This Crazy

This Crazy
TC chapter 9 {pacaran}



...Sebelum baca author sarankan jangan baca part ini sambil tiduran yah. Tapi kalo masih ngeyel, terserah lah....


Mereka akhirnya sampai di sebuah mall yang cukup terkenal di daerah Semarang. Nicko sengaja mengandeng tangan Aka agar dia tidak tersesat. Tempat ini memang lumayan ramai di akhir pekan seperti ini.


“Lo mau makan apaan? “ tawar Nicko saat mereka berdua sudah duduk manis di salah satu meja yang dekat dengan jendela.


“Samain aja lah” kata Aka datar. Nicko mengangguk.


“Ok” kata Nicko singkat. Ia segera membunyikan ball dan seorang waits datang.


“Mbak, pesan doble stick sama roverybarry fload dua” kata Nicko kepada waits itu.


“Ada lagi tuan? “tanya waits itu sambil menulis pesanan Nicko.


“Tidak, itu saja” kata Nicko datar.


“Baik, mohon tunggu sebentar, pesanan akan segera kami antarkan” kata waits itu sopan. Nicko mengangguk sekilas dan pelayan itu segera pergi mengambilkan pesanan.


“Ka” panggil Nicko.


“Hmm” sahut Aka dengan gumanan.


“Soal janji kita waktu dulu.... “ kata Nicko ragu. Aka senpat tertegun, namun malah sengaja segera menyela ucapan Nicko.


“Ngapain bahas begituan? “ potong Aka.


Nicko menghela nafas pelan.


“Gue pikir kita bisa batalin” kata Nicko lemah. Ia juga heran kenapa kata kata itu bisa meluncur begitu saja dari mulutnya.


Aka mengernyit heran.


“Buat apa? Toh diantara kita juga nggak ada rasa” kata Aka datar.


Nicko kembali menghela nafas. Sekarang terdengar lebih berat.


“Gue tau ini susah, tapi, gue dari dulu cuma mau nikah sekali seumur hidup doang Ka” kata Nicko memelan.


“Terus? “ pancing Aka. Tanpa di komando, detak jantungnya segera berdetak tiga kali lipat dari biasanya.


“Gue cinta sama lo” kata Nicko spontan.


DEGGG!!!!!


Aka merasa dunianya berhenti seketika.


“Mau pacaran?? “ tanya Nicko pelan.


Aka menipiskan bibirnya sambil berdecak pelan.


“Kalo gue nolak juga nggak ngaruh kan? Perjanjian kita kan tiga bulan. Ini aja baru jalan satu bulan” kata Aka seolah tak peduli. Ia fikir perkataan Nicko akan sama seperti ekspetasinya.


“Bukan gitu Ka” kata Nicko merasa bersalah.


“Ya terus apa?!!!! “ pancing Aka tak sabar.


“Pernikahan itu sesuatu yang sakral, bukan cuma pacar yang bisa seenaknya sendiri putus” kata Nicko sambil menatap iris hazel Aka lekat.


Aka hanya terdiam. Ia segera memalingkan muka. Ia tidak berani menatap mata iris eboni Nicko saat ini.


“Mau ya, kita pacaran? “ desak Nicko pelan. Aka kembi mencebik kesal.


“Payah banget lo nembaknya” kata Aka ketus. Bukannya tersinggung, Nicko malah tersenyum manis.


“Ya, mau gimana lagi. Gue baru pertama kali nembak cewek” kata Nicko apa adanya.


“Cieee, gue yang pertama lagi dong. Haha” kata Aka sambil tertawa pelan.


“Emang” kata Nicko tiba tiba. Bahkan Aka yang sempat tertawa geli menghentikan tawanya seketika.


“Jadi gimana? Lo mau nerima gue? “ tanya Nicko lagi.


“Ada syaratnya “ kata Aka datar. Ia harus terlihat tegas sekarang. Ini bisa saja menjadi jebakan Nicko untuknya.


“Sebut saja” kata Nicko sambil tetap tersenyum menawan.


“Jangan suka ngagetin gue lagi” kata Aka tegas. Jujur, ia berusaha mati-matian agar tidak luluh dengan senyum Nicko yang menggoda imannya.


“Oke, gue terima” kata Nicko. Lagi lagi ia memasang senyum menawannya.


“Jangan suka iseng sama gue lagi” kata Aka sok jutek.


“Iya” jawab Nicko pelan.


“Dan yang terakhir, kalo tidur, bantal gulingnya gue yang make. Gampang kan? “ kata Aka songong. Ia tidak mau terlihat sebagai orang yang gampang di bodohi.


Nicko menarik sudut bibirnya perlahan. Tidak salah lagi, Nicko benar benar suka dengan gadis di depannya ini. Sangat unik.


“Tinggal peluk gue aja. Bantal gulingnya nanti gue buang biar kita nggak rebutan lagi. Gampangkan? “ kata Nicko sambil terkekeh renyah.


Aka memalingkan muka sebal. Ia heran kenapa pipinya tiba tiba memanas.


“Jadi, sekarang kita nikah rasa pacaran nih? “ tanya Aka dengan suara pelan, ragu.


“Lebih juga nggak papa kok” kata Nicko sambil tersenyum manis. Ia heran kenapa melihat wajah Aka seperti menjadi magnet tersendiri untuknya.


“Gemes gue sama lo!!!! “ kata Aka geram.


“Kalo gemes, di cium aja. Gue iklas kok” kata Nicko sambil terkekeh renyah.


“Elo tuh ya!!! “ kata Aka kembali geram. Dia benar benar kesal dengan Nicko yang mampir membuatnya salah tingkah sendiri.


“Tuan, ini pesanannya” kata seorang waits yang membawakan pesanan.


“Untuk merayakan hubungan baru kita sekarang, gue bakal potongin stick lo” kata Nicko sambil mengambil stick yang ada di depan Aka.


Para pengunjung yang melihatnya tersenyum tipis melihat kelakuan kedua remaja yang sedang kasamaran itu.


Aka merundukkan kepalanya malu.


“Nicko, udah si. Gue malu di lihatin orang orang” cicit Aka pelan. Nicko mendelik ke arahnya sambil tersenyum miring.


“Istri gue urat malunya masih nyambung ternyata” kata Nicko sambil mengulum senyum. Aka segera menatap nyalang ke arahnya.


“Buruan gue laper!!!! “ kata Aka sebal.


...•••••••••••••••••••••••••••••••••••••...


“Asaalamualikum. Momy!!!!! I’m coming!!!!!!! “ teriak Aka saat masuk ke dalam rumah orang tuanya.


“Waalaikumsalam, Aka jangan lari lari!!! Kamu nggak malu apa? Udah punya suami juga” kata Lina gemas dengan kelakuan anak remajanya.


“Maaf ya nak, Aka pasti sering ngerepotin kamu” kata Lina agak pelan.


Nicko menanggapinya dengan tersenyum.


“Nggak papa Mam, Aka orangnya juga asik kok. Nicko jadi sering terhibur” kata Nicko. Aka mendelik marah ke arahnya.


“Lo kira gue badut ngiburin lo mulu?!!!! “ kata Aka ketus. Lina segera melayangkan tatapan tajam ke arahnya.


“Shhuuttttt, jangan keras keras sayang. Nggak baik” kata Nicko sambil menyumpal mulut Aka dengan tangannya.


Aka berdecak kesal. Ia segera menepis tangan Nicko. Ia segera melengangkan kakinya.


Aka memilih meninggalkan Nicko yang mematung di tempatnya. Ia memilih langsung segera masuk ke dalam kamarnya.


Interior ruangan itu terlihat minimalis dengan warna baby pink di diindingnya. Aka menghela nafas lega. Setidaknya kamarnya tidak berbeda jauh saat ia tiinggalkan.


“Bagus juga kamar lo” sebuah suara langsung membuat moodnya berubah seketika.


“Lo ngapain di kamar gue? “ kata Aka ketus.


“Tidur” kata Nicko santai.


Aka memilih mengabaikannya. Tiba tiba tubuhnya terangkat seperti karung beras.


“Akhhhh!!!! Nicko!!! Lo ngapain?!!! “ Aka meracau sambil memukul mukul punggung Nicko yang tidak tahu malunya mengangkatnya bagainkan karung beras.


Tidak butuh waktu lama, Nicko segera melemparkan tubuh Aka ke atas ranjang.


“Lo, lo ngapain sih? “ tanya Aka takut. Nicko tiba tiba berbaring di sebelahnya sambil memeluknya.


Aka benar benar geli dengan rambut Nicko yang menusuk nusuknya di daerah lehernya.


“Udah tidur aja” kata Nicko sambil mencium leher Aka singkat. Sumpah demi apapun, Aka ingin menjerit sekarang juga.


“Gue geli Nicko!!!! “ kata Aka sambil menggerak gerakkan kepalanya menahan geli.


Bukannya menjauhkan kepalanya, Nicko malah semakin menenggelamkan kepalanya ke ceruk leher Aka.


Sumpah demi apapun, Aka menahan dirinya agar tidak berteriak sekarang juga.


Aka meneguk salivanya susah payah. Ia berusaha mengatur debar jantungnya agar tidak meledak ledak sekarang.


“Gue laki lo. Nggak perlu takut” kata Nicko serak.


“Tenang Aka, anggep aja lo lagi di peluk kucing kesukaan lo” batin Aka mencoba tenang.


Nicko kembali menggerakkan kepalanya.


“Gimana bisa bayangin kalo ini kucing?!!! Jelas jelas ini cowok” batin Aka meracau.


Perlahan dia merasakan hembusan nafas pelan di sekitar lehernya. Dia segera menoleh ke arah suaminya.


Nicko telah menutup matanya dengan tenang. Aka berhasil menghembuskan nafas tenang setelah kegugupan yang menyerangnya beberapa menit lalu.


Dia segera mencoba melepaskan rangkulan lengan Aka.


“Akh!!! Kenapa berat banget sih?!!! “ geram Aka kesal.


Bukannya terlepas, Nicko hanya mengendurkan pelukannya sedikit. Nicko kembali menggerakkan kepalanya mencari tempat ternyamannya di ceruk leher Aka.


“Jangan tinggalin gue, Akasia Joshua” kata Nicko lirih. Aka tersentak kaget. Di alam bawah sadar seperti ini, Nicko masih saja mengingatnya.


Aka tersenyum tipis.


“Asal lo nggak ninggalin gue kayak mereka, gue janji nggak bakal ninggalin lo” kata Aka lirih. Ia yakin Nicko tak akan mendengarnya.


Nicko kembali tersenyum. Entah ia mengigau atau tidak, ia mengecup leher Aka kembali.


“Love you babe” kata Nicko semakin berat.


“Love you too my husband” kata Aka sambil ikut terlelap.


...•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••...


...Gimana?...


...Aku bikin sambil deg deg an loh. *****!!! Rasanya malah gue yang ada di posisi Aka saat itu....


...Plak!!!!...


...Belle inget masih orok jangan bayangin kek gitu dulu....


...Hehe, Tambah geje ya? 😬😬😬...


...Habis masih sebel sih😬😬😬...


...Bukan, bukan masalah nggak ada yang vote apa gimana...


...Sebelnya tuh gua waktu buat tuh sengaja sekali nulis di world langsung dapet 3 part....


...Sekali kali biar kalo mau up itu tinggal di edit aja gitu, biar nggak ribet. Kadang kan kita juga pingen drafnya gemuk....


...Ehhh, nggak taunya malah ke-crop sendiri waktu ketiduran....


...Nggak tau masalahnya ke pencet back past ato gimana, tau tau malem harinya waktu aku cek udah wassalam tulisannya. Sedih nggak sih? Banget, beneran....


...Kok jadi curhat gini? Hehe....


...Satu lagi, mianhae yang sebanyak banyaknya karena kemarin telat update dan waktu update malah kesannya maksa kalian buat vote....


...Agak nyadar sih kalo tulisan gue nggak bagus bagus amat....


...Shuttttt!!!!! Netizen hatters yang mau nyiyir jangan disini!!!!! Hush hush, jauh jauh sana. Kan gue udah bilang, ini bukan lapak buat tukang nyiyir....


...Jadi author sarankan, kalian share aja lah cerita ini biar banyak yang baca....


...Kalo vote, sunnah aja sih ya hehe....


...So, satu lagi....


...Ehh, banyak amat ya....


...Jangan pada spoiler ya,...


...Kalo pada spoiler kan nggak bakal pada penasaran lanjutannya gimana, hehe....


...See you all...


...Tbc...