This Crazy

This Crazy
TC chapter 19 {Serius nggak sih?}



(Perhatian, akibat yang di timbulkan dari part yang satu ini, author selaku orang yang harus bertanggung jawab tidak bisa memberi ganti rugi. Oleh karena itu, bagi yang punya masalah yang berkaitan dengan hal hal yang tidak wajar, author tidak bisa memberikan apapun sebagai timbal balik atas kerugian yang akan terjadi. Sekali lagi, author juga masih minta duit bonyok, jadi tidak bisa di paksa untuk memberi ganti rugi) hehe.


AKA POV


Aku sama sekali tidak tahu apa yang ada di fikiran Nicko saat ini. Kulihat dari tatapan matanya terlihat sangat menakutkan seperti singa kelaparan. Aku mencoba lari, tapi tanganku sudah di cekal terlebih dahulu olehnya. Dia benar benar cowok mesum!!!!!! Aku mencoba meronta, tapi dengan cepat Nicko malah memegang kedua tanganku hanya dengan satu tangannya. Bahuku terdorong olehnya dan aku terjatuh dengan badan terbaring di atas kasur. Nicko menatapku ganas.


"Nicko jangan sentuh gue!!!!!! " teriakku mencoba menyadarkan dia.


"Haha mana ada suami tahan nyentuh istrinya sendiri? " kata Nicko sambil menatap tajam ke arahku.


"Inget pesan papi!!!!!! " kataku semakin histeris. Nicko menaikkan sebelah alisnya.


"Gue nggak perduli" kata Nicko mengeram seperti singa kelaparan.


Nicko tiba tiba menindih kakiku. Aku bingung harus berbuat apa. Aku kembali meronta dengan kuat. Nicko yang melihatku langsung terkekeh.


"Lo kalo kebanyakan tingkah bikin gue makin nggak sabar" kata Nicko licik.


Nicko malah tiba tiba membuka sabuk dan celananya. Dan sekarang dia hanya memakai celana pendek diatas lutut.


"Lo mau apa?!!! " kataku histeris.


"Apa lagi? Nuntut hak gue lah" kata Nicko sambil tersenyum miring.


"Lo gila?! " kataku takut.


"Gue nggak gila. Gue kan suami elo" kata Nicko dengan entengnya. Nicko tiba tiba sudah diatas.


"Wah wah, elo wangi banget" kata Nicko tepat di telingaku. Aku semakin takut. Aku tidak mau melakukannya sekarang!!!!! Aku belum cukup umur!!” teriakku. Nicko tiba tiba mendekatkan wajahnya ke wajahku tepat ke arah bibirku.


“Ka, kita nanti mau berapa kali?” kata Nicko tepat di depan wajahku. Tanpa ku sadari deru nafasnya terasa begitu hangat. Aku memejamkan mata seketika.


“Gimana kalo seratus kali? Gue mau jadi papa muda sekarang. Lo habis ini homeschooling aja ya” kata Nicko semakin ambigu. Apa apaan ini?!!!! Apanya yang seratus?!!!!


“Huhu, karena Aka masih kecil, Aka di bawah aja ya. Nicko ajarin bagaimana caranya” kata Nicko dengan suaranya yang tiba tiba terdengar serak dan berat.


“Hadehh, mas kalo tenggorokan lo serak minum dulu gih” batinku tiba tiba. Tunggu, kenapa aku malah memikirkannya?. Jelas jelas disini keadaanku yang harus di khawatirkan.


“Kok diem terus Ka?. Gue belum mulai loh” kata Nicko kembali mengintimidasi. Akh, yang benar saja!!! Bagaimana aku bisa bicara kalau tenggorokanku sendiri terasa tersekat dengan tingkahnya?!!!.


“Ka lihat gue” kata Nicko sambil menarik daguku agar menatapnya. Oh sial!!!! Kenapa orang ini begitu mempesona?. Nicko menyerigai lebar sambil menatapku intens.


“Nanti lo jeritnya yang kenceng ya” kata Nicko lirih namun penuh penekanan.


Sekarang terlambat jika aku ingin lari. Jelas saja sekarang posisiku sangat mustahil untuk bisa kabur dari tuan muda ini.


Oh, sial!!!! Kenapa wajahku panas saat Nicko semakin mendekatkan wajahnya ke arah ku?. Aku kembali memejamkan mata. Ini adalah cara terakhirku untuk membela diriku. Aku harus berteriak!!! Tapi berteriak apa?!!!!.


Damn it!!!!! Kenapa Nicko memajukan semua tubuhnya ke arahku? Apa dia tidak sadar kalau dia itu berat?!!!!.


“Ya Allah, ampunilah segala dosaku” batinku sambil meneguk saliva susah payah. Nicko semakin mendekatkan dirinya.


"Tidak!!!!!!!!!!!!!!" teriakku sekuat kuatnya. Aku memejamkan mata ketakutan sambil merapatkan bibirku agar tidak terbuka sedikit pun agar Nicko gagal melakukannya.


“Fuhhhhh” hembusan angin menerpa wajahku perlahan di ikuti dengan benda jatuh di sampingku.


Aku mengerutkan kening heran. Tiba tiba aku mendengar suara gelak tawa yang begitu keras. Aku membuka mata dan melihat Nicko tertawa dengan kencang.


"Hahaha!!!!!!! " suaranya benar benar membuatku jengkel. Nicko tidur menyamping dengan menyangga kepalanya menggunakan tangannya. Dan yang paling membuatku jengkel, dia menyunggingkan senyum tanpa dosa.


"Apa maksud lo?! " tanyaku ketus. Nicko masih terus tertawa.


"Lo bener bener lucu Hahahaha !!!!!!! " katanya masih tertawa.


"Hanya gue gertak aja elo langsung ketakutan kayak gitu hahaha!!!!!!!! " katanya masih tertawa. Aku segera bangun dan menendang perutnya dengan kuat.


"Gue sebel sama elo!!!!!! " kataku marah sambil berjalan pergi.


"Hahahahaha" Nicko malah dengan asyiknya tertawa sendiri. Aku berjalan ke arah jendela. Rasanya jenuh satu ruangan sama cowok kayak dia. Setelah puas tertawa, Nicko berjalan mendekatiku.


"Yahhhh jangan marah dong" kata Nicko memelas. Aku tak menggubrisnya.


"Buruan pake baju loe atau gue teriak kalo elo mau memperkosa gue!!!!! " kataku keras. Aku tidak tahu apa Nicko akan mematuhi perintahku atau tidak. Yang terpenting kalo dia tidak segera memakai baju aku benar benar akan berteriak.


"Yuk pergi" ajak Nicko sambil menggandeng tanganku. Ia sudah kembali rapi dengan baju casualnya.


"Lepas!!! Jangan deket dekat gue. Kasih jarak 2 meter" kataku memerintah. Aku segera melepaskan genggaman Nicko dari tanganku. Aku berjalan ke arah paperbag berisi coklat dan segera menentengnya.


"Buruan!!! Elo di depan" mengintrupsi. Nicko hanya menurut. Aku mengikuti Nicko di belakang dalam jarak 2 meter.


"Aka jangan marah dong, maafin gue. Gue nggak sengaja. Tadi cuma bercanda doang. Maaf ya?? Gue nggak bisa jauh dari loe" kata Nicko terus membujukku.


"Buruan jalan dan nggak usah deket deket gue. Loe mau gue tambah marah?!!" tanyaku ketus. Nicko masih merengek.


"Yang jangan marah dong plisss" kata Nicko yang masih membujukku.


"Yang yeng yang yeng, emang gue eyang elo apa?!!!" kataku masih ketus.


"La kan elo sayang gue, gimana sih?" kata Nicko yang berusaha membujukku.


"Lo apaan sih?! Muak tau nggak gue lihat loe kayak gitu" kataku sambil keluar dari pintu yang terbuka. Aku bisa mendengar di belakangku Nicko menghela nafas. Ah bodo!!!!! Siapa suruh tadi kayak begitu.


Semua mata memandangiku heran saat kami berjalan menyusuri koridor. 'Ih kenapa pada lihatin sih?!' batinku yang merasa risi. 'Kenapa nggak lihatin tuan mereka aja?!' batinku lagi.


"Pak Han kosongkan semua koridor utama" kata Nicko memerintah salah satu stafnya.


"Baik tuan" kata pak Han patuh.


"Kalian dengar tidak?!! Segera kosongkan koridor utama sampai lobi, sekarang!!!!!!" kata pak Han kepada staf yang tadi melihatku. Mereka segera pergi. 'Maspus lo pada' batinku merasa senang sambil menyunggingkan senyum sinis.


"Cie yang udah bisa senyum" kata Nicko yang melihatku tersenyum. 'Ah sial!!!! Kenapa dia pake liat sih?!' batinku tak terima.


"Ck apaan sih?! Buruan napa!!!!!!" titahku pada Nicko. Nicko berusaha mendekatiku kembali.


"Eitsss ingat!!! 2 meter" kataku tegas. Nicko manyun.


Sesampainya di parkiran aku segera membuka pintu mobil bagian tengah.


"Lo nggak duduk depan?" tanya Nicko dari luar jendela.


"Nggak!!!!" kataku tegas. Nicko akhirnya mengalah dan duduk dikursi depan. Didalam mobil Nicko berusaha mengajakku ngobrol kembali dengan berbagai topik. Aku masih tak meresponnya sampai aku teringat sesuatu.


"Kok tadi gue bisa langsung tidur dikamar waktu bangun, elo yang gendong gue?" tanyaku songong.


"Iyalah, elo kan kelinci tidur. Suka tidur di sembarang tempat, makanya gue gendong sampai kekamar. Eh ngomong ngomong elo ringan banget sih? Elo diet? Yaelah nggak usah Ka, kalo elo diet nanti gimana waktu Mami nengokkin elo? Gue takut dimarahin gegara buat anak kesayangannya kurus. Dikirain gue nggak pernah kasih makan lagi. Nggak usah diet ya? Gue suka elo apa adanya kok. Jadi nggak usah khawatir elo suka makan banyak" kata Nicko panjang kali lebar sama dengan keliling segi empat. Huh, aku hanya mendengarkannya dengan malas. Ia masih terus mengoceh dan aku hanya menanggapinya dengan gumanan kalo iya, gelengan kepala kalo tidak.


**********************


"Lo tunggu disini dulu. Jangan kemana mana. Gue bentar lagi kesini kok" kata Nicko. Aku hanya mengangguk dan duduk di salah satu kursi taman. Nicko segera pergi.


"Eh pita rambut gue" kataku yang melihat rambutku pitanya sudah raib. Akupun segera mencarinya dengan menyusuri jalan yang kami lewati tadi. Taman yang kami kunjungi ternyata ada di salah satu gang sempit. Jadi tidak memungkinkan mobil untuk lewat.


"Nah ini dia" kataku yang akhirnya menemukan pitaku.


"Hai adik cantik. Boleh kenalan?" tanya salah satu cowok yang sedari tadi melihatku. Aku tak mengubrisnya dan kembali berjalan kembali ke kursi tadi.


"Yah sombong banget sih? Ayolah main sama kita bentar" kata yang satu lagi. Ia sampai berani memegang bahuku. Aku dengan cepat menepisnya.


"Kalian jangan kurang ajar ya!!" kataku memperingatkan.


"Wuih berani juga ni cewek. Asik nih bro" katanya pada temannnya.


"Iya bro" kata temannya sambil tersenyum menakutkan. Tiba tiba sikuku di tarik. Dengan cepat aku mencekal tangannya dan mempluntirnya.


"Akh!!!!!!!!" rintihnya. Aku menendang belakang lututnya dan seketika ia terjerembab.


"Maju sini lo kalo berani" kataku menantang.


"Sialan lo" teriak satunya lagi sambil mencoba melayangkan tinjunya kearah wajahku. Aku langsung menepisnya dan menarik tangannya dengan tangan kananku. Tangan kiriku ku gunakan untuk mendorong dadanya kebelakang dan dengan sa⁶tu kali hentakan aku menendang kaki kanannya hingga dia terjatuh. Saat terjatuh aku segera menginjak perutnya hingga dia mengerang dan tidak bisa bangkit. Mereka KO seketika. Aku langsung menjauh dari mereka.


"Ada apa ini?" tanya salah satu cowok sambil mendekati kedua orang yang tadiku hajar.


"Boss tolongin kita" katanya sambil merintih kesakitan. Yang dipanggil bos terlihat khawatir dengan keadaan kedua temannya. Namun ketika melihatku dia malah menampar keduanya.


"Kalian gila?! Ini ceweknya master bos" kata bosnya marah.


"Ceweknya master bos? Nicko? " batinku bingung.


•••••••••••••••••••••••••••••••••


"Salahnya kalian sih, pake acara godain segala. Kena batunya kan?" kata Kina yang mengobati keduanya. Sekarang kami dan Nicko juga, berada di sebuah rusun kecil yang dipenuhi oleh anak anak jalanan.


"Ya maaf, kitakan nggak tau kalo itu ceweknya master bos. Kitakan juga anak baru" kata Roko. Semua yang ada disini menertawakannya.


"Maafin Roko dan Roki yang Non" kata Heru yang kutahu sebagai bosnya.


"Ia nggak papa" kataku sambil tersenyum.


"Master bos jadi ini bener ceweknya master bos?" tanya Aghata yang duduk disebelah Kina yang mengobati Roko dan Roki.


"Iyalah, gimana? Cantikkan? " tanya Nicko dengan songongnya. Aku segera melayangkan tatapan mematikan pada Nicko. Mengisyaratkannya untuk bungkam. Nicko malah menanggapinya dengan kedipan genit yang membuatku jengah melihatnya.


"Wahhhhh hebat bos, udah cantik, jago beladiri, pinter, perfect lah pokoknya. Kenapa nggak di ikat aja bos? Jadiin tunangan gitu biar nggak ada yang berani ngelirik" kata Joni mengusulkan.


"Bukan cuma aku jadiin tunangan. Malah sekarang udah gue jadiin istri. Tiap malem aja tidur bareng minta di peluk. Kalo nggak gitu nggak bisa tidur katanya” kata Nicko. Aku segera berteriak.


"Nicko!!! Maksud lo apa ?!loe kalo ngomong yang bener dikit dong!!! " tanyaku agak keras. Nicko malah tersenyum tanpa dosa.


"Kalian masuk pergi maen aja sana" kata Heru memerintahkan kepada anak yang kecil kecil untuk pergi. Ia tahu pembicaraan ini tidak baik di dengar anak kecil. Huh dikira aku ini udah besar apa?! Sekarang hanya tersisa 5 orang diruang itu termasuk aku dan Nicko.


"Sayang kenapa kamu marah marah sih dari tadi, aku kan jadi takut. Sini duduk sebelahku" kata Nicko yang sok polos.


"Iya Non master bos, jangan marah marah terus. Kan kasihan master bos" kata Joni mengompori.


“Kalo kalian jadi gue, kalian juga nggak mungkin deket deket sama dia" kataku ketus.


"Emang kenapa Non master bos?" tanya Kina penasaran. Aku segera membisiki Kina sesuatu. Kina terlihat kaget. Ia juga sempat geleng geleng kepala.


"Wahhh master bos nih jangan gitu, semua cewek tuh nggak mau digituin" kata Kina membelaku. Aku menghela nafas lega. Ternyata masih ada yang mau membelaku.


"Emang kenapa sih? " tanya Joni ikut penasaran.


"Udah nggak perlu tau" kata Kina ketus. Joni jadi manyun.


"Kalian kok bisa tinggal disini?" tanyaku penasaran.


"Ini silahkan" kata Tina sambil meletakkan nampan berisi thaitea, kebab dan pisang goreng coklat keju. Setelah itu Tina segera pergi.


"Iya Non master bos. Selain itu kami disini juga disediakan wifi, skateboard, sepatu roda, pakaian, bahkan di kasih hape untuk setiap orang. Kami dulunya dari anak anak gelandangan, broken home, anak yatim piatu, anak yang tidak diinginkan, bahkan ada yang dari hubungan terlarang. Pokoknya kami semua berasal dari latar belakang yang suram. Semua orang memandang kami dengan sebelah mata. Bahkan ada beberapa yang menganggap jijik dengan kami. Kami dulunya pengemis, pengamen jalanan, pencopet, maling, selalu jadi buronan satpol pp. Kami bukannya nakal karena sengaja, kami hanya nakal karena kami ingin mendapat kebahagiaan dari semua masalah yang kami alami. Kami benar benar anak yang kekurangan kasih sayang. Tapi semenjak kami kenal dengan Master bos, hidup kami menjadi berubah. Master bos menyayangi kami seperti saudara sendiri. Master bos memberi apapun yang kami butuhkan. Bahkan master bos memberi kami tempat tinggal agar tidak tidur beralaskan kardus dan karung goni di pinggir jalan. Kami serasa memiliki ayah dengan keberadaan master bos. Kami diajari untuk bersikap baik, rajin mandi, rajin sholat dan ngaji. Kami juga dilarang untuk mencopet, mencuri, mengemis dan sebagainya. Kami sekarang bekerja sebagai penjual akun game online, penyewa dan pelatih skateboard dan sepatu roda, dan anak perempuannya sekarang mencoba berbisnis dengan menjual thaitea, kebab, dan pisang goreng coklat keju" kata Heru menerangkan. Aku mangut mangut mendengarkannya. Tak kusangka orang semenjengkelkan seperti Nicko punya hati yang mulia.


"Kubilang juga apa. Suamimu ini orang hebat" kata Nicko dengan bangganya. Aku mendengus kesal.


"Diem nggak usah bikin gue tambah marah, atau elo bakal gue kunci dari dalam, paham?! " kataku sinis. Nicko terdiam seketika.


"Waduh ceritanya nanti jadi 'aku takut pacarku' dong iya kan Heru, Kina" kata Joni mengompori. Kina dan Heru tertawa. Mungkin inilah saatnya bagi mereka bisa menertawakan master bosnya.


"Tapi aku salut deh sama bos, nggak pernah pacaran, sekali suka sama cewek langsung dinikanin. Patut di tiru nih, iya nggak Kina? " tanya Joni sambil melirik ke arah Kina. Kina hanya mengendikkan bahunya ngeri.


"Shuttt sudah sudah, Joni nih kebiasaan!!!! Oh ya master bos, aku hampir lupa bilang. Untuk seterusnya Yang bayar listrik, air, sama wifinya kita aja. Kan kita sudah punya penghasilan yang mencukupi, jadi biar kami aja yang bayar. Master bos nggak usah bayar lagi. Sekalian sama mau minta alamat sama nomernya bandar serfer wifi ini bos, mulai bulan depan nanti kami bayar sendiri" kata Heru menerangkan.


"Jangan nanti kalian malah kurang kurang lagi bayarnya. Biar gue aja" kata Nicko menolak.


"Nggak papa bos, beneran kok. Makasih ya master bos selalu nolongin kita. Maaf juga si Roko dan Roki ngusilin Non master bos " kata Heru kembali meyakinkan.


"Tenang, cewek gue ini anti kena begal. Begal aja kalo lihat langsung lari ketakutan" kata Nicko sambil melirik ke arahku. Aku mencoba mengabaikannya.


"Oh ya, nanti kalo ada yang mau buka usaha lagi, bilangin gue dulu. Gue pasti ngijinin kok" kata Nicko sambil tersenyum.


"Siap master bos. Kita ini juga mau ngumpulin uang buat biaya pendidikan kita kok" kata Joni mantap.


"Kalian mau pada sekolah? Wah Alhamdulillah dong. Bagus itu" kataku memberi komentar.


"Kalau gitu, Papa kami kan master bos. Berarti Mama kami Non Master bos dong. Yey kita punya mama!!!!! " teriak Joni kegirangan.


"Yey aku punya mama" kata Kina sambil memelukku. Well aku jadi mama? Yang bener aja!! Umurku aja baru 14 tahun.


Aku hendak protes, tapi ku urungkan . Aku tahu mereka sangat butuh kasih sayang orang tua.


"Aku juga mau peluk Mama ah" kata Joni sambil mendekat ke arahku. Aku kaget seketika.


"Eits yang boleh meluk Mama kalian disini cuma anak cewek sama Papa. Kalian nggak boleh. Sini peluk Papa aja" kata Nicko sambil merentangkan tangannya.


"Ihhhh nggak mau, maunya pelukan sama mama. Kalo sama Papa mah udah bosen, udah jadul" kata Joni sambil tertawa.


"Apa kamu bilang hah?!!!!! " teriak Nicko sambil memasang ekspresi sok garang.


"Tuh kan Papa kayak gitu. Mah tolongin, papa jahat" kata Joni yang membuat kami semua tertawa. Bahkan anak anak yang ada dikamar pun ikut tertawa mendengar rengekan Joni.


“Hey anak anakku kalian nggak mau pelukan sama Mama kalian? “ kata Nicko memanggil anak anak yang lain. Mereka segera turun kebawah. Setelah sampai di bawah, mereka segera memelukku. Aku merasa terharu melihatnya. Semua anak kecil yang ada disini memang tidak seberuntung diriku. Walau begitu, mereka tetap tegar menghadapi cobaan hidup.


"Eh udah mau gelap nih, gue cabut dulu" kata Nicko pamit.


"Iya Papa, jangan lupa kalo mau maen ke sini Mama ajak juga ya? Seru soalnya" kata Kina sambil tersenyum. Ayolah, panggilan Mama dari mereka benar benar membuatku geli.


"Tenang pasti Papa ajak kok, masak mau nengok anaknya sendiri nggak Papa ajakin. Papa kan nggak bisa jauh dari Mama. Iya kan ma? " tanya Nicko. Aku yang masih malas bicara dengannya tidak menyahut.


"Cieeee papa...... " kata anak anak yang lain menyoraki. Aku memutar bola mataku kesal.


"Eh eh, foto dulu yuk" kataku sambil mengeluarkan ponselku.


"Ayo!!!!!! " jawab anak anak yang lain. Mereka segera berbaris dengan rapi. Mereka terlihat sangat senang.


“ Ya Allah, apa ini kuasa Mu agar aku lebih bersyukur hanya dengan melihat hal hal yang kecil? Terima kasih Ya Allah, Engkau telah membuka pintu hatiku agar selalu ingat kepada Mu”batinku.


"Mama duduk di tengah ya, samping Papa" kata Joni menyadarkanku dari lamunan.


"Eh iya iya" kataku terkaget. Aku terpaksa duduk disebelah Nicko setelah mentimer kamera pada ponselku.


"Katakan singkong" kata Joni membuat kami semua tertawa. Dan cekrek. Foto diambil dengan pose candid. Selanjutnya foto diambil dari berbagai pose anak anak yang tampak menggemaskan. Setelah itu aku dan Nicko pamit pulang karena hari mulai sore.


"Mama dan Papa pulang dulu yang anak anak, mau buatin kalian adik baru" kata Nicko absurd. Anak kecil kecil hanya melongo tak paham. Aku segera menyikut perut Nicko. Memberinya peringatan. Nicko malah tersenyum sambil menahan sakit di perutnya.


"Assalammualaikum" salam kami pada mereka.


"Wa'alaikumussalam " jawab mereka. Kami segera meninggalkan rusun itu. Hahhhh, rasa rasanya aku enggan pergi dari sana. Kehangatan yang aku rasakan disana membuatku betah dan ingin merawat mereka.


Saat di mobil aku hanya diam. Nicko masih serius menyetir. Pikiranku melayang kemana mana. Bahkan saat mobil sudah sampai di garasi rumah, aku masih melamun.


"Udah sampai" kata Nicko menyadarkanku. Aku langsung turun setelah Nicko membukakan pintu mobil untukku. Aku langsung naik ke kamar dan mandi untuk persiapan sholat asyar.


"Tungguin ya? Kita jamaah bareng" kata Nicko. Aku hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Setelah Nicko selesai mandi, aku berjamaah dengannya. Dan setelah sholat aku mencium tangannya dengan takzim.


"Aka? " panggil Nicko pelan.


"Hmm" jawabku dengan gumanan.


“Gue....... “


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Jangan kau gantung, cerita cintaku.... Oekkkk, malah nyanyi lagi, udah tau suaranya fals. Haha.