
Para tamu undangan menempati kursi yang kosong. Mereka tak sabar menantikan pernikahan bersejarah dua insan yang akan di laksanakan.
Pada bagian depan terdapat panggung dengan ornamen meriah di sekitarnya, bahkan di kursi pengantinnya saja sudah mirip singgasana raja dan ratu.
Nicko menunggu dengan hati berdebar. Padahal ia tahu acara ini tidak akan terlalu rumit. Tidak ada yang mengolok ngoloknya Setelah ini walaupun ia akan menikah muda.
Bahkan untuk menghindari gunjingan yang tidak di inginkan, para tamu undangan di harapkan menitipkan ponsel ke tempat yang telah di sediakan sebelum memasuki area resepsi. Dan ketika pulang boleh diambil kembali.
Acara ini sangat tertutup dan hanya keluarga dari kedua mempelai yang menghadirinya.
Nicko kembali menatap dirinya di pantulan cermin. Ia mengingat ingat kembali apa yang akan dia ucapkan saat ijab qabul.
“Nak kamu sudah waktunya turun” kata Papanya yang tiba tiba masuk kamar.
“Ia Pa” jawab Nicko sambil memasang jas dan pecinya.
“Kamu jangan buru buru kasih Papa cucu ya? “ kata Papanya mengingatkan. Nicko terbelalak kaget.
“Apaan sih Pa? Kenapa bahas begituan? ” kata Nicko agak jengkel. Ia tahu kalau ayahnya hanya bercanda, tapi menurutnya itu keterlaluan.
“Haha, Papa nggak nyangka nak. Padahal kayak baru kemarin Papa nganterin kamu ke taman kanak kanak, sekarang malah kamu sudah mau punya istri. Waktu cepet banget ya” kata Vino sambil menatap teduh ke arah Nicko.
Nicko hanya tersenyum simpul.
“Kalau bukan karena Nicko harus nikah muda, mungkin kita masih bisa main perang perangan Pa” kata Nicko sambil menatap teduh ke arah Papanya.
“Jangan bahas perang perangan lagi. Papa jadi ingat kamu pernah nangis gara gara papa nggak mau jadi monster” kata Papanya sambil tersenyum.
“Pa, jangan di ingetin lagi” kata Nicko malu.
“Iya nak. Kamu juga bisa kan main sama istrimu nanti” kata Vino.
“Main apaan? “ tanya Nicko sambol mengerutkan kening.
“Main boneka Barbie sama Ken” kata Papanya sambil terbahak.
“Pa” kata Nicko sebal.
“Sudah sudah, kamu lekas turun” kata Papanya mengingatkan. Nicko hanya mengangguk sekilas dan segera turun diikuti Papanya.
Acara pernikahan dilaksanakan dengan menggunakan adat Jawa.
Aka duduk di kursi pelaminan dengan begitu anggun. Kecantikannya membuat para hadirin yang datang takjub.
Aka terlihat lebih dewasa dari umur aslinya.
Dengan balutan gaun pengantin jilbab berwarna putih cerah yang menjuntai indah bagaikan rajutan permata, Aka tersenyum dengan riangnya.
Ia sangat menikmati momen seperti ini, saat dirinya didandani dengan begitu elok.
Dari kejahuan terlihat iring iringan mempelai pria yang semakin mendekat. Aka tak pernah lelah menebar senyum manisnya hingga acara selesai.
Nicko melihat Aka yang dengan santainya seperti tak memiliki kegugupan apapun. Nicko menghela nafas, kalau Aka bisa melaluinya, kenapa ia tidak?.
Nicko duduk disebelah Aka dengan perasaan tak menentu. Tiba tiba ia merasa tangannya seperti digenggam. Ia menoleh ke arah Aka, dan benar saja Aka yang menggamnya. Aka tersenyum ke arahnya seakan mencoba menepis kegugupannya. Nicko sempat terheran, namun ia segera membalas senyuman Aka.
Acara berjalan dengan lancar dan selalu ramai bahkan ketika para tamu hendak pulang, tempat tersebut masih nampak ramai.
“Ma, besok aku pake kayak gini lagi ya?” kata Aka yang masih bersemangat. Maminya tersenyum melihat anaknya yang kelihatan sangat bahagia.
“Iya, kamu gerah nggak? Kalo gerah, buruan ganti pakaian gih” kata Maminya.
“Emang udah nggak papa? “ tanya Aka polos.
“Iya Aka, kamu pasti laparkan? Tadi cuma makan sedikit waktu dipanggung. Mami ambilkan makan ya? Nanti Mami ke kamar kamu” kata Maminya. Aka beranjak ke kamarnya yang sudah disiapkan dilantai dua, Acara resepsinya memang sengaja di laksanankan di rumah pribadi Nicko.
Aka kesulitan berjalan karena gaun yang ia pakai terlalu panjang. Ia hendak meminta tolong seseorang, tapi tidak ada yang terlihat.
Saat hendak menaiki tangga ia melihat Nicko yang mengambil minum.
Tanpa membuang waktu, Ia segera memanggilnya.
“Nicko!!!!!! “ panggil Aka sambil melambaikan tangan. Nicko menoleh karena merasa ada yang memanggilnya.
“Apa? “ tanya Nicko datar.
“Tolongin “ kata Aka memelas sambil menunjuk roknya. Nicko memutar bola matanya malas, tapi tetap membantu.
“Lo mau kemana? “ tanya Nicko.
“Gue mau ganti baju di kamar. Tolongin gue ya buat ngangkat gaun ini. Roknya panjang banget. Gue susah jalan “ kata Aka memohon. Nicko segera menolongnya tanpa bertanya kembali.
Sesampainya di kamar Aka berusaha mengusik Nicko. Ia tahu kalau Nicko orang yang irit dalam berbicara. Hingga ia harus sering mengajak Nicko agar bersuara.
“Gue ambilin es krim dong, tolong” kata Aka sambil menunjukkan puppy eyesnya.
“Kenapa harus gue? “ tanya Nicko dingin.
“Kan elo mau turun, nanti waktu elo naik ke kamar sekalian bawa semangkuk besar es krim. Kalo perlu sebaskom juga nggak papa kok” kata Aka dengan pedenya.
“Kalo gue nggak mau gimana? “ tanya Nicko.
“Harus mau! Kalo nggak, gue bakal bilangin ke Mama kalo elo jahatin gue ” kata Aka mengancam.
“Tukang ngadu” kata Nicko sambil beranjak pergi. Hati Aka mencelos seketika. Mana mungkin Nicko mau mengambilkan es krim untuknya? Aka segera mengganti baju.
Ternyata dugaan Aka salah, Nicko malah kembali sambil membawa semangkuk besar es krim di tangannya setelah Aka mengganti baju.
“Asikkkkkkk makasih Nicko, baik deh sama Aka” kata Aka tersenyum manis sambil menerima mangkuk dari tangan Nicko.
“Bersiin dulu make up lo” kata Nicko sambil menahan mangkuk es krim di tangannya.
“Nanti kan bisa” kata Aka cemberut sambil mencoba merebut mangkuk es krim.
“Sekarang!!!! “ titah Nicko tak mau di bantah. Aka dengan berat hati membersihkan make upnya. Ia berjalan gontai ke meja rias yang penuh dengan skin care serta perlatan make upnya yang telah di siapkan oleh Mama Nicko. Diam diam Nicko memperhatikan Aka yang yang sedang membersihkan make up nya sampai selesai.
“Udah!!! “ kata Aka sambil menoleh ke arah Nicko. Nicko kelabakan dengan aksi Aka dan langsung menoleh ke atap. Seperti memperhatikan sesuatu.
“Lo ngapain merhatiin atap?” tanya Aka bingung. Sebenarnya tadi Aka merasa ada yang memperhatikannya saat memakai milk cleanser, tapi segera ia tepis. Mana mungkin Nicko memperhatikannya?, begitu menurutnya.
“Nggak kenapa napa, gue cuma lagi mikir warna langit langit kamarnya jelek mau gue ganti” kata Nicko berbohong. Jantung Nicko berdebar, ia takut ketahuan sedang memperhatikan Aka. Aka sempat heran, tapi ia asal percaya saja dengan omongan Nicko.
“Oh gitu, mana es krim nya? “ kata Aka mengalihkan pembicaraan. Nicko menghela nafas lega.
“Tuh” jawab Nicko singkat sambil menunjuk mangkuk es krim dengan dagunya. Aka segera duduk di depan Nicko.
“Eh, Nicko” panggil Aka sebelum menikmati es krimnya.
“Hmm” Nicko berguman sambil membaca komik action yang ada di meja.
“Tadi gue cantik nggak? “ tanya Aka sambil memamerkan senyum khasnya. Nicko baru tahu kalau Aka suka blak blakan.
“Biasa” kata Nicko singkat. Aka kurang puas dengan jawaban Nicko. Ia pun mencubit lengan Nicko kuat.
“Akh! Lo kenapa? Punya masalah hidup sama gue? “ tanya Nicko sambil mengusap lengannya yang terasa perih akibat cubitan Aka.
“Lo tuh ya, jawab panjang dikit gitu kek yang bikin gue seneng. Kayak ‘iya elo cantik banget, sumpah gue baru pertama kali lihat cewek secantik elo' gitu kek“ kata Aka blak blakan. Nicko hanya menatapnya datar.
“Barusan elo bilang gitu, udah kan? “ tanya Nicko cuek.
“Tau ah, mending gue makan es krim aja. Dasar nggak sayang sama bini!!!!! “ kata Aka agak jengkel.
“Emang siapa yang jadiin elo bini? “ tanya Nicko dengan ekspresi datarnya.
“Tau, Ngenes ya nasib gue, masih ucul, di nikahin sama manusia kulkas, Idup lagi. Jaman Siti Nurbaya terulang lagi” jawab Aka mendramatisir sambil menyeka sudut matanya, padahal tidak ada airnya. Aka mulai menyendok es krim ke mulutnya.
Nicko sempat tertegun. Apa Aka kecewa dengan pernikahan ini?
Tapi, Nicko heran kenapa kakeknya benar benar kekueh ingin menikahkannya dengan Aka. Memang, apa istimewanya gadis kekanakan ini?
“Lo nyesel nikah sama gue?” tanya Nicko tiba tiba. Aka spontan menghentikan aktifitasnya Dia menoleh seketika ke arah Nicko.
“Nggak gitu juga sih. Gue juga aslinya pengen nikah di usia muda. Tapi nggak semuda ini juga. Gue juga trauma sama yang namanya pacaran. Kapok gua” kata Aka sambil tersenyum kecut.
“Nggak tuh. Gue kan udah nikah” kata Aka jelas.
Benar kan?.
Nicko menghela nafas perlahan.
“Maksud gue, di luar ikatan kita” kata Nicko sabar. Aka sempat mengetuk dagunya perlahan.
“Iya sih. Kalo lo? Punya pacar? Atau Jones? “ kata Aka tak percaya.
“Bukan, Gue single” kata Nicko singkat.
“Lah, sama aja” kata Aka membantah.
“Beda. Jomblo itu yang nggak punya pacar. Sedangkan single itu nggak pernah pacaran” kata Nicko memberi pengertian. Aka terbelalak seketika.
“Seriusan? Lo di tolak, atau emang nggak ada yang mau sama lo? Sayang loh muka lo lumayan tapi nggak ada yang mau” kata Aka seenak jidatnya sendiri.
“Gue nggak pernah dekat, nembak, atau punya gebetan sekalipun” kaya Nicko jujur. Aka membelalakkan matanya tak percaya.
“Gue yang pertama dong. Wow, ini harus di catat dalam giunes of record” kata Aka bersemangat.
Nicko kembali diam. Membiarkan Aka berbicara sesukanya.
“Tuh di makan. Tega banget lo nyuruh gue ngabisin sendiri” kata Aka yang telah menyendok es krim ke lima kalinya.
“Buat apa? Elo ngabisin sendiri aja bisa” kata Nicko cuek.
“Ih Nicko!!!!!! “ jerit Aka sambil menyendok penuh es krim ke mulut Nicko yang sedang menguap.
Untung sendoknya tidak sampai melukai mulut Nicko.
“Aka, ada apa? “ tanya Lina, Maminya yang baru masuk ke kamar. Nicko tidak jadi marah sebab ada Maminya Aka. Ia mencoba menetralkan rasa beku dikepalanya sambil tersenyum dan membelai pipi Aka.
“Aduh sayang kenapa maksa banget? “ tanya Nicko dengan gemas. Sangat berbeda dengan yang tadi.
“What?! “ kata Aka kaget. Reflek ia menjauhkan pipinya dari jangkauan Nicko. Lina sempat heran dengan kelakuan kedua remaja itu.
“Ma, Nicko jahatin aku” kata Aka sambil bergelayut manja di tangannya.
“Jahat dari mana? Dia baik gitu kok “ kata Lina tak percaya. Aka merengut kesal.
“Itu loh Mi, tadi Aka bilang mau tidur sama saya. Saya jawab jangan dulu, ehhh..... dia malah marah. Saya bilang aja iya, tapi dia masih kesal” kata Nicko bohong. Aka segera mengelak.
“Nggak deh Mi, nggak!!!. Dasar bipolar!! Jangan menghasut Mami gue dong!! “ kata Aka lantang. Lina kaget dengan omongan Aka.
“Aka! Omongannya di jaga!! “ kata Lina memperingatkan anaknya.
“Emang dia bipolar kok” kata Aka kesal.
“Shutttt........ “ sebuah jari menempel pada bibir Aka.
Coba tebak siapa??
“Nggak boleh gitu sayang” Yap bagi kalian yang jawab Nicko kalian benar. Aka mengernyitkan dahi.
“Ih.... Takut gue sama elo” kata Aka sambil menepis jari Nicko di hadapannya. Nicko mengabaikan omongan Aka.
“Ma, ini buat Aka? “ tanya Nicko yang melihat Lina membawa makanan.
“Iya, kamu tolong suapin Aka ya? Dia sering susah kalo di suruh makan” kata Lina.
“Hah?! “ teriak Aka kaget. Aka memasang ekspresi eneg. Nicko segera mengambil alih piring dari tangan Lina.
“Aka ayo baca doa terus makan” kata Nicko dengan senyum manisnya. Lina memberi isyarat agar Aka membuka mulutnya.
“Nggak mau di suapin, maunya makan sendiri “ kata Aka ngambek.
“Kalo aku yang nyuapin jadi nggak enak ya? “ tanya Nicko dengan memasang muka cemberut. Aka memutar bola matanya jengah.
“Udah udah, Mami mau pergi. Besok Mami dan Papi pulang. Kasihan adik adik kamu dirumah yang jagain cuma baby sister “ kata Lina sambil beranjak pergi.
“Gue heran deh sama lo” kata Aka menyampaikan uneg unegnya. Nicko mengernyit.
“Apa?! “ jawab Nicko ketus.
“Lo pinter banget cari muka sama ortu gue. Kenapa harus gitu? Membuat jengkel! “ kata Aka sambil melotot.
“Biarin” kata Nicko cuek.
“Oh....... Oke kalo gitu “ kata Aka yang membuat Nicko terusik.
“Mulai sekarang gue bakal cari muka juga sama ortu lo” kata Aka sungguh sungguh.
“Silahkan kalo bisa” kata Nicko sambil tersenyum remeh. Aka tak ambil pusing. Ia segera mengambil piring dan mulai menghabiskan makanannya. Aka makan dengan sangat lahap.
“Banyak banget makan lo” kata Nicko berkomentar. Aka tak mengubrisnya.
“Gemuk baru tau rasa “ kata Nicko kembali. Aka kembali menghiraukannya. Karena tidak direspon, Nicko mengeluarkan ponsel, mengatur layarnya dengan mode lanskap, dan memaikankan salah satu game yang sedang populer. Setelah selesai makan, Aka menata kasur dan beranjak ke kamar mandi.
“Tuan kok disini? “ tanya seorang pembantu yang sedang mengambil piring kotor bekas makan Aka yang ada di meja.
“Emang kenapa?! Ini kan rumah gue? “ jawab Nicko sambil masih fokus pada ponselnya.
“Tapi ini kan mau di tempati non Aka. Nggak baik kalo cowok di kamar cewek tuan” kata pembantu itu agak takut.
“Emang kenapa? Bini gue juga, terserah gue lah kalo mau mampir ke sini kek, bahkan tidur disini kek. Sah sah aja kan? Orang secara agama dia halal buat gue kok. Emang jadi masalah? “ kata Nicko ketus.
Pembantu itu diam seketika. Dia takut mengusik ketenangan Nicko.
“Kalo begitu, saya pamit undur diri tuan. Mohon maaf tadi saya sudah lancang” kata pembantu itu sambil berjalan pergi dengan menundukkan kepala. Nicko hanya menanggapi dengan gumanan sambil melirik tajam dari ekor matanya pembantu yang telah pergi. Ia mendengus kesal. Tunggu, Nicko heran, kenapa ia jadi semarah itu kan tika ia di ingatkan sedang di kamar Aka? Akh!! Rasa frustasi memenuhi kepalanya.
“Kenapa tuh pembantu? “ tanya Aka yang masuk ke kamar sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Nicko menoleh sebentar dan kaget luar biasa karena Aka memposisikan rambut panjangnya ke depan semua.
“Lo bisa nggak sih buat gue nggak kaget” tanya Nicko sambil mengelus dadanya. Aka hanya meringis tanpa dosa.
“Ya maaf, gue nggak tahu tadi “ kata Aka merasa bersalah.
“Aw!! Ish kenapa kusut sih!! Aduh aduh!!“ keluh Aka sambil mencoba melepaskan sisir yang tersangkut di rambutnya. Aka melirik ke arah Nicko yang masih terkejut.
“Nicko........ “ panggil Aka panjang. Nicko menoleh dengan malas.
“Tolongin gue lagi dong “ kata Aka sambil memasang wajah imutnya. Nicko segera beranjak dari tempat duduknya.
“Ini udah ke berapa kalinya elo minta tolong sama gue” kata Nicko sambil mencoba melepaskan sisir di rambut Aka sepelan mungkin agar Aka tak kesakitan.
“Ngerepotin ya? Maaf deh. Nanti kalo elo minta tolong langsung gue tolongin deh. Aka kan baik hati” kata Aka manja. Setelah lepas Nicko membantu menyisirkan rambut panjang Aka.
“Udah tau pake nanya” kata Nicko malas. Aka terdiam. Ia bingung harus mengajak bicara apa lagi dengan Nicko.
“Ka..... “ panggil Nicko tiba tiba. Aka melongo seketika. Apa pendengarannya bermasalah?
“Elo manggil gue? “ tanya Aka tak percaya.
“Hmm, elo masih marah sama gue?“ tanya Nicko datar. Aka yang masih larut dalam lamunannya tersadar.
“Eh, Em...... Nggak kok. Udah lupain. Nicko kan tahu kalau Aka nggak bisa marah sama Nicko” kata Aka ceria. Nicko tersenyum tipis.
“Tapi ada syaratnya” kata Aka tiba tiba serius. Nicko mengerutkan kening.
“Senyum dulu buat Aka” kata Aka penuh harap. Nicko menyunggingkan senyum sekali, tapi sangat sangat sebentar. Aka memanyunkan bibir cemberut.
“Senyum tuh gini........ “ kata Aka sambil menarik sudut bibir Nicko dengan jarinya.
“Kan kelihatan cakep” kata Aka ikut tersenyum manis. Nicko mematung seketika. Getaran aneh muncul di hatinya.
💜💜💜💜💜
See you
Tbc