gao Meng Ji'a.
“Ye Yan, apa yang sedang kau cari?” Tanya kakek Zhou Jing Yong.
Ye Yan mendongakkan kepalanya menatap kakek Zhou Jing Yong dan nenek Gao Meng Ji'a yang ada di depannya.
“Aku sedang mencari gelang giok.” Ucap Ye Yan.
Kakek Zhou Jing Yong dan nenek Gao Meng Ji'a memiringkan kepalanya.
“Apakah gelang giok yang kau gunakan itu berwarna putih?” Ucap nenek Gao Meng Ji'a.
Ye Yan dengan cepat melebarkan bola matanya dan mengangguk anggukkan kepalanya dengan cepat.
Kakek Zhou Jing Yong dan nenek Gao Meng Ji'a saling memandang satu sama lain dan tertawa terbahak-bahak.
Ye Yan yang bingung memiringkan kepalanya. “Kenapa kalian berdua tertawa? Apa kalian menemukannya?” Ucap Ye Yan bingung.
Kakek Zhou Jing Yong dan nenek Gao Meng Ji'a menatap konyol Ye Yan.
“Tentu saja kami sudah menemukannya.” Ucap keduanya secara bersamaan.
“Ha…” Ye Yan dengan cepat mendekat. “Dimana?” Tanya Ye Yan.
Kakek Zhou Jing Yong dan nenek Gao Meng Ji'a terkekeh kecil. “kau masih memakainya di pergelangan tanganmu.” Ucap nenek Gao Meng Ji'a.
Ye Yan mengerutkan keningnya, ia mengangkat tangannya dan melihat pergelangan tangannya yang ternyata gelang giok yang sedang ia cari ternyata ada di sana.
Seketika tatapannya kosong seketika dan memperhatikan gelang giok itu.
“Ternyata aku masih memakainya, dan aku malah…Mencarinya satu kediaman…” Ucap Ye Yan.
Rasanya saat itu ia ingin menghancurkan saja gelang giok yang sedang ia gunakan itu, namun ia sangat membutuhkan gelang giok itu.
“Haih…Kakek nenek, aku ingin kembali ke kamarku, aku ingin merenungkan kebodohanku…” Ucap Ye Yan bimbang.
Ia tak menyangka kebodohannya sudah sampai di tahap yang seperti itu.
Ia dengan berjalan penuh bimbang dan bingung. Ia segera masuk ke paviliunnya dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Di sana ia langsung duduk di kursinya dan terus menghela napas pasrah setiap detiknya.
Ye Yan mencoba untuk melepaskan gelang giok itu namun hasilnya nihil.
Ia tak menyangka gelang giok itu tak dapat dilepaskan dari pergelangan tangannya. Malahan ia merasakan sakit ketika memaksa untuk melepaskannya.
Ia akhirnya pasrah dan menatap gelang giok itu yang masih ada di pergelangan tangannya.
“Haih…Tidak bisa dilepas juga.” Ucap Ye Yan letih.
Ia bersandar di kursinya dan langsung memikirkan semuanya lagi.
“Jika gelang giok ini juga ikut kemari berarti gelang giok ini sangat berharga dan berpengaruh penting dengan kehidupanku kedepannya.” Ucap Ye Yan.
Kepalanya terasa sangat sakit saat memikirkan semua hal yang bersangkutan dengan alasan ia memimpikan kembali masa lalunya yang sangat kelam.
Ia pergi berbaring di kasurnya dan kembali tertidur, ia harap dirinya dapat memimpikan kelanjutan dari masa kelamnya di kehidupan dulunya agar dirinya dapat mengetahui alasan yang ia cari cari.
Di lain sisi terlihat seorang pria tampan yang masih sibuk dengan pekerjaan ayahnya yang dikerjakan olehnya.
Ia dengan begitu kelelahan mengerjakan berkas berkas penting.
“Hoam…Sebaiknya aku istirahat saja dulu, seluruh tulangku rasanya mau patah.”
Pria tampan itu tak lain dan tak bukan adalah Long Qian Zhuo.
Ia sangat sangat lelah mengerjakan dokumen dokumen itu dan berkas berkasnya sedangkan orang yang seharusnya mengerjakan semua itu saat ini sedang asik asikan dengan selir selir dan permaisurinya.
See you.