This Crazy

This Crazy
32_Labirin



Didalam kamar yang berwarna putih dan biru pastel, Aka sedang membereskan meja belajar Nicko yang berantakan karena pekerjaan kantor yang semakin menumpuk akhir akhir ini.


Belum lagi kesibukan mereka berdua yang sekarang sudah masuk kelas 12. Dengan banyaknya jadwal padat yang menunggu. Belajar tatap muka intensif dengan guru saja hanya satu semester. Satu semesternya lagi untuk pemadatan, try out, latihan soal, mempelajari trik mengerjakan soal dengan waktu yang efisien, dan dari kalangan guru BK yang tak henti hentinya mendorong muridnya agar memilik masa depan yang cerah. Seperti ingin melanjutkan pendidikan di Universitas, Institut, ataupun sejenisnya. Menyiapkan diri bagi kalangan yang hendak langsung bekerja. Ataupun, yang sudah di soul out dulu. Yah, itu semua kembali lagi kepada sang murid, bagaimana pun guru hanya menuntun, selebihnya murid sendiri yang memutuskan dan memperjuangkannya.


"Nicko mama nyuruh kita buat nginep di rumahnya" kata Aka tanpa mengalihkan pandangan dari aktifitasnya.


"Males gue" kata Nicko dengan fokus yang masih tersita untuk game dalam ponsel di tangannya.


Aka berdecak kesal. Ia sampai heran kenapa Nicko itu malas bertemu orang tuanya. Terlebih dengan mama Sarah.


"Nggak boleh gitu. Sama orang tuanya sendiri juga" Aka menasehati.


Nicko berdecak. Ia menyudahi game online nya.


"Ka, ya ampun jadi istri gue itu yang pinter dikit lah. Mama sama papa nyuruh kita ke rumahnya dengan alibi kangen itu cuma kedok" kata Nicko dengan pandangan lurus ke arah Aka.


Aka mengernyit.


"Maksudnya?" tanya Aka tak paham.


"Ya Allah!!!" Nicko mengadahkan kepalanya ke atas. Tangannya lantas mengacak rambutnya frustasi.


"Mama sama papa itu mau ke Vietnam buat relasi bisnis. Kita ke rumahnya mereka di suruh nginep paling nggak satu bulan buat ngurus Rara" kata Nicko menerangkan.


"Loh, Rara kan adik kamu sendiri Nicko. Kamu kenapa sih kok kayaknya sewot banget?" tanya Aka. Dia bingung dengan pola pikir Nicko.


"Gue males kalo papa godain gue" tukas Nicko.


"Godain gimana?"


"Udah pernah main berapa ronde? Seminggu intensitas kalian ngelakuin itu berapa kali? Apa dah. Gaje banget" kata Nicko menirukan gaya bicara papanya.


"Yaudah bilang aja si kalau kita hampir gitu tapi nggak jadi" kata Aka memberi usul.


"Alasannya? Papa nggak bakal percaya sama alasan klasik" Nicko kembali jenuh.


"Noh, papi Brian yang nggak ngebolehin" jawab Aka.


"Gitu doang?" dahi Nicko tertarik ke atas.


"Iyalah. Apa lagi" gerutu Aka.


"Yaudah. Gue mau tidur. Lo beresin pakaian sama barang barang. Nanti sore gue angkut ke mobil. Pastikan cukup buat satu bulan" kata Nicko hendak beranjak.


Aka tiba tiba melemparinya bantal. Nicko menatapnya heran.


"SUAMI BIADAB!!" sembur Aka kesal.


Nicko membelalakkan mata.


"Ka.....jelek banget bicaranya?" kata Nicko mengingatkan.


"Siapa juga yang nggak sebel. Nih kamar berantakan. Lemari bajunya juga nggak rapi. Belum lagi sama tugas kamu yang habis di kerjain nggak di beresin lagi. Gimana gue nggak marah coba?" kesal Aka. Nicko menggaruk tengkuknya.


"Eummmm, tidur aja dulu Ka, istirahat. Gue tau lo tertekan" kata Nicko mencoba menenangkan Aka.


Aka beranjak dari tempatnya dan menarik rambut Nicko dengan kuat.


"NGGAK USAH NGALIHIN PEMBICARAAN!!!" teriak Aka kembali.


"Ka!!! Rambut gue rontok!!!" Nicko mencoba melepaskan rambutnya.


Aka semakin gencar menariknya.


"BIAR!! BIAR BOTAK KAYAK PERTAPA GUNUNG!!" Aka masih terlihat emosi.


"Aka!!!" Nicko berteriak kesakitan.


●●●●●●


Sambil menggendong tas sekolah, Aka berjalan melalui koridor luar di samping ruang komite. Koridor itu bersebelahan langsung dengan lapangan utama dan lapangan untuk ekstrakurikuler seperti basket, pencak silat, paskibra, PMR dan lain lainnya. Di depan setiap lapangan terdapat ruang yang di gunakan sebagai bestcame untuk setiap ekstrakurikuler tersebut. Isinya berupa alat alat dan perlengkapan kebutuhan bagi anggota ekstrakurikuler. Namun, jika di rasa kurang atau tidak memiliki, boleh mengajukan permohonan kepada staf tata usaha.


"Beli kertas folio deh" guman Aka sambil melangkah menuju ruang koperasi.


"Mbak Uti~" panggil Aka kepada penjaga koperasi yang sedang menyiapkan keperluan di dalam etalase.


"Eh Aka, mau beli apa?" tanya penjaga koperasi tersebut. Aka hanya nyengir lebar.


"Kertas folio dong mbak, tiga ribu ya" kata Aka. Santa penjaga koperasi segera menyiapkan pesanan Aka.


"Ini" Aka memberikan uang pas dan di terima oleh penjaga koperasi. Kertas folio pesanan Aka di kemas dalam tabung berbentuk silinder yang sekilas terlihat seperti kemasan kok bulu tangkis.


"Makasih mbak" kata Aka sopan. Penjaga koperasi tersebut menanggapi dengan tersenyum manis.


Aka segera berlalu menuju kelasnya.


"Aka!!!" panggil seseorang dari jarak tiga meter saat Aka melewati lapangan kembali. Aka menoleh ke belakang dan mendapati Missel berjalan ke arahnya.


"Barengan ya" kata Missel yang di balas anggukan oleh Aka.


"Pagi banget lo datang" heran Missel kepada Aka. Aka menghela nafas pelan.


"Nggak tau tuh. Mas suami emang suka gitu" kata Aka sekenanya. Missel tersenyum jenaka.


Mereka berdua melewati masjid sekolah yang tampak asri dengan warna hijaunya. Missel mengernyitkan dahi.


"Lo sama dia udah mirip pasutri beneran tau nggak. Dikit dikit sama dia, apa apa sama dia. Jangan jangan kalian tidur juga sekamar ya?" tuduh Missel. Aka seketika menghentikan langkah kakinya.


"Enak aja. Belum lulus juga. Nikahnya aja belum" elak Aka dengan sedikit berbohong. Yah, nikah sih udah. Tapi baru ijab kabul. Resepsinya mah nunggu habis wisuda.


Missel membahas hal lain yang di tanggapi Aka sekenanya.


●●●●●●●●●●


"Jangan lupa di pelajari kembali ya anak anak" tukas Bu Anjani ketika hendak mengakhiri sesi jam pelajarannya.


"Baik bu~~" jawab para murid dengan sedikit keluhan yang menyertai dengungan paduan suara mereka. Tentu saja itu berasal dari beberapa bangku yang di huni para anak yang agak bandel.


Bu Anjani segera keluar kelas dengan di iringi suara langkah dari sepatu hak tinggi nya dan lambaian dari jilbab necisnya. Kabar baiknya, bu Anjani adalah salah satu guru yang tak pernah memberikan PR kepada para muridnya.


Alasannya, dia tidak mau para muridnya di bebani PR yang menumpuk seperti nasib kedua anaknya. Pengertian kan? :>


"Olla masih belum datang ya?" tanya Aka tiba tiba.


"Belum" jawab Missel di iringi gelengkan kepala.


"Emang dia kenapa?" tanya Aka kembali.


"Lo belum tau?" kaget Missel.


Aka menggeleng pelan. Missel menghela nafas perlahan.


"Olla juga ikut di culik" kata Missel yang membuat Aka melebarkan mata karena terkejut.


"Ja-jadi....Dia nggak masuk karena di culik?!!!" tanya Aka tak percaya.


"Iya" jawab Missel lemah.


"Kok bisa?!!!" tanya Aka tak percaya. Missel mengendikan bahu.


"Nggak tau kronologinya gimana, yang pasti sekarang temen temen pada berusaha buat nemuin dia" kata Missel.


"Ajak Lop sekalian aja si" kata Aka memberi usul.


"Emang mau ngajak" tanya Missel meremehkan.


Lop tiba tiba menatap mereka dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Nggak bisa biasa apa ngeliatnya?" sungut Aka kesal di tatap seperti itu. Yah, salah satu tatapan yang di benci Aka selain tatapan mesum dari suaminya tentunya.


"Ka, nanti dia denger" Missel memperingatkan Aka.


Aka mengibaskan tangannya.


"Nggak bakal. Orang dianya aja yang terlalu kaku. Udah gitu susah di ajak ngomong lagi. Punya masalah hidup itu jangan si limpahin ke orang yang nggak bersalah" kata Aka masih tak terima.


Charles yang melihat ketegangan itu segera mendekat ke arah Aka.


"Nggak usah di pikirin. Lagi PMS mungkin dia" kata Charles sambil merangkul bahu Aka.


Aka mencebikkan bibir nya lantas melepas rangkulan Charles dengan kasar.


"Lepas!!!" elak Aka.


"Gue udah ada cowok" ketus Aka. Charles memonyongkan bibirnya.


"Heee eleh..... iya, dasar si Aka" cibir Charles.


"Utang lo kapan mau bayar?" sungut Aka. Charles mengernyit.


"Loh, gue pernah utang apa sama lo?" tanya Charles. Aka mendelik.


"Kemarin lo numpahin pop ice gue bego!!!! Sini in uang nya" kata Aka sambil menodongkan tangannya yang terbuka. Charles mendengus sebal, tapi tetap memberikan uang dari saku celananya.


"Kembalian tuh lima ribu. Gue nggak punya uang kecil soalnya" kata Charles.


Aka menerimanya dengan senang hati. "Uh, makasih abang~~" Aka berubah manis.


"Hehe, banyakin sodaqoh itu nambah pahala" kata Aka mengopini.


"Emi!!!! Beli pop ice yok. Charles traktir nih" teriak Aka. Emi yang baru saja meletakkan kepalanya di atas meja seketika menegakkan kepalanya.


"Eh!!! Siapa bilang" kesal Charles.


"Kiwww" sahut Emi senang.


"Ka!!!!" Charles sebal sendiri.


"Makasih abang. Tambah sayang deh. Muachhh" goda Aka.


"Charles suka sama lo katanya" bisik Aka di samping Emi yang menghampirinya.


"Ngadi ngadi!!!" elak Emi.


"Gue kasihan sama Nicko kalau dia beneran nikahin Aka nantinya" kata Charles mengusap dada.


●●●●●●


"Assalamualaikum" sapa Aka dan Nicko sewaktu masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam" sahut pemilik rumah menghampiri mereka.


"Kak Aka" Rara menyambut sambil berlari kecil ke arah Aka.


"Kakak lo itu Aka apa gue sih" gerutu Nicko pada adiknya.


"Kak Aka" jawab Rara tanpa beban.


"Heuh" Nicko hanya bisa menghela nafas pelan dari pada harus berpusing ria.


●●●●●●●


Sore harinya Aka tertidur dengan Nicko, oh bukan. Dengan Rara di pelukannya. Di belakang Rara Nicko berbaring sambil memeluk mereka berdua.


Udah uwu belum posisinya? Udah kayak keluarga sama wa kan?


Tok tok.


Aka mengernyitkan dahi heran. Dia segera membuka matanya perlahan.


"Non Aka, ada yang nyariin" kata bi Uma.


"Siapa bi?" Heran Aka.


"Nggak tau. Katanya namanya Rangga" kata bi Uma dari balik pintu.


"Hah?" Aka seketika bangun dengan posisi terduduk. Telinganya tidak salah dengar kan?


Aka buru buru menuju ruang tamu.


Begitu sampai di depan pintu. Aka membeku begitu melihat Rangga yang berdiri di depannya sambil tersenyum manis.


"Ngapain disini?" Ketus Aka tak mau basa basi.


"Ka....." bujuk Rangga.


"Kangen" bibirnya membentuk garis asimetris yang terlihat manis.


"Bulshit ya?" Sinis Aka begitu saja.


"Nggak" elak Rangga.


"Ada apa Ka?" tanya Nicko yang entah sejak kapan berada di belakang gadis itu.


Begitu melihat Rangga, Nicko merubah ekspresinya menjadi sedingin es.


"Ngapain disini. Belum puas yang kemarin?" Ketus Nicko ke arah Rangga.


"Gue mau ngomong sama Aka" kata Rangga.


"Gue nggak ngebolehin" tolak Nicko.


"Gue mantannya" sungut Rangga.


"Dan gue suaminya" jelas Nicko. Rangga bersedih sebal.


"Rangga, mending lo pergi aja. Gue harap masalah kita udah selesai dan nggak ada yang perlu di bicarakan lagi" putus Aka yang merasa akan timbul pertengkaran diantara kedua pemuda itu.


"Ka, dengerin gue" Rangga mencekal tangan aka.


"Lepas" Aka berusaha melepaskan cekalan rangga yang lumayan kuat.


"Lepasin dia" Nicko melepasnya paksa. Aka meringis merasakan pergelangan tangannya terasa nyeri.


"Gue nggak cinta sama Frezy Ka. Yang gue cinta itu lo. Gue salah tentang lo. Maaf ya" kata Rangga memohon.


Pandangan Aka melembut.


"Mau sampai kapan bahas hal itu lagi. Pulang ya" lirih Aka mencoba membujuk Rangga dengan cara halus.


"Ka...." bujuk Rangga.


"Loh, Rangga?" entah darimana, Bi Tuti datang dengan bi Elis.


"K-Kalian?" gagap Rangga tiba tiba. Matanya membelalak tak percaya melihat orang yang ada di depannya.


"Ngapain kamu disini?" tanya Rangga.


"Kenal?" tanya Nicko menunjuk Rangga.


"Dia anak saya" jawab Bi Tuti pelan.


"Ka, kita kedalam aja yuk" ajak Nicko. Ia merasa urusan pribadi keluarga seperti ini tidak layak untuk di jadikan tontonan.


"Ka...." Rangga masih mencoba membujuk Aka.


Aka berhenti seketika.


"Jangan kurang ajar kamu Rangga" larang bi Tuti melihat kelakuan anaknya. Nicko segera mengamankan Aka.


"Kalian ngapain disini?" sungut Rangga ketus. Dengan penampilan keluarganya sekarang, Rangga merasa malu mengakui kalau keluarganya bekerja di rumah ini.


"Kami kerja nak. Kamu ngapain disini? bukannya kamu juga harus kerja? Katanya mau kuliah?" jawab Bi Tuti.


Oh tidak. Ini mimpi buruk bagi Rangga.


"Aku sebelum lulus udah nggak sekolah bu" kata Rangga dengan senyum getir.


"Apa maksud kamu?!" tanya bi Tuti tak percaya.


"Aku di keluarin" lirih Rangga.


Plak!!!!


Tangan bi Tuti masih mengambang. Tercetak jelas buku tangannya memerah akibat tindakannya.


"Apa apaan kamu?!!! Ibu kakak sama bapak cari uang buat pendidikan kamu. Kenapa kamu malah nggak nyelesaiin sekolah kamu dengan benar?" BI Tuti tak dapat menahan amarahnya.


"Bu, sabar dulu" bujuk suaminya.


"Kamu kemana aja selama ini? Uang yang kami kirim kamu gunakan untuk apa?!!! HAH!!! JAWAB!!!" Cerca wanita dengan usia yang lebih dari setengah abad itu. Urat pelipisnya bermunculan di kulitnya yang mulai kusut.


"Kami benar benar kecewa sama kamu Rangga" suara wanita itu terdengar bergetar.


"Rangga cuma mau cari Aka Bu" lirih Rangga.


"Buat apa kamu nyari perempuan yang sudah menikah Rangga?!!! Kamu mau menjadi perusak hubungan rumah tangga orang lain?!!!" Jerit Bi Tuti.


"Tap-tapi sebelum Aka menikah dengan Nicko, Rangga sudah terlebih dulu kenal Bu. Malah Rangga sempat pacaran sama dia" kilah Rangga.


"Kamu nggak tau ya? Perjodohan mereka itu sudah terjadi lama sekali. Kamu itu cuma orang baru di kehidupannya mereka. Nyadar dong" Bu Titi tidak paham dengan isi kepala anak itu.


"Bu, Elis mau berhenti membiayai Rangga mulai sekarang" sela bi Elis tiba tiba.


Rangga membelalakkan matanya.


"Tapi kak...."


"Elis juga mau mengejar cita cita Elis bu" tukas bi Elis. Dia menatap Rangga tajam.


"Nak, tapi uang kita kurang. Ibu dan Bapak tidak punya tabungan banyak" kata Bi Tuti.


"Tidak perlu bu" sahut Bi Elis.


"Elis punya uang sendiri. Hasil dari bekerja selama lima tahun terakhir ini. Tabungan Elis sendiri" kata Bi Elis yang membuat semua orang terkejut.


"Bukannya uang kamu...." Bi Tuti heran.


"Iya bu, memang benar uang Elis untuk membiayai pendidikan Rangga. Tapi itu bukan semuanya. Itu cuma 25% dari gaji yang Elis miliki. Sisanya Elis tabung untuk kedepannya bisa melanjutkan ke perguruan tinggi" kata Bi Elis menerangkan.


"Nak, Ibu bangga dengan kamu" kata suami bi Tuti.


"Elis mau kuliah di ITB bu" kata Elis.


"Elis yakin?" Tanya bi Tuti.


"Yakin. Juga kang Fuad yang mau meminang Elis bersedia menanggung semua biaya pendidikan serta akomodasi Elis ketika berada di Universitas" kata Elis penuh kesungguhan.


"Masya Allah. Alhamdulillah" bi Tuti bersyukur.


"Dan untuk kamu Rangga. Urusi saja istri siri kamu" ketus Elus pada adik laki lakinya.


"Si-siri?" Gagap kedua orang tuanya.


"Benar bu. Rangga telah menikah dengan perempuan secara siri bernama Frezy. Dia sekarang sedang mengurus anak Mereka yang berumur dua tahun" kata Elis memberi fakta. Selama ini memang ia tidak memberi tahukannya takut orang tuanya alan sakit hati.


"Apa?!!!" Bi Tuti tak percaya.


"Itu sebabnya dia berhenti sekolah" kata Elis.


"Kamu benar benar" geram suami bi Tuti.


"Pulang ke desa sekarang!!!" Perempuan tua itu mendorong bahu Rangga dengan keras.


●●●●●


"Nyonya" bi Tuti menghadap majikannya dengan takut.


"Loh bibi mau pulang?" Tanya mama Sarah.


Bi Tuti menggeleng.


"Bukan. Lebih tepatnya saya mau pamit. Saya mau berhenti bekerja di rumahnya non Aka dan den Nicko" kata Bi Tuti pelan.


"Kenapa bi?" Heran Mama Sarah.


"Saya sekeluarga merasa malu atas kelakuan anak kami Rangga tadi siang" tukas bi Tuti.


"Bi, tidak perlu segitunya. Yang salah Rangga. Bibi, dan keluarga masih boleh bekerja di sini" kata mama sarah.


"Tidak perlu nyonya. Kebaikan nyonya membuat saya semakin tidak enak hati" kata Bi Tuti yang terdengar lirih


"Lalu bibi mau kerja dimana?"


"Kami mau kembali ke kampung. Mengerjakan sawah dan mengurus ternak. Elis juga mau menikah"


Aka terbelalak.


"Ih, bi Elis soul out juga. Selamat ya"


"Aka! Shut!" Nicko memperingatkan istrinya yang selalu excited seperti anak kecil itu. Aka memonyongkan bibirnya.


"Jujur ya, kejadian siang tadi bener bener bikin Aka terkejut. Terlebih Aka baru tahu keluarganya Rangga yang ternyata selama ini sangat dekat dengan Aka. Kalau Aka punya salah tolong di maafin ya?" Kata Aka pelan.


"Iya non. Iya"


"Bi Elis kalo udah punya anak nanti main kesini ya. Aka mau main sama anaknya. Pasti lucu" Aka nyengir.


"Iya. Bi Elis akan main kesini kok. Bukannya seharusnya kamu dulu yang punya anak?" Kata bi Elis spontan.


"Hah?"


"Dengan Den Nicko" goda bi Elis.


"Bener tuh Ka. Ayo"


Nicko menggendong Aka dengan gaya bridal style dan membawanya masuk.


"Papa!!! Aka mau di hamilin sama Nicko!!! Tolong!!!"


"Nicko!!! Papa telfon Brian sekarang juga" Vino memperingatkan.


"Heuh, bercanda kok pa"


"Lepas!!!"


"Cium dulu"


"Nggak mau!!! Nanti bisa hamil!!" Aka mendorong wajah Nicko yang semakin dekat.


Bi tuti tersenyum.


"Saya benar benar akan merindukan keluarga ini"


"Kami bertiga pamit. Assalamualaikum"


"Wa alaikum salam"


"Bi tuti tunggu!!!" Aka mengejar bi Tuti dan keluarganya.


"Ini, untuk pesangon" kata Aka memberikan seamplop uang. Yang lumayan tebal.


"Terima kasih non. Terima kasih" kata Bi Tuti sambil menjabat tangan Aka.


"Iya bi. Sama sama" jawab Aja sambil tersenyum manis.


...💙💙💙💙💙💙💙 ...


...Halta de manna, cinca de manna, horahoraho ...


...Horto prier, blos'd'ita ...


...Omna magni...


...Crietros, strientropo, horahoraho ...


...Altinique, ortono, florq d' ermenita...


...(Hiho detarmeno hiha) ...


...Miha trava lafladitu ...


...(Hiho detarmeno hiha) ...


...Plient, Plient, plientu hora ...


...(Halta de manna, cinca de manna) ...


...Horahoraho...


...Horto prier, blos'd'ita ...


...Omna magni...


...(Halta de manna, cinca de manna) ...


...Cripar intari...


...Aquarion, Aquarion ...


...(Makino Yui / Omna Magni)...


...Cek sound, 1 2 3, silahkan nyalakan lagu di atas. ...


...💙...


...💙...


...💙 ...


"Kita kemana ini?" tanya Ilham yang berada paling depan. Di ikuti Chiara, Aka, dan terakhir Nicko paling belakang.


"Tinggal pake jalan yang nggak buntu lah" sahut Chiara.


"Nggak nggak. Jangan kesana. Tadi gue habis lewat sana ada suster ngesot" kata Halim.


"Ah masak? Suster ngesot itu cuma ada di rumah sakit" cibir Chiara.


"Guys, lewat sini buruan" kata Aka.


"Yakin lo?" Tanya Halim.


"Iya gue yakin. Cepetan sini" sungut Aka.


"Aduh!!" Aka tersandung ranting pohon yang mencuat dari tanah.


"Eh, Aka kenapa?" Nicko berjongkok membantunya.


"Kesandung batu nih kayaknya" keluh Aka.


"Sini gue gendong" Nicko menghadapkan punggungnya.


"Ah, nggak us...." tolak Aka.


"Udah sini" potong Nicko.


"Ini apaan dah. Perasaan kita cuma muter muter doang" Halim menyingkirkan semak kering.


"Guys, kayaknya kita malah tersesat deh" kata Chiara ketakutan.


"Hah? Yang bener lo?" Tanya Aka tak percaya.


"Iya, nih yang kita lewati kayak labirin gitu" tebak Chiara.


"Set dah. Gimana dong?" Halim mulai frustasi.


"Gini, gue bakal manjat pohon nanti gue cari jalan yang sekiranya bisa ngeluarin kita dari sini" kata Halim. Dia mulai memanjat pohon mangga yang lumayan kokoh.


"Nah. Lewat utara nanti" kata Halim dari atas pohon. Cepat cepat pemuda itu turun.


"Bener?" tanya Nicko.


"Iyalah"


"Sini. Hati hati" Nicko mengedarkan gendongannya.


"Eh Ko, kita bawa senter nggak? Makin gelap nih" tanya Halim.


Nicko tak merespon.


"Ko?" Panggil Halim lagi.


"Anjir jawab napa?!" Kesal Halim. Pemuda itu membelalakkan matanya begitu melihat orang yang dia panggil tidak ada.


"Loh, Nicko sama Aka mana?" Tanya Halim.


"Yah, mereka salah jalan dong. Aduh gimana ini?" Chiara semakin takut.


"Lo bawa hp nggak?" Tanya Halim.


"Bawa tapi baterai nya tinggal 25%"


"Udah nggak papa. Gue cuma butuh buat senter kok"


"Coba cari map. Siapa tahu itu gps nya masih fungsi"


"Kenapa nggak bilang dari tadi?!"geram Halim.


"Lo nggak nanya" sungut Chiara.


Di tempat lain, Aka dan Nicko sibuk mencari jalan keluar. Aka berada dalam punggung Nicko dengan senter ditangannya.


"Pokoknya sampai rumah mau tidur aja. Pegel nih" keluh Aka.


"Iya Aka. Sabar yah"


Srrrrrr


Srrrrrr


"Eh, denger nggak?"


"Apa? Angin?"


"Ih bukan!!!. Itu ada yang ketawa"


"Masak?"


"Iya, itu dengerin baik baik"


"Tuh tuh. Arahnya dari sana"


"Nicko, ke arah sini deh"


"Loh, itu kan......." Aka membelalak tak percaya.


...•••••••♡♡♡••••••• ...


...Pa kabar Bybe kuh😘. So, sekarang Belle udah punya panggilan sayang buat para penggemar tulisannya Belle. ...


...Yaitu 'BYBE' kepanjangan dari BebY BellE yang artinya kesayangan Belle. ...


...Bacanya BIBE yak. ...


...Jujur, jari Belle agak keram nih gara gara ngebut nulis segini banyaknya. Hampir 3500 kata dong. ...


...Demi apa?!!!!😭😭😭 ...


...Hwaaa terharu😭😭😭😭...


...Sampai nggak inget waktu lagi. Dasar ih 😅 ...


...Belle bikin ikon baru buat drop write nih. ...


...💢👁👁👂...


...👃...


...👄...


...👉🌟💬🔗👈 ...


...Biar nggak pegel nulis "don't forget vote, share and comen guys" ...


...Greget nya biar ada gitu loh bund. ...


...See you 💙...