This Crazy

This Crazy
TC chapter 17 {FEEL DIFFERENT}



...Part kali ini mungkin agak panjang karena aku belum sempat review ulang. tapi semoga suka dan tetep stay tune di lapak aku selamanya sebelum aku pamitan....


Aka akhirnya di rumah orang tuanya selama seminggu. Sebenarnya kalau boleh jujur, ia juga merasa kesepian karena tidak ada lagi yang mengganggu dan tidak ada lagi yang bisa di ganggu. So, what she did want? Ia seharusnya senang bukan? Bukankah ini yang ia inginkan? Tapi kenapa ia merasa kesepian?.


Aka selalu berangkat sekolah di antarkan Brian. Walau begitu, ia tidak pernah keluar rumah setelah pulang sekolah. Teman temannya sampai bingung dengan sikapnya. Ia tidak lagi mudah di ajak pergi saat pulang sekolah. Hingga Olla memperhatikannya karena ia tidak lagi pergi mampir dengan teman temannya. Bahkan Aka tidak lagi melakukan kesalahan di sekolah. Ia cenderung menjadi pendiam selama beberapa waktu belakangan.


“Lo kenapa sih Ka? Gue perhatiin lo jarang maen sama anak anak. Lo kayak bukan lo lagi” kata Olla memberi komentar. Aka mendengus kesal.


“Salah ya? Gue rusuh di marahin , gue tertib juga di komenin. Udahlah gue mau belajar buat pelajaran besok” kata Aka sambil mengambil tasnya dan langsung keluar kelas.


“Tumben banget. Perasaan lo kan pinter, nggak belajar juga nggak masalah. Lo kayak nggak punya semangat hidup tau nggak” kata Olla lagi.


“Biarin” kata Aka datar dari luar kelas. Olla malah jadi pusing sendiri dengan kelakuan teman satu bangkunya itu.


“Vanya!!! “ panggil Olla saat Vanya hendak keluar kelas. Vanya langsung menoleh.


“Tuh si Aka kenapa? “ tanya Olla serius. Vanya mengendikkan bahunya singkat.


“Nggak tau, dia juga jarang maen sama kita kita sekarang” kata Vanya menimpali. Olla hanya berO ria.


“Samperin ke rumahnya yuk” ajak Olla. Vanya langsung tersenyum.


“Boleh. Gue ngajakin yang lain ya biar rame sekalian” kata Vanya semangat. Olla langsung mengaggukkan kepalanya.


“Gue pulang dulu ya? Nanti kita ketemuan di taman. Berangkatnya biar bareng “ kata Olla mendahului. Vanya mengiyakan.


•••••••••••••••••••••••••••••••


“Asalamualaikum” kata teman Aka serempak tepak didepan rumah Aka.


“Walaikum salam” jawab Lina sambil membuka pintu rumah.


“Eh temen temennya Aka pada dateng. Masuk masuk “ kata Lina mempersilahkan mereka masuk.


“Aka ada temen kamu, turun sayang” kata Lina memanggil Aka yang ada di lantai atas.


“Suruh naik aja Ma “ kata Aka.


“Tuh kalian langsung naik aja ke atas, udah di tungguin Aka. Nanti masuk pintu yang sebelah kanan ya? Yang sebelah kiri perpustakaan soalnya. Di lantai dua Cuma ada dua ruangan” kata Lina mengintrupsi. Mereka mengangguk dan segera masuk ke kamar Aka.


“Aka........ “ panggil mereka semua. Aka tersenyum dan mempersilahkan teman temannya duduk.


Kamar Aka begitu luas dan rapi. Dindingnya berwarna baby pink dan di hiasi stiker yang membuat para fans betah lama lama di sana. Mereka duduk dengan tenang. Kirana melihat sekeliling dengan kagum. Ia melihat poster yang terpampang foto para idol kesukaan Aka. Pandangannya terhenti saat melihat foto yang asing baginya.


“Ka, itu fotonya siapa? Artis Indonesia? Perasaan lo cuma suka artis luar deh. Wajahnya Indo, tapi kok gayanya keren banget kayak idol kesukaan lo” kata Kirana memberi komentar. Semuanya langsung mengarahkan pandangan ke arah yang sama dengan Kirana.


“Itu bukannya foto...... “ kata Chiara bersuara. Tapi ia terhenti begitu tahu Aka mengintrupsinya agar diam.


“Jelasin ke kita “ kata Vanya serius.


“Oke, jadi kita mau bahas soal yang mana? “ tanya Aka mengalihkan pembicaraan.


“Aka!!!!! “ teriak semua temannya keras. Aka langsung menutup telinganya rapat.


“Apa sih” kata Aka sambil mengerucutkan bibirnya sebal. Teman temannya jadi jenuh sendiri.


“Lo, kenapa, sekarang, beda, dari, biasanya” kata Gissel dengan nada mengeja namun penuh penekanan.


“Oh itu, hehe sorry baru nyambung gue” kata Aka tanpa dosa. Teman temannya merasa lega dan mendengarkan dengan serius apa yang akan Aka sampaikan.


“Ya, gitulah” kata Aka sambil nyengir. Belum bicara apa apa dia hanya mengatakan ‘ya, gitulah'. Teman temannya menepuk dahinya sekali bahkan ada yang mendengus lelah.


“Huhhhhh gue cium sekalian baru tau rasa lo!!! “ kata Chiara tiba tiba. Ia sudah gemas dengan sikap Aka sejak tadi.


Bukannya kembali meringis, Aka malah murung secara tiba tiba.


“Cium, cium, cium” kata Aka pelan dengan tatapan mata kosong. Ia mengulang kata itu seperti CD rusak. Semua temannya langsung melempar tatapan introgasi kepada Chiara. Chiara jadi merasa bersalah sendiri. Ia lantas duduk di sebelah Aka dan mencoba menenangkannya. Ia tak mengira bahwa guyonannya akan jadi begini. Ia lantas merangkul bahu Aka dengan lembut.


“Aka, maafin gue ya. Gue nggak sengaja nyinggung lo tadi, maaf, maaffff banget” kata Chiara mengakui kesalahannya.


“Nggak, ini semua bukan salah lo” kata Aka sambil tersenyum. Teman temannya ikut tersenyum dengan terbitnya senyum Aka yang biasanya muncul. Walaupun kali ini tampak di paksakan.


“Pasti kalian ngira gue lagi marahan sama dia kan? “ tanya Aka sambil menunjuk foto Nicko yang terpampang jelas di dinding kamarnya. Teman temannya mengangguk setuju. Aka tersenyum dan kembali melanjutkan ceritanya.


“Gue sebenernya sama dia..... Ah... Entahlah, gue juga bingung harus di sebut apa hubungan gue sama dia. Di bilang pacar ya bukan pacar, dibilang temen juga bukan temen, di bilang kenalan juga bukan kenalan, di bilang suka apa cinta juga bukan. Pokoknya, dia tuh orang asing yang tiba tiba muncul di kehidupan gue. Mengusik semua tentang gue, dan tiba tiba juga mengusik perasaan gue” kata Aka sambil menggigit bibir. Teman temannya pilu melihatnya. Chiara kembali mengusap bahunya.


“Kalau nggak kuat nerusin nggak papa kok. Nggak usah dipaksakan. Kita juga paham” kata Chiara menguatkan Aka. Aka menggelengkan kepala.


“Nggak, kalian harus tau masalah ini sampai tuntas” kata Aka mencoba tegar.


“Gue nggak tau sejak kapan, tapi.... Gue ngerasa kalau semua perhatian gue bakal berpusat ke dia, seakan akan dia adalah poros dari semua yang ada dalam diri gue” kata Aka pelan.


“Berarti lo cinta sama dia!!!! “ kata Missel menyela. Yang lain menatap tajam ke arahnya. Menyuruhnya bungkam. Aka tertawa tipis.


“Gue nggak tau apa itu cinta. Gue udah lama lupa gimana rasanya. Kalian tau sendirikan, cowok gue yang pertama mati. Dan yang kedua selingkuh dan terang terangan di hadapan gue waktu dia ngajakin gue ngedate. Gue kapok bakalan terluka ketiga kalinya kalau gue sampai punya perasaan lagi sama cowok. Bahkan dulu gue punya pemikiran nggak bakal nikah seumur hidup. Saking sakitnya gue di kecewain. Dan kami hanya menjalani hubungan dengan keterpaksaan. Awalnya gue pikir ini bakalan baik baik aja seperti fikiran gue waktu itu. Gue tetap optimis bahwa gue bisa ngejalanin apapun yang ada. Gue Cuma mikir, kalo ini udah selesai gue bisa langsung cerai sama dia dan nggak pake bawa bawa perasaan segala. Tapi sayangnya ada hal yang gue lupa, jangan main api kalo lo nggak mau kebakar. Itu sama seperti gue, gue Cuma ngikut dan nggak mikir sejauh itu, dan sekarang, gue baru tahu kalau gue udah terperangkap sepenuhnya dalam kobaran itu, dan nggak bakal keluar untuk bisa lari dari semua ini. Gue hanya bisa menerima kenyataan yang nggak pernah gue bayangkan sebelumnya dengan dia. Oh my God!!! What happen with me?! Ini semua beda dengan ekspetasi gue selama ini. Kalian tau? Gue ngerasa jadi orang paling dungu sedunia, gue mencoba menepis jauh jauh perasaan gue yang udah terlanjur ke dia, dan gue pura pura nggak sadar dan lari dari semua ini. Tapi, gue baru tau, walaupun gue lari ke ujung dunia sekalipun, perasaan gue Cuma terpaut ke dia. Dia adalah titik dimana gue bisa tinggal dan ngerasa nyaman. Gue emang aneh ya? Nggak sadar sadar dari dulu tentang perasaan gue, dan malah dengan tanpa berdosanya membohongi dia dan diri gue sendiri “ kata Aka sambil tersenyum miris.


Air matanya mengalir begitu saja tanpa bisa ia bendung. Teman temannya lega dan ikut menenangkannya. Lina tiba tiba masuk kamar saat semua sahabat itu berpelukan dengan haru. Ia tersenyum lega.


“Makasih ya mau bantuin Aka” katanya singkat sambil meletakan nampan berisi cemilan. Aka juga ikut tersenyum.


“Iya tante” sahut teman temannya serempak. Lina langsung keluar dengan perasaan lega. Ia tahu, anaknya begitu kuat hingga bisa melewati semua ini.


Sementara itu, di rumahnya, Nicko merasa bingung sendiri. Ia sudah berkali kali menabrak barang barangnya tanpa sadar. Baru lima hari, ia sudah merasa jenuh sendiri. Walaupun Mama Papa dan adiknya menginap di rumahnya, ia tetap saja merasa sendiri. Nicko mencoba membereskan kekacauan yang ia perbuat.


“Kakak main bulu tangkis yuk” ajak adiknya yang tiba tiba masuk kamar.


“Bentar ya Ra, kakak beresin ini dulu” kata Nicko yang masih membereskan buku buku di rak. Rara manyun seketika. Ia masuk ke kamar dengan pelan.


“Kakak cari sesuatu? “ tanya Rara heran dengan sikap kakaknya. Nicko menggeleng singkat.


“Nggak kok Ra” jawab Nicko. Rara berjalan menuju nakas. Ia teringat kemarin ia menitipkan jepit rambutnya saat bermain di kamar Nicko. Rara terheran begitu membuka laci nakas ia melihat buku berwarnya orange didalam sana. Seingatnya kemarin buku ini tidak ada di sini. Ia lantas mengambilnya. Saat ia mengangkatnya keluar, ia sempat heran dengan judul bukunya. Tidak mungkin kakaknya membaca buku seperti ini.


“Kak bukunya Kak Aka kok di simpen disini? “ tanya Rara bingung. Nicko menoleh dan segera mendekat ke arah adiknya.


Ia mengambil buku yang di sodorkan adiknya itu. Ia membukanya perlahan. Ia tau, walaupun ia sangat benci novel berbau Korea yang sering di baca Aka, tapi ia sangat ingin membuka novel itu sekarang.


Mungkin itu bisa mengobati sedikit rasa rindunya. Perhatiannya tertuju pada baris tulisan dalam buku itu. Bukan, bukan pada isi novel itu, melainkan pada setiap goresan tinta yang menjadi tulisan Aka.


Ia tersenyum sendiri membacanya, ia bisa tau kalau Aka sangat menikmati isi ceritanya bahkan memberi beberapa komentar darinya tentang setiap scan adegan pada novel tersebut. Hampir setiap lembar Aka menuliskan pendapatnya. Membuat Nicko semakin penasaran dengan tulisan gadis itu hingga antusias membacanya.


Tepat di tengah halaman novel, ia terkejut begitu menemukan buku catatan kecil milik Aka. Walaupun ia tau tidak sopan, ia tetap saja membukanya. Halaman demi halaman ia baca dengan teliti.


Tulisan itu seperti baru, tidak begitu lama di tulis dalam beberapa waktu yang lalu. Sampai di halaman ke tiga ia terlonjak kaget begitu mengetahui tulisan itu tentangnya.


Ia semakin penasaran membacanya. Ia tersenyum sendiri memperhatikan perasaan Aka yang tertulis di sana. Lembar demi lembar ia baca dengan teliti.


Aka begitu pintar menuliskan perasaannya dalam buku itu.


Tentang kejengkelannya saat Nicko mengganggunya, tentang kesedihan Aka saat Nicko memberi sikap cuek kepadanya, dan tentang kebahagiaannya saat Nicko memberinya hadiah kecil yang tampak sangat sederhana namun begitu membekas di hati gadis itu.


Tiba tiba perhatian Nicko tertuju dengan tulisan bertinta merah muda dalam buku itu. Itu sepertinya curahan perasaan Aka dari lubuk hatinya yang paling dalam tentang Nicko.


Dear Nicko


Gue tau mungkin gue lancang sama lo. Gue tau mungkin gue udah kurang ajar masuk kehidupan lo tanpa permisi dan mengganggu ketenangan lo. Tapi, satu hal yang pasti, gue sama sekali dari dulu nggak ada niatan gitu ke elo. Mungkin gue udah nggak waras kalau bilang kayak gini, tapi gue bener bener suka sama lo. Lo tau? Ini hal yang gila, tapi bener bener terjadi. Gue cinta sama lo, lebih dari yang lo tau tentang gue. Kedengarannya memang aneh, tapi ini asli perasaan gue sendiri. Jadi, gimana? Lo juga cinta kan sama gue? Hahaha, gue aneh ya?. Gue juga bingung kenapa gue bisa nulis kayak gini seakan akan suatu saat lo bakalan baca tulisan gue yang nggak jelas ini.......


“Walaupun nggak jelas, tapi itu bisa menjelaskan perasaan lo saat ini ke gue Aka “ kata Nicko menanggapi. Ia kembali membaca tulisannya.


...... So Nicko, lo adalah penerang di antara kegelapan gue, penguat diantara kerapuhan gue, dan semua poros dari cinta gue. What do you know? I’m not disappointed married with you. Bahkan I’m too feeling very lucky Marry with you . Apa lo juga punya perasaan yang sama ke gue?


Sekian curahan dari Akasia Violetta Brian, eh salah, maksudnya, Akasia Violetta Joshua, ehem. Istrinya Joshua Nickold yang tercinta 😘😘😘❤❤❤❤😍😍😍😍😊😊😊😊😊


Nb: gue harap lo juga punya perasaan yang sama ke gue.


Nicko menangis sejadi jadinya. Ia terharu dengan Aka.


“Iya Ka, lo bener, gue juga cinta sama lo” kata Nicko di antara isak tangisnya. Ia memeluk buku itu dengan erat, seakan akan ia bisa merasakan kehangatan pelukan Aka di sana. Ia bersimpuh seketika. Rara melihatnya sambil tersenyum. Akhirnya kakaknya menemukan orang yang benar benar ia cintai dan benar benar mencintai kakaknya. Rara menepuk bahu Nicko pelan, seakan mencoba menguatkannya.


“Kakak mau nyamperin Kak Aka sekarang Ra” kata Nicko setelah puas menangis. Ia menyeka air matanya dan segera beranjak. Namun Rara mencegah.


“Jangan kak, Kakak kan tau sendiri Mama nggak bolehin Kakak nyamperin Kak Aka. Nanti kalo Mama marah gimana? “ tanya Rara khawatir. Nicko tersenyum tanpa beban.


“Itu kan kalo Mama tau, kalo nggak kan nggak masalah “ jawab Nicko dengan tanpa beban. Rara tidak tau apa yang akan di rencanakan Kakaknya.


“Jangan bilang Mama ya? Kalo Mama tanya, jawab aja Kakak lagi pergi ke rumah temennya Kakak” kata Nicko sambil mengambil kunci motornya.


“Tapi Kak...... “ Rara mencoba mencegah Kakaknya. Namun Nicko mengatakan ini akan baik baik saja.


“Nanti Kakak bakal beliin kue Bandung” kata Nicko mempengaruhinya. Rara menatapnya dengan mata berbinar.


“Beneran ya Kak beliin” kata Rara sambil tersenyum. Nicko mengacungkan ibu jarinya dan segera pergi. Nicko benar benar semangat ingin menemui Aka hari ini juga. Walau bagaimana pun, ia harus menemui Aka. Ia harus menjelaskan semuanya sampai sejelas jelasnya.


“Kamu mau kemana” tegur Vino yang baru pulang dari rumah. Nicko tersentak kaget.


“Mau pergi ke rumah temen Pa “ jawab Nicko kagok. Ia takut kalu ketahuan akan pergi ke rumah Aka. Vino semakin menajamkan tatapan matanya, membuat Nicko semakin khawatir. Tiba tiba Vino menepuk bahunya sambil tersenyum.


“Kalau kamu mau nyamperin menantu Papa, Papa nggak bakal masalah kok” kata Vino sambil tersenyum manis. Nicko ikut tersenyum senang.


“Baik Pa. Tapi jangan bilang Mama ya Pa “ jawab Nicko mantap.


“Tenang, Papa ada di pihak kamu. Sana cepetan susulin menantu Papa “ kata Papanya. Nicko segera melangkah pergi setelah mendapat izin Papanya.


•••••••••••••••••••••••••••••••


“Nicko!!!!! “ panggil Surya sambil menyalakan klakson motornya. Nicko tetap melajukan motornya, sepertinya ia tidak mendengar panggilannya. Surya memutar balik arah motornya mengejar Nicko. Entah pergi ke mana cowok itu, Surya tetap saja mengejarnya. Merasa ada yang mengikutinya dari belakang, Nicko menepikan motornya ke samping jalanan yang sepi. Memastikan kalau yang mengikutinya bukan orang jahat.


“Lo mau kemana bray? “ tanya Surya sambil memarkirkan motornya di belakang motor Nicko.


“Ke rumah cewek gue” kata Nicko sambil membuka kaca helm full face nya.


“Cewek lo yang itu maksudnya?” tanya Surya memastikan. Hanya Surya teman Nicko yang tahu bahwa Nicko sudah menikah dengan Aka. Nicko mengagguk singkat.


“Iya” katanya lemas. Surya mengerutkan dahi.


“Kenapa nggak taruh rumah lo aja? Kan lo nggak perlu repot repot nyamperin ke rumah dia waktu lo lagi kangen“ tanya Surya heran.


“Awalnya sih gitu, tapi gara gara gue...... “ Nicko menggantungkan perkataannya sambil menunjuk ke arah sudut bibirnya. Surya melotot tak percaya.


“Lo keterlaluan ya?! Cewek lo baru umur 14 tahun lo main sosor sesuka lo sendiri” kata Surya asal menuduh sesukanya sendiri. Nicko mendengus kesal tapi memberikan tatapan tak berdosanya.


“Emang salah ya? “ tanya Nicko sambil memperlihatkan tatapan imutnya.


“Ya salah lah” kata Surya keras.


“Nggak sampai bibir dongong!! Cuma kena pipinya doang!!!!!!! ” kata Nicko menjelaskan. Ia menekan pipinya tepat di sebelah sudut bibirnya. Menunjukkan dimana tempat ia mencium Aka kemarin.


“Lah gue kirain sampe kena bibir sekalian. Ternyata..... “ kata Surya yang akhirnya paham.


“Oh jadi lo nyuruh gue buat nyium dia sekalian gitu” kata Nicko menuduh Surya.


“Eh... Enggak, gue nggak nyuruh tuh. Tapi kalo lo pingen nyium sekalian ya terserah lo. Istri punya lo. Mau lo apain kan juga bukan urusan gue” kata Surya cuek.


“Ya nggak segitunya lah bro. Udah nggak waras apa gue” kata Nicko sambil menjitak kepala Surya. Membuatnya meringis kesakitan.


“Sebenernya sih bro, gue udah pernah nyamperin ke sekolahnya berkali kali, tapi setiap kali gue kesana pasti temen temennya bilang dia udah pulang duluan. Lo tau? Gue sampai ngerasa gue udah nggak guna. Waktu gue lewat di rumahnya gue ragu mau nengokkin, kalo gue ketahuan sama Maminya gue takut bakalan di marahin. Mama gue juga bilang gue nggak boleh nengokkin dia. Kalau gue tau bakal jadi kayak gini, gue pasti nggak bakalan ngelakuin itu” kata Nicko sambil membayangkan sken adegan saat dirinya menjemput Aka.


“So, by the way, lo mau ngapain cari gue” kata Nicko kembali cuek.


“Gue niatnya mau ngajakin lo pergi. Eh tau taunya mau nyamperin bini lo” kata Surya sok polos.


“Trus? “ tanya Nicko cuek.


“Gue cemburu tau!! “ kata Surya sok sok an merajuk. Nicko jenuh sendiri melihatnya.


“Jijik gua!! Lo harus inget, gue udah punya bini bukan jomblo lagi, jangan ngajakin gue homo. Nggak doyan gue sama yang kayak lo” kata Nicko jengkel. Ia mendorong dahi Surya dengan telunjuknya.


“Iya!!!!! Gue juga udah tau!!! Nggak usah ngejek juga kalik mentang mentang lo udah nikah. Huh sebel gue” kata Surya tak terima.


“Makanya cari cewek sana biar nggak jomblo lagi” kata Nicko mencibir.


“Nggak ah, mendingan gue nikah sekalian aja” kata Surya dengan sombong. Jiahhhhh Jomblo sombong 😏 😏.


“Lo mau ngikut nggak? Kalo nggak sono pulang” kata Nicko sambil naik ke motornya kembali.


“Eh gue ikut!! Daripada gue balik lagi ke rumah nggak ada kerjaan” kata Surya mengikuti. Mereka akhirnya menuju rumah Aka.


Sementara itu, Aka dan teman temannya masih sibuk bercanda. Mencoba menghilangkan kesedihan yang meliputi hati Aka.


“Lo tau? Si Henro kemarin nembak Emi loh” kata Gissel mulai bercerita. Aka yang baru tau langsung mendengarkan dengan antusias.


“Apaan sih?! Nggak usah di bahas napa” kata Emi sambil menahan malu. Teman temannya menertawakannya .


“Terus gimana? Di terima nggak? Kalian jadian nggak? “ tanya Aka penasaran.


“Nggak lah!! Ngapain gue nerima cowok kayak gitu. Dia tuh nggak asik, bukan tipe gue” kata Emi sambil memandang ke arah lain. Tawa Aka pecah seketika.


“Ka, btw lo nggak bosen apa dirumah mulu? Kira sepedaan yuk. Mumpung kita bawa sepeda ke sini” ajak Missel. Yang lainnya mengiyakan.


“Boleh deh. Gue juga suntuk di rumah terus” kata Aka. Semuanya tersenyum dan buru buru beranjak dari tempat duduknya. Teman teman Aka keluar kamar terlebih dahulu. Ponsel Aka berbunyi dan ia segera mengambilnya. Ia kaget begitu pesan itu dari Nicko. Ternyata Nicko mengirimnya pesan. Bahkan saking banyaknya entah itu spam atau bukan, Pesan dari Nicko mencapai 3000 dan itu belum di buka Aka sama sekali. Aka memutuskan hanya membaca pesan itu, tanpa berniat membalasnya. Sesampainya di depan pintu kamarnya, ia mendengar suara yang tidak asing baginya.


“Iya Mi, biasalah. Mama juga suka gitu” kata seseorang. Ya!! Tak salah lagi, itu memang dia. Aka benar benar bingung. Ia harus bagaimana sekarang?!. Dengan perasaan kalang kabut, ia masuk kembali ke kamar. Entah mengapa ia belum siap menemui orang itu. Suara langkah kaki terdengar makin jelas dari anak tangga. Aka bingung harus bersembunyi dimana. Ia akhirnya berlari ke arah balkon dan menutupnya rapat rapat. Jantung Aka terdengar begitu cepat. Ia segera mengunci pintu balkonnya.


Sementara itu, para teman temannya menunggu dengan was was di anak tangga. Menunggu dengan cemas apa yang akan terjadi.


“Udah tungguin aja “ kata Surya sambil berbisik.


“Nggak sabar nih gue nungguin” kata Dodi sambil cemberut.


“Nggak cowoknya, nggak ceweknya, sama aja bertele tele” kata Dodi melanjutkan.


“Lo ngapain sih?! Pulang aja sana!! “ kata Surya mengusir Dodi pergi.


“Gue rasanya pengen jorokin tuh mereka berdua ke kamar deh. Gemes gue!!!! “ kata Dodi kembali mengoceh.


“Shutt!!!! Diem!!!! Lo tuh ya jangan ganggu napa. Perhatiin aja. Ok!!! “ kata Emi ikut menimpali.


“Ya habis nggak seru banget sih, udah lima hari nggak ketemuan. Waktu ketemuan malah pada diem dieman nggak jelas. Siapa yang nggak gemes coba?! “ kata Dodi tanpa menoleh ke asal suara. Saat Dodi menoleh, ia langsung terpana, dan sifat playboynya muncul lagi.


“Ehhhh gue lupa kalo disini banyak cewek cantik. Hay, kenalan dong” kata Dodi sambil mengedipkan sebelah matanya. Emi bergidik ngeri.


“Ihhhh nggak nggak!!! Ya Allah dosa apa gue?!!! Kemarin habis di tembak cowok yang nerd, sekarang gantian ketemu sama cowok nggak jelas ini!!!! Ihhh ampun deh” kata Emi merasa geli sendiri. Dodi malah menyugar rambutnya ke samping, merasa kalau dirinya keren. Teman teman Emi jadi ikutan ilfil dengan tingkah Dodi.


Mereka sibuk sendiri dengan ocehan mereka. Mereka tidak tau kalau Nicko sedang memberanikan dirinya untuk bicara dengan Aka. Nicko mengetuk pintu kamar Aka perlahan.


“Aka..... “ panggil Nicko sambil tetap mengetuk pintu dengan was was. Aka masih bersembunyi dengan jantung berdebar. Tak mendapat jawaban, Nicko segera membuka pintunya. Pintu berderit perlahan dan Nicko segera masuk kekamar Aka. Ia mendapati kamar Aka kosong melompong. Ia tetap nekat masuk ke kamar Aka, mamastikan kalau ternyata Aka bersembunyi di sana.


Ia menyusuri setiap benda yang ada di sana. Ia menggelengkan kepala saat melihat poster idol kesukaan Aka di sana. Jujur, perasaan jealous menyerangnya secara tiba tiba.


Perhatiannya tiba tiba terfokus dengan figura mewah berisi fotonya yang terpampang jelas, dan yang lebih membuatnya tercengang lagi adalah tepat di sudut bawah figura itu terdapat goresan tinta dari tulisan Aka yang bertuliskan.


Nicko, cowok ngeselin tapi selalu ngangenin.


Begitu tulisannya. Hati Nicko kembali menghangat. Ia tersenyum manis dengan kelakuan Aka.


“Aka, ini gue, Nicko. Lo dimana? “ kata Nicko sambil menyusuri sudut kamar Aka. Hening, ia kembali tidak mendapat jawaban. Nicko mendengus lelah. Ia berjalan keluar kamar dan menuju ke balkon. Sesampainya di balkon, Nicko tidak langsung membuka pintunya, tapi kalau menyandarkan punggungnya di sana. Pandangannya menerawang ke atap ruangan.


“Lo dimana Ka? “ tanya Nicko pada angin. Ia tak tau bahwa Aka ada di balik pintu itu, menunggu dengan was was.


“Gue heran, sebenernya apa sih yang bikin gue selalu mikirin lo” kata Nicko masih menerawang. Aka mendengarkan dengan hati pilu. Ia mendekatkan telinganya di daun pintu. Mendengarkan dengan teliti setiap kata yang akan keluar dari bibir Nicko.


“Gue minta maaf waktu itu, gue sama sekali nggak sengaja waktu nyium lo. Lo mau kan maafin gue?. Gue juga bingung kenapa gue bisa kayak gitu, lo tau? Gue Cuma gemes aja sama lo yang kesel sama gue waktu itu, gue juga bingung kenapa hal yang pertama muncul di otak gue hanyalah nyium elo. Tapi, itu bukan first kiss nya kan? Lo juga tau sendiri kalau kemarin gue cuma nyium pipi elo, bukan....... “ Nicko menggantungkan kalimatnya sambil mendengus lelah . Aka masih mendengarkan dengan cemas.


“Hehhh.... Bibir lo” kata Nicko pelan. Aka merasa jantungnya bergejolak semakin kuat. Aka sebenarnya juga tahu kalau Nicko hanya mencium pipinya, ia jugq tidak tahu kenapa ia langsung menangis seketika waktu itu.


“Tapi, terserah lo deh. Kalo nggak mau maafin gue juga nggak masalah. Gue kan belun jadi suami yang baik buat lo. Lo maafin aja waktu gue udah jadi suami yang baik “ kata Nicko sambil tersenyum tipis. Aka mencoba menahan air matanya agar tidak keluar karena haru.


“Aka!!!!! Lo dimana sih!!!!! Yang!!!!!! Sayang!!!!!! Jawab napa beib!!!! “ Nicko berteriak seperti orang gila. Dia mencoba membuka pintu balkon.


Percobaan pertama, setelah kenopnya di putar, pintunya tak terbuka.


“Kok macet? “ tanya Nicko sambil mengerutkan kening. Aka membungkam mulutnya ketakutan. Ia bingung harus bagaimana.


Ia segera membuka kunci pintu perlahan dan memperkecil suara sebisa mungkin setelah suara kenop pintu diputar kedua kalinya.


Ia segera memasang posisi tidur di kursi malas yang ada di balkonnya. Ia segera menutup matanya rapat rapat. Kalau boleh jujur, ia sangat ketakuatan sekarang. Begitu kenop pintu di putar ke tiga kalinya, tubuh Nicko terdorong ke depan dan terjatuh di lantai balkon.


“Awwww” suara ringisan Nicko terdengar memilukan. Bukannya merasa kasihan, Aka malah menahan tawanya agar tidak meledak. Nicko mengedarkan pandangannya ke arah samping tempatnya jatuh, dan memui tubuh gadis yang ia cari sedari tadi. Ia tersenyum bahagia.


Sedangkan Aka? Ia malah terdiam dengan was was. Ia merapatkan mata dan mulutnya kuat kuat, tapi ia buat senatural mungkin. Nicko menyangka kalau Aka benar benar tertidur di sana. Ia menepuk bahu Aka perlahan,membangunkannya.


“Ka, lo nggak takut kedinginan disini? “ tanya Nicko pelan. Aka bingung harus melakukan apa. Apa ia harus pura pura bangun tidur saja?. Oh yang benar saja!!! Aktingnya sangat payah. Apa dia tidak bisa berpura pura lebih baik lagi?!. Aka menghela nafasnya perlahan dan siap menjalankan akting payah yang muncul di otaknya. Ia membalikkan tubuhnya perlahan dan menyipitkan mata seperti orang yang baru bangun tidur. Aka segera duduk dari posisinya perlahan. Ia bahkan pura pura menguap agar Nicko mengira ia benar benar baru bangun tidur.


“Oh elo, gue kira siapa “ kata Aka mencoba senatural mungkin dan mengabaikan detak jantungnya yang bertalu talu. Ini benar benar memalukan kalau di pandang dalam dunia peraktoran. Dan tentu saja, yang di maksud adalah aktingnya Aka saat ini. Nicko tersenyum manis.


“Ngapain kesini? “ tanya Aka.


Payah!! Ia benar benar payah dalam berekting.


“Cariin lo” kata Nicko tersenyum canggung.


“Lo udah lama tidur disini? “ tanya Nicko kagok. Ia benar benar bingung dengan apa yang akan ia katakan pada Aka. Aka menggeleng singkat sambil menyipitkan matanya.


“Nggak, barusan kok waktu lo naik ke sini” kata Aka asal. Ia langsung melotot kaget dengan ucapannya. Ia menggigit bibir bawahnya takut.


“Yah ketahuan deh” batin Aka. Ia meringis tanpa dosa. Nicko hanya menaggapinya dengan senyuman canggung. Ia tak berani menertawakan Aka saat ini.


“Lo katanya mau sepedaan sama temen lo. Sekalian gue ngikut ya?” tanya Nicko canggung. Aka mengiyakan dengan anggukan kepala.


“Yuk turun” ajak Nicko kagok. Mereka turun bersama. Nicko turun terlebih dulu, di ikuti Aka yang mengekor di belakangnya. Orang orang yang ada di sepanjang anak tangga yang sedang menguping langsung turun ke lantai bawah begitu tahu Aka dan Nicko akan turun.


“Eh anak anak Mami udah turun. Jadi mau sepedaan kan? “ tanya Lina dengan tanpa dosa saat Aka dan Nicko turun.


“Iya Ma “ jawab Aka sambil meringis.


“Tapi, sepeda kamu cuma dua, nanti kamu boncengan sama Nicko ya? Nanti pake sepeda gunung yang ada boncengannya. Biar temennya Nicko pake sepeda kamu yang satunya” kata Lina kembali.


“What?! “ teriak Aka tak percaya. Ia melongo seketika.


“Nggak papa kok Ka, gue kuat kok kalo boncengin elo” kata Nicko canggung. Ampun deh mereka berdua ini membuat semua orang yang ada disana merasa gemas sendiri. Bahkan Dodi sudah meremas tangannya dari tadi saking geregetan dengan tingkah mereka.


“Hati hati ya? “ kata Lina sambil menyalami semua anak anak yang akan pergi. Ia tersenyum senang karena sekarang anaknya tidak murung lagi. Ia juga sebenarnya heran, kenapaSarah meminta agar Aka berada di rumahnya terlebih dahulu untuk satu minggu ini? Sarah benar benar keterlaluan!! Jelas jelas Aka lebih nyaman dengan Nicko. Lina bingung dengan sikap teman sosialitanya itu.


“Oy kita balapan yuk” ajak Dodi yang membonceng Surya dengan berdiri.


“Boleh juga tuh” kata Gissel menimpali.


“Yak lo yang bener aja!! Lo tuh berat!! Pake acara ngajakin balapan lagi” kata Surya yang tak terima.


“Lo kira gue seneng gitu di boncengin pake berdiri? Gue juga pegel tau!!! Kalo lo mau, kita tukaran tempat aja gimana? Biar gue yang boncengin “ kata Dodi memberi usul.


“Ihhhh ogah banget gue. Mending gue aja yang ngayuh” kata Surya sambil menoleh malas. Yang lain menanggapinya dengan tertawa renyah. Sedangkan Aka dan Nicko hanya tertawa tipis.


“Siap ya..... “ Kirana memberi aba aba. Yang lainnya mengagguk paham.


“Lo siap Ka? “ tanya Nicko. Aka mengguk sekilas dan canggung ketika memegang kaus pada bagian pinggang Nicko. Nicko heran kenapa Aka hanya berpegangan pada kausnya. Ia mengusap wajahnya lelah. Nicko menduga kalau Aka masih marah padanya. Ia lantas memberanikan diri menggenggam pergelangan tangan Aka. Aka terlonjak kaget seketika.


“Pegangan tuh gini” kata Nicko sambil melingkarkan tangan Aka kepinggangnya. Aka semakin kaget saat kepalanya membentur punggung Nicko pelan.


“Jangan di lepas” kata Nicko datar. Aka hanya bisa terdiam mematuhi.


“Satu...... Dua...... Tiga!!!!! “ teriak Kirana keras. Mereka semua segera mengayuh sepedanya kencang. Chiara mendahului di depan, disusul dengan Olla dan di belakang mereka ada Nicko dan Aka. Sepeda mereka saling salip menyalip dengan seru. Mereka saling mendahului satu sama lain, mencoba untuk menjadi yang tercepat. Hingga, akhirnya Nicko mendahului mereka di garis paling depan. Tidak ada yang bisa menandingi kecepatan Nicko. Mereka akhirnya mengalah dan membiarkan Aka dan Nicko menjauh dari pandangan mereka.


“Berhenti berhenti” kata Vanya mengintrupsi. Semuanya berhenti seketika dan menghela nafas lega.


“Misi kita berhasil “ teriak Vanya keras.


“Eits, belum tentu. Kita lihat dulu gimana jadinya” kata Surya memperingatkan. Yang lain mengguk setuju.


“Oke, jadi gimana? Kita balik? “ tanya Chiara bingung.


“Nggak perlu, kita disini aja nungguin mereka” kata Dodi mengomando.


“Yahhhh jadi obat nyamuk dong kita” kata Emi mendengus kesal.


“Udah nggak papa, nggak ada salahnya kan kalo kita berkorban demi teman kita sendiri. Biar nggak kesepian, gimana kalo lo sama gue aja? “ tanya Dodi mulai lagi.


“Haha betul tuh. Udahlah Emi, lo terima aja. Daripada lo dikejar kejar terus sama si Hendro” kata Missel menanggapi. Emi memblushing seketika.


“Shutttt eh mau tau nggak? Mungkin bentar lagi bakal ada yang jadian deh. Emi sama Dodi, dan Chiara sama Surya. Hahahahhaha” kata Gissel melanjutkan perkataan kembarannya. Mereka semua tertawa riang kecuali ke empat orang tadi yang menjadi bulan bulanan.


Sementara itu, di tempat lain yang jauh dari jangkauan mereka, Aka dan Nicko masih saling diam.


“Aka” panggil Nicko. “Nicko” panggil Aka. Mereka bersamaan memanggil nama satu sama lain.


“Lo duluan deh” kata mereka lagi, bersamaan. Suasana jadi semakin canggung.


“Nggak papa lo duluan” kata Aka mempersilahkan.


“Nggak lo duluan aja” kata Nicko menimpali.


“Lo aja, beneran kok” kata Aka menolak.


“Lo aja, gue nanti nggak papa” kata Nicko melempar lagi kesempatan pada Aka.


“Jangan, lo aja” kata Aka menolak.


“Lo aja” kata Nicko lagi. Mereka sampai adu mulut saling menyarankan satu sama lain agar berbicara terlebih dulu.


“Oke Ka, jadi gini.... “ kata Nicko pada akhirnya mengalah. Aka


mendengarkannya dengan seksama. Membuat Nicko kembali merasa canggung untuk melanjutkan ucapannya.


“Gue minta maaf buat waktu itu” kata Nicko penuh sesal.


“Gue nggak sengaja, bener bener nggak sengaja. Jadi gue harap lo mau maafin gue dan kita bisa balik lagi ke rumah gue. Bisakan? “ tanya Nicko meminta pendapat. Lebih tepatnya memohon kepada Aka. Aka bingung harus menjawab apa.


“Hahhhh, iya gue tau kok. Ini semua juga bukan kesalahan lo. Guenya aja yang keterlaluan “ kata Aka juga merasa menyesal.


“Jadi, lo mau kan maafin gue? “ tanya Nicko hati hati. Aka tersenyum cerah.


“Buat apa di maafin? “ tanya Aka menggoda Nicko.


“Yahhhh kok ngga dimaafin sih? “ kata Nicko merengek. Ia sampai memasang wajah terimutnya yang bisa membuat Aka gemas sendiri. Mungkin hanya Aka yang tau kalau di balik sikap dingin Nicko, ia juga bisa memasang wajah seperti ini.


“Kan nggak punya salah. Nggapain pake di maafin? “ kata Aka pada akhirnya . Nicko tersenyum dan lantas menggenggam tangan dan berdiri dari sepeda. Membiarkan sepedanya tergeletak begitu saja. Tanpa pikir panjang, Nicko segera memeluk Aka erat dan mencium pucuk kepalanya.


“Makasih ya, elo udah jadi pelengkap kehidupan gue “ kata Nicko sambil melonggarkan pelukannya. Aka tersenyum dan mencium pipi kanannya tiba tiba. Nicko menegang seketika dengan aksi Aka.


“Sekarang kita impas. Nggak adil kan kalau elo mulu yang nyium gue” kata Aka sambil tersenyum manis. Nicko ikut tersenyum.


“Lagi dong” kata Nicko sambil mendekatkan wajahnya ke arah Aka. Aka pura pura tidak mau.


“Nggak ah, nanti kesenengan lo” kata Aka menolak.


“Alahh lagi, lagi “ kata Nicko kembali memasang wajah super lucunya. Aka hanya bisa menurutinya. Ia kembali mencium pipi kiri Nicko.


“Lagi..... “ kata Nicko kembali merengek. Aka beralih mencium dahinya.


“Lagi...... “ kata Nicko merengek. Ia mulai ketagihan dengan ciuman Aka. Aka beralih mencium dagunya. Nicko membuka matanya senang.


“Apa? Mau lagi? “ tanya Aka gemas. Nicko mengagguk setuju.


“Yang ini belum” kata Nicko sambil menunjuk bibirnya. Aka memblushing seketika. Dia memalingkan wajahnya.


“Tuh kan jadi modus “ kata Aka menolak. Nicko tampak kecewa.


“Yang kemarin kan nggak kena” kata Nicko menimpali. Aka tetap menggeleng tegas.


“Enggak!!! “ kata Aka tegas. Nicko lantas mengangkat pinggang Aka ke udara dan memutarnya dengan senang hati. Aka berteriak kegirangan.


“Ayo kasih!!! “ kata Nicko kembali merengek setelah menurunkan Aka. Berputar terlalu lama membuat kepalanya merasa pening. Nicko mensejajarkan tingginya dengan Aka. Aka menggeleng tegas kembali.


“Nicko masih kecil, jangan ya? “ kata Aka sambil menepuk kepala Nicko pelan seperti seorang ayah yang sedang menasehati anak laki lakinya. Nicko kembali memasang wajah imutnya.


“Nggak!! Nicko udah gede” kata Nicko sambil tersenyum layaknya anak kecil. Aka gemas sendiri mendapatinya.


“Ayo Nicko kasih!! “ kata Nicko kembali merengek.


“Nicko emang udah gede.... “ kata Aka pada akhirnya. Nicko tersenyum senang, mengira bahwa Aka akan mengiyakan permintaannya.


“Tapi Aka kan masih kecil. Aku belum cukup umur “ kata Aka sambil memasang wajah super imutnya dan meletakkan tangannya di dagu ala ala cibby cibby. Nicko tersenyum geli. Ia lantas merangkul bahu Aka.


“Kalo udah waktunya bolehkan semuanya sekalian” kata Nicko sambil mengedipkan matanya genit. Aka menyikut perutnya.


“Tuh kan kebiasaan” kata Aka malu.


“Ehem asik ya kita di tinggal” kata seseorang. Aka dan Nicko sontak menoleh. Mereka mendapati teman temannya sedang berdiri di belakang mereka dengan tampang songong. Aka malu sendiri ketahuan berduaan dengan Nicko.


“Guys pulang aja yuk. Kalian tuh keterlaluan ya? Orang ada yang enak enakan berduaan malah di ganggu” kata Missel menggoda mereka berdua.


“Ihh kalian kenapa sih?! “ kata Aka mengundang tawa semuanya.


“Nicko kenalin salah satu temen lo dong yang dari SMA Permadani Besi juga” kata Chiara antusias.


“Emang harus ya di kenalin? Bukannya tadi udah PDKT sama Surya?Hahaha “ kata Gissel menggoda Chiara . Nicko geleng geleng kepala sendiri melihat tingkah teman temannya Aka.


“Tuh Surya juga anak sono” kata Nicko sekenanya.


“Cie cie..... Klop dong berarti. Hahahaha “ kata semua teman teman Aka


serempak. Mereka tertawa dengan riang dan mengejek Chiara dan Surya habis habisan.


•••••••••••••••••••••••••••••••


visualnya si surya bobrok



visualnya mas Nicko



Yuhu readers readersku yang setia dan tercinta, gimana baper nggak. Hwaaaaa kalian tau gue sendiri aja yang nulis baper sendiri. Malu maluin ya? Nulis sendiri, di baca sendiri, habis itu nangis nangis sendiri😭😭😭😭😭😭Tapi yang penting bisa menghibur para pembaca dirumah yang lagi kesepian dan nggak ada kerjaan gara gara covid 19. So, stay at home and sosial distancing yahhhh. Jaga kesehatan juga jangan lupa. Makan makan yang bergizi. Kayak author ini lo. Tapi, berat badan author sekarang jadi tambah, Hwaaaaaa!!!!! Yang aslinya 45 malah jadi 48 Hwaaaaa!!!!!. Ups sorry hehe. Dan jangan lupa olahraga Ok!!!!! Kayak author gini loh tiap hari olah raga senam. Ups senam apaan?! Orang Cuma nari nari ngikutin gerakannya waktu BTS, NCT, EXO, TXT, Stray kids, seventeen, super M dll di MV ya iya. Hehe ketahuan deh Hahahahaha 😁😁😄😄😄😆😆😆😂😂😭😅😅😅😅😅😅. Jangan lupa jaga kebersihan juga oke!!!!!!!!! Sekian. Selamat menikamati kebaperan selanjutnya, Wassalamualaikum. Dadah..........