
“Diem diem aja lo, biasanya cerewet banget” kata Nicko yang baru pulang dari kantor. Nicko meletakkan bokongnya di shofa. Aka masih terdiam sambil memegang pipinya. Nicko yang melihatnya langsung menghampiri Aka.
“Lo kenapa Ka? “ tanya Nicko khawatir. Aka malah menangis tersedu sedu.
Nicko yang melihatnya segera khawatir.
“Gue sakit gigi!!!!!!! “ kata Aka sambil menitikan air mata. Nicko tentu saja terkejut.
“Udah berapa lama? “ tanya Nicko. Mungkin ini salahnya karena terlalu mengurus urusan kantor. Tuh kan susahnya kerja sambil sekolah. Tugas sekolah sepi, tugas kantor numpuk, masih mending kalo kebalikannya, la kalau keduanya sama sama sibuk, bikin kepala punyeng.
“Baru dua hari” kata Aka sambil menyeka air matanya. Nicko membantu menghilangkan ingus yang keluar dari hidung Aka. Aka masih menangis tak karuan. Ia juga bingung harus apa. Dia sendiri saja tidak pernah sakit gigi.
“Nicko!!!!!! “ rengek Aka sambil meremas spray kasur. Nicko menggaruk rambutnya yang tak gatal. Dia segera duduk ke arah Aka.
“Cup cup cup. Udah dong nangisnya” kata Nicko mencoba menenangkan. Bukannya tambah tenang, Aka malah menangis semakin keras.
“Sakit!!!!!!!! “ kata Aka histeris. Ia bahkan menampar pipi dan rambutnya sendiri. Nicko segera menahan tangan Aka.
“Ka udah, jangan nyiksa diri lo sendiri “ kata Nicko khawatir. Pasalnya Aka semakin gencar menampar pipinya sendiri.
“Tapi sakit!!!!!!!!! “ kata Aka. Jujur ia memang merasa sangat kesakitan sekarang. Bukan hanya giginya yang sakit, kepala semakin berdenyut tak karuan, apalagi dengan telinganya yang terasa nyeri membuatnya semakin histeris.
Nicko mengarahkan tangan Aka pada kepalanya. Ia tak punya pilihan lain dari pada Aka menyiksa dirinya sendiri. Menurut Nicko, mungkin kalau Aka melampiasakan sakitnya pada Nicko ia tak akan tega.
“Akh!!!!!!!!!!! “ teriak Aka histeris. Bukan hanya Aka, keadaan Nicko juga sama akibat tangan Aka yang gencar menjambambaki rambutnya. Nicko hanya bisa pasrah. Kalau Aka sakit, kenapa dia tidak.
Sama sama menikmati rasa sakit bersama.
Ettttdaahhhh cocuit banget yak. Author aja nggak pernah gitu hehe.
Sedangkan di dapur Bi Elis berbisik dengan Bi Tuti.
“Mbok, itu den Nicko ngapain non Aka yah?”
“Ngapain gimana maksud kamu? “
“Itu loh, non Aka teriak teriak. Apa kita harus lapor sama nyonya? “
“Ck, udah nggak usah. Firasat kamu aja mungkin yang salah. Biarin aja nanti malah salah paham kita yang di salahin”
“Tuh kan non Aka teriak lagi. Apa jangan jangan...... “
“Jangan jangan...... “
“Jangan jangan apa?!!! Kamu ih bikin mbok penasaran pisan euw”
“Jangan jangan Den Nicko sama Non Aka lagi kuda kudaan”
“Kuda kudaan apa maksud kamu? “
“Haduhhhh, simbok ini!!!!. Nanti kalo non Aka udah ngisi gimana? Kan kasihan mbok, masih sekolah. Den Nicko nggak punya perasaan banget ya, Eneng jadi prihatin sama nasib Non Aka”
“Hus!!! Kamu bilang apa sih?!!! Ngawur aja. Nggak mungkin lah mereka begituan. Udah kamu ke kamar aja sana nyetrika baju!!! Dari pada di sini pikiran kamu kemana mana, simbok nikahin sekalian sama kang Sobar waktu pulang kampung”
“Ihhhh simbok kok gitu? Iya deh, Elis ke kamar dulu” kata Elis sambil beranjak pergi.
“Apa bener mereka gitu ya? Tapi, Non Aka kan udah lima belas tahun, masih mending dari pada saya yang dulu dua belas tahun sudah nyusuin Elis”
“Ehhhh!!!! Saya ngomongin apa barusan? Haduh haduh. Nuhun gusti!!!!! Ngapuntene!!!!! “
Balik lagi ke kamar pasangan terkocak 2020. Aka melampiaskan rasa sakitnya sampai tuntas.
“Masih sakit? “ tanya Nicko sambil memegangi kepalanya yang pening. Aka menggeleng samar.
Beneran pening bro!!!! Nggak bo'ong gue. curhat Nicko.
“Di cabut sekalian ya” kata Aka dengan sorot mata sendu. Nicko hanya mengiyakan.
“Kalo bisa ya” kata Nicko tenang. Ia segera mengambil jaket dan kunci mobilnya. Cuaca akhir akhir ini susah di tebak. Pancaroba memang menyusahkan.
“Nicko, sakit “ kata Aka sambil memengang pipi kirinya lagi. Nicko segera menaikkan kecepatan mobilnya di jalanan yang lenggang.
~skip sampai rumah sakit~
“Ini obatnya jangan lupa di minum ya” kata Dokter yang telah memeriksa Aka. Aka mengangguk patuh.
“Dokter” panggil Aka. Dokter itu mendengarkan dengan antusias.
“Ya” jawab dokter itu.
“Kenapa nggak di cabut sekalian? “ tanya Aka sendu. Pipinya telah memerah sedari tadi. Dokter itu tersenyum.
“Kalo baru sakit nggak bisa di cabut” kata Dokter itu ramah. Aka manyun seketika.
“Tapi sakit dokter” kata Aka merengek.
“Nanti kalo udah nggak sakit aja ya di cabutnya, kalo masih sakit di cabut takutnya nanti kena sarafnya” kata Dokter itu lagi.
“Kalo udah di cabut bisa numbuh lagi nggak dok? “ tanya Aka.
“Umur kamu berapa”
“Masih 14 tahun”
“Kalo gitu masih bisa. Kan sampai umur 20 tahun. Nanti saya kasih serum vitamin D ya biar cepet tumbuh” kata Dokter.
“Kan belum di cabut, kenapa di kasih serum dulu”
“Haha, nak adik kamu ini benar benar lucu”
“Eh ini pacar saya dok, bukan adik saya”
“Oh saya kira adiknya” kata Dokter itu sambil tersenyum. Mereka segera meninggalkan rumah sakit setelah menyelesaikan urusan administrasi.
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
“Makan gih, habis itu lo minum obat” kata Nicko sambil membukakan pintu rumah. Aka mengangguk paham. Ia segera masuk ke kamar untuk mandi. Sebelum ke rumah sakit Aka memang belum sempat mandi. Tahu sendirikan kalo lagi sakit gigi rasanya males segala galanya.
“Nicko” panggil Aka tepat sebelum naik ke atas tangga. Nicko segera menoleh ke sumber suara.
“Ya” jawab Nicko sambil mengarahkan pandangannya penuh pada Aka.
“Kalo gue udah sembuh, beliin batagor ya” kata Aka penuh harap. Nicko tersenyum seketika.
“Jangankan batagor, lo minta gue beliin makanan sepanjang stan yang ada di bazar, expo, bahkan pasar sekalipun, gue jabanin dah” kata Nicko sambil terkekeh renyah. Aka malah manyun sendiri.
“Lebay, nggak segitunya juga kalik” kata Aka sambil menaiki tangga. Nicko tersenyum sendiri melihat tingkah Aka yang semakin hari, semakin membuatnya penasaran.
❤❤❤
suka kan eyakkk mana suaranya chin
dapet Salam dari suami keduanya author. di suruh like katanya, kalo nggak nanti rumah lo bakal di bomb sama dia . see you
jaemin be like : awas lo kalo nggak like. 😡