This Crazy

This Crazy
TC chapter 20 {maafin ya}



Update lagi kan? cie pada seneng. lanjut kuy bacanya. hayyukkk


“Gue........ “ Nicko tiba tiba berdehem untuk membasahi tenggorokannya. Aku masih menunggu Nicko melanjutkan kalimatnya dengan perasaan tak menentu.


"Loe masih marah sama gue? " tanya Nicko yang terdengar sedih. Aku menggelengkan kepala pelan.


"Maafin gue ya? Gue tau gue salah. Gue janji kok nggak bakal ngelakuin itu lagi. Plis ya maafin gue " kata Nicko sambil menatap pilu kearahku. Aku tidak bisa menjawab dan hanya merundukkan kepala. Aku tak berani memandangnya saat ini.


"Udah nggak usah dibahas" kataku sambil beranjak pergi. Setelah aku melepas mukena, tiba tiba aku merasa pinggangku mengencang. Dan aku semakin kaget karena ternyata Nicko memelukku dari belakang.


"Pliss maafin gue. Gue nggak mau elo marah sama gue. Pliss maafin gue Ka, gue tau gue salah. Gue khilaf. Karena itu maafin gue Ka, maafin pliss" kata Nicko sambil kesegukan. Hatiku terasa pilu mendengarnya. Tanpa sadar air mataku menetes begitu saja. Akupun berbalik menatapnya, tapi masih dipeluk olehnya.


"Jangan lakuin lagi" kataku tersenyum tapi tetap masih menangis. Nicko terlihat tak percaya namun langsung memelukku erat tapi tak sampai membuatku sesak.


"lya gue nggak bakal ngelakuin itu lagi. Makasih Aka, makasih" kata Nicko lirih. Akupun membalas pelukannya dan mengangguk samar. Aku mencoba menenangkan Nicko. Merasa sudah cukup, aku segera mengurai pelukan.


"Mungkin kita bisa ngelakuin itu beneran" kataku yang membuat Nicko terkejut.


"Eh nggak nggak" kata Nicko menolak. Akupun tertawa.


"Maksudnya kalo kita udah lulus SMA sama udah siap semua baru kita ngelakuin itu" kataku mengoreksi membuat Nicko lega.


"Nanti malam tidur sama gue ya? Gue nggak bisa tidur kalo nggak ada elo. Gue janji, gue nggak bakal macem macem kok" kata Nicko tulus. Aku tersenyum mengiyakan.


"Nicko sini deh" kataku menyuruh Nicko agar mendekat.


"Kenapa? " tanya Nicko. Aku segera berdiri di depan Nicko sambil berjinjit menyamakan tinggiku dengannya. Ahh, kenapa dia setinggi ini? Atau, aku yang aku saja yang terlalu pendek? Ah, sudahlah biarkan saja. Yang terpenting Nicko mencintaiku. Walaupun masih tetap tinggian dia. Aku memegang bahunya dan mendekatkan wajahku kearah wajahnya. Saat aku melakukannya, aku mendengar dengan jelas bunyi degup jantung Nicko begitu cepat. Saat wajahku berjarak beberapa senti, aku langsung melompat ke arahnya dan berakhir bergelayut didepannya. Nicko terlihat terkejut dengan ulahku.


"Gendong gue" kataku sambil tersenyum layaknya anak kecil. Nicko tersenyum dan segera menopangku agar tidak jatuh.


"Jangan berdiri doang dong, lo jalan juga biar seru" kataku memerintah. Kepalaku ku topangkan di bahu Nicko. Ini benar benar mengasyikkan. Aku seperti kembali menjadi anak kecil.


"Lo kayaknya seneng banget. Elo biasa minta digendong papi dirumah?" tanya Nicko kepadaku.


"Nggak, terakhir waktu gue umur 10 tahun. Gue habis itu nggak pernah lagi di gendong Papi. Kata Papi gue udah gede, berat" kataku sambil pura pura mewek.


"Hahahahahhahh" Nicko malah tertawa renyah.


"Kalo kayak gini, gue ngerasa udah punya anak umur 14 tahun" lanjut Nicko. Aku ikut tertawa.


"Sekarang kan ada elo, jadi elo aja yang gendong gue. Gue udah seneng kok" kataku sambil tersenyum manis. Nicko segera menggendongku berkeliling rumah sampai aku ketiduran.


"Kamu hanya beda dari yang lain, dan itu yang membuatku semakin suka kepadamu" kata Nicko tepat sebelum aku tertidur. Aku menyunggingkan senyum tipis.


“Kamu juga” kataku samar.


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••


AUTHOR POV


Aka melangkahkan kakinya tergesa gesa ke ruang tengah. Ia tidak sabar untuk menonton acara kesukaannya. Nicko yang melihatnya hanya mengernyitkan dahi melihat tingkah Aka yang selalu memberikan kejutan untuknya setiap saat. Nicko berjalan kearah yang sama dengan Aka. Bukan untuk mengikuti Aka, melainkan hendak ke dapur untuk mengambil minuman.


"Bi Tuti, tolong ambilkan cemilan ya? " pinta Aka pada salah satu pembantunya. Aka meletakkan pantatnya ke atas shofa.


"Aduh Non kalo nyuruh saya nggak usah di kasih "tolong" itu kan sudah menjadi tanggung jawab saya" kata Bi Tuti sambil memberikan senampan penuh cemilan serta satu minuman dingin sebotol sedang.


"Hehe" Aka hanya meringis lucu.


"Nicko sini dong temenin aku" pinta Aka sambil menepuk ruang kosong di sebelahnya saat melihat Nicko yang berjalan ke arah dapur.


"Nanti ya, gue mau nyelesaiin tugas sosiologi dulu" kata Nicko menolak halus. Aka mengganggukkan kepalanya sesaat dan kembali fokus ke televisi.


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••


"Nicko!!!!!! " teriak Aka kegirangan saat Nicko berjalan mendekat ke arahnya.


"Udah lama nungguin?"tanya Nicko yang melihat Aka masih berada di tempat duduknya sejak tadi.


"Nggak.... Kan elo nggak lama ngerjainnya" kata Aka yang dengan nada merengek. Membuat Nicko tak pernah bosan dengan tingkah Aka yang menggemaskan.


"Lo nonton apa?" tanya Nicko sambil duduk di sebelah Aka.


"Nih" jawab Aka datar. Nicko terkejut seketika setelah tahu apa yang Aka tonton. Ternyata Aka sedang menonton film action yang biasanya sering di lihat anak cowok.


"Lo nonton beginian?" tanya Nicko memastikan. Aka menoleh ke arah Nicko.


"Iya emang napa?" tanya Aka dengan nada angkuh.


"Lo beneran suka film ginian apa gara gara ada gue elo nonton kayak gini?" tanya Nicko kembali memastikan. Aka tampak menghela nafas jengah.


"Iya Joshua Nickold, gue suka lihat film kayak beginian" jawab Aka sambil menatap lurus ke arah Nicko. Nicko terdiam. Ia tak berani bertanya lagi takut kalau Aka tersinggung. Ia juga baru ingat kalau Aka sedang datang bulan, jadi tempramennya agak sulit di tebak saat ini. Nicko tiba tiba merebut snak dari tangan Aka.


"Nanti gemuk" kata Nicko sambil mulai menghabiskan snak dalam bungkusnya. Aka melempar tatapan tak terima dan mencoba mengambil kembali snak nya.


"Ihhh Nicko usil banget sih, balikin snaknya!!!! Gue tuh suka snak ini. Elo ambil aja sendiri yang lain" kata Aka mencoba merebut snaknya kembali.


"Ambil sendiri kalo bisa" kata Nicko mengejek Aka. Karena tangan Aka tak bisa menggapai snaknya, Aka malah mendorong dada Nicko dan menyebabkan Nicko terjatuh terjengkang ke belakang dengan posisi terlentang di atas shofa. Aka segera bangkit dari duduknya dan segera mengambil snak dari tangan Nicko.


"Wekkkk" ejek Aka sambil menjulurkan lidahnya. Aka merasa puas karena dapat mengambil snak dari tangan Nicko. Tapi ia terkejut karena snaknya sudah habis tak tersisa.


"Ihhhhhh Nicko kenapa di habisin?! Sebel deh ah" kata Aka cemberut. Aka segera pergi meninggalkan Nicko. Aka pergi ke arah dapur, hendak mengambil coklat panas yang sengaja disiapkan Bi Tuti untuknya. Tapi perhatiannya seketika teralihkan ketika melihat kucing kecil berwarna abu abu yang mampir ke dapurnya.


"Kayak lagi cari makan" batin Aka sambil mendekati kucing itu.


"Lapar ya cantik? " tanya Aka sambil mengelus kepala kucing itu. Kucing itu mengeong seakan membenarkan perkataan Aka. Aka kemudian mengambil seekor ikan yang sudah digoreng berukuran kecil untuk kucing itu. Ia berjongkok dibelakang kucing itu. Kucing itu makan dengan lahap. Aka tersenyum sendiri. Ia mulai mengelus kucing itu kembali. Awalnya dari kepala, lalu leher, sampai turun ke punggung kucing itu. Aka terkejut, bukannya kucing itu duduk saat di elus punggungnya, tapi malah berdiri seperti membokongi sambil menegakkan ekornya. Aka menjerit seketika.


"Akhhhhhhhhhh!!!!!!! " teriaknya. Nicko yang berada di ruang tengah segera berlari ke dapur setelah mendengar teriakan dari Aka.


"Lo kenapa? " tanya Nicko khawatir.


"Tuh kucingnya nakal, masak gue elus punggungnya dia malah jadi kayak gini" kata Aka sambil menunjuk ke arah kucing itu. Nicko seketika melihat ke arah jari Aka.


Beberapa detik kemudian, tawa Nicko pecah.


"Kenapa ketawa?! kan bahaya kalau tiba tiba kucingnya pipis kena gue " kata Aka sebal. Bukannya menenangkannya, Nicko malah tertawa seenaknya sendiri.


"Habis elo juga sih, udah tau kucing kayak gitu, pake acara di elus lagi . Dibokongin kan lo. Hahaha " kata Nicko sambil melanjutkan tertawanya.


"Coba lo periksa, mungkin kucing itu punya gangguan mental" kata Aka membujuk Nicko dengan polosnya. Aka menarik narik lengan Nicko untuk memeriksa kucing itu. Nicko semakin geli mendengarnya.


"Hahahah!!!!!! " Nicko tertawa semakin keras. Tapi kemudian memperhatikan kucingnya setelah perutnya terasa sakit tak tertahankan.


"Oh pantes, ni kucing cowok" kata Nicko setelah memperhatikan kucingnya.


“Trus apa hubungannya kalo kucing itu cowok? “ tanya Aka tak mengerti.


“Nggak papa, elo masih kecil. Nggak bakal paham” kata Nicko membuat Aka cemberut.


"Dia punya gangguan kejiwaan nggak? " tanya dengan polosnya. Itu membuat Nicko kembali tersenyum manis.


"Nggak Aka sayang. Dia tuh normal" kata Nicko sambil tersenyum.


"Mending gue suruh kucingnya pergi aja" kata Nicko sambil membawa kucingnya keluar. Aka lekas mencuci tangannya.


"Yuk tidur" ajak Nicko setelah melepaskan kucingnya keluar dan mencuci tangannya.


"Belum ngantuk" kata Aka dengan nada khasnya.


"Udah malam Aka, lo harus tidur. Besok kita sekolah" kata Nicko membujuk Aka.


"Gendong ya? " kata Aka sambil tersenyum. Membuat Nicko jadi tertular senyumannya.


"Jangan lama lama ya? Ini udah jam sembilan" kata Nicko mengingatkan. Aka mengangguk setuju. Tanpa membuang waktu Aka langsung meloncat ke pelukan Nicko seperti bayi koala. Aka mendekap Nicko erat agar tidak jatuh.


“Nicko....... “ panggil Aka tiba tiba.


“Ya? “ jawab Nicko.


“Ada yang mau gue omongin” kata Aka ragu ragu.


“Omongin aja nggak papa” kata Nicko pelan. Nicko menggendong Aka memutari lantai satu.


“Lo masih ingat sama perjanjian kita? “ tanya Aka gugup. Deg! Nicko mematung seketika. Bahkan langkah kakinya pun ikut terhenti.


“Iya, kenapa emang? “ tanya Nicko takut. Detak jantung Nicko berdebar tak menentu.


“Kayaknya kita nggak jadi pisah” kata Aka menahan malu. Nicko menghela nafas lega. Ia lega akhirnya perpisahan yang selalu menjadi mimpi buruknya tidak akan terjadi. Buktinya Aka saja enggan berpisah dengannya.


“Gue udah..... “ kata Aka terhenti.


“Shutt..... “ Nicko membekap bibir Aka dengan jari telunjuknya. Aka membelalakkan mata kaget. Nicko mendekatkan wajahnya ke arah Aka.


“Gue udah cinta sama elo” kata Nicko tepat didepan wajah Aka. Aka terlonjak kaget. Pipinya terasa memanas tanpa di komando.


“Gue juga “ kata Aka malu. Ia menyembunyikan wajahnya diantara lekukan leher Nicko. Nicko tersenyum samar. Tanpa meminta persetujuan dari Aka, Nicko segera menuju kamar. Sesampainya dikamar, Nicko segera menurunkan Aka dan langsung memposisikan dirinya untuk tidur.


“Kok udah tidur sih? “ tanya Aka sebal. Nicko tak menggubrisnya dan pura pura sudah tidur.


“Ih Nicko!!!!! “ jerit Aka sambil mulai menggelitiki perut Nicko. Nicko tak merespon. Aka memutar otak, memikirkan cara bagaimana agar Nicko terusik. Akhirnya ia ikut tiduran dan mencubit pipi, hidung bahkan menariknya kuat kuat.


“Aka udah, tidur aja” kata Nicko yang merasa terganggu tapi masih memejamkan matanya.


“Main dulu!!! Gue belum ngantuk loh” kata Aka merajuk.


“Main apaan Aka? ini udah malem “ kata Nicko benar benar mengantuk. Aka masih mengganggunya.


“Pokoknya kita main dulu!!!! Kalo nggak mau, lo harus ceritain gue sesuatu sampai gue tidur “ kata Aka sungguh sungguh. Nicko hanya bisa menyetujuinya. Walaupun besok hari libur, tapi kalau ia dan Aka sampai kemalaman tidurnya, Mereka bisa bisa terlambat sholat subuh.


“Oke gue bakal turutin. Tapi beneran lo harus tidur ya habis itu “ kata Nicko. Ia mulai duduk kembali. Aka menunggu Nicko membacakan ceritanya. Nicko yakin ceritanya dijamin akan membuat Aka tertidur dalam hitungan detik.


“Gue akan cerita sejarah kemerdekaan Indonesia” kata Nicko memulai ceritanya. Dari judulnya saja Aka sudah merasa bosan.


“Indonesia sebagai negara kepulauan yang kaya akan hasil buminya dan menjadi incaran negara negara besar, akan tetapi..... “ kata Nicko terhenti ketika Aka menjatuhkan kepalanya di atas bantal. Nicko tersenyum dan segera berbaring di sebelah Aka.


“Mimpi indah sayang” kata Nicko sambil mencium kening Aka perlahan dan menyusul ke alam mimpi. Aka tertidur sambil menyunggingkan senyum manis.


“Juga” jawabnya perlahan.


...••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••...


...Ulala gimana? Kepanjangan ya ceritanya? Sepanjang...... nya Nicko....


... Hayo mikir apa? 😂😂😂😂😅😅😅 Sepanjang tingginya Nicko maksudnya😆😆😆😆😆😆. ...


...Readers sorry ya sebelumnya gue kemarin sempet hiatus agak lama. Untuk itu, gimana kalo author kasih bocoran episode yang akan datang?. ...


...Makanya kasih vote yang banyak dan jangan lupa kasih tau temen temenmu biar pada ikutan baca dan dukung novel ini. Kalo masalah author mau open pdf di google searching, mohon maaf ya, author belum kepikiran sampai sana. Mungkin author harus nunggu sampe bisa go publik alias publising dulu hehe. Ngarep dikit lah nggak papa. So gimana pendapat kalian sewaktu baca sampai sini? Tambah suka atau nggak nieh? ...


...Jujur ya, author itu suka moody. Makanya updatenya nggak jelas kapan aja. Doain aja yah biar nulisnya lancar. Kalau lancarkan kalian juga bisa baca.


...


...Author mau tanya nieh, kaliaan ngerasa kalau ceritanya flat nggak sih?...


... Aku juga ngerasa gitu tau. Kesannya mainstream ya alurnya gitu gitu mulu....


... Gregetnya Cuma dapet waktu Nicko baperin Aka doang. So, author putuskan, author akan nambah beberapa orang yang bisa menghidupkan alur cerita....


... Yang nggak suka sama pelakor atau pebinor, mohon bersabar ya, Cuma dikit doang kok nanti author kasihnya. Author juga nggak suka kalo ada orang yang hobbynya kayak gitu. Liat sinetron aja pusing apa lagi bikin cerita yang kayak gitu, behhhhh ambyar tenann.... ...


... Sekian cuap cuapnya. ...


...dadahhhh


...