This Crazy

This Crazy
TC chapter 11 {you most temperament}



...Lo tuh sebenernya cowok apa cewek sih?!!,...


...sensitif banget kayak cewek lagi PMS...


...Akasia Violetta Brian....


Bel tanda waktu pulang berbunyi nyaring. Diiringi dengan suara sorakan para siswa yang berseru gembira. Dari luar ruangan terdengar suara deru mesin motor yang bersahutan. Seolah menjadi ciri khas saat jam pelajaran sekolah telah usai.


“Anak anak, jangan lupa belajar dan kerjakan soal di halaman empat puluh empat di folio. Jangan hanya jawabannya saja, tapi juga harus dengan caranya. Dan ibu harap saat soalnya di bahas kalian sudah paham dengan soal itu. Mengerti? “kata bu Anna selaku guru mapel kimia.


“Mengerti bu~~~“ jawab anak anak kelas X MIPA A serempak.. Kelas bubar dengan para siswa yang berpencar keluar dari kelasnya masing masing.


“Ka, ikut ke Tokyoland yuk. Gue jamin lo bakal nyesel kalo nggak ikut” kata Devi menghasut Aka agar ikut bersamanya.


“Perasaan nggak ada wahana permainan yang namanya Tokyoland deh” kata Aka menimpali.


“Hadehhhh hadehhhh , itu wahana baru dibuka Aka. Masih baru, makanya gue ngajakin elo buat liat liat sekalian nyoba permainannya. Elo sih kebanyakan mikir pelajaran, diajakin main susah kan” kata Devi sambil cemberut.


“Siapa bilang gue kebanyakan mikir pelajaran? Nggak tuh” kata Aka menolak pendapat Devi.


“Jadi gimana nih? Mau ikut kan lo? “ tanya Devi sekali lagi.


“Mungkin gue mampir ke sana, tapi nggak bareng sama lo. Sorry ya? “ kata Aka agak menyesal.. Padahal biasanya kalau Devi mengajak Aka ke Mall, pasti Aka akan ikut.


“Yah gimana sih kok nggak ikut? Elo mau ke sana sama siapa? Sopir elo? Nggak kan? “ tanya Devi kembali.


“Buk bukan” jawab Aka bingung.


“Atau........ Sama doi elo? Iyakan? Cie........ Udah punya doi. Pj nya mana nih? Kok nggak belom nyampe? “ tanya Devi menggoda Aka.


“Bukan doi gue” kata Aka menegaskan.


“La terus siapa dong? Pacar bukan, TTM?, teman rasa pacar?, konco mesra?, kakak adik? Sepupu?~~~~ “ kata Devi panjang lebar. Aka sampai jenuh sendiri mendengarnya. Ia segera melangkah pergi.


“Bukan siapa siapa pokoknya!!! Bye gue pulang dulu“ kata Aka menjauh. Devi merengut. Ia heran dengan sikap Aka.


“Yaudah, gue ngajak Vanya aja” kata Devi agak menyesal tidak bisa mengajak Aka. Aka segera berjalan cepat menuju gerbang. Sesampainya di luuar sekolah, ia melihat motor ninja hitam terparkir di samping trotoar. Dan tentu saja, ada Nicko di sana lengkap dengan helm full face yang menutupi kepalanya.


“Yuk pulang “ kata Aka ceria dengan senyum tanpa dosa.


“Lama banget lo” kata Nicko dingin.


Sama seperti dugaannya, ternyata Nicko marah karena dia tadi kelamaan.


“Maaf, nggak tau” kata Aka takut.


“Buruan naik” kata Nicko menginstruksi. Aka segera naik ke jok belakang. Ia takut mengundang amarah Nicko kembali. Bahkan saking takutnya, ia memilih memegang besi di belakang jok agar tidak jatuh dari pada pinggang Nicko.


Aka sempat heran. Nicko melajukan motornya ke arah yang berlawanan dengan rumah.


“Kita mau kemana? Nggak langsung pulang? “ tanya Aka penasaran.


“Nggak, kita mampir. Maen” jawab Nicko jelas. Aka hanya bisa berOoria.


“Pegangan yang bener! Kalo lo jatuh gue lagi yang dimarahin Mami” kata Nicko memperingatkan Aka agar memegang pinggangnya. Aka segera melakukannnya.


“Aka kira Nicko marah sama Aka” kata Aka dengan polosnya.


“Gue nggak marah sama elo. Tadi gue habis ngurusin anak bandel di ruang BK. Jangan kepedean ngirain gue marah sama elo” kata Nicko dengan ekspresi datar.


“Wah hebat dong. Nicko jadi ketua kedisiplinan dan ketertiban di sekolah Nicko ya? Keren!!!! “ kata Aka dengan mata berbinar.


“Biasa aja. Nggak keren keren amat” kata Nicko datar.


“Maaf ya Nicko, tadi Aka udah salah sangka sama Nicko “ kata Aka agak takut.


“Udahlah nggak usah kebanyakan minta maaf. Kalo kayak gini kesannya gue yang salah. Lo jangan gampang minta maaf sama orang yang belum tentu elo beneran salah. Nanti elo malah di rendahkan” kata Nicko memperingatkan.


“Iya, Aka juga nggak mau kok bikin Nicko ngerasa bersalah” kata Aka kembali.


“Janji? “ tanya Nicko menyelidik. Aka tersenyum senang.


“Janji” kata Aka sambil mengeratkan pelukannya pada pinggang Nicko. Nicko tersenyum samar.


...••••••••••••••••••••••••••••••••...


“Kita mau main apa? “ tanya Aka dengan binar kebahagiaan yang tak lepas dari matanya. Ternyata Nicko mengajaknya pergi ke Tokyoland!!!!!!!.


“Terserah, gue ngikut aja” kata Nicko menimpali. Aka memutar otaknya. Ia harus benar benar memilih game apa yang cocok untuknya dan untuk Nicko.


“Main itu aja yuk” ajak Aka sambil menunjuk roller coaster. Nicko menaikkan sebelah alisnya heran.


“Nggak takut lo main begituan? “ tanya Nicko.


“Nggak, Aka kan berani” jawab Aka dengan bangganya.


“Kalo takut jangan peluk gue sembarangan “ kata Nicko. Aka mengernyit.


“Ye siapa juga yang mau peluk elo. Pede!!!!!! “ kata Aka mencibir.


“La tadi waktu di motor?” tanya Nicko memancing Aka.


“Itu kan elo yang nyuruh” kata Aka cuek.


“Nggak tuh. Elo meluk sendiri “ kata Nicko kembali.


“Udahlah ayo buruan!!! Itu roller coasternya mau jalan lagi” kata Aka sambil menggandeng Nicko. Mereka akhirnya menaikinya. Aka menjerit histeris saat menaiki roller coaster yang melaju kencang. Setelah itu mereka mencoba wahana lainnya dan terakhir mampir ke stan penjual buku. Belum sempat Aka bilang , Nicko terlebih dahulu menarik tangan Aka.


“Nicko mau beli buku apa? “ tanya Aka dengan ekspresi khasnya.


“Gue mau cari komik horror” kata Nicko.


“Lo cari juga gih, nanti gue samperin disini “ lanjut Nicko.


“Gue mau cari komik fantasi sama action aja” kata Aka. Nicko mengernyitkan dahi dan akhirnya tertawa.


“Hahaha, gue baru pertama kali ketemu sama cewek yang lain dari biasanya kayak lo” kata Nicko yang masih melebarkan senyuman.


“Masak? Jadi Aka spesial ya buat Nicko? “ kata Aka dengan Pedenya.


“Nggak tuh biasa aja” kata Nicko kembali memasang ekspresi datarnya.


“Nicko nih kebiasaan” kata Aka sambil meninju pelan tangan Nicko. Aka segera pergi mencari komik yang ia sukai. Ia membawa sekitar sepuluhan komik ditangannya ketika menemui Nicko.


“Banyak banget lo belinya? “ tanya Nicko heran.


“Iya dong hehe” jawab Aka sambil nyengir.


“Siapa yang mau bayar? “ tanya Nicko.


“Ya Nicko lah” kata Aka kambali sambil tetap tersenyum. Nicko menghela nafas mencoba sabar. Ia mengambil komik dari tangan Aka.


“Gue cek dulu sebelum gue bayarin “ kata Nicko.


“Yey!!!! Nicko emang yang paling is the best lah pokoknya” kata Nicko kegirangan. Biasanya kalau ia membeli buku dengan Papinya, mungkin tidak sekaligus sebanyak ini.


“Bagus juga selera lo” kata Nicko sambil tersenyum miring. Tunggu, Nicko sempat terheran ketika ia melihat dua buku novel bertema romans dan yang paling membuat Nicko jengkel, novelnya berbau Korea.


“Plissssss, Nicko kan baik hati dan tidak sombong. Beliin ya? Dua doang kok novelnya. Plissssss yah yah yah” kata Aka membujuk Nicko dengan segala kemampuannya. Aka mengedipkan matanya lucu. Ia berharap Nicko akan luluh.


“Nggak boleh! “ jawab Nicko tegas.


“Yah Nicko, boleh dong plissssss. Habis ini Aka bakal nurut sama Nicko deh. Nggak bakal ngeyel lagi” kata Aka masih terus membujuk Nicko.


“Nggak boleh!!!” jawab Nicko tak mau dibantah. Aka segera memutar otaknya. Walau bagaimanapun, ia harus mendapatkan novel itu.


“Aka bakal nyium Nicko sekarang kalo Nicko nggak mau beliin” kata Aka menantang.


“Coba aja kalo bis.... “ Nicko terhenti. Tiba tiba Aka menarik kerah seragamnya. Membuat pemiliknya tertunduk tepat di depan wajah Aka.


“Beliin!!!! “ kata Aka melotot tegas dan mengancam sambil semakin mendekatkan wajahnya ke arah Nicko. Semua mata yang ada disana memperhatikan. Bahkan ada yang mulai berbisik samar.


“Iya gue beliin” kata Nicko pada akhirnya. Ia menoleh ke arah lain. Ia tak berani menatap Aka. Jantungnya berdebar lebih kencang.


“Hore!!!!!!! Eh, nggak usah liatin napa” kata Aka sewot pada orang disekelilingnya. Ia merasa risih dengan pandangan orang orang yang memperhatikannya. Orang orang yang ada disana segera bubar dan fokus dengan tujuannya masing masing. Pura pura lupa dengan adegan Aka dengan Nicko. Nicko mengusap wajahnya jenuh.


“Nicko tadi ada komik fantasi bagus yang ketinggalan Aka ambil. Aka ambil sekarang ya? “ kata Aka hendak berlalu. Ia terhenti tiba tiba dengan tangannya yang di tarik Nicko.


“Kita udah beli banyak. Gue takut nanti uangnya kurang. Kitakan juga belum beli makan” kata Nicko mencegah Aka keluyuran lagi.


“Emang Nicko bawa uang berapa? “ tanya Aka penasaran.


“Cuma dua juta” kata Nicko datar. Aka melongo seketika.


“Cuma dua juta? “ tanya Aka mengulang perkataan Nicko. Ia heran dengan cowok disampingnya ini.


Tunggu, gue hampir lupa. Gue aja di kasih 500k. Kalo dia jajannya 2 juta nggak salah kan. Batin Aka.


“Apa nggak di marahin Mama Papa kalo minta uang jajannya sebanyak itu? “ tanya Aka heran.


“Gue nggak minta. Itu uang gue sendiri, hasil kerja gue” kata Nicko sambil menarik tangan Aka menuju kasir. Aka masih menyimpan puluhan pertanyaan di pikirannya. Sebenarnya siapa Nicko sampai dia bisa sekaya itu?. Setelah selesai membeli buku, Aka dan Nicko menuju stan penjual makanan cepat saji dengan membawa dua pasang paper bag di tangan kanan dan kiri mereka.


“Lo mau apa? Tunggu disini aja. Gue yang ngambilin pesanan” kata Nicko setelah Aka memilih tempat duduk.


“Gue mau tiramisu fload, jumbo burger, sama Mega gelatto” kata Aka.


“Harus habis” kata Nicko memperingatkan. Sebab semua yang dipesan Aka berukuran super besar.


“Siap” kata Aka menyetujui. Nicko segera mengambilkan pesanan. Sambil menunggu Nicko, Aka mengecek ponselnya. Tiba tiba ada yang menelfonnya. Nomor tidak dikenal.


“Halo” kata Aka mengawali bicara.


“Hay, Akakan?. Syukurlah gue nemu nomer lo. Lo tau nggak? Gue kangen banget sama elo. Kita bisa ketemuan nggak Beib? “ kata orang di seberang yang sedang menelfon Aka. Dada Aka seketika terasa sesak. Bagaimana orang itu bisa menemukan nomor ponselnya? Seketika Aka memutuskan telfon secara sepihak. Ia segera mematikan daya ponselnya. Ia tak mau lagi berurusan dengan penelfon tadi. Ia sudah cukup jera kenal dengannya. Aka mencoba sekuat tenaga agar air matanya tak merembes keluar, walaupun rasa perih menjalari matanya. Ia berusaha mengatur nafasnya dan mencoba tenang.


“Lo kenapa? “ tanya Nicko tiba tiba. Aka berusaha menyembunyikan kesedihannya.


“Ahh nggak papa, tadi gue denger kabar, kucing temen gue mati. Gue jadi ikut sedih. Soalnya kucingnya lucu banget” kata Aka sambil tersenyum.


“Nih buruan makan” kata Nicko memerintah. Aka segera berdo’a dan mulai menyantap makanannya. Saat dia melihat Mega gelatto ia teringat dengan orang tadi yang menelfonnya. Aka segera menggelengkan kepala kuat kuat. Ia harus membuang jauh jauh semua tentang orang tadi. Nicko yang melihat Aka bersikap resah merasa heran.


“Lo kenapa? Ada masalah? “ tanya Nicko yang sedari tadi memperhatikan Aka. Aka tersadar kalau Nicko memperhatikannya segera mencari alasan.


“Emm itu gue punya pr geografi, tapi gue nggak bisa ngerjainnya” kata Aka senatural mungkin.


“Oh... Gue kira apaan. Nggak usah dipikirin, nanti gue ajarin waktu di rumah. Sekarang lo fokus makan aja” kata Nicko. Aka hanya membalas dengan senyuman.


“Nicko awas ada laba laba” kata Aka memperingatkan. Nicko menaikkan sebelah alisnya.


“Mana” jawab Nicko. Aka segera mengulurkan tangannya dan mencoba mengusir laba laba yang mengganggu itu. Tapi ups, Aka tak sengaja menyenggol cup es krim Nicko dan membuat isinya tumpah ke jaket Nicko.


“Aish!!!!!! “ eram Nicko menahan amarahnya. Aka ketakutan, ia mencoba membersihkan noda jejak es krim yang meleleh turun dari jaket Nicko.


“Ma maaf Nicko, nggak segaja” kata Aka ketakutan. Tubuhnya menggigil gemetaran. Saat tangan Aka mendekat hendak membersihkan bekas es krim, Nicko segera menepis uluran tangannya.


“Udah biar di bersiin Bi Tuti “ kata Nicko ketus. Aka bisa melihat amarah yang menguar dari raut wajah Nicko.


“Buruan habisin. Nggak usah ngurusin yang lain “ kata Nicko dingin sambil melepas jaketnya. Aka terdiam, dia tak berani membantah lagi. Ia segera menghabiskan makanannya secepat mungkin. Setelah habis, Nicko segera meninggalkan area Tokyoland dengan Aka yang mengekor di belakang. Aka masih terdiam. Ia tidak berani mengajak Nicko bicara. Bahkan sampai rumahpun mereka masih asik dengan aksi diamnya.


“Tuh novel lo” kata Nicko sambil menunjuk novel Aka dengan dagunya.


“Taruh meja aja, nanti gue ambil” kata Aka sambil berlalu pergi. Ia masih belum mempunyai keberanian menatap mata Nicko. Ia memilih menghindar saja terlebih dahulu daripada harus berpapasan dengan Nicko. Nicko tak menghiraukan sikap Aka untuk saat ini.


“Bi Tuti “ panggil Aka ketika sampai di dapur.


“Eh non Aka. Mau makan? “ tanya Bi Tuti antusias.


“Nggak Bi, tadi udah” kata Aka lesu. Bi Tuti yang melihatnya segera bertanya.


“Non Aka kenapa? Kok lesu gitu, sakit Non? “ tanya Bi Tuti perhatian.


“Nggak Bi, baru diem dieman aja sama Nicko” kata Aka tak bertenanga. Ia bahkan punya niatan mau tidur di kamar tamu daripada sekamar dengan Nicko.


“Owalah, biasa itu mah” kata Bi Tuti memaklumi. Aka segera mendekat ke arah Bi Tuti.


“Masak sih Bi? “ tanya Aka antusias.


“Iya Non, eh ngomong ngomong tadi Non Aka nyuci apa? “ tanya Bi Tuti.


“Nyuci jaketnya Nicko “ kata Aka sekenanya. Bi Tuti membelalakkan matanya.


“Pake tangan? “ tanya Bi Tuti terlihat sangat terkejut. Aka mengerutkan keningnya.


“Iya, terus habis itu aku keringin pake mesin pengering. Kalo cuma bersihin jaket satu doang pake tangan kan nggak masalah Bi” kata Aka sambil melipat tangannya di depan meja. Bi Tuti segera menarik tangan Aka.


“Astagfirullah!!! Sampai merah gini? Neng, walaupun itu jaket kesukaan Den Nicko, Neng Aka nggak perlu kayak gini. Kalo Den Nicko tahu, Bi Tuti bisa di marahin “ kata Bi Tuti cemas.


“Nggak bakal Bi, Nicko aja masih marah sama Aka, nggak mungkin lah Nicko bakal khawatir sama Aka” kata Aka menenangkan Bi Tuti.


“Neng, Bibi bilangin ya. Walaupun Den Nicko kayak gitu, dia itu orangnya perhatian banget” kata Bi Tuti memberi tahu.


“Masak si Bi? “ tanya Aka tak percaya.


“Iya Neng, satu lagi, Den Nicko itu memang gampang marah. Tapi Neng harus inget, dia juga gampang reda amarahnya “ kata Bi Tuti lagi.


“Jadi gimana Bi? Aka harus ngapain sekarang?. Apa ada sesuatu, kayak makanan favorit atau apa gitu kesukaan Nicko “ kata Aka penasaran. Ia bertekat harus baikan dengan Nicko hari ini juga. Bi Tuti terlihat berfikir keras mengingat ingat sesuatu.


“Seinget Bibi, Den Nicko itu suka banget sama nasi goreng sambal pete toping komplit Neng” kata Bi Tuti memberi tahu. Mata Aka terlihat berbinar.


“Itu aja Bi? Beneran? “ tanya Aka semangat.


“Iya Neng “ jawab Bi Tuti sambil tersenyum.


“Kalo itu sih gampang, Aka bisa buat sendiri. Kita punya bahannya kan Bi? “ kata Aka penuh semangat.


“Iya Neng ada semua mulai dari pete, suwiran ayam, bakso, telur, sosis, gelatin, bumbu dan tentu nasinya always ada” kata Bi Tuti menjelaskan.


“Kalo gitu nanti habis isya Aka mau buat ah” kata Aka gembira. “nanti Nicko mau pergi nggak Bi? “ tanya Aka memastikan kalau Nicko tidak ada agenda keluar rumah.


“Kayaknya sih nggak ada Neng, Cuma seinget Bibi nanti Den Nicko mau berenang , temennya juga mau dateng” kata Bi Tuti.


“Kalo gitu Aka buat banyak aja sekalian nasi gorengnya. Sekalian buat Bi Tuti, Mang Asep, Pak Mu'in, sama Bi Esih juga” kata Aka. Bi Tuti tersenyum bahagia.


“Neng Aka tuh baik banget. Memang istri sholekhah buat Den Nicko “ kata Bi Tuti sambil masih tersenyum. Aka juga ikut tersenyum. Dalam hati dia membatin apa benar gue sudah menjadi istri yang sholekhah buat Nicko? Rasa rasanya kalau di sebut istri belum layak.